Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7 TIME TO PARTY!

Mobil yang dikendarai oleh supir Rachel pun berhenti tepat di depan sebuah gang. Gang tersebut tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Anora membuka pintu mobil dan berpamitan kepada Rachel. Tak lupa gadis itu berterima kasih kepada sang supir. Sebelum benar-benar pergi, Anora melambaikan tangan kepada Rachel sebagai tanda perpisahan.

“Dah, Chel! Sampe ketemu nanti malem!” seru Anora.

“Dadah!” Rachel membalas lambaian tangan Anora.

Setelah itu, mobil pun langsung melaju, meninggalkan Anora seorang diri di depan gang.

Anora menghela napas. Gadis itu mengeluh lantaran cuaca di siang ini sangatlah terik. Bahkan, Anora baru berdiri beberapa detik saja, kulitnya terasa terbakar karena teriknya sinar matahari yang kini berada di puncaknya.

Anora berjalan menyusuri gang yang sepi. Gadis itu sedikit mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumahnya.

“Anora sayang,” panggil seseorang.

Anora menengok. Mata gadis itu menangkap siswa laki-laki yang sedang mengedarai motornya. Siapa lagi kalau bukan si Levi, anggota geng Navares serta tetangga yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah Anora.

“Najis! Ngapain, sih, manggil-manggil sayang? jijik tau nggak, apalagi liat muka lo, idih!” ketus Anora. Gadis itu mendengus kesal lantaran sikap Levi yang terus menggodanya.

“Jangan galak-galak dong manis. Mentang-mentang selera lo om-om, bukan berarti lo bisa seenaknya marah-marah sama orang yang sepantaran sama lo, ya!” balas Levi. Laki-laki itu masih setiap di atas motor. Ia menarik gas motornya sedikit demi sedikit. Alhasil, motor yang dikendarainya berjalan sangat pelan mengikuti Anora.

“Sialan lo! Urusin dulu, noh, pacar lo yang lo hamilin!” celetuk Anora tak mau kalah.

“Bisa diem nggak mulut lo? Nggak usah bawa-bawah tuh cewek!” pekik Levi. Laki-laki itu sepertinya Sudah tersulut emosi karena perkataan Anora.

“Loh, kenapa lo nggak nyebut cewe lo itu dengan sebutan pacar? Apa jangan-jangan lo udah putus sama dia? setelah lo hamilin dia, terus lo nggak tanggung jawab dan memilih untuk menjauh dari dia? iya?” cecar Anora. Gadis itu melemparkan beberapa pertanyaan kepada Levi.

Levi mematikan mesin motornya. Kemudian, laki-laki itu turun dari motor dan berjalan menghampiri Anora dengan emosi yang memuncak. Hal tersebut bisa dilihat dari wajahnya yang memerah layaknya banteng yang mengamuk.

“Anjing! Lo emang tau apa soal gue sama dia? hah?” tanya Levi dengan penuh penakanan.

“Lah terus, lo tau apa tentang gue? seenaknya lo nuduh gue jalan sama om-om. Emang lo ada bukti?” Anora menanyakan pertanyaan yang polanya hampir sama kepada Levi.

“Kalo soal itu, emang bener, kan? Lo itu simpenan om-om!”

“Cih, lo nggak ada bukti, kan? Nggak usah ngomong kalo nggak punya bukti!” seru Anora diiringi senyum menyeringai.

“Sialan lo! Pokoknya, sekali lagi gue denger lo ngebahas atau ngungkit masalah gue sama cewek gue, abis lo!” ancam Levi.

“Gue nggak akan mulai kalo bukan lo duluan yang mulai!”

Levi kembali berjalan menuju motornya. Laki-laki itu menyalakan mesin motornya, kemudian melaju secepat kilat melewati Anora yang masih bergeming di tempat.

Anora menaikkan alisnya. Ia tidak mengerti dengan pola pikir laki-laki itu. Setiap saat, Levi selalu membuat Anora naik pitam. Memang laki-laki itu jago membuat onar.

“Levi sialan!” umpatnya.

Anora kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Jarak dari gang ke rumahnya sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, kali ini Anora merasa letih dan capek. Kedua kakinya merasa pegal-pegal. Yang ada di pikiran Anora sekarang adalah tidur. Ia merindukan kasur yang ada di kamarnya.

Dua menit kemudian, Anora tiba di depan rumahnya. Lantas, ia langsung mengambil kunci yang sengaja ditinggalkan di bawah pot bunga oleh ibunya. Seperti yang kalian tahu, ibu Anora pergi bekerja untuk menafkahi anaknya, yaitu Anora. Anora adalah anak semata wayang dari pasangan Rosida dan Agung Nasrul. Namun, ayah Anora meninggal tiga tahun yang lalu. Hal ini membuat Anora terpuruk karena kepergian ayahnya. Secara gadis itu lebih dekat dan sayang kepada ayahnya dibanding kepada ibunya. Hal inilah yang merubah kepribadian Anora menjadi nakal dan hidup bebas.

Anora memutar kenop pintu setelah kunci diputar dua kali ke kiri. Gadis itu kemudian melepas sepatunya dan segera berlari menuju kamarnya.

Sesampai di kamar, Anora langsung membanting tubuhnya ke kasur yang empuk. Ia tersenyum lega karena bertemu dengan kasur yang sedari tadi ia damba-dambakan. Dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya, Anora berguling ke kanan dan ke kiri saking senangnya. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di sekolah, Anora akhirnya bisa beristirahat.

Tidak hanya itu. Kesenangan Anora juga datang dari Om Aron yang beberapa menit yang lalu mengirimkan dirinya uang dengan jumlah yang besar. Tentu saja, siapa yang tidak senang dikirimi uang tanpa harus bekerja keras?

Anora merogoh saku roknya. Gadis itu mengambil ponsel miliknya. Jari jemarinya menari di atas layar untuk mengetikkan kata sandi yang mengunci ponsel Anora. Setelah terbuka, Anora membuka aplikasi mobile banking.

"15 juta?! " ujarnya kaget. Mata Anora melotot setelah melihat nominal uang yang dikirimkan dalam jumlah yang besar.

Tiba-tiba, ponsel Anora bergetar beberapa detik disertai nada dering yang menandakan ada pesan yang masuk. Anora mengecek notifikasi yang muncul dibagian atas layar. Gadis itu memicingkan matanya untuk melihat icon notifikasi yang sangat kecil.

"Om Aron?" tanyanya pada diri sendiri.

Lantas, Anora beralih aplikasi untuk mengecek pesan yang masuk. Setelah membuka aplikasi yang bernama 'Whatsapp', gadis itu melihat deretan pesan yang baru masuk. Salah satu pesan yang masuk berasal dari Om Aron. Pesannya muncul di paling atas aplikasi dibanding pesan-pesan yang lain. Anora yang penasaran segera membuka pesan tersebut.

Om Aron sayang: Sayang, barusan Om ngirim uang ke kamu, ya! tapi maaf, Om ngirim uangnya nggak terlalu besar. Semoga kamu bisa pergunakan sebaik-baiknya, ya!

Senyum Anora seketika merekah setelah membaca pesan dari Om Aron. Namun, gadis itu juga merasa tidak enak hati karena dikirimkan uang dengan jumlah yang besar. Anora juga berniat untuk mengembalikan setengah dari uang yang sudah Om Aron berikan. Gadis itu berpikir bahwa Om Aron lebih baik mengutamakan untuk menafkahi keluarganya terlebih dahulu daripada Anora.

Setelah memikirkan hal tersebut, pandangan Anora kembali fokus pada layar ponselnya. Jari jemarinya mengetikkan sesuatu. Anora pun ingin membalas pesan dari Om Aron.

Anora: Aduh, Om, Anora jadi nggak enak banget, nih, dikirimin uang segitu banyaknya. Apa aku kembalikan setengahnya ya, Om? Aku juga nggak enak sama keluarga Om, dan anak-anak Om

Om Aron sayang: Aduh sayang, kamu jangan ngerasa nggak enak gitu, dong. Tenang aja, uang untuk keluarga sudah Om atur. Jadi, 15 juta memang buat kamu, sayang

Anora: AAAA! Makasih banyak ya, Om! Sumpah, aku nggak tau lagi mau ngomong apa. Om baik banget! pokoknya, minggu depan kita ketemuan ya, Om!

Om Aron sayang: Iya, Sama-sama Sayang. Nanti kalo mau ketemuan, kamu atur aja, ya! Om mau lanjut kerja dulu, nih. Bye sayang!

Anora: Bye, Om!

Anora dan Om Aron memutuskan perbincangannya di Whatsapp.

Anora kembali tersenyum. Ia tidak menyangka ada orang sebaik Om Aron yang telah mengirimkan uang sebegitu banyak untuknya. Kebetulan juga, malam ini Anora akan pergi clubbing bersama Rachel. Jadi, gadis itu memiliki pegangan uang yang cukup banyak untuk pesta malam ini.

“Time to party, Anora!”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel