Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Rindu

Minggu pagi disambut dengan cuaca yang begitu cerah namun tidak secercah hati Adam saat ini. Hatinya tengah bersedih sejak ia tahu jika Shenna tidak akan menemani nya tidur hingga sore nanti. Sejak semalam hingga saat ini, Adam masih merajuk. Matanya bengkak karena terus menangis. Tidak mau berbicara pada Wira, Adrian ataupun Niken. Bujukan ketiganya pun samasekali tidak berguna. Adam malah menghindari mereka dan memilih menyendiri di kamar Shenna.

Wira saat ini tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap iba pada Sang anak. Hatinya sakit melihat anaknya yang terus-terusan menangis. Adam tidak pernah seperti ini, kecuali saat ia masih berusia dua sampai tiga tahun lalu. Itu pun hanya padanya dan Niken. Adam tidak pernah seperti ini pada orang lain, apalagi seorang yang baru dikenal.

Wira membuang napas kasar.

"Jangan-jangan kamu memang pake susuk, ya?" simpulnya dalam hati. "Sampai Adam segininya sama kamu. Sama Ayahnya aja nggak."

"Adam." Wira berjalan mendekat dan duduk di sebelah kanan Adam yang duduk di lantai, di sebelah ranjang.

Adam hanya diam menatap nya.

"Adam, udahan yuk, ngambeknya. Tante kan, nanti sore sudah pulang."

Adam masih pada keadaannya yang sebelumnya. Duduk diam, menatap ayahnya dengan raut sedih.

"Adam," Wira meemeluk putranya erat. "Nanti Adam sakit kalau nangis terus. Adam juga belum sarapan, loh."

"...."

"Kalau Adam sakit, nanti tantenya sedih," ujarnya. "Adam nggak mau tante Shenna sedih, kan?"

Adam menggeleng cepat, dan berkata, "Adam nggak mau bunda sedih." Adam berucap dengan begitu lirih dan suara yang parau.

Wira membawa Adam ke atas pangkuan lalu memeluk lebih erat tubuh kecil Adam yang menghadap ke arahnya. Tangan kanannya mengusap sayang punggung Sang anak. Ia berkata lagi, "Kalau begitu Adam nggak boleh nangis. Adam harus makan. Harus nurut apa kata Ayah, kakek, nenek dan tante."

Adam mengangguk.

"Janji, Adam nggak akan nakal?" ucap Wira tegas dengan kepala menunduk, menatap Sang putra.

Adam kembali mengangguk mengerti. Wajah polos yang menunjukkan bagaimana anak kecil itu mengerti apa yang orang dewasa katakan dan mengerti bagaimana perasaannya sendiri, adalah raut wajah yang sangat membuat Wira terharu. Ia senang, bangga, juga sedih dalam waktu bersamaan saat melihat wajah putranya. Sedih karena ia belum bisa memberikan kebahagian yang sempurna untuk anaknya.

"Kamu pake apa sih, sampai anakku begini?" batinnya lirih.

***

"Kamu kenapa, Dek?" tanya Minzy begitu mendapati adiknya duduk menyendiri di taman bunga mini mereka yang terletak di belakang rumah, tengah melamun. Minzy duduk di sebelah kiri Shenna.

Shenna menoleh. Ia berucap pelan, "Shenna nggak tau. Shenna tiba-tiba merasa sedih aja."

Minzy menyuruh nya agar segera mengambil air wudhu agar dia merasa lebih baik. Shenna langsung mengangguk lalu pamit menuju tempat wudhu di samping mushola mini di rumah mereka. Setelah selesai berwudhu, Shenna kembali ke taman.

"Enakkan?"

Shenna mengangguk.

"Dek, apapun yang mengganggu pikiran kamu, jangan terlalu diambil pusing. Yang ada bikin kamu pusing dan akhirnya kamu sakit.

Kakak tau, Kakak nggak tau gimana perasaan kamu saat ini. Tapi yang Kakak tau, nggak baik kalau terlalu memikirkan sesuatu. Maksudnya, jangan menyakiti diri sendiri. Jangan membuat sesuatu itu sulit, karena setiap sesuatunya itu selalu ada jalan keluarnya."

Shenna menunduk.

"Kalau kamu menyayangi seseorang, jangan pernah buat mereka bersedih."

Shenna kembali menatap Minzy. "Shenna...."

"Sudah. Lebih baik sekarang kamu siapin hadiah buat Adam. Dia pasti kangen sama kamu. Juga, dia pasti ngambek karena kamu nggak pamit sama dia kemaren."

Shenna mengangguk sembari tersenyum lebar mengiyakan. Hampir saja ia melupakan oleh-oleh untuk Adam dan keluarganya. Sebelum benar-benar pergi, dia berujar, "Kakak nanti temenin Shenna belanja juga, ya? Sekarang bantuin Shenna masak kue buat di sana."

"Nggak mau, ah?" goda Minzy.

"Harus mau."

"Ogah!" Minzy berdiri lalu berjalan cepat masuk ke dalam, disusul Shenna yang terus meneriaki nya; membujuk, tidak, tepatnya ia memaksa Minzy agar membantu nya.

***

Niken sedang membujuk cucunya, mengajak anak jalan-jalan namun Adam menggelengkan kepalanya pelan, menjawab.

"Mau makan sesuatu?"

Adam menggeleng lagi. Niken menghela napas pelan.

"Terus Adam mau apa?" tanya Adrian.

Adam melihat ke arah Adrian lalu berucap, "Adam mau bunda."

Adrian langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia lalu beralih ke arah Wira di depannya. Dan mengatakan, "Dengar permintaan anakmu."

"Dengar." sahut Wira.

"Cari."

"Memang semudah itu?"

"Memang kamu nggak ada calon?"

"Nggak."

"Payah. Katanya cakep tapi kok, nggak laku." sindir Adrian.

Adrian menyindir bukan karena ia tidak akur dengan anaknya, tetapi ia terkadang merasa kesal pada anak bungsunya itu karena Wira selalu membanggakan diri dan wajahnya. Apalagi saat anaknya itu masih di sekolah menengah atas, sombongnya melebihi dirinya dulu.

Wira melirik sinis pada Adrian. Antara kesal juga tertampar akan sindirian papahnya yang begitu tepat sasaran.

"Kok, malah debat, bukannya ngibur Adam." sindir Niken kemudian pada keduanya.

Keluarga Nugraha itu memang keluarga yang dikenal konyol. Mereka sangat dekat. Saking dekatnya, mereka sering berdebat dan menyindir satu sama lain untuk mengingatkan jika salah satu dari mereka melakukan salah dan sulit untuk diberitahu dengan baik-baik.

Keluarga itu juga terkenal akan kebaikan mereka. Mereka selalu siap membantu orang lain selama mereka memang bisa. Mereka terkenal bijak dan ramah. Namun, mereka juga cukup disegani, karena ketegasan mereka. Mereka akan menegur siapapun jika mereka salah tanpa perduli tempat, meskipun itu keluarga mereka sendiri. Bahkan Wira pun sudah sangat sering dibuat malu oleh Adrian di depan teman-temannya.

Mereka menjunjung tinggi kejujuran. Mereka akan mencari tahu lebih dulu jika mencium sesuatu yang mencurigakan, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan. Karena berbisnis itu tentu mempunyai banyak saingan. Jika satu sukses, maka akan ada yang iri dan berusaha menjatuhkan.

Dunia bisnis yang kelam.

"Adam mau bunda yang gimana?" tanya Niken.

Wira dan Adrian pun menunggu jawaban Adam.

"Bunda Shenna."

Ketiganya langsung terdiam. Mereka sangat terkejut mendengar jawaban Adam, lantas dalam benak mereka bertanya, apakah Adam benar-benar mengerti maksud perkataan mereka?

"Adam mau bunda yang seperti tante Shenna?" tanya Wira selidik. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus menikahi Shenna untuk dijadikan bunda untuk anaknya, jika yang maksud perkataan Adam sama seperti apa yang otaknya tangkap.

"Adam mau bunda Shenna jadi bundanya Adam. Adam maunya bunda Shenna."

Sontak tubuh Wira lemas. Ia dengan lesu menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Gambaran-gambaran ia menikahi Shenna terlintas begitu saja di kepala. Mungkin, malam ini gambaran-gambaran pernikahannya dengan Shenna akan menghantuinya.

Niken pun terkejut. Cucunya begitu jenius hingga mengerti maksud pertanyaan mereka.

Tunggu.

Niken mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap serius pada Adam yang tangannya sibuk memainkan mobil-mobilan. Adam menatap bingung ke arah neneknya.

"Tante Shenna bukan bunda Adam,"

Adam diam.

"Adam tau itu, kan?"

Adam mengangguk.

Wira mengikuti posisi duduk Niken dan bertanya, "Terus kenapa Adam panggil tante Shenna 'bunda'?"

"Adam mau punya bunda," lirihnya. "Adam mau kayak teman-teman Adam." Ungkapan Adam tidak hanya lirih namun itu keluar dari lubuk hatinya, yang setiap hari harus merasakan iri dan sedih melihat teman-temannya diantar-jemput oleh orang tua mereka. Ayah dan ibu.

Wira, Niken dan Adrian tersentak. Mereka terdiam sesaat lalu Wira kembali bersuara.

"Terus kenapa panggil tante Shenna dengan sebutan 'bunda'?" tanyanya lagi setelah tenang dari keterkejutan.

"Adam suka bunda Shenna."

***

"Not bad." kata Adrian, membuat shock Sang anak yang kini penampilannya cukup berantakan setelah diacak nya rambutnya sendiri, belum mandi, karena perkataan Adam dan kini ditambah papahnya. Mata Wira melotot menatap Adrian tak percaya.

Bagaimana bisa papahnya itu berkata seperti itu?

"Bagaimana mungkin?!"

"Kenapa nggak? Letak salahnya di mana? Letak ketidakmungkinan nya di mana?" tanya Adrian seperti menghakimi, walau sebenarnya dia hanya ingin membenarkan pemikiran dan keinginan anaknya.

"Ya, nggak mungkin, Pah."

"Apanya yang nggak mungkin? Kamu sama Angel aja mungkin!"

Wira terdiam begitu nama 'Angel' keluar dari mulut Adrian. Ia tahu papahnya masih belum bisa melupakan apa yang terjadi dulu. Papahnya sangat kecewa padanya karena kejadian di masa lampau.

"Pah...."

"Apa kamu mencari pasangan yang sesuai dengan selera kamu?

Apa itu yang kamu nikahi?

Apa kamu menikah hanya untuk kepuasan kamu saja? Apa kamu tidak memikirkan hal lainnya selain kepuasan?"

"Pah, nggak mungkin Wira menikah dengan sembarang orang. Nggak mungkin Wira menikah dengan orang yang nggak Wira cinta. Pernikahan nggak akan bahagia."

"Apa kamu bahagia dengan Angel?

Wira!

Menikahi seseorang karena dia cantik, kaya, sexy, manis, dan saat semua itu hilang, apa kamu akan pergi? Dan mencari lagi yang sesuai seperti selera kamu itu?"

"Bukan begitu, Pah...."

"Tipe kamu, gimana?"

"Cantik tentu, baik, menerima Adam, menyayangi Adam, menyayangi Papah dan mamah, menerima keadaan aku. Intinya yang terbaik."

"Ini sudah masuk tahun ke 5 dan kamu masih belum bisa menemukan, kan?"

"Pah...."

"Papah bukan menyuruh kamu menikah dengan Shenna. Papah cuma mau kamu itu sadar, jangan mencari yang menyesuaikan dengan nafsu, kebahagiaan dunia, tapi kamu melupakan akhirat."

"Apa hubungannya sama dia kalau begitu? Dan juga, selera aku untuk dunia akhirat, kok."

Adrian mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. Kaki kanan diletakkan di atas paha kiri, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi dan kedua tangannya dilipat di depan dada.

"Siapa tau kamu mau sama dia, Papah nggak masalah. Tapi kalau kamu ada yang lain juga nggak apa. Dan selera dan harapan itu beda, Wira." ucap Adrian santai dan nada bicara serta caranya melihat anaknya seakan ia tengah mengejek anaknya.

Wira mendengkus mendengar perkataan Adrian. Papahnya itu memang tidak mudah melupakan kesalahan orang-orang yang sudah mengecewakan nya. Meski itu anaknya sendiri. Padahal papahnya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi namun laki-laki yang kini berusia empat puluh lima tahun itu terlanjur kecewa. Beruntung papahnya masih mau menerima Adam dan menyayangi Adam. Bahkan melebihi sayang papahnya itu padanya.

"Ya, terserah Papah. Tapi kalau Papah berharap aku nikah Shenna, itu nggak mungkin terjadi."

"Papah sih, nggak berharap tapi anakmu iya."

Oh tidak! Wira melupakan Adam. Adam lebih sulit diyakinkan daripada orang tuanya. Wira harus bekerja lebih keras dan mencari gadis yang bisa meluluhkan hati Adam secepatnya sebelum anaknya itu semakin menempel pada Shenna.

Shenna,

Shenna,

Shenna.

Wira tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Ia terus berprasangka jika Shenna menggunakan sesuatu yang membuat anaknya sangat menyukai nya. Ia berencana untuk mencari tahu latar belakang gadis itu.

Wira meringis dalam hatinya memikirkan gadis itu. Ingin rasanya ia memarahi gadis yang tidak tahu apa-apa itu karena hadir di keluarga mereka dan membuat anaknya menyukai nya lebih dari dirinya sendiri sebagai ayah si anak.

"Awas aja! Aku akan ungkap asal-usul kamu!"

***

Adam memainkan mainan robotnya dengan malas. Beberapa kali ia melirik Niken yang tengah memasak. "Nek?"

"Ya?" respons Niken tanpa beralih.

"Bunda kapan pulang?"

Niken menoleh dan bertanya, "Kangen banget, ya?"

Adam mengangguk.

"Sabar, yah? Nenek nggak bisa menghubungi tante, soalnya Nenek lupa minta nomor telepon tante."

Adam mengangguk lagi dan kembali memainkan mainannya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu gadis yang sudah membuat nya nyaman di awal pertemuan mereka. Ia sangat merindukan gadis itu.

"Adam main di kamar bunda." Adam berlari kecil menuju kamar Shenna dengan robot ironman menggantung di tangan kanannya.

Niken melihat cucunya itu iba. Hatinya sakit melihat keadaan cucunya yang begitu menyedihkan. Ia lantas berkata dengan lirih, "Dia pasti pengen banget punya bunda," Niken menghela napas. "Sabar ya, nak. Semoga ayahmu bisa secepatnya mendapatkan bunda untuk kamu."

***

Di kamar, Adam berbaring di kasur memeluk robot ironman. Ia menatapi foto Shenna bersama keluarga kecilnya, yang dibawa Shenna dan diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Terlihat Shenna yang masih mengenakan seragam sekolah menengah atas. Di masing-masing sisi ada dua perempuan dan di belakang mereka ada laki-laki dan perempuan yang pikir Adam itu adalah orang tua Shenna, dan artinya itu kakek dan neneknya. Dan dua perempuan di sebelah Shenna adalah tantenya.

Adam, bocah berusia enam tahun itu mempunyai pikiran yang dewasa. Tidak juga, tetapi ia mampu mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Semisal, tentang Shenna. Ia tahu Shenna bukanlah bundanya tetapi ia sudah jatuh cinta pada Shenna sejak pertama ia melihat gadis itu.

Ia begitu merindukan bundanya, mungkin karena itu Adam terus memanggil Shenna dengan sebutan 'bunda'. Apalagi Shenna begitu ramah dan perhatian padanya.

"Bunda." Adam lalu memejamkan mata. Memeluk robotnya erat. Dan tak lama, ia pun tertidur.

***

Setelah keluar dari ruang kerja Adrian, Wira mencari Adam. Ia menuju kamar Shenna setelah diberitahu oleh Niken jika Adam berada di kamar gadis itu. Dan di sinilah Wira, berdiri bersandar pada lemari yang berada dekat dengan ranjang, memerhatikan Sang anak yang tertidur tanpa selimut menutupi tubuh kecilnya.

Wira lalu berpindah, duduk di sisi ranjang yang kosong, kemudian menyelimuti tubuh Adam.. Ia menghela napas lalu berucap, "Adam... Kamu jangan terlalu sayang sama perempuan itu. Identitasnya masih belum jelas. Kita belum tau bagaimana dia sebenarnya. Kita belum tau latar belakangnya. Rumahnya, keluarganya.

Ayah takut kalau dia itu orang jahat. Memang kalau dilihat dari wajahnya dia baik, tapi... Mana tau itu cuma topeng,"

Wira kembali membuang napas lelah.

"Ayah akan mencarikan bunda buat Adam. Ayah akan carikan yang terbaik dan itu bukan tante Shenna, ya? Ayah harap Adam nggak berharap Ayah menikah sama dia."

***

"Kak, sambil-sambil nguping ya, siapa tau ada kerjaan yang cocok buat Shenna? Shenna mau lah, kerja yang lain."

"Memang nggak cocok sama kerjaan sekarang?"

Shenna menunduk dan berucap pelan, "Shenna takut... Em, maksudnya Shenna nggak enak tinggal di tempat orang. Nggak enak juga, mereka terlalu baik."

"Bukannya bagus kalau mereka baik sama kamu?" ujar Minzy sembari menoleh ke arah Shenna.

"Iya, tapi Shenna nggak mau hutang budi sama orang. Cukup Budi aja yang punya hutang, Shenna nggak mau."

Minzy tertawa mendengar lawakan kecil adiknya. Sempat-sempatnya adiknya itu melucu saat pembicaraan mereka cukup serius.

"Bisa aja kamu," katanya. "Yah, nanti Kakak beli alat pendengar biar makin jelas Kakak ngupingnya. Kakakmu ini udah hampir budek dengerin temen yang super toak! Mulutnya."

Kini giliran Shenna yang tertawa mendengar perkataan kakaknya dan berkomentar sambil tertawa, "Kakak juga bisa aja."

"Mereka beneran baik kan, sama kamu?"

Shenna berhenti tertawa. Sambil mengangguk ia berucap, "Iya, Kak. Mereka baik banget sama Shenna."

"Alhamdulillah kalau gitu. Tapi kalau ada apa-apa kamu harus cerita. Jangan disimpan sendirian."

"Sip. Kakak tenang aja."

"Kakak nggak percaya sama kamu." ucap Minzy dengan dagu terangkat melambangkan keangkuhan, ditambah sebelah alisnya terangkat adalah paket lengkap kesombongan ala Minzy Al-Habib, anak kedua dari Fanesa dan Ridwan.

Jika kalian berpikir Minzy adalah gadis yang sombong, kalian salah. Minzy tidak sombong namun begitulah caranya menundukkan adiknya yang keras kepala itu. Kalau tidak adiknya akan memberikan pertunjukkan sok imut dan memelas untuk membujuk nya. Adiknya itu tidak mudah mengatakan apa yang ia rasakan, sebab itu ia dan kedua orang tua mereka harus menuntut si bungsu lebih dulu sebelum ia memohon lebih dulu. Mereka tidak bisa menolak saat si bungsu sudah membujuk seperti itu.

"Ya, ya, ya." respons Shenna setengah kesal.

Minzy tersenyum menang mendapati Sang adik pasrah namun itu menambah kekesalan si adik.

***

Shenna duduk di kursi yang diletakkannya di depan jendela kamar. Menatap keluar dengan tatapan kosong. Merasakan kerinduan yang dalam terhadap dua orang yang sudah tidak bisa lagi ia temui. Air matanya perlahan kembali mengalir membasahi pipi tembemnya. Ia sangat merindukan mereka.

Shenna berusaha menahan air matanya. Menekan kuat kerinduan yang tak terbendung agar ia tidak perlu menangis lagi. Sudah cukup, ia selama beberapa tahun kemarin membuat keluarganya khawatir dan bersedih karena melihat dirinya yang begitu menyedihkan. Namun, ia pun tidak bisa membohongi dirinya jika ia sudah tidak mampu menahan tembok yang sudah akan roboh karena tidak kuat lagi menahan bendungan air dibalik pelupuk mata bulatnya.

Jika bisa, ia ingin bersembunyi untuk mengeluarkan air tersebut tanpa sepengetahuan orang tua dan kakak-kakaknya. Namun itu pun tidak mungkin. Hanya akan menambah kekhawatiran mereka.

Shenna ingin bekerja dan hidup mandiri karena ia harus belajar mengendalikan emosinya yang mudah berubah-ubah. Ia ingin menyibukkan diri dengan bekerja agar tidak lagi fokus pada masa lalu. Tidak bisa disebut masa lalu sebenarnya, melainkan kenangan terindah yang mampu membuatnya tidak ingin melanjutkan hidupnya dengan lebih baik karena mereka sudah pergi meninggalkan nya yang masih rapuh dan sangat membutuhkan mereka. Tetapi sekali lagi, ia tidak bisa lari dari semua itu. Apalagi masa lalu itu bersama orang-orang yang sangat berharga baginya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel