Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 PERSETURUAN

“ANORA! DIRGA!”

Anora dan Dirga menoleh ke arah sumber suara. Seketika, wajah mereka terlihat panik.

“Mampus, mati aja kita!”

Anora mengajak Dirga untuk lari. Namun, laki-laki itu segera menahan Anora agar tidak pergi ke mana-mana. Sementara itu, Bu Noni berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Wajahnya terlihat marah. Bibirnya mengerucut dan manik matanya menatap tajam Anora dan Dirga yang berdiam diri di tempat.

“Oh, jadi bukannya ke ruangan ayah kamu, tapi malah nongkrong di sini, ya, sama Anora?!” tanya Bu Noni kepada Dirga dengan penuh penekanan.

Dirga mengangguk kukuh. Bola mata laki-laki itu ikut menatap Bu Noni yang berada di hadapannya.

“Benar, Bu, saya nemenin Anora di sini. Soalnya tadi kata ayah saya, saya harus menemani siswi yang diusir karena nggak sengaja ketiduran di kelas,” sindir Dirga diiringi senyumnya yang menyeringai.

“Lagipula nggak ada salahnya, kan, saya membela siswi yang benar? Ah, maksud saya, padahal Anora ini sudah mengakui kesalahannya, tetapi sama Ibu malah dimarahi, bahkan Anora ini dicap ‘aneh’ sama Ibu,” imbuhnya panjang lebar.

Bu Noni semakin terlihat kesal. Tatapannya semakin tajam menghujam Dirga yang sampai saat ini juga masih menatap beliau.

“Kamu baru masuk ke sini saja sudah belagu dan banyak omong. Kalau seperti ini, kamu tidak ada bedanya dengan Anora, sama-sama aneh!” ketus Bu Noni.

Dirga mendengus kesal. Ia paling tidak suka apabila ada orang yang mengatainya. Apalagi yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang guru. Di mana-mana, guru adalah panutan dan contoh bagi para siswa. Namun di situasi ini, sepertinya hal tersebut tidak berlaku lagi bagi Bu Noni. Beliau tipikal orang yang tidak mau disalahkan sedikitpun. Meskipun dirinya salah, beliau tetap ingin menjadi yang paling benar.

“Terus saya harus bagaimana, Bu? Kalau kelakuan ibu saja seperti itu, seakan-akan tidak mau disalahkan, apa yang kayak begini harus jadi panutan sekolah?!” celetuk Dirga. Laki-laki itu sudah tersulut emosi.

“Sekarang kalian berdua nggak usah ikut pelajaran saya selama dua semester. Biarin aja nilai kalian jelek. Habis itu, kalau nilai kalian jelek, kalian tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri. Siswa macam apa kalian ini, hah?!”

“Ibu sendiri guru macam apa?!” Dirga membalikkan omongan Bu Noni.

“Lancang banget kamu!”

Sebuah tamparan hendak melayang ke arah pipi Dirga. Namun, secepat kilat, laki-laki itu menangkap tangan Bu Noni dan membantingnya segera. Dirga berhasil menepis serangan Bu Noni yang hampir saja membuat pipinya merah.

“Oh, guru yang seperti ini toh, yang suka menampar para siswa?” ujar Dirga sembari mengangguk-angguk.

Anora yang sedari tadi melihat percek-cokkan antara guru dan siswa, hanya bisa bergeming tanpa berbuat apa-apa. Tubuhnya seakan kaku, lidahnya kelu, namun matanya tetap mengarah kepada dua orang yang ada di hadapannya.

“Saya akan adukan kalian berdua ke kepala sekolah!” ancamnya sembari menunjuk Dirga dan Anora.

“Silahkan. Tapi, kalau bukan kami yang dihukum, berarti Ibu yang harus keluar dari sekolah ini!” Dirga kembali menampilkan senyum getirnya.

Bu Noni tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Lantas, beliau pergi dengan langkah yang memburu. Bahkan hentakan sepatunya masih terdengar ketika beliau sudah berada jauh di ujung koridor.

“Ada aja kelakuan tuh guru,” celetuk Dirga sembari menggelengkan kepalanya.

Anora tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur akan kehadiran Dira di hadapannya. Kalau tidak ada laki-laki itu, Anora pasti sudah kena omel habis-habisan oleh Bu Noni. Kali ini, Anora harus berterima kasih kembali pada Dirga.

“Dirga,” panggil Anora.

Dirga menoleh. Manik matanya menatap wajah Anora yang masih tersenyum.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu.

“Gue mau bilang makasih lagi ke lo. Di saat situasi kayak gini, lo selalu dateng tepat waktu buat nolongin gue. Padahal, status lo di sekolah ini masih sebagai siswa baru. Tapi, lo udah banyak bantu gue. Sekali lagi, makasih banyak, Ga,” ujar Anora panjang lebar.

Dirga tersenyum tipis. Laki-laki itu mengangguk.

“Sama-sama. Lagian, santai aja lagi. Gue juga baru dua kali bantu lo,” jawabnya.

Laki-laki itu kemudian beranjak. Dirga meninggalkan Anora sesaat untuk membeli minuman karena tenggorokannya terasa kering. Ia pergi mengunjungi salah satu pedagang di kantin yang menjual es dengan berbagai varian rasa. Dirga memesan satu cup es cappuccino dan sebungkus gorengan.

Sekitar lima menit, laki-laki itu kembali lagi pada Anora yang masih setia di tempat duduknya.

“Nih, gorengan,” tawar Dirga. Ia menyodorkan gorengan kepada Anora.

Anora tampak tergiur. Ia mengintip terlebih dahulu ke dalam bungkus gorengan. Setelah itu, Anora mengambil dua bakwan dan satu tempe.

“Gue ambil tiga, ya!” serunya.

Dirga mengangguk.

“Ambil aja, semua juga nggak apa-apa, kok. Nanti gue gampang tinggal beli lagi.”

“Gue nggak serakus itu kali. Lagipula, nggak afdol banget kalo gue makan semua gorengan punya lo. Mau gimanapun, yang beli ini gorengan kan lo, bukan gue,” tukas Anora. Gadis itu mulai mulai memasukkan satu bakwan ke dalam mulutnya.

“Kalo sama gue, mah, santai aja. Mau lo ambil semua atau mau lo ambil setengah, bebas aja. nggak usah sungkan dan malu-malu sama gue,” balas Dirga.

Anora menepuk jidat. “Oh iya, gue lupa, lo kan anak pemilik sekolah ini, ya!” seru Anora diiringi tawaan kecil.

Dirga ikut terkekeh. Laki-laki itu kemudian menyeruput es cappucinonya dan mengunyah satu tahu isi. Sekarang, mulutnya penuh oleh gumpalan tahu yang sedang ia cerna.

“Ini kita nggak usah masuk kelas, nih?” tanya Anora. Gadis itu sedikit khawatir.

Dirga menggeleng.

“Nggak usah. Lagipula, pelajaran ekonomi sampe jam terakhir, kan? Bayangin aja, kita harus ketemu tuh guru sampe 4 jam lamanya. Gue sih ogah ngeliatnya,” jawab Dirga diiringi ekspresi wajah jijik.

“Iya juga, sih. Lagian, barusan kita abis diomelin sama dia. Kalo misalnya kita nekat masuk ke kelas, yang ada kita kena omel lagi.”

“Ya kan? Gue sih ogah denger tuh guru ngomel-ngomel lagi di depan gue. Mending nggak usah masuk sekalian.”

“Oh iya, gue hampir lupa. Tadi kan Bu Noni bilang kalo kita nggak boleh ikut pelajaran dia selama dua semester. Itu gimana, tuh, menurut lo? Berarti kita nggak dapet nilai ekonomi, dong?” Anora melontarkan beberapa pertanyaan lagi kepada Dirga.

Dirga mengusap dagunya. Laki-laki itu tampak berpikir.

“Ah! Gini aja!” seru Dirga.

Anora terlihat sangat antusias untuk mendengar ide cemerlang dari seorang Dirga.

“Apa? apa?”

“Gue bakal bilang sama bokap gue. Nanti, kalo Bu Noni tetep nggak ngizinin kita untuk ikut pelajarannya dia, paling bokap gue langsung bertindak untuk segera ngeluarin tuh guru,” ujar Dirga.

Anora memandang Dirga dengan takjub. Inilah salah satu privilege kalau menjadi seorang anak kepala sekolah. Ah, tidak, kepala sekolah sekaligus pendiri sekolah. Kalau ada masalah yang menyangkut dirinya, Dirga tinggal melapor kepada ayahnya untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Simpel, kan?

“Gue suka cara lo! Ternyata, jadi anak kepala sekolah sekaligus pendiri sekolah itu enak banget, ya! banyak banget privilegenya!” seru Anora.

Dirga terkekeh. Laki-laki itu kemudian tersenyum menyeringai. Anora paham, laki-laki itu merasa bangga dengan kehidupannya. Ia juga sedikit menyombongkan diri karena memiliki privilege atau hak istimewa di sekolah ini. Tetapi, menurut Anora, hal tersebut sangat wajar. Bahkan dirinya tidak iri sama sekali dengan Dirga. Bagi Anora, kehidupan seseorang itu sudah ada porsinya masing-masing. Ada yang terlahir kaya, ada pula yang terlahir miskin, serta masih banyak lagi contoh kehidupan yang beragam di dunia ini.

“Terus, sekarang kita mau ngapain?” Anora menopang dagunya. Gadis itu terlihat bosan setelah berlama-lama di kantin yang sepi.

“Ke rooftop aja gimana?” tawar Dirga.

Wajah Anora seketika sumringah. Ia segera mengangguk dan beranjak dari kursinya. Sementara itu, Dirga ikut beranjak dari kursi. Laki-laki itu menyambar tangan Anora dan menyematkan jari jemarinya dengan jari jemari Anora.

“Ayo kita ke rooftop!”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel