Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 10 DIRGA SANG PENYELAMAT

Anora membuka matanya di pagi hari. Beberapa kali gadis itu mengerjap matanya. Tubuhnya melekat kuat di atas kasur, seakan tidak mau beranjak dari sana. Anora merenggangkan tubuhnya. Bola mata gadis itu menatap jam yang tertempel di dinding kamarnya, menunjukkan pukul 06.45 pagi.

“HAH? GUE TELAT!!” seru Anora.

Gadis itu terlonjak kaget setelah melihat jam. Seharusnya, ia berangkat ke sekolah pada pukul 6 pagi karena gerbang akan ditutup pada pukul 6.30. Itu berarti, Anora sudah telat lima belas menit. Belum lagi, gadis itu harus bersiap-siap terlebih dahulu. Mungkin, Anora akan telat satu jam.

Anora segera loncat dan beranjak dari kasur. Gadis itu berpikir untuk tidak mandi, hanya membasuh wajah dan sikat gigi saja. Setelah itu, Anora mengambil seragamnya di lemari. Dengan kekuatan ekstra, gadis itu mengenakan seluruh seragamnya.

Anora berdiri di hadapan cermin. Ia melihat rupanya yang tampak berantakan. Namun, gadis itu terlihat cuek. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai. Bahkan, Anora sama sekali tidak menggunakan make up. Yang terpenting, dirinya sudah rapi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Anora menyambar tasnya yang berada di atas meja. Gadis itu langsung berlari ke luar kamar dan segera memakai sepatunya yang tersedia di rak.

“Anora, sarapan dulu, ya?” tawar ibu.

Anora mendengus. Ekor matanya melirik ibunya yang berdiri di belakang tubuhnya. Tangan beliau membawa sepiring nasi goreng hangat yang baunya cukup semerbak. Namun, Anora tidak tertarik sama sekali.

“Aduh Bu, Anora udah telat!” serunya.

Anora berdiri. Ia mencium tangan ibunya dan berlalu begitu saja. Anora berlari menuju gang yang sepi. Saat tiba di tepi jalan, gadis itu melambaikan tangannya untuk memberhentikan angkot yang lewat.

Untungnya, ada satu angkot yang kebetulan lewat ketika Anora baru saja sampai di tepi jalan. Tanpa basa-basi, gadis itu langsung menaiki angkot tersebut dengan perasaan yang sedikit lega.

Anora menyeka keringatnya. Baru beberapa menit berlari saja, gadis itu sudah berkeringat, terutama di baigan pelipisnya. Untungnya, suasana angkot sedang sepi. Hanya ada dirinya yang duduk di kursi penumpang dan sang supir yang berada di depan.

Waktu perjalanan dari rumah ke sekolah menghabiskan total lima belas menit. Anora menyodorkan uang lima ribu kepada sang supir. Kemudian, gadis itu langsung berlari menuju gedung sekolahnya yang sudah terlihat di depan mata.

Anora melihat keadaan di halaman depan gedung sekolah yang sepi. Gerbangnya pun telah tertutup rapat. Dan seperti biasa, Pak Satpam telah berdiri di dekat gerbang sembari memakan pisang goreng. Anora berhenti sejenak karena kakinya terasa letih. Gadis itu merogoh saku roknya dan melihat jam yang tertera di layar ponselnya.

“Jam tujuh lewat lima belas menit?!” tukasnya kaget.

Anora pusing setengah mati. Baru kemarin gadis itu telat datang ke sekolah. Dan hari ini, Anora mengulangi kesalahannya yang sama.

“Ah, Dirga!”

Anora menepikan tubuhnya di dekat dinding gerbang agar Pak Satpam tidak melihatnya. Gadis itu kemudian menghubungi Dirga untuk membantunya masuk ke dalam. Anora mencari nomor Dirga di kontak ponselnya. Setelah itu, Anora menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan dengan Dirga.

Selama lima detik berdering, akhirnya Dirga mengangkat teleponnya.

“Halo, Dirga,” tukas Anora berbisik-bisik.

[“Eh, ada apa, Nor? Lo di mana? Kok di kelas nggak ada?”] Dirga melemparkan beberapa pertanyaan.

“Nanti gue jelasin. Intinya, sekarang bantuin gue dulu, dong!”

[“Hah? Bantuin apa? lo sekarang di mana?”]

“Gue di depan gerbang sekolah! Lo bisa ke sini nggak bantuin gue untuk masuk ke dalem? Soalnya ada Pak Satpam yang ngejagain gerbangnya!”

[“Oh, oke, gue bisa. Lo tunggu situ, ya!”]

“Oke, Ga. Makasih banyak, ya!”

[“Santai.”]

Telepon pun terputus.

Anora menyadarkan tubunya pada dinding. Gadis itu menghela napas lega. Di saat situasi seperti ini, Dirga memang paling bisa diandalkan. Selain laki-laki itu memiliki hak istimewa di sekolah ini, tetapi Dirga adalah orang yang baik.

“Permisi, Pak,” sapa seseorang.

Anora mengintip dari balik dinding. Mata gadis itu menangkap sosok Dirga yang sedang berbicara dengan Pak Satpam. Lantas, Anora langsung memunculkan tubuhnya dan berdiri di depan gerbang.

“Jadi gini, Pak. Sebenarnya, Anora ini tidak masuk hari ini dikarenakan sakit. Dia juga sudah izin ke wali kelas. Tapi, tiba-tiba, jam tujuh tadi, Anora mengabari saya bahwa dia ingin masuk ke sekolah. Jadinya, dia telat datang, Pak. Nih, Bapak bisa lihat sendiri wajahnya yang pucat. Tubuhnya juga lemas, Pak. Selain itu, Kedatangan saya ke sini juga bermaksud untuk menjemput Anora ke kelas. Jadi, tolong biarkan Anora masuk, Pak,” ujar Dirga panjang lebar. Laki-laki itu meminta kepada Pak Satpam untuk membiarkan Anora masuk.

Mendengar hal itu, Anora menundukkan kepalanya. Jujur, gadis itu hendak tertawa karena alasan yang diberikan Dirga terkait dirinya. Selain itu, ekspresi wajah laki-laki itu sangat mendukung untuk membuat Pak Satpam percaya. Namun, karena Dirga sudah berbuat se-profssional mungkin, Anora juga harus lebih profesional daripada Dirga.

“Pak, tolong biarin saya masuk, ya!” seru Anora diiringi suara batuk yang ia buat-buat.

Anora mengangkat kepalanya. Untungnya, gadis itu tidak memakai make up hari ini. Jadi, wajahnya terlihat pucat dengan kantong mata yang hitam dan kulit bibirnya yang kering. Penampilan Anora memang seperti orang sakit.

“Oh, begitu. Ya sudah, cepetan kamu masuk,” titah Pak Satpam.

Setelah dibukakan gerbang, Anora langsung masuk ke dalam. Begitupun Dirga, laki-laki itu langsung merangkul Anora seolah-olah dirinya memang diutus oleh wali kelas untuk menjemput Anora.

“Terima kasih, Pak,” ucap Dirga sebelum pergi meninggalkan Pak Satpam.

Anora tertawa ketika mereka berhasil membohongi Pak Satpam. Dirga memengang pergelangan tangan Anora dengan erat sembari berlari menyusuri koridor. Rasanya, Anora ingin bersorak karena misinya berhasil dijalankan. Namun, Dirga langsung menaruh jari telunjuknya di bibir dan menyuruhnya untuk diam.

“Selamat Pagi, Pak,” sapa Dirga saat mereka berdua telah sampai di kelas.

“Selamat pagi. Kamu sudah jemput Anora di UKS?” tanya Pak Adi selaku guru geografi.

Dirga mengangguk. Laki-laki itu juga memperlihatkan Anora yang mengekor di belakangnya. Anora kembali berakting di depan guru. Gadis itu menundukkan kepalanya sembari meringis menahan sakit.

“Kepala kamu masih pusing, Anora?”

Anora mengangguk pelan. Tangan gadis itu memegang kepala yang seakan-akan terasa pening.

“Ya sudah, kamu boleh langsung duduk di kursimu. Kalau tidak kuat, kamu boleh tidur di kelas untuk mengistirahatkan kepalamu agar pusingnya hilang,” saran Pak Adi.

Anora mengikuti perkatan guru geografi tersebut. Gadis itu melewati Pak Adi dan berjalan pelan menuju kursinya. Sementara itu, Dirga ikut mengekor di belakang Anora sembari memegang pundak gadis itu, berpura-pura menuntunnya.

“Aman?” tanya Dirga setelah sampai di kursi.

Anora mengacungkan jempolnya. Gadis itu melemparkan senyum tipis pada Dirga secara sembunyi-sembunyi.

“Lo izin apa tadi ke Pak Adi?” tanya Anora penasaran.

“Gue bilang ke dia kalo misalnya gue mau jemput lo di UKS,” jawab Dirga santai.

“Terus?”

“Gue ngarang cerita. Intinya, gue bilang pas lo sampe di depan gerbang sekolah, lo pingsan dan langsung di bawa ke UKS. Makanya, gue bilang ke dia kalo mau jemput lo di UKS,” imbuh Dirga.

Anora berdecak kagum. Gadis itu mengakui kepintaran Dirga dalam menyusun suatu rencana. Berkat laki-laki itu, Anora terhindar dari hukuman karena telat datang ke sekolah.

“Pokoknya, lo keren banget!” puji Anora.

Dirga tersenyum tipis. Laki-laki itu kemudian memainkan penanya sembari memperhatikan pelajaran yang sedang dijelaskan oleh Pak Adi.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel