Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 11 PERIHAL BAJU OLAHRAGA

“HARI INI ADA OLAHRAGA?!” pekik Anora setelah pergantian jam pelajaran. Para siswa yang ada di kelas mengangguk, termasuk Dirga yang berada di sampingnya.

“Emangnya lo nggak liat jadwal yang udah dikirim di grup kelas?” tanya Dirga.

Anora menggeleng. “Nggak. Kemarin, abis pulang dari club, gue langsung tidur,” jawab Anora.

“Kan dikirimnya siang, Nor, pas kita pulang sekolah,” cecar Dirga.

“Oh, gitu, ya? tapi sumpah gue nggak liat grup sama sekali,” Anora tidak dapat memberikan alasan lagi.

Anora menepuk jidatnya. Gadis itu memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapatkan seragam olahraga yang akan dipakai beberapa menit lagi. Gadis itu hanya memiliki waktu lima belas menit sebelum jam pelajaran olahraga dimulai.

“Lo udah ada seragam olahraganya, Dir?” tanya Anora.

Dirga menoleh, lalu menggeleng.

“Belum. Ini gue mau ke koperasi untuk beli seragam olahraga,” jawabnya santai.

“Gue ikut, dong! Gue juga mau beli, deh,” imbuh Anora.

“Lo nggak mau minjem ke kelas lain dulu? Atau coba lo tanya Rachel. Hari ini dia ada pelajaran olahraga, nggak?” usul Dirga.

“Oh iya, ya. Bentar, deh, gue tanya dulu.”

Anora meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian, gadis itu membuka aplikasi dan mencari kontak Rachel untuk dihubungi. Setelah ketemu, Anora menekan tombol hijau dengan ikon telepon agar dirinya bisa terhubung dengan Rachel.

“Halo, Chel. Lo lagi sibuk, nggak?” tanya Anora memulai obrolan.

[“Enggak. Hari ini gue free class. Jadi, nggak ada guru yang masuk. Emang kenapa?”]

“Lo hari ini ada pelajaran olaharaga?”

[“Nggak ada. Kalo jadwal kelas gue, pelajaran olahraga tuh besok.”]

“Oh, gitu,” Anora menunduk kecewa.

[“Emangnya kenapa, ih? Tumben banget lo nanyain tentang pelajaran olahraga?”]

“Um, gapapa, kok.”

[“Boong banget. Kalo nggak penting ngapain lo telepon gue. Nggak kayak biasanya lo.”]

[“Oh, gue tau. Pasti hari ini lo ada pelajaran olahraga, tapi nggak bawa seragamnya, ya?”] terka Rachel bak cenayang.

“Nah, itu lo tau. Masalahnya pelajaran olahraga dimulai sepuluh menit lagi. Dan sekarang, gue udah menghabiskan waktu lima menit gue untuk nelpon lo. Eh, nggak taunya lo nggak ada pelajaran olahraga. Jadi, lima menit gue ini kebuang sia-sia.”

[“Yeh, sialan lo. Sama sahabat aja perhitungan soal waktu. Ya udah sana, lo cari dulu di kelas lain. Kalo nggak, lo beli di koperasi, mumpung masih ada waktu juga.”]

“Iya, ini gue juga mau ke koperasi sama Dirga. Ya udah, gue matiin teleponnya, ya!”

[“Iya, silahkan.”]

“Dadah jelek.”

[“Sialan. Dadah juga jelek.”]

Telepon pun akhirnya terputus.

Anora menghela napas. Waktu lima menitnya terbuang sia-sia karena usahanya menelepon Rachel tidak membuahkan hasil. Lantas, gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Dirga pergi ke koperasi.

Anora dan Dirga berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi. Dari beberapa kelas yang mereka lewati, hanya ada satu kelas yang terdengar riuh dan ricuh. Mungkin, kelas tersebut sedang free class dan tidak ada guru yang masuk.

Sesampainya di koperasi, Dirga berdiri di depan etalase, diikuti oleh Anora yang mematung di belakangnya. Penjaga koperasi pun datang menghampiri mereka.

“Mau beli apa, dek?” tanya Bu Inah, si penjaga koperasi.

“Saya mau beli seragam olahraga ukuran XL ada, Bu?” tanya Dirga.

“Ada, sebentar, ya, saya ambilkan dulu.”

Dirga menunggu selama lima menit. Setelah itu, ia disodorkan oleh seragam olahraga yang masih terbungkus rapi di dalam plastik.

“Sekalian aja deh, Bu, sama seragam batik, seragam muslim untuk hari jum’at, dan rompi laki-lakinya,” imbuh laki-laki itu.

“Oke siap.”

Anora melipat tangannya di depan dada. Gadis itu masih mematung di belakang Dirga sembari menunggu gilirannya untuk membeli seragam olahraga. Sementara itu, waktu terus berjalan. Pelajaran olahraga akan dimulai sebentar lagi. Anora sempat merasa gelisah. Ia tidak mau terkena hukuman lagi.

“Totalnya jadi lima ratus ribu, ya,” ujar Bu Inah.

Dirga mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Kemudian, ia menyodorkan lima lembar uang dengan nominal seratus ribu kepada Bu Inah. Laki-laki itu membayar semua seragamnya secara cash.

“Makasih ya, Bu.”

Sekarang giliran Anora untuk membeli seragam. Setelah Dirga berbalik, gadis itu maju selangkah dan menunggu Bu Inah kembali. Beliau masuk ke dalam sesaat untuk menyimpan duit hasil jualannya.

“Kamu mau beli apa?” tanya Bu Inah.

“Saya mau beli seragam olahraga ukuran L,” jawab Anora.

“Sebentar, saya ambilkan dulu, ya!”

Anora disodorkan seragam olahraga yang masih terbungkus rapi di dalam plastik. Tanpa basa basi, gadis itu langsung membayar seragam tersebut sesegera mungkin.

“Terima kasih, Bu.”

Anora dan Dirga segera kembali ke kelasnya. Waktu mereka tersisa sedikit. Anora yakin, teman-temannya sudah berganti pakaian semua. Dirinya kemudian berpisah dengan Dirga. Anora pergi ke toilet wanita untuk berganti pakaian.

“Eh Nora, lo di dalem?!”

Anora sempat bergeming.

“Eh, iya, gue lagi ganti baju, Sya,” ujar Anora.

“Buruan Nor, Pak Bambang udah ada di lapangan!” seru Resya, salah satu teman Anora.

Kebetulan, pada saat itu Resya sedang menggunakan sunscreen di toilet. Gadis itu mendapati Anora yang sedang berganti baju di kamar mandi.

“Anjir! tungguin gue, dong!”

“Ya udah, cepetan gue tungguin!”

Anora hendak membuka roknya. Namun, resleting belakangnya tiba-tiba macet, membuat gadis itu kesusahan membukanya. Alhasil, Anora menarik paksa resleting tersebut hingga rusak. Meskipun rusak, Anora bernapas lega karena roknya bisa lepas.

“Nora, kelas kita udah di teriakin!” seru Resya dari luar.

“Gue duluan deh, ya! takut di hukum nanti.”

Belum sempat Anora menahan Resya, gadis itu sudah pergi meninggalkan Anora. Kini, tinggal Anora seorang diri yang berada di kamar mandi. Setelah selesai berganti pakaian, Anora pergi ke kelas untuk menaruh seragam putih abu-abunya. Lalu, ia berlari menuju lapangan secepat kilat. Dari kejauhan, tampak teman-temannya yang sudah berbaris rapi, termasuk Dirga. Kini, Anora yakin seratus persen bahwa dirinya akan terkena hukuman dari Pak Bambang.

BRUK!

“SHIT!” umpat Anora.

“Kalo lari liat-liat dong, kak!” seru adik kelas.

Anora mengangkat kepalanya. Gadis itu baru saja menabrak adik kelas yang sedang berjalan di koridor sekolah. Anora tampak kesal, meskipun ini seratus persen kesalahannya. Namun, ia tidak memiliki waktu untuk meladeni atau berdebat dengan adik kelas tersebut. Anora lebih mementingkan keselamatan hidupnya dari hukuman Pak Bambang.

Anora segera bangkit dan berlari meninggalkan adik kelas itu. Sesampainya di tepi lapangan, Anora mengurangi kecepatan larinya. Karena dirasa sudah telat, Anora merasa pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

“ADA SATU SISWA LAGI YANG BELUM MASUK KE BARISAN.”

Anora menelan ludah. Ia tahu siapa satu siswa yang dimaksud oleh Pak Bambang, yaitu dirinya sendiri. Jantungnya serasa berhenti ketika manik mata Pak Bambang dengan manik mata Anora saling bertemu.

“ANORA!”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel