Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Sahabat Kompor

"Gimana, Bro?"

"Apanya?" sahut Wira tak acuh sambil menyuapkan sepotong cake ke dalam mulut.

BRAK!

Wira terperanjat. Matanya melebar dan sendok yang dipegang nya tadi lepas dari genggaman karena terkejut akan gebrakan meja tiba-tiba yang dilakukan oleh Bayu. Sedangkan sahabatnya itu dengan wajah serius kembali bertanya.

"Sudah ketemu belum? Ini sudah masuk hari ke 3 setelah dikasih peringatan sama om Adrian."

Bukannya langsung menjawab, Wira malah mendesah lalu kembali menyeruput secangkir teh hangat yang dibuatkan dengan spesial oleh Bayu.

"Bro, kasian Adam kalau ...."

"Dikira gampang cari bini?!" pepet Wira kesal. "Kamu tau itu nggak mudah. Apalagi kalau mereka tau tentang Adam. Aku harus cari cewek yang juga bisa menerima Adam."

"Aku tau tapi aku perhatiin kamu tenang banget. Nggak ada keliatan sama sekali kalau kamu itu lagi sibuk nyari jodoh. Yang ada hanya Wira yang asyik main HP.

Aaa! Jangan-jangan kamu ikutan biro jodoh, ya?!" tebak Bayu asal. Hingga membuat sahabatnya itu melemparkan sendok yang tadi jatuh ke meja namun Bayu berhasil menghindar. Bayu tersenyum menang karena ia berhasil menghindari sendok yang melayang lurus ke arahnya.

"Kenapa nggak kamu coba sama ...."

"JANGAN SEBUT NAMANYA!" potong Wira cepat, dan kali ini berteriak agak kencang. Beruntung, kini mereka berada di ruangan Bayu, sehingga pengunjung lain tidak akan terganggu akan teriakan nya.

"Emang nama siapa yang mau kusebut?!" tanya Bayu namun kali ini dengan nada ketus. Walau sebenarnya ia sedang menyindir sang sahabat, karena sepertinya ia tahu siapa yang dimaksud Wira. Membuat nya tertawa mengejek dalam hati.

"Dia."

"Siapa? Kamu kira cewek cuma 1 di dunia ini, sampai aku bisa nebak siapa 'dia' itu."

Wira membuang napas kasar. Ia malas mengucapkan nama gadis itu, tapi Bayu terus mendesak hingga mau tidak mau dia berkata, "Ya, ya. Shenna." Ia membuang muka setelah menyebutkan nama gadis itu. Rautnya tersirat jelas akan ketidaksukaan.

Kembali Bayu tersenyum penuh arti. Dalam hati ia tertawa senang, kembali mengejek Sang sahabat yang ternyata begitu memikirkan gadis yang katanya ia tidak sukai. Dalam hati dia berujar, "Kalau nggak suka, kenapa mikirin?" Bayu terus mengejek Wira dalam hatinya. "Yah, begitulah hebatnya benci, ha ha. Bikin rindu si pembenci."

"Maksud aku, kenapa kamu nggak coba sama Mina? Fanya atau Karin? Mereka tau kalau kamu sudah punya anak. Mereka juga kayaknya suka sama Adam."

Wira hendak menyahut namun segera disela Bayu dengan berucap, "Pilih salah satu aja, jangan semua."

"Tau! Aku nggak serakah," sahutnya kesal. "Apa harus aku coba sama mereka?"

"Terserah. Aku nyaranin mereka karena aku sering liat mereka jalan-jalan sama anak kecil. Nggak tau siapa, yang jelas, mereka keliatan manis banget sama itu bocah."

"Menurutmu, yang paling mendekati siapa? Maksudnya, yang menurut kamu cocok banget."

"Kalau cocok untuk anak-anak, itu Fanya. Tapi aku nggak tau gimana perasaan kamu. Karena secocok apapun dia sama anak kecil, belum tentu dia cocok sama kamu juga."

Wira diam memikirkan penjelasan Bayu.

"Jangan terlalu pusing mikirin jodoh. Jodoh bakal datang itu pasti. Yang penting kamu usaha, tapi jangan sampai melupakan Adam. Dia butuh kasih sayang yang tulus dari orangtuanya."

Wira beralih, menatap sendu ke arah Bayu. Ia tahu itu. Ia bisa melihat sendiri bagaimana Adam merindukan sosok seorang ibu sejak kedatangan Shenna di rumah mereka. Ia tidak ingin membuat anaknya itu juga merindukan kasih sayang seorang ayah. Sudah cukup anaknya itu merasakan kesedihan dan kesepian selama ia ada di dunia ini.

Bayu sendiri, yang mengetahui dengan jelas apa yang sudah dihadapi ayah dan anak itu, pun turut merasakan iba. Cobaan hidup saat sudah menikah memang lebih berat daripada sebelum menikah. Dan sayangnya, anak yang tidak tahu apa-apa pun harus mendapatkan imbasnya. Tetapi, itu pun terjadi karena kebodohan sahabatnya itu sendiri. Bayu pun merasakan kekesalan yang sama seperti yang Adrian rasakan terhadap Wira. Wira yang sangat tidak bisa bersikap tegas. Dan bodohnya lagi, ia terlalu percaya pada Angel. Gadis yang memaksa masuk dalam kehidupannya, lalu pergi begitu saja dengan meninggalkan luka terdalam di hati Wira.

Tidak hanya Wira namun juga Adrian dan Niken. Mungkin Adam pun akan merasakan hal yang sama di saat ia tahu apa yang sebenarnya terjadi nanti. Di saat ia sudah besar dan sudah cukup mampu mengendalikan diri.

***

Adam sedang bermain sepeda di taman belakang, sementara Shenna duduk di atas rerumputan mengawasi Adam. Beberapa kali ia bangkit dan duduk untuk memberikan Adam minum. Senyumnya mengembang melihat wajah ceria Adam.

"Kamu harus selalu bahagia, Dam." batinnya.

Adrian dan Niken belum pulang. Begitu pun dengan Wira. Mereka biasanya akan pulang pada pukul empat sore. Namun Wira lebih sering pulang pukul enam sore sejak kedatangan Shenna.

"Bundaaa!" teriak Adam seraya melambai.

Shenna membalas lambaian dengan tak kalah semangatnya dengan Adam. Layaknya, seorang ibu yang memberikan semangat untuk Sang anak. Melihat wajah Adam yang tersenyum cerah, membuatnya berpikiran jika ia akan sangat merindukan sosok Adam jika nanti ia benar-benar pergi dari rumah itu. Entah bagaimana ia bisa bertemu dengan Adam kembali saat sudah pergi nanti.

"Tante jadi kangen kamu sekarang," batinnya dengan tersenyum tipis. "Padahal Tante lagi liat kamu." Shenna kembali bangkit untuk memberikan Adam minum. Sebelum kembali duduk, ia mengelap keringat di wajah Adam dengan tisu.

"Hati-hati."

Adam kembali berputar-putar mengitari taman dengan sepedanya. Terkadang mengendarai sepeda dengan cepat dan pelan setelahnya. Dan terus seperti itu, membuat Shenna bergerak gelisah dalam duduknya melihat Adam yang melaju. Beberapa kali ia memperingatkan Adam untuk tidak mempercepat laju sepedanya namun Adam seakan menjahili nya dengan terus melajukan lalu memperlambat laju sepedanya sambil tertawa lebar ke arahnya.

Tidak tahan karena Adam tidak mendengarkan nya, ia pun bangkit dan berdiri di depan sepeda setelah berhasil menyusul Adam yang semakin melaju saat dirinya mengejar nya. Adam menampilkan deretan giginya begitu Shenna berdiri di depan.

"Adam, Tante sudah bilang jangan ngebut. Kalau kamu jatuh gimana?"

Saat Shenna memarahi nya, Adam segera turun dari sepeda. Kemudian berdiri di depan gadis itu sembari mendongak. Ia melangkah lebih dekat hingga ia bisa memeluk kaki gadis itu. Wajahnya memelas, membujuk agar gadis yang dipanggil nya 'bunda' itu tidak lagi marah padanya.

Sedangkan si gadis, berusaha keras untuk tidak luluh, mengingat peringatan Wira waktu itu agar dirinya bisa lebih tegas pada Adam. Namun sayangnya ia gagal. Ia tidak mampu menolak Adam. Sehingga, kini ia berlutut menyamakan tingginya dengan Adam dan kedua tangannya memegang kedua tangan si kecil.

"Adam, dengerin apa kata Tante, yah?"

Adam mengangguk.

"Adam harus tau, apa yang Tante, nenek, ayah dan kakek larang itu untuk kebaikan Adam. Sama kayak tadi. Tante kasih tau Adam karena itu bahaya. Kalau Adam jatuh, nanti Adam luka. Kakinya berdarah."

"Sakit?"

Shenna mengangguk lalu lanjut berkata, "Jadi, lain kali dengerin, ya? Jangan membantah."

Adam mengangguk patuh, kemudian bertanya, meminta ijin, "Boleh main lagi?"

"Boleh tapi jangan ngebut."

Adam mengangguk lalu kembali menaiki sepeda dan menjalankan sepedanya lebih santai. Shenna masih berdiri di tempatnya tadi, memerhatikan Adam. Takut Adam akan menjahili nya lagi tetapi ternyata tidak. Adam kini mengelilingi nya. Tertawa riang saat ia berpura-pura akan menangkap nya dan Adam pun menghindar dengan berkendara menjauhi.

***

"Ayaaah!" teriak Adam sembari berlari menghampiri Wira begitu melihat Sang ayah memasuki rumah. Tangannya ia rentangkan siap untuk memeluk Wira.

Wira pun berlutut, menyambut Adam.

"Ayah jalan, yuuuk!" ajak Adam dengan bergelayut manja. Sesekali ia mencium pipih ayahnya, membujuk. Karena sore tadi tidak jadi pergi jalan-jalan karena cuaca begitu terik.

Wira berdiri dengan Adam kini dalam gendongannya. Sembari melangkah menuju kamar, Wira bertanya, "Kapan?"

"Malam ini?" tanya Adam meminta persetujuan. "Adam mau main komedi putar, Yah." Dia berucap lagi saat menemukan Sang ayah sedang berpikir.

"Baiklah."

Adam bersorak ria dan bertanya lagi, "Sama bunda ya, Yah?"

"Hah?" Wira sedikit terkejut akan permintaan Sang anak. "Jalan-jalan bertiga dengan dia? Terus orang-orang liat, dan akhirnya dikira keluarga bahagia. Aamiin tapi bukan sama dia!" Wira lanjut berucap dalam hati.

"Kan, kalau ada Adam sama Ayah, bunda harus ada juga. Biar kayak teman-teman Adam, Yah. Mereka jalan sama Ayah sama bundanya."

Wira sekali lagi dibuat tersentak dengan pernyataan putranya. Ia merasa terpukul keras mendengar pernyataan anaknya itu.

"Oke. Nanti habis mandi kasih tau bunda, jam 7 harus sudah SIAP." ucap Wira dengan penuh penegasan pada kata siap. Dan saat itu, matanya melirik pada gadis yang masih berdiri di dekat meja makan memerhatikan keduanya. Gadis itu langsung membuang muka melihat tatapan Wira yang menuntut.

"Oke!" seru si kecil. "Oh?! Adam mandi sama Ayah?"

"Iya, dong. Jarang banget Adam sekarang mandi sama Ayah."

Adam tertawa geli menanggapi sindirian Sang ayah. Setibanya di kamar, Adam berlari lebih dulu ke dalam kamar mandi lalu disusul oleh Wira.

***

"Wah, ada yang bawa anak sama cabin." ejek sahabat lain dari Wira yang bernama Reza.

Ternyata, Wira juga mengajak sahabat-sahabatnya, menemani mereka berjalan-jalan malam ini. Wira mengatakan, jika ia tidak ingin orang-orang beranggapan jika mereka adalah sebuah keluarga jika mereka hanya pergi bertiga. Sahabat-sahabatnya juga tidak masalah karena mereka juga ingin melihat sosok Shenna yang diceritakan oleh Bayu.

"Apa tu cabin?" tanya yang lain.

"Calon bini, ha ha ha."

Tawa Reza pecah, setelah memberitahukan kepanjangan dari kata 'cabin' yang tadi ia ucapkan. Namun, itu berbanding terbalik dengan reaksi yang diberikan Wira. Wira beseru kesal dengan mengatakan 'ASAL' sembari menendang kaki Reza. Sedangkan Shenna di belakang membuang muka sembari berkomat-kamit mengomel, menanggapi.

Sisi lain, Bayu tertawa tertahan melihat reaksi Shenna setelah mendengar penolakan Wira. Begitu pun dua gadis di sebelahnya.

"Jangan gitu, Wir. Nanti nyesel." tegur Luna, bersuara pelan.

"Tau nih, sok jual mahal." tambah Reza.

"Argh! Kalau tau gini nggak bakal mau ngajak kalian." sesal Wira karena mengajak sahabat-sahabatnya. Padahal, ia berharap kehadiran mereka akan membantu nya, tetapi malah sebaliknya.

Seharusnya Wira mengerti dan mengingat dengan baik jika sahabat-sahabatnya itu sangat suka menggoda dan menyindir. Tetapi semua sudah terlanjur. Mereka sudah berada di sini bersamanya.

Kini mereka berjalan menuju arena bermain. Adam masih dalam gendongan Wira. Bersamanya, ada Bayu, Reza dan Zaki. Sedangkan Shenna, Luna dan Bunga mengikuti di belakang.

Bunga berada di samping kiri Shenna. Ia membawa Shenna ke dalam rangkulannya. Sembari itu, ia berujar pelan, "Kata Bayu, Wira nggak suka sama kamu, ya?"

Shenna menoleh ke arah Bunga dengan raut terkejut.

"Kamu nggak tau?"

"Tau, tapi aku pikir itu cuma perasaan aku aja." ungkapnya. "Em, memang dia beneran benci banget sama aku?"

"Nggak pake banget. Kayaknya dia cuma nggak suka Adam terlalu nempel sama kamu. Juga karena dia nggak suka kalau ada yang ngatain kamu calon bininya."

"Hush!" tegur Luna. "Penjelasan kamu bisa bikin dia salah paham."

Shenna kini beralih ke arah Luna di sisi kanannya dan bertanya, "Maksudnya?"

"Kamu jangan salah paham sama perkataan Bunga tadi. Wira mungkin memang nggak suka sama kamu, tapi dia nggak benci kok, sama kamu. Dia itu baik, tapi... Ya gitu, deh.

Kalau dia benci, dia nggak bakal bersikap baik sama kamu. Karena Wira itu, kalau sudah benci sama orang, dia nggak bakal mau ngomong sama itu orang. Dia paling anti deket atau nyapa itu orang." ujar Luna menjelaskan.

"Oh? Artinya aku aman, dong?" tanya Shenna antusias. Matanya seakan ikut tersenyum manis dan penuh harap, sama hal seperti bibirnya yang tersenyum saat itu.

Luna, dia adalah gadis super judes di mata laki-laki. Sebelas dua belas dengan kakak dari Shenna, Minzy, kecuali keempat sahabat laki-lakinya. Dia SANGAT jarang bersikap ramah pada teman-teman di kampus atau di manapun juga. Namun malam ini, ia terkecoh akan mata Shenna yang berbinar saat menatap nya. Tiba-tiba hatinya luluh. Tetapi, ia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Shenna. Ia gengsi jika harus bersikap manis begitu saja pada orang asing. Apalagi di depan Bunga dan sahabatnya yang lain.

***

Setelah melewatkan waktu selama dua jam untuk bermain, kini mereka berada di KFC sesuai usulan Adam. Mereka duduk di meja yang panjangnya kurang lebih satu setengah meter yang terletak di dekat pintu masuk. Adam duduk bersama Shenna. Di sebelah kiri Shenna, ada Luna dan Bunga. Di depan mereka, Reza, Zaki dan Wira. Sedangkan Bayu, ia mengambil kursi lain yang kosong dan diletakkan di bagian ujung meja. Tepatnya, di antara Shenna dan Wira yang duduk berhadapan, karena sahabat-sahabatnya tidak memberikan ruang lain untuk Wira selain di depan gadis itu.

Mereka memesan ayam kentucky dengan nasi. Kecuali Shenna dan Adam. Mereka memesan ayam nya saja. Minumnya, mereka sama-sama memesan air mineral. Mereka makan disambili dengan berbincang tentang pekerjaan dan rencana untuk kumpul-kumpul, karena sudah cukup lama mereka tidak pergi bersama seperti halnya dulu, sebelum mereka sibuk bekerja. Sedangkan Shenna, ia berbincang dengan si kecil Adam. Menjawab setiap pertanyaan Adam dan lainnya.

Mau bicara dengan siapa lagi?

Setelah makan, Adam mengajak mereka ke tempat bermain anak yang lainnya, yang menyediakan lebih banyak mainan.

Miniapolis adalah tempat yang akhirnya dikunjungi oleh mereka. Begitu tiba di tempat bermain, Adam langsung menarik Shenna menuju trampoline park. Shenna berdiri di pinggiran trampoline, sedangkan Adam sudah asyik bermain. Ia berteriak senang saat ia berhasil meloncat cukup tinggi.

Wira dan ke lima sahabatnya duduk tak jauh dari area trampoline. Reza terus mendesak Wira agar menemani Shenna yang duduk sendirian, dan Wira terus menolak sembari memukul, kadang pun menendang kaki Reza karena terus dipaksa.

"Wah, kamu nggak gentle jadi cowok!" cetus Reza seenaknya.

"Kutu air! Awas ngomong asal lagi!"

"Lah? Emang bener, to? Buktinya kamu biarin dia sendirian nungguin anakmu?!" debat Reza.

"Heh! Itu emang kerjaan dia kali. Namanya juga baby sitter!" sahut Wira tak mau kalah.

"Emang, tapi itu anakmu. Sebagai ayah yang baik, kamu harus selalu siaga di dekat anakmu. Bukan orang lain. Kamu bilang, kamu nggak mau anakmu terlalu dekat sama dia, kan?" Reza tersenyum penuh kemenangan setelah mengucapkan kalimat panjangnya. Ia yakin Wira tidak akan bisa menjawabnya kali ini. Dan benar saja, Wira hanya membuka mulut namun tidak satupun kata yang terlontar. Raut wajahnya semakin ditekuk.

Bayu dan yang lainnya tertawa geli menyaksikan perdebatan keduanya, ditambah dengan ekspresi Wira, menambah lucu tontonan mereka malam itu.

Asyik ia tertawa, tiba-tiba mata Bayu mendarat pada sosok laki-laki tinggi yang saat ini sedang berbicara dengan Shenna. Laki-laki itu duduk di sebelahnya. Keduanya tampak asyik berbincang. Terlihat dari senyum dan tawa-tawa kecil yang keduanya tampilkan. Belum lagi saat Shenna memberikan minum untuk Adam, laki-laki itu pun ikut merapikan rambut dan pakaian Adam.

"Bro?" panggil Bayu tanpa beralih. Maksud hati, ia memanggil Wira namun tidak hanya Wira yang melihat ke arahnya kini, melainkan Reza dan Zaki pun ikut beralih ke arahnya.

"Opo?" jawab ketiganya bersamaan.

"Maksud gue Wira," katanya membenarkan. "Itu loh, pengasuhmu lagi cakap-cakap asyik sama cowok yang lebih cakep dari kamu."

Wira mengarahkan pandangannya ke arah Shenna, dan benar saja yang dikatakan oleh Bayu. Tidak hanya lebih tampan, tetapi juga lebih tinggi darinya. Tubuhnya pun lebih bagus darinya. Lebih cool. Manis. Dan....

"Oh?" Wira tersadar, kenapa pula dirinya membandingkan dirinya dengan laki-laki itu? Kenapa Wira harus merasa tersaingi?

"Ah, biarin." responnya berlagak tak acuh.

"Masa dibiarin? Kalau ada apa-apa gimana? Kalau anakmu suka juga sama itu cowok gimana?" kompor Bayu.

Luna di sebelahnya menyenggol lengannya namun Bayu mengisyaratkan Luna dan Bunga untuk diam dengan tangannya. Matanya pun menuntut mereka untuk diam.

Saat itu, dahi Wira berkerut, tanda ia tengah berpikir. Kata-kata Bayu terngiang di telinga. Kalimat yang Bayu lontarkan membuat dadanya naik turun, menahan emosinya yang entah mengapa datang dan akhirnya menguras pikirannya.

"Liat, Adam senyumnya lebar banget sama itu cowok." Kali ini Reza yang memanas-manasi.

"Kalau kamu takut orang mikir kalian pasangan, kita temenin, deh. Yang penting tu cowok nggak deketin anakmu." kompor Bayu lagi sambil terkekeh kecil. Tentu tanpa sepengetahuan Wira, karena laki-laki itu kini tengah memerhatikan Adam.

Bayu dan Reza sudah siap melayangkan kata-kata kompor lainnya namun batal saat Wira mengatakan 'ayo'. Dan saat itu pula mereka merasakan kemenangan untuk kesekian kalinya. Senyum keduanya semakin lebar.

Wira berjalan di depan mereka. Dan sebelum menyusul Wira, mereka berjabat tangan, merayakan kemenangan.

"Ehem!" Deheman Wira membuat Adam, Shenna dan laki-laki itu beralih ke arahnya. Tatapan Wira saat itu penuh akan ketidaksukaan. Berbeda jauh dengan tiga orang di depannya, yang memberikan tatapan bingung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel