Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 IRI

Adam menatap ke arah gadis yang kini wajahnya berada di depan wajahnya. Senyum gadis itu menyapa hangat padanya. Adam masih mengumpulkan kesadaran yang masih membujuk nya untuk kembali tidur namun gadis di depan membuat nya ingin melawan.

"Adam bangun, sudah sore." ucap gadis itu sembari tangannya mengarah ke wajah Adam lalu mengusap pipi tembemnya. Senyum itu, menambah kekuatan Adam untuk melawan rayuan setan yang membujuk agar kembali tidur.

"Bangun, Sayang," bujuk gadis itu. "Nggak baik mandi terlalu sore."

Adam kembali membuka mata yang sudah akan kembali sayup.

"Bu... Bunda?" ucapnya pelan karena masih setengah mengantuk. Adam terus mengedipkan mata, membuat Shenna terkekeh geli melihat wajah menggemaskan Adam.

"Bangun, yuk."

Adam menguap.

"Ayo, Sayang." ujarnya lagi sembari mengangkat tubuh Adam. Saat Adam sudah duduk di pangkuannya, ia mengelus pelan pipi Adam.

"Bunda, sudah pulang?"

"Iya, dong. Kalau belum, terus yang di depan Adam ini siapa?"

"Adam kangen Bunda." tutur Adam lalu memeluk erat tubuh Shenna.

Shenna pun sama. Ia balas memeluk Adam erat. Ia pun merindukan Adam. "Ayo, mandi."

Adam mengangguk mantap seraya tersenyum lebar setelah berhasil melawan kantuk. Ia meminta Shenna agar menggendong nya ke kamar mandi. Menyuruh Shenna memandikan nya. Menggosok gigi dengan mata yang fokus pada gadis di depannya. Shenna sendiri antara senang sekaligus malu karena ditatap seperti itu oleh Adam. Entahlah, ia merasa aneh jika ditatap seperti itu.

"Adam jangan liatin Tante kayak gitu. Malu, ih."

Dan Adam malah meresponnya dengan tertawa geli.

Setelah Adam selesai mandi, Shenna memakaikan pakaian Adam yang kembali bermanja-manja padanya. Shenna tidak keberatan akan itu, tetapi ia tidak enak hati pada orang tua Adam. Sambil tersenyum Shenna menatap Adam bangga. Entah mengapa ia merasa bangga saat melihat anak laki-laki yang diasuhnya. Apalagi melihat bagaimana Adam bertingkah dan berbicara, antara lucu, juga bangga karena kepintaran Adam.

"Jadi anak yang baik ya, Dam? Nurut apa kata ayah, kakek dan nenek."

Adam mengangguk lalu menambahkan, "Sama Bunda juga.

"Ha ha, iya," Shenna mendudukkan Adam di kasur, sementara ia berlutut di depan ranjang menghadap Adam. Kedua tangannya menggenggam tangan Adam. "Adam... Adam harus jadi anak yang baik. Anak yang jujur dan pandai. Adam juga harus berhati-hati kalau bicara."

"Maksudnya?"

"Adam boleh bicara apapun yang ada dalam pikiran Adam, tetapi harus dipikirkan lebih dulu sebelum bicara. Apakah perkataan Adam itu baik apa nggak. Jangan sampai Adam menyakiti hati orang."

Adam mengangguk.

"Dengar, kita nggak cuma harus menjaga hati kita. Hati orang lain juga harus kita jaga agar tidak menyakiti mereka."

"Hati juga dipukul, makanya sakit?"

Shenna tertawa kecil. "Nggak, Sayang. Hati bisa terluka karena perkataan kasar, perkataan tidak baik dan perlakuan buruk. Misal, Tante berlaku kasar sama Adam, tentu Adam kesal dan sakit hati, kan?"

Adam mengangguk dan mengatakan, "Tapi Bunda nggak jahat sama Adam."

"Ha ha. Kan, contoh aja."

"Ooo."

"Ingat perkataan Tante, ya?"

Adam mengangguk. Shenna lalu memeluk Adam. Kesedihan tiba-tiba melanda hatinya.

"Adam... Lakukan apapun yang terbaik untuk orang tua. Jangan pernah membantah mereka, apalagi berkata kasar pada mereka.

Kita cuma hidup sekali, jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu selama kita hidup untuk sesuatu yang nggak bermanfaat."

"Adam ngerti, nggak?" tanyanya kemudian, sembari mencubit pelan pipi Adam.

"Adam harus jadi anak baik. Nurut kata ayah, Bunda, nenek sama kakek. Adam nggak boleh kasar sama orang tua. Adam nggak boleh nakal. Adam harus buat ayah sama Bunda senang. Adam harus mikir dulu baru ngomong." simpul Adam.

"OMG! Adam kok, pinter banget, sih?!" serunya senang. Pelukannya semakin erat pada tubuh mungil Adam. Adam pun sama. Ia merasa sangat senang malam ini.

"Adam janji, Adam jadi anak baik." ucapnya, sangat serius dan tertanam di hatinya. Adam kecil berjanji.

"Iya. Adam harus jadi anak baik. Nggak cuma sama orang tua tapi sama semua teman-teman Adam. Dan! Adam harus hati-hati memilih teman."

Adam langsung meneriakkan kata 'oke' lantas keduanya tertawa bersama. Mereka merasa senang juga sedih sore itu. Mungkin benang merah menyatukan keduanya untuk mengisi kekosongan di hati mereka selama ini dan mengobati luka hati mereka.

***

"Ayah?" panggil Adam, mengintip Wira dari balik pintu.

Wira mengisyaratkan Adam untuk masuk. Adam masuk ke dalam kamar ayahnya dan duduk di sofa tempat Wira bersandar.

"Kangen sama Ayah?"

Adam menggeleng sembari tersenyum lebar.

"Jahat." kata Wira merajuk. Wajahnya dibuat seakan ia tengah bersedih.

"Adam nggak jahat."

"Tapi Adam jahat karena nggak kangen sama Ayah."

"Kan, Adam liat Ayah setiap hari? Jadi Adam nggak kangen."

"Masa nunggu Ayah ngilang dulu?"

Adam menertawakan sikap ayahnya yang tampak jika ia tengah merajuk. Dia lalu membujuk, "Tenang! Adam masih sayang Ayah, kok." Ia mengatakan itu sambil tersenyum lebar, sesuai ajaran Shenna tadi sebelum Adam ke kamar Wira.

"Waduh! Anak Ayah kok, pintar gombal?" komentar Wira berlagak terkejut. Ia memang terkejut namun tidak berlebihan seperti reaksi yang ia berikan pada Adam.

"Gombal apa?" tanya Adam bingung.

"Ups," Wira mengutuk mulutnya. "Maksud Ayah, Adam pintar merayu Ayahnya biar nggak marah."

"Emang Ayah marah?" tanya si kecil dengan nada lirih. Raut wajahnya syarat akan kesedihan, membuat Wira harus kembali membenarkan perkataannya.

"Nggak-nggak, bukan itu. Ayah nggak pernah marah sama Adam. Ayah cuma... Iri liat Adam sering sama tante."

"Makanya, Adam ke sini. Adam mau temani Ayah." jawab Adam mantap.

Mata Wira melebar, terkejut mendengar penuturan Adam. Ia tidak menyangka anaknya akan berkata seperti itu. Anaknya itu memang pintar dan mengerti dirinya. Saat ia benar-benar merindukan anaknya, anaknya itu datang untuk menemani. Benar-benar anak yang baik dan patut menjadi kebanggaannya.

"Ho ho," Wira memeluk Adam. "Terima kasih, Sayang. Ayah senang Adam mau tidur sama Ayah. Besok juga, yah?"

Wira sungguh berharap Adam mengiyakan ajakannya. Ia sangat merindukan tidur bersama anaknya itu. Dan jawaban Adam setelahnya sungguh membuat nya bahagia. Adam mengangguk menerima ajakannya, hingga Wira semakin mengeratkan pelukannya pada Adam. Ia tidak pernah merasa serindu ini pada Adam.

"Tidur sekarang?"

Adam mengangguk. Wira langsung menggendong Adam menuju kasur. Merebahkan Adam di kasur, lalu dirinya. Ia kembali memeluk Adam dengan erat, begitupun Adam.

Sebenarnya, Adam pun merindukan ayahnya. Tetapi, ia juga merindukan Shenna. Ia masih ingin bersama Shenna namun ia sudah berjanji akan menuruti perkataan orang tuanya. Karena itu Adam menemui Wira, karena kata Shenna, bahwa ayahnya pasti merindukan tidur bersamanya. Ayahnya pasti kesepian.

Wira memandangi wajah Sang anak yang sudah menutup matanya lebih dulu. Bersiap menuju dunia mimpi. Ia membatin, "Maafin Ayah, Nak. Ayah akan mencari bunda untuk Adam secepatnya, biar Adam nggak kesepian lagi. Jadi, Adam nggak perlu panggil tante Shenna dengan sebutan 'bunda' lagi."

***

"Pagi, Kak." sapa Shenna pada Wira yang baru saja tiba di meja makan.

Wira tidak memperdulikan sapaan Shenna. Matanya sibuk mencari keberadaan kedua orang tuanya. Shenna yang melihat itu pun mengatakan bahwa Adrian dan Niken sudah berangkat bekerja. Mereka ada rapat pagi ini. Respons Wira pun hanya mengangguk pelan, seperti enggan berinteraksi dengan gadis di depannya. Shenna sedih melihat itu namun senyum merekah tetap ia lampirkan. Tetapi dalam hati ia mengutuk laki-laki di depannya.

"Adam mana?" Nada bicara Wira dingin, memberitahukan pada Shenna bahwa ia tidak ingin dekat dengan nya, secara tidak langsung.

Nada dingin yang tidak disukai Shenna. Ia menarik napas lalu menjawab, " Di kamar lagi siap-siap. Bentar lagi selesai."

"Kamu numpang, Shen." lanjutnya membatin, mengingatkan diri untuk tidak mengutarakan kekesalannya akan sikap Wira.

"Bunda!" sapa Adam. "Oh? Ada Ayah. Pagi, Ayah."

"Pagi juga, Sayang. Mau Ayah antar ke sekolah?"

Adam mengangguk cepat.

"Ayo, makan." ajaknya sembari membantu Adam menaiki kursi. Keduanya tampak begitu menikmati menu sarapan pagi ini disambili dengan candaan ringan dan nasehat-nasehat kecil oleh Wira pada Sang anak.

Di sisi lain, Shenna menatap dengan perasaan bahagia pun iri melihat interaksi ayah dan anak di depannya. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Dia berusaha menarik kembali air mata yang akan keluar. Ia pun berusaha kembali memfokuskan diri dengan pekerjaan untuk mengalihkan perasaan yang berkecamuk.

Melihat Shenna sibuk di dapur, Wira pun menanyakan apakah gadis itu sudah sarapan atau belum. Shenna pun menjawab sudah dengan mengangguk pelan. Kemudian kembali fokus pada aktivitas masing-masing.

Wira bukannya tidak menyukai keberadaan Shenna, ia hanya ingin berhati-hati. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anak dan keluarganya karena orang asing, hingga ia berhasil mendapatkan informasi lengkap tentang gadis itu.

Setelah selesai sarapan, Wira dan Adam pamit pada Shenna. Sebelum pergi, Adam menyempatkan untuk mencium punggung tangan Shenna. Sontak saja, kejadian itu membuat Wira semakin khawatir, sedangkan Shenna langsung beralih ke arah Wira untuk melihat reaksinya. Melihat ekspresi datar dan tatapan tidak suka Wira; membuat gadis itu semakin tidak enak hati. Ia berteguh hati untuk secepatnya mencari pekerjaan lain. Sementara itu, ia harus membuat Adam tidak lagi menempeli nya agar lebih mudah baginya keluar dari rumah itu.

Saat Adam sudah kembali di sebelah Wira, Shenna pun berkata, "Maaf, Kak."

Dengan tatapan tegas, Wira melihat ke arah Shenna. Wira pura-pura tidak tahu lalu bertanya dengan nada tegas pula, "Kenapa?"

"Untuk kejadian barusan." ucap Shenna pelan dengan kepala menunduk.

"Hm."

Wira dan Adam siap pergi menuju sekolah Adam lalu ke kantor.

Shenna membuang napas kasar. Ia mendudukkan diri di lantai tempat ia berpijak kini. Bersandar pada lemari di belakangnya. Dia bergumam, "Yah, memang nggak semua orang suka sama kita."

"Adam harus lebih sering sama Ayahnya," ujarnya lagi. "Aku juga harus secepatnya dapat pekerjaan lain."

***

"Iya, Mi. Shenna baik-baik aja."

Shenna tertawa, "Tenang aja, Shenna nggak akan sakit. Di sini Shenna punya Adam yang menggemaskan, yang selalu menghibur Shenna."

"Ha ha. Iya, Mi."

"Wa'alaikumsalam...."

Shenna menghela napas. Matanya kemudian menangkap jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh, yang artinya ia harus segera menjemput Adam. Ia segera berlari ke kamar untuk mengambil jaket dan dompet lalu berteriak memanggil taksi yang sudah akan melewati nya. Segera ia memasuki taksi dan memberitahukan tujuannya, agar tidak terlambat menjemput Adam.

Setibanya di sekolah, keadaan sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa guru yang berbolak-balik.

"Kenapa sepi? Apa Adam ada pelajaran tambahan?" gumamnya pelan. Ia melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit, yang artinya ia tidak terlambat menjemput Adam.

"Tunggu dulu, deh." ujarnya lalu duduk di kursi tunggu dekat parkiran. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas namun belum satupun murid yang keluar. Guru-guru pun tidak ada terlihat.

Shenna memutuskan untuk masuk ke area dalam sekolah. Matanya memencar mencari keberadaan siapapun agar ia bisa bertanya. Saat melihat seorang guru muda tengah membuang sampah, ia pun memanggil sembari berlari kecil menghampiri guru muda itu.

"Ada apa?" tanya guru muda itu, Nika.

"Anak-anak belum pulang?"

"Sudah sejak tadi, Mba."

"Hah?!"

"Iya, Mba. Anak-anak sudah pulang sejak pukul setengah 10 tadi. Mba cari adeknya?"

Shenna shock, khawatir juga merasa kosong saat itu pun hanya menjawab dengan anggukkan, lalu ia kembali ke arah parkiran tanpa berpamitan pada Nika. Nika menatap bingung akan tingkahnya saat itu. Ia mengedikkan bahu lalu kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaannya.

Tiba di trotoar depan sekolah, pandangan Shenna masih kosong. Bibir tipis berisinya melengkung ke bawah. Matanya pun memerah. Tak lama, air matanya mengalir. Ia menangis tersedu-sedu menatap aspal lalu dia menarik napas untuk menenangkan hati dan pikirannya.

Saat kesadarannya kembali, ia berlari kembali ke dalam sekolah. Dia menemui guru yang ada di ruang guru, ruangan di mana ia melihat Nika keluar tadi. Tiba di dalam, ia langsung bertanya siapakah yang menjemput Adam. Nika mengatakan jika ayahnya Adam yang menjemput; membuat Shenna bisa bernapas lega saat itu juga. Bebannya berkurang. Ia sangat khawatir jika ia akan diusir sepulang dari sekolah karena tidak bisa menjaga anak orang dengan baik.

"Hah," Menghela napas. "Makasih, Bu. Saya lega."

Nika tersenyum tipis melihat wajah Shenna saat ini lalu berujar, "Iya, nggak apa. Mungkin pak Wira lupa ngabarin, Mba."

"Tapi, kok, bisa kak Wira tau Adam sudah pulang?"

"Saya tadi menghubungi pak Wira."

***

"Enaaak!" komentar Adam untuk ke sekian kalinya sembari mengunyah puding coklat dengan lelehan santan dan susu melumuri bagian luar puding.

Wira dan Adam kini berada di kafe milik Bayu.

"Iya, dong," ucap Bayu bangga. "Kan, Om Bayu yang masak. Dan masaknya itu penuh dengan cinta."

"Pret!" respon Wira.

"Cinta dimasak?" tanya Adam penasaran, membuat Wira tertawa nyaring mendengar itu. Sedangkan Bayu tertawa gemas menanggapi pertanyaan Adam.

"Bukan. Maksudnya, Om masak pudingnya itu dengan tulus, bahagia, nggak sambil marah-marah." jelas Bayu.

"Oo, Adam kira cinta bisa dimasak. Kalau iya, nanti Adam suruh bunda masak pakai cinta juga biar masakan bunda makin enak."

Senyum Wira menghilang seketika saat nama 'Shenna' keluar dari mulut Sang anak. Bayu beralih ke arah Wira sesaat lalu kembali pada Adam di depannya.

"Bunda Shenna, maksudnya?"

Mendengar pertanyaan Bayu, Wira mendelik tajam.

"Iya, dong. Bunda siapa lagi? Kan, Adam nda ada bunda." jawab Adam dengan polosnya seraya tersenyum lebar.

Wira dan Bayu terdiam dengan sorot mata yang menatap iba pada Adam. Adam benar-benar mengerti keadaannya. Kekurangannya.

Bayu kemudian melihat ke arah Wira dan berkata, "Kamu harus bergerak cepat."

Wira menunduk.

"Ayah? Bunda jemput Adam, kan?"

Wira mengangkat kepala, mengarahkan cepat pandangannya ke arah Adam dengan ekspresi terkejut. Ia lupa memberitahu Shenna. "Adam punya nomor tante Shenna?"

Adam menggeleng.

"Kenapa?" tanya Bayu.

"Aku lupa kasih tau Shenna kalau Adam udah aku jemput. Bisa-bisa itu anak nangkring lama di sekolah Adam."

"Kasih tau tante, suruh kasih tau dia."

"Oh, ya." Segera Wira menghubungi Niken, meminta Niken memberitahukan pada Shenna tentang Adam yang sudah lebih dulu pulang dengannya, dan kini tengah berada di kafe Bayu. Setelah memberitahu Niken, Wira menghembuskan napas lega.

"Lega banget?" ejek Bayu. Senyum mengejek di wajah bulatnya, membuat kelegaan Wira berubah menjadi raut kesal.

"Iya, lah! Diomelin emak bisa-bisa. Tadi aja emak udah ada kasih signal. Sampe rumah disemprot pasti." tutur Wira kesal, seperti seorang yang sedang mengomel.

"Tante suka sama dia kayaknya. Signal, tuh."

"Signal, opo?"

"Signal mantu."

"Asal!"

Bayu tertawa puas.

"Nggak ada yang lucu!"

"Mukamu lucu."

"Cakep, iya."

"PD tingkat camat."

"Tingkat Presiden."

"Parah kalau begitu. Tingkat kepercayaan diri kamu udah akut, bisa-bisa kamu berantem mulu sama bini, karena kamu terlalu percaya diri."

"Lah, aku emang cakep, toh?"

"Cakepan Adam."

"Hm, kalau itu sih, bener."

Keduanya lantas tertawa bersamaan karena perdebatan mereka tersebut. Aneh tapi lucu dan mereka sangat menikmati. Mereka berpikir, suatu saat itu pasti bisa menjadi kenangan yang mampu menggelitik perut jika diceritakan ulang.

Wira mempunyai lima sahabat. Yakni, Bayu, Reza, Zaki, Luna dan Bunga. Mereka sangat suka menggoda Wira dan Reza karena hanya mereka berdua yang sangat mudah terpancing emosinya. Dan keduanya selalu kalah debat jika berdebat dengan Bayu. Karena itu, mereka malas berdebat dengan sahabat tertua mereka itu namun Bayu itu tidak bisa dibiarkan. Ceramahnya bisa panjang. Kata-katanya selalu menjadi umpan yang enak untuk ditangkap, hingga Wira dan Reza tidak bisa mengabaikan pancingan Bayu.

Setelah selesai dengan hidangan yang disediakan khusus oleh Bayu, Wira dan Adam pun pamit pulang. Ini sudah mendekati waktu tidur Adam, sehingga mereka harus segera pulang.

***

"Assalamu'alaikum...."

"Wa'alaikumsalam...."

Adam berlari masuk mencari keberadaan Shenna, dan menemukan Shenna tengah sibuk di dapur dengan panci, wajan dan mangkuk-mangkuk. Ia lalu berseru, "Bundaaa!"

Shenna tersenyum.

"Bunda ngapain?"

"Masak."

"Adam sama Ayah sudah makan." kata Adam.

Sontak tubuh gadis berambut panjang dan berponi itu lemas. Ia sudah hampir selesai memasak menu terbarunya, tetapi apa yang baru saja didengarnya sungguh mengecewakan.

"Masak buat kamu aja." tambah Wira lalu mengisyaratkan Adam untuk mengikuti nya ke kamar. Adam pamit pada Shenna lalu berlari kecil mengikuti ayahnya.

Shenna membuang napas lelah. "Padahal udah... Terlanjur." gumamnya pelan. Dengan semangat yang menurun, ia melanjutkan acara memasaknya dengan wajah yang cemberut.

Selesai memasak, Shenna duduk di lantai dapur. Ia malas duduk di meja makan. Apalagi hanya sendirian, itu membosankan menurutnya.

Begitu selesai makan dan membersihkan piring-piring dan perkakas yang kotor, Shenna memilih duduk di ayunan di belakang rumah. Menikmati angin sejuk di cuaca panas hari ini, yang menyapa dengan mata terpejam. Menikmati hembusan angin yang memberikan kesejukan.

"Bundaaaaa!"

Suara Adam mengalihkan perhatiannya. Ia menyahut dengan mengatakan jika ia berada di belakang rumah, dan tak lama Adam datang sambil berlari kecil ke arahnya. Selembar uang berwarna merah berkibar indah dalam pegangan Adam.

"Bunda, beli es krim, yuk!"

"Ayo." Shenna turun dari ayunan. Kemudian menggendong Adam dan berjalan ke depan lewat samping. Sebelum ke depan, ia menutup lebih dulu pintu belakang.

Warung yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga mereka hanya berjalan kaki menuju warung. Setibanya di warung, Shenna dan Adam memilih cornello mini dua kotak. Sambil menunggu kembalian, Shenna membuka satu es krim untuk Adam. Setelah penjual memberikan kembalian, keduanya pun pulang.

Di jalan, sebuah motor berhenti dan memanggil Shenna. Shenna sedikit terkejut saat melihat seseorang itu....

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel