Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2 DIRGA ADHIKARA

Anora berlari menyusuri koridor sekolah yang sepi. Ia menolehkan kepalanya, menatap satu per satu kelas yang dilewatinya yang sebagian besar sudah memulai kegiatan pembelajaran. Meskipun hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester, SMA Adhikara Bangsa selalu menerapkan untuk langsung memulai pembelajaran, kecuali untuk kelas 10 yang harus menjalankan “Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah”.

Sehari sebelum masuk sekolah, Anora mendapatkan informasi terkait pembagian kelas. Gadis itu mendapat kelas 12 IPS 4 sebagai tempatnya untuk belajar. Tidak ada yang spesial dan menarik dari kelas itu. Justru Anora kesal karena di kelas 12 ini, ia tidak lagi sekelas dengan sahabatnya, Rachel. Saat ini, Rachel berada di kelas 12 IPS 2. Posisi kelas mereka berjauhan, sehingga bila ingin menyusul atau menghampiri Rachel, Anora harus menaiki tangga dan berjalan menuju 12 IPS 2 yang terletak di sudut koridor lantai dua.

Anora menghela napas. Gadis itu menatap papan nama yang tergantung di atas pintu. Ia berhenti sejenak sebelum memasuki kelasnya.

“12 IPS 4, here we go!”

Anora melangkah masuk ke dalam kelasnya. Sontak, gadis itu terkejut karena semua teman-temannya telah berada di kursinya masing-masing. Selain itu, Pak Darno sebagai guru Ekonomi sekaligus wali kelas 12 IPS 4 juga telah berada di tempatnya. Beliau menatap tajam Anora yang kini bergeming di ambang pintu.

Anora tersenyum malu. Kemudian, gadis itu mendelik. Ada satu hal yang menyita perhatiannya, yaitu siswa laki-laki yang kini berdiri di depan kelas. Laki-laki itu berdiri tegap tanpa bersuara.

Ekor mata Anora melirik laki-laki itu. Karena sadar akan kehadiran Anora, laki-laki itu ikut melirik, sehingga manik matanya dengan manik mata milik Anora saling bertemu.

“Anora, kenapa kamu telat?” tanya Pak Darno dengan suara beratnya.

Anora menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Baik jujur ataupun berbohong, Pak Darno tidak akan percaya dan ujung-ujungnya Anora akan kena hukuman juga. Mana hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Anora tidak habis pikir bila dirinya benar-benar mendapat hukuman.

“Jawab Anora, Bapak sedang bertanya sama kamu, ya! kenapa kamu diam saja?” imbuh beliau.

Anora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengangkat kepalanya dan menatap penuh Pak Darno.

“Maaf, Pak. Tadi ada sedikit kendala di perjalanan menuju sekolah. Jadinya, saat sampai, gerbang sudah ditutup dan saya telat,” jawab Anora beralasan.

“Kendala apa yang kamu temukan di perjalanan, Anora? Memangnya kamu naik apa ke sini?” tanya Pak Darno lagi. Beliau menghujam Anora dengan berbagai pertanyaan.

Sialan, batin Anora.

Anora kembali membatu. Di situasi seperti ini, otaknya tidak bisa diajak bekerja sama untuk berpikir. Seakan membeku, gadis itu kembali memilih untuk diam karena tidak tahu jawaban yang akan dilontarkan kepada Pak Darno.

“ANORA!” seru beliau berteriak, membuat seisi kelas kaget karena suaranya yang lantang.

Anora mengerjap. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Pak Darno. Tubuh Anora sedikit gemetar karena bentakan Pak Darno yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Mungkin, hukuman untuknya bertambah dua kali lipat karena Anora tidak menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh wali kelasnya itu.

“I-iya, Pak.”

“Jawab Anora!”

Anora menggigit bibirnya. Ia mempasrahkan dirinya kepada Tuhan. Memang hari ini adalah hari sialnya. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin pribahasa itu cocok untuk menggambarkan kondisi Anora saat ini.

“Tadi saya naik angkot, Pak. Kebetulan ban angkotnya bermasalah, jadi harus berhenti sebentar di jalan. Selain itu, jalanan juga macet, Pak. Mungkin karena hari ini seluruh siswa dari berbagai sekolah serentak masuk,” jelas Anora dengan penuh keyakinan.

Pak Darno mengurut dagunya. Sepertinya beliau sedang mempertimbangkan jawaban Anora. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Pak Darno mempersilahkan Anora untuk duduk.

Anora tersenyum. Kemudian, ia berjalan melewati laki-laki itu yang masih setia berdiri didepan kelas. Anora melihat dua kursi kosong yang berada di belakang kelas. Gadis itu langsung menduduki kursi tersebut.

Anora menatap laki-laki itu lamat-lamat. Ya, dialah yang menolong Anora dan siswa lain yang terlambat datang ke sekolah. Namun, yang ada di pikiran Anora, siapakah laki-laki itu? mengapa Pak satpam patuh dengan perintahnya? Apakah dia memiliki kekuasaan di sekolah ini?

Berbagai pertanyaan timbul di pikiran Anora. Gadis itu sangat penasaran dengan sosok laki-laki itu. Mau bagaimanapun juga, Anora harus mencari tahu informasi tentang laki-laki itu. Ia juga harus berterima kasih karena telah membantu dirinya tadi di depan sekolah.

“Baik, sekarang di depan kalian semua, ada siswa baru yang nantinya akan menjadi teman kalian,” ujar Pak Darno memberitahu.

“Sekarang perkenalkan diri kamu terlebih dahulu,” imbuhnya.

Laki-laki itu berdeham. Kemudian, ia maju selangkah dan bersiap untuk memperkenalkan dirinya.

“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Dirga Adhikara Saputra. Saya merupakan siswa pindahan dari SMA Dirlangga yang terletak di Bandung. Harapan saya, semoga kita bisa menjadi teman yang baik. Terima kasih,” ujar laki-laki yang bernama Dirga memperkenalkan diri.

Dirga tersenyum sembari merapikan seragamnya. Setelah itu, Pak Darno mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk. Dirga mengangguk paham seraya berjalan menuju kursi kosong yang tersisa.

Anora tergelak. Gadis itu menyadari bahwa satu-satunya kursi yang masih kosong ada di sampingnya. Itu berarti, Dirga akan menjadi teman sebangku Anora. Antara senang dan gugup, perasaan gadis itu bercampur aduk.

Dirga menarik kursi yang berada di samping Anora. Laki-laki itu segera menduduki singgasananya sembari meletakkan tasnya di atas meja.

“Hai,” sapa Dirga.

Anora menoleh. Gadis itu melemparkan senyum manisnya kepada Dirga.

“Hai,” balas Anora.

“Nama lo siapa?” tanya laki-laki itu sambil menjulurkan tangannya.

Anora menjabat uluran tangan Dirga. “Anora.”

Dirga menggangguk. Laki-laki itu ikut melemparkan senyumnya kepada Anora.

“Gue nggak harus perkenalan diri lagi kan?”

Anora menggeleng. “Nggak usah, lagipula lo udah perkenalan diri tadi di depan dan gue udah tau nama lo,” tukasnya.

“Okei.”

Anora kembali menatap Dirga. Gadis itu menerka-nerka sosok yang baru saja duduk di sampingnya. Setelah dilihat-lihat, Dirga tipikal anak yang baik dan rajin. Tidak ada tanda-tanda kenakalan di wajahnya. Anora duga, laki-laki itu pasti akan menjadi juara kelas di semester ini dan selanjutnya.

“Dirga,” panggil Anora.

Dirga yang sedang menulis, kini menolehkan kepalanya dan menatap Anora. “Kenapa?”

“Gue mau ngucapin terima kasih.”

Dirga menaikkan alisnya, bingung. Ia tidak mengerti mengapa Anora berterima kasih kepadanya.

“Terima kasih untuk apa?” tanyanya bingung.

“Terima kasih karena lo udah bantu gue tadi pas telat. Karena lo, gue dan siswa lain jadi bisa masuk ke dalem, deh,” jawab Anora berterus terang.

Dirga terkekeh seakan hal tersebut tidak menjadi masalah untuknya.

“Santai aja, lagian gue cuma bantu gitu doang.”

“Satu hal lagi.”

“Apa?”

Anora menggigit bibirnya. Ia mulai memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Dirga perihal dirinya.

“Kok tadi Pak satpam patuh banget sama perintah lo? Kalo gue boleh tau, sebenernya lo itu siapa?”

Lagi-lagi, Dirga terkekeh. Ia menaruh penanya yang sedari tadi disematkan di antara ibu jari dan jari telunjuk.

“Lo mau tau gue siapa?” Dirga balik bertanya.

Anora mengangguk kuat. Setidaknya, rasa penasarannya segera terbayarkan setelah ini.

“Gue…”

“Anak dari pemilik sekolah ini.”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel