BAB 4 BU NONI
Suasana kelas sedang hening-heningnya. Masalahnya, saat ini kelas 12 IPS 4 masuk pada jam pelajaran Ekonomi, dimana guru yang mengajarnya adalah Bu Noni – guru tergalak dan tegas di SMA Adhikara Bangsa.
Saat ini Bu Noni sedang menjelaskan mengenai dasar-dasar akuntansi. Sebelumnya, beliau sudah berpesan kepada siswa kelas 12 IPS 4 bahwa satu jam selanjutnya akan digunakan untuk mengerjakan tugas. Itu artinya, Bu Noni akan memberikan tugas ekonomi berkaitan dengan materi akuntansi.
Anora menopang dagunya. Gadis itu melamun. Sesekali matanya mengerjap karena menahan rasa kantuk yang menghujam dirinya. Di saat Bu Noni menatap ke arah siswa, beliau menyadari bahwa salah satu muridnya, yaitu Anora, tidak memperhatikan papan tulis selama pelajaran berlangsung.
“ANORA!” seru Bu Noni dengan penuh penekanan. Bahkan teriakannya menggema ke seluruh ruangan.
Anora tersentak. Gadis itu terlihat seperti orang linglung. Beberapa detik kemudian, Anora akhirnya sadar sepenuhnya. rasa kantuk yang sedari tadi menghujamnya, kini musnah seketika. Anora merasa matanya sangat segar.
“I-iya, Bu?” Anora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah, sebelum akhirnya kembali fokus pada Bu Noni.
Seluruh mata tertuju pada Anora yang kini tengah berdiri di tempatnya. Gadis itu masih saling beradu tatap dengan Bu Noni. Selain itu, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun karena takut terkena marah oleh sang guru ekonomi.
“Kenapa kamu tidur di kelas?!” tanya Bu Noni dengan suara yang lantang.
Anora sempat bergeming. Memang kenyataannya gadis itu mengantuk dan sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tidur. Namun mau bagaimana lagi, sepasang bola matanya tidak bisa diajak bekerja sama kali ini. Anora merasa ketiduran beberapa menit, ah, tidak, bahkan hanya beberapa detik saja.
“Ma-maaf, Bu, saya mengantuk,” jawab Anora lirih. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya.
“Mengantuk? Memangnya kamu tidur jam berapa?”
“Um, anu, saya lupa, Bu,” Anora tersenyum malu. Di sisi lain, ia tidak kuat menatap wajah Bu Noni yang terlihat marah.
“Kok bisa lupa? Orang kamu sendiri, kok yang ngalamin. Aneh!” ketus beliau.
“Lagipula kelas bukan tempat untuk tidur!” imbuhnya.
Anora merasa kesal karena di cap sebagai siswa “aneh”. Gadis itu tidak terima. Padahal, dirinya mengantuk pun adalah hal yang wajar. Kalaupun ketiduran di kelas, seharusnya Bu Noni bisa memberitahunya dan menasihatinya secara baik-baik, bukan dengan cara marah-marah seperti ini. Lagipula tertidur sesaat di kelas bukanlah suatu kejahatan kriminal. Namun, di situasi seperti ini, seakan-akan Anora telah melakukan kejahatan kriminal yang harus diberi hukuman seberat-beratnya.
“Kenapa kamu diam saja, Anora?!!”
Anora memukul meja dengan keras. Gadis itu mendongkakkan kepalanya. Wajahnya terlihat marah seakan tidak terima dengan apa yang terjadi padanya.
“Bu, kenapa ibu semarah ini sama saya? Emangnya saja ngelakuin kejahatan kriminal? Saya kan Cuma nggak sengaja ketiduran di kelas. Lagipula Ibu kan bisa bilangin saya secara baik-baik. Saya juga akan ngerti dan paham, Bu! Tapi kenapa ibu malah marah-marah dan ngatain saya aneh, Bu?! Di sini sebenernya yang aneh itu saya atau Ibu?!” celetuk Anora panjang lebar. Gadis itu tidak bisa menahan emosinya yang telah membara.
Bu Noni menatap tajam Anora. Beliau sepertinya kehabisan kata-kata untuk membalas semua perkataan Anora. Bu Noni hanya diam sembari menatap Anora lekat-lekat.
“KELUAR KAMU!” titah Bu Noni. Tangan beliau menunjuk ke arah pintu, mengisyaratkan Anora untuk meninggalkan kelas.
Anora tersenyum getir. Gadis itu perlahan melangkah keluar. Anora memalingkan wajahnya ketika dirinya melewati Bu Noni. Ia merasa muak ketika harus bertatapan kembali dengan guru itu.
Saat berada di luar kelas, Anora mendengus kesal. Berkali-kali tangannya memukul dinding koridor. Selain itu, langkahnya terdengar sangat berat ketika gadis itu berjalan menyusuri koridor dan pergi menuju kantin. Anora pikir, lebih baik ia menghabiskan waktu di kantin daripada harus menunggu pelajaran selesai di koridor ataupun selasar dekat lapangan.
“Bu, es jeruknya satu, ya!” pesan Anora.
Suasana kantin begitu sepi. Hanya terdapat Anora seorang diri di sana. Gadis itu duduk di kursi dan memilih untuk memainkan ponselnya. Anora mengetikkan kata sandi ponselnya. Setelah itu, ia membuka salah satu aplikasi untuk melihat pesan yang masuk.
Anora mengerjap. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan kepada dirinya. Karena penasaran, Anora membuka pesan tersebut.
62 859-xxxx-2913: Lo di mana?
Anora: Gue di kantin. By the way, lo siapa?
Anora menunggu nomor tersebut membalas pesannya. Lima menit kemudian, ponselnya kembali berdenting, menampilkan notifikasi yang berasal dari nomor asing tersebut.
62 859-xxxx-2913: Nanti lo juga tau gue siapa
62 859-xxxx-2913: Oke, gue ke kantin sekarang
Anora menerka-nerka siapa sosok di balik nomor asing tersebut. Setelah es jeruk datang, gadis itu menyeruputnya sedikit, kemudian ia kembali terfokus pada nomor yang tertera di layar ponselnya. Sesekali, Anora mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk melihat siapa yang datang menemuinya.
“Lama ya nungguin gue,” kata seseorang yang berdiri di belakang tubuh Anora.
Anora sedikit tersentak. Gadis itu kemudian menoleh untuk melihat siapa sosok yang ada di belakangnya. Anora tidak menyangka bahwa laki-laki yang kini ada di hadapannya menemani dirinya di kantin.
“Dirga?! Lo ngapain ke sini?” tanya Anora heran. Gadis itu menaikkan alisnya, menatap Dirga dengan penuh kebingungan.
“Sebelumnya, gue boleh duduk di sini?” izin Dirga.
Anora mengangguk, namun masih dengan ekspresi yang sama.
“Lo ngapain ke sini?” Anora mengulang pertanyaannya.
“Gue mau nemenin lo,” jawabnya santai.
“ Emangnya nggak dicariin guru?”
Dirga menggeleng. “Gue izinnya pergi ke kantor bokap karena dipanggil sama beliau.”
Anora terkekeh. Gadis itu menatap Dirga lekat-lekat.
“Enak ya jadi lo, kalo mau izin tinggal bilang mau ketemu bokap. Selain itu, privilege apalagi yang lo dapetin di sini?”
“Gue nggak tau. Mungkin, gue bisa bolos sepuasnya dan semau gue tanpa harus ditulis alpa di buku absensi,” ujar Dirga diselingi tawaan.
“Gila, enak banget, ya, jadi lo!” Anora tersenyum bangga. Ia bertepuk tangan beberapa kali.
“Oh iya,” Anora menepuk jidatnya.
Dirga menaikkan alisnya. Sepertinya, ada yang ingin dibicarakan oleh Anora.
“Kenapa, Na?” tanya Dirga.
Anora sedikit malu untuk mengatakan hal ini. Ia menundukkan kepalanya selama beberapa detik, kemudian diangkat lagi setelah siap berbicara dengan Dirga.
“Soal omongan gue di rooftop tadi, gue minta maaf, ya! sumpah, gue nggak bermaksud ngomongin lo. Gue cuma cerita ke temen gue tentang lo. Udah itu aja. Jadi, sekali lagi gue minta maaf!” Anora menyatukan kedua telapak tangannya sembari meminta maaf berulang kali kepada Dirga.
Dirga hanya tersenyum melihat tingkah laku Anora. Laki-laki itu memaklumi apa yang gadis itu lakukan tadi saat jam istirahat.
“Santai aja, nggak usah diambil pusing. Lagipula, gue udah maklumin lo, kok,” jawabnya santai.
“Makasih, Ga.”
“Santai aja.”
Mereka berdua mengobrol dalam waktu yang cukup lama. Saking asyiknya mengobrol, Anora dan Dirga tidak menyadari bahwa ada yang memperhatikannya dari jauh. Sedetik kemudian, nama mereka dipanggil.
“ANORA! DIRGA!”
Anora dan Dirga menoleh ke arah sumber suara. Seketika, wajah mereka terlihat panik.
“Mampus, mati aja kita!”
****
