BAB 8 CLUBBING
Anora menarik napas panjang setelah setengah hari berada di kasur. Gadis itu menguap lebar. Bola matanya melirik ke arah jam yang tertempel di dinding kamarnya, menunjukkan pukul delapan malam.
Malam ini, Anora akan pergi ke club bersama Rachel. Gadis itu mengabari Anora untuk bersiap-siap pada pukul setengah Sembilan malam. Itu berarti, Anora memiliki waktu setengah jam untuk bersiap-siap.
Anora bangkit dari kasur. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket dan kusam. Gadis itu melepas seragamnya dan mulai mengguyur air ke seluruh tubuhnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Anora keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dibalut oleh handuk berwarna ungu.
Anora berjalan menuju lemari. Gadis itu menyibak pakaian yang menggantung di sana. Ia mencari pakaian yang cocok untuk digunakan malam ini.
“Ah, ini dia!” seru Anora.
Anora meraih sebuah mini dress berwarna hitam dengan pita kecil yang tergantung di sisi pundaknya. Anora rasa, mini dress tersebut sangat cocok untuknya. Lantas, Anora segera mengenakan mini dress tersebut tanpa berpikir panjang lagi.
Anora berdiri di depan cermin. Gadis itu berputar beberapa kali layaknya seorang putri kerajaan. Rambutnya yang masih setengah basah, digerai begitu saja. Kemudian, Anora mengambil koleksi make up-nya untuk memoles wajahnya agar terlihat cantik. Setelah semuanya sudah beres, Anora pergi ke luar kamar untuk menunggu Rachel yang akan menjemputnya.
Anora mengintip ke arah ruang tamu. Gadis itu mencari keberadaan ibunya yang sedari tadi tidak ia lihat. Setelah mengecek ke seluruh ruangan, Anora memilih untuk pergi ke halaman depan.
Setelah Anora tidak menemukan keberadaan ibunya, ia sangat yakin bahwa beliau akan lembur di kantor mala mini. Maka dari itu, Anora mendapatkan kebebasan untuk pulang larut malam. Tidak ada lagi yang mengganggu dirinya bersenang-senang.
“Anora!” panggil seseorang diiringi suara klakson mobil yang cukup memekakkan telinga.
Anora mengangkat kepalanya. Ia mendapati Rachel yang sudah siap di dalam mobilnya. Lantas, Anora berdiri seraya mengunci pintu rumahnya. Kemudian, gadis itu datang menghampiri Rachel.
Kali ini, Rachel menyetir mobil sendiri. Hal ini sudah biasa terjadi apabila gadis itu ingin pergi ke club. Dan di saat situasi seperti ini, sang supir tidak diizinkan oleh Rachel untuk mengantarnya ke tempat club.
“Gue masuk, ya!” izin Anora.
Dari dalam mobil, Rachel mengangguk. Gadis itu tersenyum melihat penampilan Anora yang sangat modis dan fashionable.
“Lo keren banget malem ini, Nor,” puji Rachel seraya berdecak kagum. Bola mata gadis itu naik turun menatap Anora dengan penampilan yang luar biasa.
“Ah, bisa aja, lo. Lagipula, lo nggak kalah keren, kok!” Anora memuji balik.
Setelah semuanya sudah siap, Rachel menyalakan mesin mobilnya. Kedua tangan gadis itu memegang stir. Tak lama, mobil yang Anora tumpangi melaju cepat.
Anora melipat kedua tangannya dan menopang dagunya di tepi kaca. Gadis itu melemparkan pandangannya ke luar mobil. Manik mana Anora melihat gedung-gedung tinggi berjajar di sisi kanan dan kiri jalanan. Selain itu, lampu-lampu terpasang di sepanjang jalan untuk menerangi pengemudi yang lewat. Kebetulan juga, malam ini langit sangat cerah. Bulan purnama menggantung di sana, dihiasi dengan taburan kerlip bintang yang memenuhi langit.
“Nyokap lo belum pulang, ya?” tanya Rachel memulai obrolan.
Anora menggeleng.
“Belum, kayaknya lembur lagi,” jawab Anora santai.
“Oh begitu. Pantesan, gue liat rumah lo tadi sepi banget.”
“Ya begitu, deh. Setiap hari juga sepi, Chel. Orang cuma gue sama nyokap aja yang tinggal,” ujar Anora berterus terang.
Pandangan Rachel kembali terfokus ke depan. Gadis itu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Sementara itu, Anora mengeluarkan ponselnya dari tas. Gadis itu mengecek notifikasi yang masuk.
“Eh, Daddy gue nelpon, nih!” seru Anora. Gadis itu melihat ponselnya yang berdering. Tentu saja, nama Om Aron terpampang jelas di layar ponselnya.
“Angkat dulu, gih!” titah Rachel.
Anora mengacungkan jempol. Lantas, gadis itu menekan tombol hijau agar sambungan teleponnya terhubung dengan Om Aron.
“Halo Om, ada apa?” tanya Anora.
[“Halo sayang, kamu lagi ngapain?”] Om Aron balik bertanya dari seberang sana.
“Um… aku lagi di jalan nih, Om. Biasa, mau hangout sama temen,” jawab Anora beralasan.
[“Wah, hangout di mana, tuh?”]
“Niatnya sih, mau nyari restoran di sekitar Sudirman, Om.”
[“Ya udah, kamu puas-puasin, deh, hangout sama temen kamu. Nanti kalo duit yang Om kasih kurang, kamu tinggal bilang dan minta aja sama Om, ya?”]
“Oke, Om. Siap, gampang, kok!”
[“Oke, dadah sayang!”]
“Dah, Om!”
Telepon pun terputus. Om Aron mematikan teleponnya secara sepihak.
Anora menghela napasnya. Gadis itu sedikit merasa bersalah karena telah membohongi Om Aron. Namun, mau bagaimana lagi, Anora tidak bisa hidup tanpa clubbing. Toh, awalnya Anora bertemu Om Aron juga di tempat clubbing, kan?
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, Anora dan Rachel sampai di tempat clubbing. Tempat yang diberi nama Lucky Hokky’s club itu berdiri di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tentu saja, tempatnya menjadi strategis karena banyak para pekerja yang sehabis pulang bekerja, biasanya menyempatkan diri untuk melipir ke Lucky Hokky’s club.
Anora berdiri di dekat pintu masuk. Sementara itu, Rachel sibuk memarkirkan mobilnya di parkiran.
“Ayo kita masuk!” ajak Rachel setelah beres memarkirkan mobilnya.
“Yuk!”
Anora menggenggam tangan Rachel. Mereka berdua masuk ke dalam club. Seperti biasa, keadaan di dalam club jauh lebih ramai. Ditambah lampu disko yang tergantung di langit-langit dan dentuman musik yang keras membuat sebagian besar orang berkumpul di tengah-tengah untuk berjoget.
Anora membawa Rachel ke arah bartender. Mereka memesan minuman terlebih dahulu sebelum ikut bergabung dengan kerumunan yang sedang menari.
“Lo mau mesen apa?” tanya Anora.
“Tenang aja, gue semua yang bayar. Kali ini, gue akan traktir lo!” imbuhnya sembari terkekeh.
“Seriusan?”
Anora mengangguk.
“Serius! Lo emang tadi nggak denger apa kata Om Aron? Kalo misalnya duit yang dia kasih ke gue kurang, gue boleh minta lagi ke dia. Lagipula, tadi siang dia ngirimin gue uang l5 juta, Chel! 15 juta!” seru Anora panjang lebar.
Rachel tersentak setelah mendengar perkataan Anora. Gadis itu tidak menyangka ada orang sebaik dan seroyal Om Aron.
“Gila, doi baik banget!” puji Rachel.
“Makanya, sekarang cepet lo pesen apa yang lo mau.”
Rachel mengacungkan jempol. “Oke, Bos!”
Anora kembali mengeluarkan ponselnya. Sementara itu, Rachel memanggil bartender yang sibuk melayani pelanggan lain. Gadis itu memesan minuman untuk dirinya dan juga Anora.
“Cocktail-nya dua, ya!” pesan Rachel.
“Oke, tunggu sebentar, ya,” ucap bartender tersebut.
“Sorry, gue juga pesen cocktail. Jadi, totalnya tiga, ya. Nanti gue yang bayar semua,” tukas seorang laki-laki yang baru saja datang.
Anora dan Rachel terperanjat. Lantas, mereka menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di samping Rachel. Laki-laki tersebut tampak tidak asing di mata mereka. Tubuhnya yang tinggi semampai, serta wangi parfum yang sangat menyeruak menjadi ciri khas laki-laki itu.
Anora yang tadinya sibuk bermain ponsel, kini tak berkutik. Pandangannya terus mengarah ke laki-laki itu. yang membuat terkejut, Anora mengenal laki-laki itu. Dia adalah…
“DIRGA?!!”
***
