BAB 9 DIRGA?!
"DIRGA?!!"
Anora kaget bukan main. Pasalnya, gadis itu mengira bahwa Dirga adalah anak baik-baik yang jauh dari kata nakal. Namun, dugaannya salah besar ketika gadis itu melihat Dirga di club yang sama.
"Lo ngapain di sini?" tanya Anora. Gadis itu masih tidak menyangka melihat Dirga yang kini berdiri di hadapannya.
"Gue udah lama nggak clubbing. Jadi, hari ini gue mutusin buat pergi clubbing, " jawab Dirga dengan santainya.
"Terus, lo ke sini sama siapa?"
"Gue ke sini sendirian."
"Gila, gue kira lo anak baik-baik, Ga, " Tukas Anora sembari terkekeh.
"Emang semua orang yang pergi ke clubbing itu orang jahat? atau orang nakal?"
Anora sempat memalingkan wajahnya dari Dirga. Gadis itu menatap Rachel sesaat.
"Ya enggak, sih. Tapi awalnya, gue pikir lo anti banget sama yang namanya clubbing."
"Oh, gitu. Lagian, penampilan bukan menjadi suatu penilaian sifat seseorang, bukan?"
Anora mengangguk paham. "Iya juga, sih. "
Anora menepuk jidatnya. Gadis itu lupa ingin memperkenalkan Rachel dengan Dirga. Anora melirik Rachel. Gadis itu berdiri di samping Anora sembari menatap Dirga lekat. Beberapa kali Anora mengibaskan telapak tangannya di depan mata Rachel. Namun, gadis itu tidak sadar juga.
“RACHEL!” panggil Anora dengan penuh penakanan.
Rachel seketika tersentak. Kini, gadis itu seperti orang kebingungan. Pipinya juga terlihat merah lantaran menahan rasa malu. Rachel pun memilih untuk menundukkan kepalanya.
“Eh, ini temen lo yang di rooftop itu, ya?” tanya Dirga.
Belum saja Anora mengangguk, tiba-tiba Rachel bergeser melewati Anora dan mengangguk di hadapan Dirga. Gadis itu terlihat centil sekarang.
Rachel menjulurkan tangannya untuk mengajak Dirga berkenalan. “Tadi kita belum sempet kenalan, kan? Jadi sekarang kita kenalan aja. Nama gue Rachel, anak 12 IPS 2. Salam kenal, ya!” ujar Rachel memperkenalkan dirinya.
Dirga membalas jabatan tangan dari Rachel. Laki-laki itu juga melemparkan senyum tipisnya, membuat pipi Rachel semakin memerah dibuatnya.
“Gue Dirga, siswa baru di SMA Adhikara Bangsa. Gue kelas 12 IPS 4, temen sebangkunya Anora. Salam kenal juga, Chel.”
Saat hendak melepaskan jabatan tangannya, tiba-tiba Rachel menggenggam erat tangan Dirga, seakan tidak ingin melepaskan atau dilepaskan. Tentu saja, hal ini membuat Dirga kesulitan. Berulang kali laki-laki itu terlihat berusaha untuk melepaskan tangannya.
“Lo bego banget sih, Chel! Itu kasian tangan Dirga. Lepasin anjir!” seru Anora.
Rachel melengos. Gadis itu terkekeh seraya melepaskan genggaman tangannya yang mencengkeram erat tangan Dirga. Sepertinya, Rachel sengaja melakukan hal itu agar bisa berlama-lama memegang tangan Dirga.
“Maaf, Ga,” ucap Rachel meminta maaf.
“Santai aja,” balas Dirga.
Dirga mengibas-ibaskan tangannya yang memerah akibat Rachel. Laki-laki itu pun beralih sesaat untuk pergi ke toilet. Sementara itu, Rachel cengengesan melihat tingkah laku Dirga yang kesakitan. Hal ini membuat Anora memandang sahabatnya aneh. Masalahnya, tidak biasanya Rachel bertingkah laku seperti itu.
“Lo gila banget, Chel! Anak orang jadi kabur, kan,” celetuk Anora.
“Nggak apa-apa kali, Nor. Lagipula, gue cuma mau kenalan,” tukas Rachel.
“Ya kenalan sih kenalan, tapi nggak gitu juga dodol!” Anora meninju pundak Rachel, membuat gadis itu meringis kesakitan.
Lima menit kemudian, Dirga kembali dari toilet. Laki-laki itu melihat minuman yang sempat ia pesan sudah tersedia di atas meja. Lantas, Dirga mengambil minuman tersebut dan mengajak Anora dan Rachel untuk duduk.
“Duduk di sana, yuk!” ajak Dirga.
Dirga berjalan santai seraya melewati orang-orang yang ada di hadapannya. Sementara itu, Anora dan Rachel berjalan mengekor di belakang Dirga.
“Duduk di mana, Dir?” tanya Anora. Gadis itu melihat beberapa kursi yang ada di depannya.
“Di situ aja,” jawab Dirga. Laki-laki itu menunjuk meja yang berada di bagian tengah dengan tiga kursi kosong di sampingnya.
Setelah Dirga mengambil posisi untuk duduk, Anora dan Rachel mengikuti. Mereka semua akhirnya duduk di tempat yang sama sembari menikmati minumannya. Suara dentuman musik yang keras sedikit menjadi penghalang mereka untuk mengobrol. Jadi, baik Dirga, Anora, maupun Rachel, harus membesarkan suara mereka apabila ingin berbicara antara satu sama lain.
“Lo pulang jam berapa nanti?” tanya Anora yang ditujukan untuk Dirga.
“Paling sebentar lagi. Gue cuma gabut dan suntuk doang di rumah. Makanya deh, gue pergi ke sini,” jawab Dirga diselingi minum.
“Lo sendiri?” Dirga balik bertanya.
Anora tampak berpikir. “Kayaknya masih agak lama, deh. Soalnya baru nyampe juga, kan.”
“Iya juga, sih.”
“Waktu lo di Bandung juga sering main ke tempat beginian?”
Dirga mengangguk. “Iya, cuma buat have fun aja, sih. Lagipula, temen-temen gue banyak di sana. Jadi, paling mainnya ke club atau nanti convoi ke suatu tempat.”
“Oh, lo pindahan dari Bandung, ya?” sambar Rachel.
Dirga melirik Rachel. Kemudian, laki-laki itu mengangguk pelan seraya tersenyum tipis kepada Rachel.
“Sodara gue ada tuh yang di Bandung. Dia sepantaran dan seangkatan sama kita. Kalo nggak salah, sekolahnya di SMA Dirlangga, deh,” tukas Rachel.
Wajah Dirga yang tadinya datar, kini menjadi sumringah dan terlihat antusias. Laki-laki itu menarik kursinya ke depan agar lebih dekat dengan Rachel dan Anora.
“Lah, Dirga juga pindahan dari SMA Dirlangga, Chel,” timpal Anora.
“Seriusan, Dir?”
Dirga mengangguk. “Iya! Gue pindahan dari sana.”
“Berarti lo kenal dong sama Naldo? Nama sodara gue Renaldo Destian,” ujar Rachel.
Tiba-tiba, Dirga terdiam. Laki-laki itu tahu persis siapa orang yang disebutkan namanya oleh Rachel. Ya, Dirga mengenalnya, bahkan sangat dekat dengannya. Namun, mengapa harus dia? mengapa harus Naldo?
“Dir? Dirga? Kok lo bengong?” Rachel mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Dirga, berusaha membuat Dirga tersadar dari lamunannya.
Beberapa detik kemudian, Dirga tersentak. Laki-laki itu tersadar dari lamunannya. Dirga mengusap wajahnya beberapa kali, kemudian meneguk minumannya hingga habis tak tersisa.
“Gimana, Dir? Lo kenal sama Naldo?” tanya Rachel lagi.
Dirga ragu-ragu untuk mengangguk. Ekor mata laki-laki itu menatap Rachel yang menunggu jawaban dari dirinya.
“Dir?”
“Iya, gue kenal.”
Seketika wajah Rachel terlihat sumringah. Ia tidak menyangka bahwa Dirga yang satu sekolah dengannya ternyata adalah teman dekat dari saudaranya yang ada di Bandung. Memang, dunia ini sangat sempit.
“Gila, dunia emang sempit banget, ya! ternyata lo ini temen deketnya Naldo. Gue masih speechless dan nggak nyangka, sih,” ujar Rachel senang.
Anora yang melihat Rachel senang, dirinya ikut tersenyum. Meskipun ia tidak kenal siapa itu Naldo, tetapi setidaknya dua orang yang ada di sampingnya ini kenal, bahkan sangat dekat dengan Naldo. Mungkin, suatu saat, Dirga atau Rachel ingin memperkenalkan Naldo kepada dirinya.
Setelah berbincang-bincang dalam waktu yang lama, tiba-tiba ponsel milik Anora bergetar. Gadis itu merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya. Anora terkejut. Secara bersamaan, Om Aron dan ibunya mengirimkan pesan dan beberapa kali menghubungi Anora. Gadis itu merasa sedikit panik sekarang. Bahkan, Anora memilih untuk mematikan daya ponselnya karena takut melihat pesan yang dikirim oleh Om Aron dan ibunya. Kini, Anora merengek kepada Rachel untuk membawanya pulang.
“Chel, ayo kita pulang, posisi gue lagi nggak aman!”
***
