BAB 3 ROOFTOP
Para siswa bersorak heboh ketika bel istirahat berdering. Momen ini sangat ditunggu-tunggu oleh mereka setelah dipusingkan oleh pelajaran di jam pertama dan kedua.
Anora beranjak dari kursi. Gadis itu bersiap-siap untuk pergi ke kelas 12 IPS 2 untuk menghampiri sahabatnya, Rachel. Sebelum pergi, Anora sempat melirik Dirga yang sepertinya juga ingin pergi dari tempat duduknya. Laki-laki itu sedang memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
“Lo mau ke kantin juga?” tanya Anora.
Dirga menggeleng. “Nggak. Gue mau ke ruangan bokap,” jawabnya santai.
Mulut Anora membentuk huruf O. Gadis itu menatap kepergian Dirga yang perlahan menghilang dari pandangannya. Setelah berdiam diri cukup lama, Anora akhirnya pergi ke luar kelas.
Anora mempercepat langkahnya. Ia menerobos para siswa yang berkerumun di koridor. Gadis itu sempat tersandung oleh salah satu kaki siswa. Untungnya, Anora bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Gadis itu kembali berjalan hingga berada di depan kelas 12 IPS 2.
“BESTIE!” teriak Anora.
Anora melambaikan tangannya kepada Rachel yang tengah berkemas di mejanya. Gadis itu kemudian menghampiri Anora yang menunggunya di ambang pintu kelas.
“Gue punya berita hangat hari ini!” seru Anora antusias.
“Seriusan? Berita apaan?” tanya Rachel yang tak kalah antusiasnya. Gadis itu dibuat penasaran oleh Anora.
“Ada, deh, nanti gue kasih tau,” katanya.
Anora menggandeng tangan Rachel. Mereka berdua berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Kebetulan juga pagi ini Anora tidak sarapan. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi.
“Lo mau beli apa?” tanya Rachel.
Anora menaruh jari telunjuknya di dagu. Gadis itu tampak berpikir.
“Gue mau beli mie ayam aja, deh,” jawab Anora.
“Oke, sama, gue mau beli mie ayam juga,” imbuh Rachel.
Suasana kantin tak kalah ramai. Ingar-bingar dari para siswa memenuhi seluruh kantin. Mereka semua melakukan aktivitasnya masing-masing, bukan hanya sekadar makan atau minum. Ada yang bermain game, bergosip, dan lain sebagainya.
Seperti biasa, kursi yang terletak di sudut kantin sudah menjadi basecamp bagi geng Navares. Geng tersebut berdiri lima tahun yang lalu dan turun temurun diwariskan kepada adik kelas yang sanggup memegang tanggung jawab untuk menjaga geng Navares agar tetap ada. Anggota mereka ada banyak, mungkin sekitar puluhan. Untuk saat ini, geng Navares memegang tahta sebagai geng terkuat di lingkungan sekolah. Tidak ada yang berani menghadap ataupun berbuat yang macam-macam dengan anggota geng tersebut.
Revan, sang ketua geng, kini sedang asyik dengan ponselnya. Bersama Natan dan Reno, mereka bertiga sibuk bermain game bersama. Sisanya, mereka sibuk dengan kegiatannya sendiri, termasuk Levi. Laki-laki itu juga merupakan anggota dari geng Navares.
“Bu, mie ayamnya dua, ya!” pesan Anora.
Setelah memesan, Anora dan Rachel duduk di kursi dekat keberadaan geng Navares. Mereka berdua sudah terbiasa dengan geng tersebut, malah terbilang akrab dengan anggotanya. Namun bagi Anora, tidak ada kata akrab untuk Levi. Laki-laki itu sungguh menyebalkan.
“Nat, bagi rokok, dong!” pinta Rachel.
“Punya gue ketinggalan di tas,” sambungnya.
Natan mengalihkan pandangannya sesaat. Laki-laki itu menaruh ponselnya di meja, kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua batang rokok.
“Nih,” Natan menyodorkan rokok tersebut kepada Rachel.
Rachel tersenyum. Gadis itu menerima pemberian Natan dengan senang hati.
“Makasih sayang,” ucapnya.
Senyum tipis mengembang di wajah Natan. Laki-laki itu menatap Rachel. “Sama-sama sayangku.”
Antara romantis dan jijik, Anora bergidik melihat tingkah laku mereka berdua. Sebenarnya, gadis itu lebih merasa jijik daripada romantis.
“Lo masih nunggu kepastian dari dia?” tanya Anora sembari memberikan kode lirikan mata yang tertuju pada Natan.
Rachel mengedikkan bahu. “Gue nggak tau, Na. Nunggu itu capek, kan? Dan gue udah lama nunggu kepastian dari dia. Tapi lo liat, sampe sekarang gue juga belum di tembak sama dia,” ujar Rachel penuh harap.
“Tapi barusan lo sayang-sayangan, gimana, sih?” Anora mengernyitkan dahinya.
“Itu sebenernya sekalian ngode, tapi nggak peka-peka,” kata Rachel dengan penuh penekanan.
Natan yang merasa tersindir menolehkan kepalanya, menatap tajam Anora dan Rachel yang sedang berbincang.
“Lo pada nyindir gue ya?” tanya Natan sinis.
Anora segera menggeleng. “Nggak kok, lo nya aja ke ge-eran kali.”
“Tau nih, siapa lagi yang nyindir lo,” sambar Rachel. Gadis itu menatap tajam Natan.
Setelah perdebatan kecil, Anora dan Rachel memilih untuk memalingkan wajahnya dari anggota geng Navares. Kedua gadis itu segera menyantap mie ayam pesanannya yang baru saja di antar. Berhubung mereka memiliki waktu tiga puluh menit untuk istirahat, dua puluh menit mereka habiskan di kantin. Sisanya, Anora dan Rachel memilih untuk pergi ke rooftop sekolah.
“Na, lo tadi mau ngasih tau gue berita apaan?” tanya Rachel. Gadis itu duduk di kursi yang terdapat di rooftop sekolah.
“Bentar dulu,” Anora mengambil sebatang rokok milik Rachel.
“Eh, minjem korek, dong!” seru Anora. Gadis itu berjalan ke arah gerombolan siswa yang juga berada di rooftop.
Setelah menyalakan rokok, Anora segera mengisapnya. Kemudian, ia mengembuskan asap dari dalam mulutnya hingga kepulan asap itu menghilang di udara. Sedetik kemudian, Anora kembali lagi pada Rachel yang masih berada di tempatnya.
“Jadi gini…” Anora memulai untuk bercerita.
Rachel mendekatkan dirinya pada Anora. Gadis itu ingin menyimak cerita sahabatnya dengan seksama.
“Tadi pagi kan gue telat dateng ke sekolah. Terus, gerbangnya udah di tutup kan sama Pak satpam. Eh, nggak lama gue nunggu, ada siswa laki-laki yang dateng pake mobil. Nah, tuh laki-laki tiba-tiba nyuruh Pak Satpam untuk ngebukain gerbang dan ngebiarin para siswa yang telat untuk masuk ke dalem. Dan ajaibnya lagi, Pak Satpam patuh banget sama perintahnya. Jadinya, pagi ini posisi gue aman tanpa hukuman sama sekali,” cerita Anora panjang lebar.
Mulut Rachel terbuka lebar seakan tak percaya dengan cerita yang Anora lontarkan. Gadis itu beberapa kali menanyakan kebenaran atas cerita Anora.
“Siapa tuh cowok? Ganteng nggak? Anak kelas mana dia?” berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Rachel. Gadis itu begitu antusias sekaligus penasaran siapa sosok siswa laki-laki yang Anora ceritakan.
“Namanya Dirga. Dia ternyata sekelas sama gue. Dan satu hal yang harus lo tau. DIA DUDUK DI SAMPING GUE!” pekik Anora.
“Anjir? seriusan, Na? Lo nggak bohong, kan? Dia satu meja sama lo?” Rachel semakin antusias setelah mendengar fakta bahwa Dirga menjadi teman sebangku dan semeja Anora.
“Seriusan, Hel! Gue awalnya nggak berekspetasi kalo misalnya dia duduk sama gue. Tapi, takdir berkata lain. Apa emang dia jodoh gue kali, ya?” Anora terkekeh sembari membayangkan kata-katanya.
“GUE IRI BANGET SAMA LO, ANORA!” seru Rachel.
“Eh, tapi, kenapa Pak Satpam patuh banget sama tuh anak baru? Emangnya dia siapa? Punya kuasa apa dia di sekolah ini?” tanya Rachel lagi.
Sekarang gadis itu terlihat seperti wartawan yang sedang mewawancarai Anora.
“Lo mau tau dia siapa?” Anora bertanya balik, membuat Rachel semakin penasaran dengan sosok Dirga.
Rachel mengangguk kukuh. Gadis itu dibuat penasaran oleh Anora.
“Jadi, Dirga ini ternyata…”
Belum sempat Anora menyelesaikan kalimatnya, sorot matanya menatap sosok siswa laki-laki berparas tinggi yang berdiri di belakang tubuh Rachel. Mata gadis itu melotot. Ia merasa sangat malu.
Laki-laki itu berdeham.
“Lo lagi ngomongin gue, ya?”
***
