Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 AJAKAN RACHEL

Tepat saat jam menunjukkan pukul dua siang, bel sekolah berdering dengan nyaring. Para siswa yang berada di dalam kelas lantas berteriak karena momen ini sangat ditunggu-tunggu oleh mereka.

Anora memandang lapangan sekolahnya dari rooftop. Hampir dua jam berlalu, gadis itu berada di sana dengan ditemani oleh Dirga. Mereka berdua saling mengobrol, bertukar cerita, hingga bermain game bersama. Baik Anora maupun Dirga, keduanya saling menghibur satu sama lain.

Dirga mengangkat kepalanya. Pandangan laki-laki itu beralih dari ponsel yang sedari tadi berada di tangannya. Kemudian, Dirga menepuk pelan pundak Anora.

“Udah waktunya pulang sekolah, ya?” tanya Dirga.

Anora menoleh. Gadis itu mengangguk pelan seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah siswa yang berlarian di lapangan menuju gerbang sekolah.

“Mau turun?” tawar Anora.

Dirga berdeham. “Boleh, deh. Yuk!”

“Yuk!” seru Anora.

Dirga beranjak. Sebelum turun, laki-laki itu sempat menyimpan ponselnya di saku celanannya. Setelah itu, mereka berdua turun dari rooftop sembari berpegangan tangan.

Sebenarnya, jantung Anora berdegup cepat tidak karuan. Diam-diam, gadis itu salah tingkah sendiri ketika Dirga mulai menggenggam tangannya. Namun, Anora harus terlihat normal dan berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol dirinya agar tidak terlihat bahwa ia sedang salah tingkah.

Anora dan Dirga menerobos kerumunan para siswa yang baru saja keluar dari kelas. Mereka saling berdesakan di koridor, membuat jalanan terblokir dan sulit untuk keluar. Untungnya, Dirga memiliki postur badan yang tinggi dan besar. Laki-laki itu berhasil membawa Anora keluar dari koridor yang penuh tersebut. Kemudian, Anora dan Dirga pergi ke kelas untuk mengambil tas.

“Anora!” panggil seseorang.

Anora menoleh. Gadis itu mendapati Rachel yang sudah berdiri di ambang pintu kelasnya. Ia melambaikan tangan seraya tersenyum lebar kepada Anora.

“Eh, Chel, tunggu sebentar!” seru Anora.

Anora segera merapikan alat tulisnya yang masih berserakan di atas meja. Ia memasukkan semuanya ke dalam tas sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas. Sebelum pergi, Anora berpamitan kepada Dirga. Laki-laki itu masih sibuk membereskan alat tulisnya.

“Dirga, gue duluan, ya!” seru Anora berpamitan.

Dirga mengacungkan jempol.

“Iya, Ra. Hati-hati, ya!” pesan laki-laki itu.

Anora mengangguk. Kemudian, ia pergi meninggalkan kelas bersama Rachel.

Anora dan Rachel kembali menerobos kerumunan sisa di koridor. Untungnya, keadaan koridor tidak seramai tadi. Jadi, mereka tidak harus bersusah payah mengeluarkan energi mereka untuk menerobos.

“Itu tadi yang nyamperin kita di rooftop, kan? Namanya siapa tadi? Gue lupa,” tanya Rachel.

Anora mengangguk sesaat. “Namanya Dirga. Dan yap, dia yang nyamperin kita di rooftop tadi,” jawab Anora.

“Eh, lo pulangnya bareng gue aja, ya! supir gue udah di depan gerbang. Nanti, kita bisa cerita-cerita di dalem mobil,” ajak Rachel antusias.

Tanpa berpikir panjang, Anora langsung mengangguk dan mengiyakan ajakan Rachel.

“Tapi gue ngerepotin supir lo, nggak, kalo misalnya gue pulang bareng lo?” tanya Anora memastikan.

Rachel menggeleng kukuh.

“Yaelah, santai aja kali. Gue malah nggak merasa di repotin sama lo. Apalagi supir gue, dia kan cuma ngejalanin perintah dari nyokap bokap gue. Jadi, sekali lagi, santai aja. okey?”

Anora tersenyum tipis. “Oke, deh!”

Cuaca di luar sangatlah terik. Anora mengeluarkan topi yang sengaja ia taruh di dalam tas untuk berjaga-jaga dari hujan dan panasnya sinar matahari.

“Panas banget, ya, Nor?”

Anora mengangguk. “Iya, ini aja gue pake topi biar nggak kepanasan.”

“Yaudah, cepetan yuk kita ke mobil.”

Rachel menarik tangan Anora. Mereka berdua berlari menuju mobil Mercedes-Benz berwarna hitam yang terparkir di dekat gerbang sekolah. Setelah sampai di samping mobil, Rachel segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam dengan disusul oleh Anora di belakangnya.

“Saya duduk di belakang aja ya, Pak,” ujar Rachel.

Sang supir mengacungkan jempol. “Oke, Non.”

Anora melepaskan tasnya dari punggungnya. Gadis itu menaruh tasnya di samping tubuhnya. Kemudian, Anora menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia memejamkan matanya sembari menghela napas.

“Buka aja topi lo. Di sini lo nggak akan ngerasa kepanasan,” titah Rachel.

Anora menuruti perintah Rachel. Gadis itu mencopot topinya dari kepalanya. Seketika, serbuan udara dari AC mobil membuat dirinya merasa sejuk. Anora tidak lagi merasa kepanasan berkat AC mobil yang super dingin.

Setelah semua sudah berada di dalam, sang supir menyalakan mesin mobil. Tidak butuh waktu lama, mobil pun segera melaju meninggalkan area sekolah.

“Jadi gimana?” tanya Rachel memulai obrolan.

“Gimana apanya?” Anora bertanya balik. Gadis itu sibuk menyeka keringatnya yang tersisa di keningnya.

“Kelanjutan cerita tentang si anak baru itu! siapa namanya?”

“Ah, iya, namanya Dirga. Gue lupa mulu,” imbuh Rachel.

“Oh, si Dirga. Ya, sejauh ini, anaknya cukup humble dan baik sama gue. Intinya, dia beda sama kita.”

Rachel menaikkan alisnya. “Beda gimana, Nor?”

“Ya, kita kan anaknya nakal gitu, ya. Suka ngerokok, suka clubbing, dan kadang bikin onar juga. Tapi kalo si Dirga ini gue liat-liat dia anaknya baik dan jauh dari kata nakal. Itu menurut gue, ya,” ujar Anora panjang lebar.

“Iya juga, sih. Waktu di rooftop aja, dia baik banget ngasih tau ke kita kalo bakal ada razia di rooftop. Untung aja kita cepet-cepet turun. Kalo nggak, kita bisa kena masalah lagi,” tukas Rachel.

“Iya, gue bersyukur banget si Dirga pergi ke rooftop untuk bilangin anak-anak yang lagi ada di sana untuk turun. Gila sih, mana ada anak baru yang baik banget kayak gitu,” timpal Anora.

“Lo juga beruntung bisa sebangku sama dia. Kayaknya sih, dia bakal jadi primadona sekolah,” tebak Rachel.

“Kayaknya, sih. Lagipula, dia juga anak dari kepala sekolah sekaligus pemilik SMA Adhikara Bangsa.”

Seketika Rachel tersentak. Gadis itu terkejut setelah mendengar perkataan dari Anora. Rachel tidak menyangka bahwa Dirga adalah anak dari Pak Adhikara, yaitu kepala sekolah sekaligus pemilik SMA Adhikara Bangsa.

“LO SERIUSAN? DIRGA ANAKNYA KEPALA SEKOLAH?” tanya Rachel tidak percaya.

Anora mengangguk kukuh. Gadis itu terus meyakinkan Rachel agar percaya dengan perkataannya.

“Seriusan, Chel. Lagipula, ngapain gue boong ke lo. Awalnya juga gue nggak percaya kalo Dirga itu anaknya Pak Adhikara. Tapi, setelah gue pikir-pikir, ternyata dia mirip banget, sih, sama Pak Adhi. Apalagi pas gue bilang sama lo kalo Dirga nyuruh pak satpam untuk mempersilahkan masuk para siswa yang telat. Belum lagi tadi dia nyuruh kita turun dari rooftop karena mau ada razia. Coba lo pikir, anak baru mana yang tau akan ada razia? Kita aja belum tentu tau, kan?”

Rachel mengusap dagunya. “Iya juga, sih.”

“Belum lagi tadi dia debat sama Bu Noni gara-gara masalah gue ketiduran di kelas. Jadi intinya, Dirga ini ngebelain gue dari Bu Noni. Katanya, dia bakal ngaduin tindakan Bu Noni ke Pak Adhikara biar tuh guru dikeluarin dari sekolah ini. Keren banget nggak sih?” Anora berdecak kagum.

“Sumpah, Dirga keren banget, sih! Kapan-kapan, ajakin gue untuk kenalan sama dia, dong!” pinta Rachel diiringi rengekan.

Anora terkekeh melihat tingkah laku sahabatnya yang seperti bayi. “Iya, nanti gue kenalin lo sama dia. Tenang aja,,” katanya.

“Oke, makasih banyak Anora!” seru Rachel dengan senyumnya yang lebar.

Anora ikut tersenyum melihat sahabatnya bahagia. Gadis itu merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti Rachel yang selalu ada untuknya.

“Sama-sama, Chel,” balas Anora.

“Karena lo mau ngenalin gue sama Dirga, gimana kalo malem ini kita clubbing?”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel