Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 12 KENA OMEL

“ANORA!”

Anora tergelak. Gadis itu bergeming di hadapan teman-temannya. Anora menjadi pusat perhatian para siswa 12 IPS 4 yang kini tengah berbaris. Sementara itu, Pak Bambang berdiri di hadapan Anora. Sorot matanya tajam menatap gadis itu yang mati kutu.

Anora menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berani menatap mata Pak Bambang yang terlihat sangat mengintimidasi. Bak seekor banteng yang sedang marah, begitulah situasi yang cocok mengambarkan Pak Bambang saat ini.

“Kalian semua harus tahu. Sekali lagi, saya tidak suka apabila ada yang terlambat di jam pelajaran saya! Kalau mau sakit atau tidak bisa ikut olahraga, seharusnya izin terlebih dahulu kepada saya sebelum jam pelajaran dimulai. Setelah memasuki jam pelajaran, saya tidak menerima alasan apapun dari siapapun!” ujar beliau panjang lebar.

“Kalian lihat, seorang siswa di hadapan kalian yang terlambat di jam pelajaran saya. Apakah ini contoh yang baik?” tanya Pak Bambang.

“Tidak, pak!” jawab para siswa serempak. Sebenarnya, mereka tidak tega untuk menjawab pertanyaan dari Pak Bambang. Namun mau bagaimana lagi, bila tidak segera dijawab, maka nantinya para siswa juga yang akan terkena hukuman.

“BAGUS! JANGAN CONTOH SISWA TIDAK TELADAN INI!” pekik Pak Bambang. Suara beliau menggema ke seluruh sudut lapangan hingga beberapa orang yang berada di sana menengok dan menatap ke arahnya.

“Anora, kamu ini sudah kelas 12. Bukan waktunya lagi untuk main-main dan bersantai-santai di sekolah ini. Kamu harus disiplin, Anora! Kalau kamu telat mulu seperti ini, bagaimana dengan nilai sikap kamu? Bisa-bisa kamu tidak lulus sekolah. Apakah Bapak harus meneriaki kamu setiap memasuki jam pelajaran olahraga?!”

Anora menggeleng. Namun, ia belum berani membuka suara sedikitpun. Mendengar suara Pak Bambang saja membuat nyalinya ciut.

“Pokoknya, kamu harus diberikan hukuman. Kalau perlu, Bapak akan panggil orang tua kamu untuk lihat kelakuan anaknya yang selalu telat,”

tukasnya.

“Tapi Pak, saya kan baru sekali terlambat di jam pelajaran Bapak. Kok tiba-tiba panggil orang tua, sih?!” gertak Anora tidak terima. Gadis itu sudah cukup sabar mendengar celotehan Pak Bambang. Namun kali ini, kesabarannya sudah habis ketika beliau hendak memanggil orang tua Anora ke sekolah.

“Lancang banget kamu berbicara seperti itu kepada Bapak? Kalau seperti ini, saya semakin yakin untuk memanggil orang tua kamu agar tahu kelakuan anaknya di sekolah seperti apa!” ketus Pak Bambang.

“Panggil aja deh, Pak. Saya udah muak juga sama sekolah ini!” celetuk Anora.

“ANORA!”

Para siswa 12 IPS 4 terkejut bukan main ketika kalimat tersebut keluar dari mulut Anora. Di pikiran mereka, Anora tidak akan senekat itu saat berbicara kepada Pak Bambang. Namun, hal tersebut diluar prediksi mereka. Anora mengatakan kelimat tersebut di depan Pak Bambang secara nyata!

“Cepetan Pak, mau ngasih saya hukuman apa? saya capek lama-lama berdiri di depan Bapak,” ujar Anora.

“TUTUP MULUT KAMU ITU, YA! DASAR KURANG AJAR!” seru Pak Bambang dengan suaranya yang menggelegar.

Pak Bambang melayangkan sebuah tamparan dan mendarat mulus di pipi Anora. Tamparan tersebut meninggalkan bekas merah yang cukup lebar. Anora meringis. Gadis itu memegangi pipinya yang terasa sakit.

“Ayo Pak, tampar saya lagi! Tampar! Beraninya main fisik sama anak perempuan!”

Mendengar Anora yang menantang Pak Bambang, beliau mendaratkan tamparan kedua. Namun, kali ini cukup keras, membuat Anora goyah dan hampir tersungkur ke tanah.

“CEPET KAMU BERESIN KAMAR MANDI DI SELURUH SEKOLAH INI DAN JANGAN HARAP KEDEPANNYA KAMU IKUT PELAJARAN SAYA! SISWA SIALAN!” ancam Pak Bambang.

Anora mendengus kesaal. Tanpa basa-basi, gadis itu pergi meninggalkan Pak Bambang beserta teman-temannya yang masih bergeming di tengah lapangan. Anora merasa muak dengan tingkah laku guru tersebut. Bahkan, ia tak sudi untuk menengok ke belakang karena guru tersebut pasti masih berada di lapangan.

“Sialan!” gerutu Anora.

Anora berjalan menuju kantin. Ia memesan satu plastik es batu untuk mengompres pipinya yang terasa sakit. Bekas warna yang ditinggalkan bukanlah lagi merah, melainkan biru keunguan. Selain itu, pipi Anora mulai membengkak secara perlahan.

“Bu, mau beli es batu, dong,” pinta Anora pada Ibu kantin.

“Ya Allah Neng, pipi kamu kenapa?” tanya Ibu kantin. Beliau terlihat panik dan khawatir.

Anora tersenyum tipis sembari menyodorkan uang.

“Abis ditampar guru, Bu,” jawabnya santun.

“Ya ampun. Kok bisa, sih? Kemarin kamu sama temen cowok kamu diomelin guru, eh sekarang ditampar, besok kamu diapain lagi?”

Anora terkekeh.

“Besok mungkin saya dikeluarin, Bu,” ujarnya diikuti tawaan.

“Sini Neng, biar Ibu bantu obatin.”

Ibu Kantin menarik tangan Anora. Gadis itu masuk ke dalam warung dan duduk di sebuah kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Anora tergelak. Ia menatap wajah sang ibu kantin yang berada di hadapannya. Beliau terlihat tulus dan ikhlas.

Andai, Ibu seperti ini…

Anora meringis. Ia menahan rasa sakit ketika ibu kantin mengompres pipinya dengan kain yang sebelumnya dicelupkan di air hangat.

“Sakit ya Neng?” tanya beliau.

Anora mengangguk.

“Ya udah, ibu pelan-pelan nih ngobatinnya,” imbuhnya.

Setelah selesai dikompres, ibu kantin mengoleskan salep luka untuk meredakan nyeri di ruas-ruas jarinya. Kemudian, beliau mengusap lembut pipi Anora yang lebam.

“Udah selesai Neng,” tukas beliau.

“Ini kan udah di kasih salep. Jadi, abis ini nggak usah dikompres pake es batu lagi, ya! tapi, nanti kalo di rumah kamu mau kompres pake es batu atau air hangat nggak apa-apa,” pesannya.

“Siap, Bu,” Anora mengacungkan jempol.

“Totalnya jadi berapa, Bu?” Anora hendak mengeluarkan uang untuk membayar jasa dari ibu kantin.

Si ibu kantin menggeleng. Beliau menjauhkan tangan Anora darinya.

“Eh, nggak usah atuh neng. Ibu beneran ikhlas kok bantu kamu. Abisnya, Ibu nggak tega liat muka kamu biru-biru gitu,” ucap ibu kantin.

“Ya ampun, Bu, terima kasih banyak, ya! malah jadi saya yang nggak enak, nih,” Anora terkekeh seraya melemparkan senyum tipisnya.

“Iya nggak apa-apa. Duitnya kamu simpen aja, ya!”

“Iya, Bu. Ya udah, kalo begitu saya pamit dulu ya, Bu, mau ke kelas.”

“Iya Neng, silahkan.”

Anora membungkukkan tubuhnya. “Permisi, Bu.”

Gadis itu akhirnya pergi meninggalkan area kantin yang sepi. Anora melangkah menyusuri koridor sekolah dan berakhir di kelasnya sendiri. Ya, pelajaran olahraga masih berlangsung. Jadi, keadaan kelas kini sepi tak berpenghuni.

Anora merogoh sesuatu di tasnya. Kemudian, ia mengeluarkan korek api dan sebungkus rokok yang di dalamnya masih tersisa beberapa batang. Setelah itu, Anora keluar dari kelas dan pergi ke tempat di mana ia menemukan ketenangan untuk dirinya sendiri.

“Rooftop, I’m coming!” ucap Anora sembari berlari meniti setiap anak tangga.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel