Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Karena (Dia)

Warung yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga mereka hanya berjalan kaki menuju warung. Setibanya di warung, Shenna dan Adam memilih cornello mini dua kotak. Sambil menunggu kembalian, Shenna membuka satu es krim untuk Adam. Setelah penjual memberikan kembalian, keduanya pun pulang.

Di jalan, sebuah motor berhenti. Seorang gadis yang mengendarai sepeda motor itu pun memanggil Shenna. Shenna sedikit terkejut saat melihat gadis itu namun tersenyum setelahnya.

Gadis itu memperhatikan Shenna dan Adam sebentar lalu bertanya, "Itu anak siapa? Dan kenapa kamu di sini? Rumah kamu bukan di sini, kan?"

"Em... Aku kerja di sini."

"Kerja apa?"

"Baby sitter."

"Oh?!" Gadis itu terkejut. "Jadi anak yang kamu gendong itu anak yang kamu asuh?"

Shenna mengangguk pelan.

"Oh. Kok, kamu mau kerja kayak begitu? Kamu nggak malu? Kamu kan, lulusan terbaik di kampus."

"Em, sementara, kok. Soalnya dari kemaren aku susah dapetin kerjaan. Jadi mumpung ada tawaran ya, aku terima."

"Oh. Kamu mau pulang?"

"Pulang ke tempat kerja."

"Aku anter."

"Nggak usah. Deket, kok."

"Udah, jangan nolak rezeki. Justru karena dekat, jadi kamu nggak perlu merasa nggak enak." paksa gadis itu.

Shenna tampak berpikir, dan mengangguk ragu kemudian. Dengan hati-hati ia mendudukkan Adam di motor lalu dirinya. Mengarahkan pada teman semasa kuliahnya itu letak tempat ia bekerja. Beberapa detik kemudian, mereka pun tiba. Shenna mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Dilihat Shenna, gadis yang bernama Siska itu terus memerhatikan rumah yang ia tinggali saat ini.

"Aku pamit."

"Makasih."

Siska langsung melajukan motornya. Ia sempat melihat kembali ke rumah besar namun tetap terkesan sederhana itu sebelum ia benar-benar menjauh.

Siska Mariska adalah gadis yang cukup populer di kampus tempat mereka berkuliah dulu. Banyak yang menyukai nya namun banyak pula yang tidak menyukai karena sikapnya yang judes. Shenna pun sering mendapatkan perlakuan judes dari gadis itu.

Shenna merasa tidak nyaman melihat bagaimana Siska memerhatikan kediaman Nugraha. Ia pernah mendengar dari orang-orang yang tidak menyukai Siska, yang mengatakan jika Siska itu bisa disebut dengan rubah. Sikap judesnya menutupi sifatnya itu. Namun Shenna tidak mempercayai itu. Ia pikir, mereka mengatakan itu hanya karena mereka tidak menyukainya. Namun melihat tingkah Siska tadi, membuatnya khawatir.

Begitu tersadar jika mereka masih berada di trotoar, Shenna berjalan cepat membawa Adam masuk. Begitu memasuki rumah, mereka disambut oleh Wira yang tengah duduk di ruang tamu. Adam berlari ke arah Wira setelah Shenna menurunkan nya, dan mengatakan jika mereka pulang tadi menggunakan motor milik teman Shenna. Shenna pun menjelaskan siapa teman yang dimaksud Adam tadi.

"Nggak apa, tapi hati-hati." pesan Wira.

Shenna mengangguk mengerti. Kemudian, ia pamit ke dapur, hendak menyimpan es krim yang mereka beli tadi. Sebelum itu, ia menyerahkan lagi satu es krim pada Adam. Ia juga menawarkan pada Wira namun Wira menjawab dengan gelengan, yang berarti ia tidak ingin.

"Ayah besok libur, nggak?" tanya Adam, sementara mulutnya sibuk menjilat es krim. Tangan kirinya memainkan ujung baju yang Wira kenakan. Ia sesekali mendongak untuk melihat ayahnya.

"Kenapa?"

"Adam mau jalan-jalan sama bunda sama Ayah?" tuturnya namun terdengar seperti ia sedang bertanya.

"Memang Adam mau ke mana? Adam sekarang suka jalan-jalan, hm?"

Adam tersenyum lebar, lalu berucap, "Adam mau jalan-jalan sama bunda. Adam sudah lama nda jalan-jalan, kan?"

Sontak Wira terdiam. Memang benar, beberapa bulan ini ia sangat jarang mengajak Adam keluar untuk berjalan-jalan. Ia jarang meluangkan waktu untuk menemani anaknya bermain ataupun mengajak nya berpergian.

"Maaf ya, Sayang," sesalnya. "Ayah akan usahakan menyelesaikan pekerjaan Ayah secepatnya. Adam mau kan, menunggu?"

"Adam sama bunda aja?" katanya lagi dengan nada bertanya.

Wira melihat ke arah Adam sebentar, lalu ke arah Shenna yang berjalan ke arah mereka, dan bertanya, "Kamu tau daerah Jakarta?"

"Tau." jawabnya sembari mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu.

"Adam mau jalan-jalan sama kamu. Apa kamu nggak masalah jalan-jalan berdua aja sama Adam?"

"Kalau dibolehkan, aku nggak masalah."

Shenna duduk di lantai, di sebelah Adam.

"Adam besok sama tante aja, tapi ingat ...," Wira beralih ke arah Shenna. "Hati-hati. Dan kalau ada apa-apa cepat hubungi aku atau mamah. Kamu punya nomor kita, kan?"

"Kakak sama papah yang aku nggak punya."

"Oh." Wira terdiam. Ia melupakan untuk meminta Shenna menyimpan nomor teleponnya, tetapi malah meminta gadis itu untuk menghubungi nya. "Payah." Dia membatin. Belum tua, sudah pelupa.

"Hubungi mamah aja."

"Aku ngga boleh kasih nomor hp. Entar kayak bawaan mamah waktu itu." lanjutnya lagi dalam hati.

"Oke." Lalu kembali pada Adam. "Adam, nggak boleh begitu. Jorok." Ia menegur Adam, saat melihat anak laki-laki itu menjilati es krim yang jatuh ke pakaiannya.

Adam tertawa lebar, menampilkan deretan gigi kecilnya menanggapi teguran Shenna terhadapnya. Shenna membersihkan mulut Adam dan bekas es krim yang menempel di pakaian dan tangan Adam dengan tisu.

"Kalau yang sudah jatuh, jangan diambil, ya? Kalau diambil terus dibuang nggak apa, tapi jangan dimakan."

"Maaf, Bunda. Janji nda lagi." sesal Adam sembari merangkak mendekati Shenna lalu berdiri di depannya. Menatap gadis yang berstatus sebagai pengasuhnya itu sembari tersenyum. Kedua tangannya menangkup wajah gadis yang kini matanya membulat sempurna, terkejut akan perlakuan Adam.

"Maaf, Bunda. Jangan marah sama Adam, ya?" ucap Adam dengan nada lirih. "Adam nda nakal lagi, kok. Janji." Senyum Adam saat mengutarakan penyesalannya, membuat nya terlihat begitu dewasa. Sementara itu, gadis di depannya tertegun melihat bagaimana jeniusnya anak yang ia asuh. Kedua orang tua Adam tentu sangat bangga padanya.

"Iya, nggak apa," tanggapnya. "Sudah sore, mandi, yuk?"

Sejak tadi, Wira terus memerhatikan interaksi keduanya. Ia pun memerhatikan dengan teliti gerak-gerik dan setiap ekspresi yang ditunjukkan Shenna. Hingga saat ini, ia masih belum bisa menemukan informasi lengkap gadis itu. Salah satu teman sekolahnya yang bekerja di kecamatan pun masih belum bisa menemukan data yang cocok dengan Shenna.

Mengingat itu, Wira jadi teringat sesuatu. "Kamu di Jakarta tinggal di daerah mana? Bogor, kah?" tanyanya.

Shenna mengangguk, menjawab.

"Oh."

Respon Wira yang hanya mengajak 'oh' membuat gadis itu mengerutkan keningnya karena bingung lantas bertanya, "Kenapa?"

"Nggak. Kalau kamu pulang, jadi enak nanti diantar pulangnya." dalih Wira, setelah itu mengutuk diri karena sudah berbohong.

Shenna mengangguk, meski setengah hatinya merasa aneh akan pertanyaan dan jawaban Wira. Walau sebenarnya masuk akal juga.

***

"Gimana?"

"...."

"Nama lengkap?" katanya mengulang. "Nggak mungkin, Thon. Bisa-bisa dia mikir aneh-aneh kalau aku tanya nama lengkapnya. Orangtuaku juga bakal curiga sama."

"...."

"Haish!" desahnya. "Ada cara lain, nggak? Tapi jangan yang aneh-aneh."

"...."

"Are you sure?"

"...."

"Hah... Ok. Aku harap kamu bisa kasih kabar baik."

Wira mengusap kasar wajahnya setelah mematikan sambungan telepon. Ia membuang napas kasar.

Belakangan, Wira sering menunjukkan kekesalannya dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Menghela napas dan semakin sering marah-marah. Seakan itu adalah hobi barunya.

"Masa iya, aku curi KTP-nya?" gumamnya. "Haish! Kerjaan aku aja udah bikin otak keriting, ditambah ini cewek lagi!" Wira benar-benar dibuat frustrasi oleh gadis bernama Shenna tersebut. Lebih frustrasi dibandingkan memikirkan siapakah yang akan menjadi bunda untuk anaknya nanti.

Wira menuju kasur lalu merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar, memikirkan cara yang aman untuk mendapatkan data diri Shenna. Setelah ia memejamkan mata beberapa saat, Wira kembali membuka mata. Kemudian sebuah senyum terukir di wajah bulat laki-laki perawakan tinggi itu.

"I got you."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel