
Ringkasan
Apa jadinya bila Anora si Badgirl yang menjadi simpanan sugar daddy bertemu dengan Dirga si Badboy yang merupakan anak dari kepala sekolah. Mereka berdua ditakdirkan bertemu di SMA Adhikara Bangsa. Semakin hari, Anora membuat Dirga jatuh cinta. Hingga akhirnya mereka berdua resmi berpacaran. Namun, hidup mereka berubah ketika Anora harus menanggung bayi yang ada di kandungannya. Selain itu, Dirga harus bertanggung jawab untuk kehidupan Anora. Alih-alih berjuang, Dirga mencari tahu siapa ayah dibalik bayi yang ada di kandungan Anora. Apakah Anora dan Dirga bisa melanjutkan kehidupannya? Bagaimana dengan hubungan mereka berdua?
BAB 1 SIAPA LAKI-LAKI ITU?
Malam semakin larut. Seorang gadis cantik turun dari sebuah mobil silver yang berhenti tepat di depan gang. Penampilannya sangat berantakan. Bajunya yang lusuh dan basah, serta rambutnya yang tergerai tak beraturan. Mata gadis itu tampak berat. Ia menatap seorang laki-laki tua yang duduk di jok depan mobil.
“Aku pulang dulu ya, Om. Terima kasih sudah bersenang-senang malam ini,” ucap gadis itu sembari tertawa kecil.
“Sama-sama, sayangku,” balas laki-laki tua itu dari dalam mobil sebelum akhirnya pergi tancap gas.
Gadis itu bernama Anora Selsi Khanya. Parasnya yang cantik membuat setiap lelaki tertarik padanya. Anora adalah siswi kelas 12 yang bersekolah di SMA Adhikara Bangsa, salah satu sekolah ternama di Jakarta. Malam ini, ia telah menghabiskan waktunya Bersama Aron, laki-laki tua berumur 56 tahun di sebuah club.
Anora berjalan dengan lunglai menyusuri gang yang gelap. Beberapa kali ia tak sadar akan genangan air yang ada di depannya. Sontak, Anora terkejut saat kakinya terjerumus ke dalam lubang kecil yang penuh dengan air.
Satu jam sebelumnya, hujan mengguyur ibu kota dengan sangat deras. Anora masih bisa mencium aroma petrikor yang menyeruak saat ia menyusuri gang. Remang cahaya yang berasal dari lampu jalan setidaknya membantu Anora untuk mengenali keadaan sekitarnya. Ia tampak mabuk. Kepalanya pening.
“Bu, aku pulang,” ucap Anora saat tiba di depan rumahnya.
Tanpa basa-basi, ia membuka pintu rumahnya yang tidak dikunci. Anora meraba-raba dinding rumahnya, lalu berjalan dengan pelan menuju kamarnya. Kepalanya terasa sangat berat. Anora juga merasakan perutnya bergejolak. Sepertinya ia akan muntah.
HUEK!
Anora berlari menuju kamar mandi yang berada di samping kamarnya. Kemudian, ia memuntahkan cairan kental ke dalam wc. Kini, Anora terduduk lemas di dalam kamar mandi. Keringatnya mengucur deras di pelipisnya. Tubuhnya seketika lemas tak berdaya. Pandangannya buram seketika. Sedetik kemudian, Anora tidak sadarkan diri.
***
“Anora, bangun!” teriak seseorang tepat di samping telinga Anora.
Anora terkejut. Sontak, ia segera membuka matanya lebar-lebar dan mencari asal suara.
“Kenapa Ibu berteriak seperti itu? Anora kaget,” ucap Anora saat mendapati ibunya yang duduk di samping tubuhnya.
“Kamu minum berapa botol semalam?!” tanya ibu dengan tegas.
Anora menatap sepasang bola mata ibunya. Tidak terbesit sedikitpun di pikiran Anora untuk bertengkar di pagi hari. Lantas, ia pergi meninggalkan ibu yang masih terpaku di dalam kamar mandi. Gadis itu berlalu menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
“Kenapa bisa basah begini?” tanya Anora kepada dirinya sendiri.
Anora mengambil seragam dari dalam lemari. Ia mengganti pakaiannya secepat kilat sebelum dirinya menggunakan seragam sekolah. Anora berdiri di hadapan cermin. Kemudian, Ia mengibaskan rambutnya yang tergerai panjang. Tak lupa Anora memakai make up dan lipstik untuk menambah level kecantikan pada wajahnya.
“Selesai.”
Anora menyambar sebuah tas yang tergeletak di kasur. Kemudian, gadis itu berjalan keluar kamar dengan percaya diri. Bahkan Anora berjalan melewati ibunya yang sedang duduk manis menyantap sarapan pagi. Tanpa sepatah kata keluar dari mulut ibu, Anora terus berjalan tanpa menatap sedikitpun wajah ibunya.
“Nor, lo ke sekolah sama siapa?” tanya seseorang tiba-tiba dari seberang rumah Anora.
Anora menoleh dan menatap seorang laki-laki sepantarannya yang tengah berdiri di samping motor ninja berwarna merah.
“Sendiri,” sahut Anora lantang.
“Ayo bareng gue aja. Mau, enggak?” tawar laki-laki itu.
Anora mengangguk dengan mantap.
“Boleh, Lev!” jawab Anora.
Gadis itu berjalan menuju rumah Levi yang berada di seberang. Tanpa ekspresi sedikitpun, Anora berdiri di depan rumah Levi sembari menunggu laki-laki itu menyalakan motornya.
“Bisa lebih cepet, nggak?” tanya Anora dengan nada ketus.
Levi yang hendak menyalakan motornya, mengurungkan niatnya sesaat. Laki-laki itu berdiri di hadapan Anora. Perlahan, Levi memajukan kepalanya sehingga jarak antara wajah mereka sangatlah dekat.
“Jangan galak-galak begitu dong, sayang. Nanti aku makin suka,” ujar Levi sembari memainkan lidahnya dengan nakal.
“Meskipun lo suka sama gue, tapi selera gue bukan lo!” balas Anora tak mau kalah.
“Gue tau, selera lo itu om-om, kan?”
Anora tersenyum menyeringai. Ia mendorong tubuh Levi yang semakin mendekat. “Kalo iya emang kenapa? Masalah buat lo?”
“Disuguhin berapa duit sih lo sama tuh om-om?” tanya Levi penasaran.
“Yang pasti bisa beli harga diri lo. Lo pikir sendiri deh, berapa nominalnya,” sahut Anora sebelum meninggalkan Levi yang semakin menjadi-jadi.
“Sialan lo!” jerit Levi meneriaki Anora.
Anora hanya tersenyum tipis dan menghiraukan celotehan yang dilontarkan oleh Levi. Laki-laki itu belum juga berubah. Aibnya di masa lalu belum cukup untuk membuat dirinya berubah menjadi laki-laki yang baik.
Pagi ini, Anora terpaksa memilih angkutan umum sebagai transportasi yang mengantarkannya ke sekolah. Ia tidak memiliki pilihan lain lantaran uang yang diberikan kepada om Aron untuknya semakin menipis. Di samping itu, semakin banyak kebutuhannya yang harus dipenuhi. Belum lagi bayaran sekolah yang tiap bulannya semakin naik. Untuk saat ini, Anora harus bisa mengatur keuangannya sebaik mungkin.
“Kiri Pak,” ujar Anora kepada sang supir.
Anora berlari tergesa menuju gerbang yang hendak ditutup oleh satpam. Beberapa siswa lain ikut berlari di belakang Anora.
“Pak, tolong jangan ditutup dulu!” jerit Anora dari kejauhan.
Sialnya, Anora telat lima detik. Gerbang sekolah telah tertutup rapat. Kini, nasibnya sama dengan siswa lain yang meronta dan memohon kepada satpam untuk membiarkan mereka masuk ke dalam.
“Pak, tolong izinin saya masuk ke dalam!” seru Anora yang merengek di depan gerbang.
“Maaf, di sini saya hanya menjalankan tugas. Ketika bel sudah berbunyi, saya harus menutup gerbang dan tidak membiarkan siswa yang telat datang untuk masuk ke dalam,” jelas sang satpam panjang lebar.
“Sialan! Percuma gue bayar sekolah mahal-mahal kalo harus berdiri di depan gerbang begini,” gerutu Anora.
“HEH, JAGA OMONGAN KAMU, YA!” tegur pak satpam dengan lantang.
Anora menatap sinis satpam yang menegur dirinya. Ia tidak terima apabila satpam tersebut ikut campur urusan Anora.
“Perasaan gue enggak-“
Belum selesai Anora berbicara, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Mobil tersebut berulang kali membunyikan klakson. Anora menepikan dirinya. Pandangannya seketika teralihkan kepada seorang laki-laki sepantarannya yang berada di dalam mobil. Anora bisa melihat jelas wajahnya yang tampan dan terlihat dingin. Ia penasaran, siapa laki-laki tersebut.
“Pak, tolong bukain gerbangnya dan biarin semua siswa yang telat untuk masuk ke dalam,” perintah laki-laki itu sembari menunjukkan nametag yang terpasang di seragamnya.
Anehnya, satpam tersebut menuruti apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu. Anora semakin dibuat penasaran. Ia masuk ke dalam gedung sekolah dengan pandangan yang tak luput dari mobil hitam tersebut. Dalam hati, Anora bertanya-tanya, siapa laki-laki itu?
***
