Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Merasa Bersalah

Wira berjalan di depan mereka. Dan sebelum menyusul Wira, mereka berjabat tangan, merayakan kemenangan mereka.

"Ehem!" Deheman Wira membuat Adam, Shenna dan laki-laki itu beralih. Tatapan Wira saat itu penuh akan ketidaksukaan. Berbeda jauh dengan tiga orang di depannya, yang memberikan tatapan bingung.

"Ayah, sini." panggil Adam sembari mengayunkan tangan kanannya, memanggil.

Wira berjalan ke sisi kanan laki-laki itu, kemudian duduk di pinggiran trampoline.

Adam menghampiri, lalu duduk di pangkuan Wira dan mengatakan, "Ayah, Om itu kakaknya bunda, loh."

Mendengar perkataan putranya, Wira pun dibuat terkejut. Namun tidak sebanding dengan keterkejutan Bayu dan Reza yang tadi mengompori. Mereka menutup mulut mereka dengan tangan kanan. Mata keduanya melotot yang diarahkan terhadap satu sama lain. Mereka yakin setelah ini Wira akan mengomel pada mereka karena kesalahpahaman yang dibuat oleh mereka. Sedangkan tiga lainnya tertawa tertahan, menertawakan Bayu dan Reza.

"Iya, Kak. Kenalin, ini kak Ivan. Dia kakak sepupu aku." kata Shenna memperkenalkan.

Ivan menampilkan senyum ramah pada Wira, sebagai ucapan terima kasihnya pada Wira karena sudah baik pada adiknya.

"Ha... Halo?" Wira bingung bagaimana ia harus menyapa, sehingga hanya kata 'halo' dengan keraguan yang ia keluarkan.

Ivan tertawa kecil menanggapi kekakuan Wira. Setelahnya ia berucap, "Santai aja."

Sekali lagi, Wira hanya bisa mengeluarkan senyuman kikuk. Dalam hati ke lima sahabatnya, kira-kira apa yang membuat Wira menjadi kaku. Kenapa pula ia bisa terpancing saat mereka mengompori. Dan kira-kira, apa yang membuat Wira terkompori? Adam? Atau Shenna dan laki-laki yang ternyata adalah kakak sepupu dari gadis itu.

Mengingat kesalahpahaman yang mereka buat, membuat mereka tertawa geli sendiri. Ditambah respon yang diberikan Wira, membuat semakin berhasil menggelitik perut mereka.

***

"Pamit, ya." pamit Ivan. Di sebelahnya ada Shenna yang terus memegangi tangannya.

"Iya. Hati-hati, Bang!"

"See you, Adam."

"See you, kakaknya bunda."

Sahutan Adam cukup menggelitik perut Ivan saat itu. Ia merasa gemas akan tingkah Adam. Shenna mengantarkan Ivan ke mobilnya.

"Hati-hati, Kak." ucapnya begitu tiba di mobil Ivan yang terparkir tidak terlalu jauh dari mobil Wira.

"Iya. Tapi ada yang mau Kakak tanyakan."

"Apa?" Shenna mendongak dalam karena tinggi Ivan yang kelebihan jauh darinya. Jika bisa, ia berharap tinggi kakaknya bisa disumbangkan padanya.

"Kenapa Adam manggil kamu 'bunda'?"

Shenna sontak terdiam. Ia tidak menyadari panggilan Adam padanya. Dan parahnya, ia belum menyiapkan jawaban apapun untuk pertanyaan itu. Matanya ke sana kemari memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan.

"Dek?"

Shenna kembali mendongak. Takut-takut dia menjawab, "Em... Shenna nggak tau."

"Nggak tau? Maksudnya apa itu?"

Shenna kembali diam. Sangat jelas nada penuh penekanan dan tegas dari Ivan saat mengatakan kalimat tersebut. Melihat sang adik hanya menunduk diam, ia yakin jika ada yang adiknya sembunyikan. Tetapi ia tidak bisa memaksa adiknya malam ini.

"Baiklah. Kita bicarakan nanti saat kamu pulang."

Shenna kembali mendongak. Dan kali ini dengan tatapan penuh penyesalan. Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya. Ia tidak bisa membohongi mereka.

"Kamu baik-baik. Kabari kalau ada apa-apa."

Shenna mengangguk pelan. Ivan mengusap kepala adiknya pelan.

"Nggak apa. Tapi nanti kamu harus jawab dengan jujur. Jangan buat mami sama papi kecewa."

Kembali, Shenna mengangguk. Ia sungguh merasa bersalah.

"Sana. Nanti mereka kelamaan nunggu kamu."

Ia tahu ia salah, karena itu dia hanya mengangguk patuh. Sembari bejalan menuju di mana mobil Wira terparkir, beberapa kali ia menoleh ke belakang. Rasa bersalah kini menghujani nya. Rasanya Shenna ingin menangis. Ia benci saat dirinya harus mengecewakan keluarganya.

***

Tepat pukul sebelas malam, mereka tiba di rumah. Adam dan Shenna langsung masuk ke kamar Shenna. Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian, mereka pun merebahkan tubuh di ranjang. Adam seperti biasa memeluk Shenna dengan mata yang mulai sayu. Tangan kiri Shenna bergerak perlahan mengusap punggung Adam, membujuk si kecil untuk segera tidur. Sementara itu, pikirannya sibuk memikirkan apa yang harus ia jelaskan pada orangtuanya.

Sepanjang jalan pulang tadi pun ia banyak diam. Ia hanya merespon pertanyaan-pertanyaan yang Adam lontarkan dengan anggukan dan gelengan. Meskipun harus bicara, ia hanya bersuara pelan. Begitu pelan.

***

"Adam?" panggil Nika yang berdiri depan kelas.

Akhirnya giliran Adam yang dipanggil. Ia pun turun dari kursi dan berjalan ke depan. Dia mendongak, menungg gurunya berbicara.

"Ini ...," Nika menyerahkan sebuah amplop pada Adam. "Ini surat untuk orang tua Adam. Jangan lupa kasih ke ayahnya, ya?"

Adam mengangguk. Nika tersenyum hangat seraya tangan kanannya mengusak rambut hitam Adam.

"Silakan kembali duduk."

Adam mengikuti perintah Nika. Ia kembali ke tempat duduk, dan menyimpan surat tadi ke dalam tas.

Nika kembali melanjutkan mengajar murid-murid di kelas A. Sesekali ia mengajak murid-murid bernyanyi agar murid-muridnya merasa lebih nyaman dan santai. Apalagi anak-anak yang diajarinya itu masih berusia lima sampai enam tahun, yang mana, anak dengan usia tersebut tidak boleh merasa tertekan sedikitpun. Pikiran mereka harus tenang agar bisa menerima dengan baik ilmu yang diberikan oleh guru.

Saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit, Nika mengakhiri proses belajar dan mengajar dengan kembali bernyanyi sebentar, lalu berdoa. Setelah selesai, murid-murid dibubarkan.

Murid-murid keluar setelah mencium punggung tangan Nika. Beberapa dari mereka, ada yang mencium pipi Nika lalu melambaikan tangan padanya. Nika senang karena mereka bisa menerima dirinya dengan baik.

Setelah semua murid keluar, Nika kembali masuk, mengambil tas. Setelah itu, ia keluar dan menutup pintu. Saat hendak melangkah, mata sipitnya menangkap sosok laki-laki yang tengah bercanda dengan seorang anak kecil. Nika tersenyum tipis melihat kedekatan ayah dan anak itu. Tapi kemudian ia terkejut karena laki-laki itu tiba-tiba melihat ke arahnya. Dan lebih terkejut lagi, laki-laki itu melangkah ke arahnya. Nika berusaha keras menormalkan detak jantungnya yang berpacu begitu cepat.

"Assalamu'alaikum ...." ucap Wira mengucapkan salam. Ia memberikan senyum ramah menyapa salah satu guru Adam itu.

"Wa'alaikumsalam, ada apa, Pak?"

"Jangan panggil, Pak. Saya jadi merasa saya sudah tua. Panggil Wira aja." ucap Wira seraya tertawa kecil.

Pun sama dengan Nika. Ia tersenyum malu-malu. "Baiklah. Maaf. Jadi, ada apa?"

"Tadi Adam memberi surat dan isinya tentang pariwisata?"

"Oh, iya. Maksud kami, kami ingin memperkenalkan anak-anak dengan alam. Bukan hanya alam, tapi kekompakan antara anak, orang tua dan teman."

"Oo," Wira mengangguk mengerti. "Tapi sepertinya saya tidak bisa datang. Mungkin akan diwakilkan ...." Wira berhenti sejenak. Ia merasa ia tidak harus mengatakan siapa Shenna. Ia hendak melanjutkan kalimatnya namun didahului oleh Adam.

"Sama bunda. Nanti Adam sama bunda aja ya, Yah?" pinta Adam.

"Iya."

"Oh, begitu." respon Nika sambil tersenyum terpaksa. Ia merasa seperti baru saja dilempar oleh seseorang agar tersadar dari khayalannya.

"Tidak harus berdua, kan?"

"Hah?"

"Maksudnya, apa tidak apa, kalau salah satu dari orang tua aja yang datang?"

"Oh, tidak apa. Yang penting orang tua harus ada. Biar orang tua juga melihat perkembangan anak mereka."

"Baiklah. Kalau begitu kami permisi.

Assalamu'alaikum ...."

"Wa'alaikumsalam ...." Senyum Nika luntur begitu laki-laki yang ia idamkan itu pergi. Kepalanya menunduk lesu. "Nggak ada harapan lagi."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel