Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Adam Yang Merajuk 1

"Bunda! Adam mau es buah lagi." seru Adam dari ruang tamu sembari menatap gadis yang kini sibuk di dapur.

"Nanti sakit perut kalau kebanyakan. Udah, ya." sahut Shenna dari dapur sembari melihat ke arah Adam sebentar lantas kembali mencuci piring.

"Bunda! Adam mau es krim." ucap Adam sekali lagi namun kali ini dia ingin menggoda gadis yang dipanggil nya 'bunda' tersebut.

"Nggak boleh kebanyakan minum es." jawab Shenna lagi tanpa beralih.

"Bunda! Adam mau ayam."

"Kamu baru habis makan, nanti lagi, ya? Nanti perutnya sakit lagi."

"Bunda! Adam mau bunda."

Shenna hendak menyahut namun ditariknya kembali begitu mendengar kata terakhir yang Adam ucapkan. Perkataan Adam membuat nya seketika terdiam kaku di tempatnya berpijak saat ini. Perlahan, ia memberanikan diri untuk melihat ke arah Adam yang kini tersenyum lebar sembari menatap nya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena itu ia hanya tersenyum menanggapi Adam. Kemudian, ia lanjut mengerjakan pekerjaannya.

Sembari lanjut mencuci piring, pikirannya pun bekerja memikirkan bagaimana cara ia meyakinkan Adam agar tidak memanggil nya bunda lagi. Ia senang akan hadirnya Adam dalam kehidupannya namun bagaimanapun ia bukanlah bunda dari Adam. Bagaimana jika bunda dari Adam mengetahui itu dan memarahi nya? Atau lebih parahnya, menuntut nya?

Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi. Dari pada hal seperti itu terjadi, lebih baik dirinya pergi dari kediaman keluarga Nugraha, pikir Shenna.

"Bunda?" panggil Adam pelan. Kini, Adam berdiri di sebelah Shenna. Ia mendongak menatap gadis berambut panjang dan berponi itu dengan satu.

"Ya?"

Adam menguap.

"Adam mau tidur?"

Adam mengangguk.

"Adam duluan ke kamar, nanti Tante menyusul kalau cuciannya sudah selesai."

"Mau sama Bunda." rengek Adam seraya berjalan mendekati Shenna. Ia memeluk kaki Shenna.

"Sebentar."

Shenna berusaha untuk secepatnya menyelesaikan cucian. Selepasnya, Shenna langsung menggendong Adam dan membawanya ke kamarnya. Adam sudah beberapa kali menguap tanda ia benar-benar mengantuk. Setelah membaringkan Adam di kasur, ia pun ikut berbaring di sebelah kiri Adam. Memeluk Adam hingga tertidur.

Adam memang selalu tidur dalam pelukan seseorang yang menemaninya tidur. Itu sangat membuatnya nyaman.

"Bundanya Adam ke mana? Kenapa dari kemaren nggak keliatan?" gumamnya pelan.

Sebenarnya, Shenna sangat penasaran di manakah keberadaan bunda dari Adam saat ini. Kenapa, hingga saat ini ia tidak pernah terlihat. Pikirnya, mungkin bunda Adam sedang bekerja di luar kota. Tetapi, ia juga penasaran kenapa Adam memanggil nya bunda. Apakah Adam begitu merindukan bundanya?

Meski begitu, meski merindukan ibunya, tidak mungkin seorang anak memanggil wanita lainnya dengan sebutan bunda, kecuali guru di sekolah.

"Nggak... Itu bukan hak aku." elaknya sembari menggelengkan kepala, menolak segala rasa penasaran yang menghantuinya.

Shenna memilih untuk ikut memejamkan mata. Matanya pun sudah sangat mengantuk karena semalam ia kesulitan untuk mencapai dunia mimpi lebih awal. Dan tak butuh waktu lama untuknya menyusul Adam. Kini, ia pun sudah mulai memasuki dunia mimpi.

***

Malamnya, tepatnya pukul tujuh malam, Adrian, Niken, Wira dan Adam berkumpul di ruang tamu. Adam duduk di sofa di sebelah kakeknya. Sementara ayahnya duduk di lantai di sebelahnya, dan neneknya duduk di samping si kakek.

"Adam, nanti tidur sama Ayah aja, ya?" pinta Wira. Ia sedikit mendongak untuk melihat wajah menggemaskan Sang anak.

Adam menggeleng, lalu berkata, "Adam mau sama bunda."

"Adam sudah beberapa hari nggak nemenin Ayah.

Ayah kan, kangen Adam."

"Kan, Ayah sudah liat Adam? Masa kangen?"

Niken dan Adrian tertawa kecil mendengar jawaban Adam yang luar biasa. Adam benar-benar menuruni sifat ayahnya. Sangat pintar menyahut perkataan orang tua. 'Rasakan kamu, Wir', batin suami istri itu menikmati tontonan di depan mereka.

"Ya, kangen lah. Adam sekarang sering sama tante dari pada Ayah. Adam ninggalin Ayah terus. Adam biarin Ayah tidur sendirian."

Wira, ia adalah seorang yang mudah merasakan cemburu. Dan itu pun menurun pada Adam. Dan Wira itu sedikit manja, mungkin karena ia anak bungsu dari dua bersaudara.

"Ayah kan, sudah besar."

"Tante juga sudah besar, kan?"

"Bunda kan, perempuan? Masa bunda dibiarin sendirian?

Ayah laki-laki, jadi nggak apa dong, sendirian?"

"Ha ha ha ha ha." Adrian dan Niken tidak tahan lagi menahan tawa, dan akhirnya mereka tertawa lepas sampai terbahak. Keduanya tampak begitu menikmati pertunjukan perdebatan antara ayah dan anak malam itu. Dan tawa keduanya tentu berhasil membuat Wira semakin merajuk.

"Puas?" Wajahnya tampak merengut, menunjukkan kekesalannya pada orang tuanya yang menertawakan dirinya.

"Jangan marah, kamu juga begitu." jawab Adrian, masih tertawa.

"Iya. Anak kamu itu nurun kamu. Jadi, kalau mau marah, marahin diri kamu aja dulu." tambah Niken sembari tertawa geli.

Wira mendengkus kesal, kemudian kembali pada Adam dan bertanya lagi, meyakinkan, "Adam yakin nggak mau tidur sama Ayah?"

Adam mengangguk seraya tersenyum manis namun bagi Wira senyuman anaknya itu seperti senyum mengejek. Pikir Wira, dari mana anaknya itu belajar tersenyum seperti itu. Dan lagi-lagi ia mengarahkan tuduhan itu pada gadis yang kini tidak sedang bersama mereka.

"Tante nggak pulang, loh? Tante nginap di rumah maminya."

Adam langsung melebarkan matanya, kemudian dia cemberut. Bibir mungilnya kini mengerucut begitu mendengar pernyataan Wira. Ia tidak menyukai itu, dan mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan, "Bohong."

"Nggak. Tanya Nenek sama Kakek kalau nggak percaya."

Adam melihat ke arah Adrian dan Niken, dan mendapatkan jawaban anggukan dari keduanya. Reaksi Adam setelahnya mengejutkan ketiganya. Adam langsung menangis dan berteriak cukup nyaring, meneriakan kata 'bunda', sambil mengatakan jika ayah, kakek dan neneknya tengah berbohong padanya.

Tangisan Adam semakin keras setiap kali mereka memberikan pengertian pada Adam. Ketiganya kesulitan menenangkan Adam malam itu.

Sisi lain, Shenna tengah bermanja-manja dengan maminya. Empat hari bagaikan sebulan baginya tidak bertemu dengan keluarganya. Ia sangat merindukan keluarganya.

Shenna ijin pulang sore tadi saat Adam masih tidur. Keluarga Nugraha tidak masalah akan itu. Lagi pula ini adalah weekend, mereka tidak bekerja, sehingga mereka bisa menjaga Adam saat Shenna tidak ada.

"Mami jadi penasaran, gimana sih, Adam itu." ucap Fanesa, mami dari Shenna.

Shenna menegakkan duduknya, menghadap Fanesa.

"Adam itu lucu banget, Mi," paparnya dengan menggebu-gebu. "Sumpah! Shenna gemes banget sama Adam." Ia sangat menyukai Adam. Bila boleh, ia ingin membawa Adam ke rumah maminya, memamerkan betapa menggemaskannya seorang Adam.

"Masa?!" respons Fanesa, yang dibuat seakan ia begitu tertarik pada topik yang dibicarakan anaknya.

Fanesa memang tertarik dan penasaran akan Adam namun ia sangat suka menggoda anaknya itu, membuatnya merespon dengan ekspresi berlebihan, mengikuti gaya anak bungsunya.

"Iya, Mi! Shenna lupa foto Adam, tapi nanti pasti Shenna fotoin. Pokoknya, Shenna jamin Mami sama papi suka juga sama Adam.

Adam itu GEMESIN BANGET, MIIII!" ceritanya lebih menggebu dengan tersenyum lebar.

"Wah, Mami jadi makin penasaran sama Adam." kata Fanesa, tersenyum seraya memberikan ekspresi tertarik. Ia menatap si bungsu dengan sebelah alis terangkat namun sayangnya si anak tidak menyadari itu.

Shenna mengangguk lalu kembali berucap dengan menggebu-gebu, "Nanti Shenna kirim fotonya kalau sudah dapat. Shenna janji!"

"Bener, yah? Awas loh, kalau nggak."

Shenna berjanji dan tidak akan lupa. Tidak mungkin juga dia melupakan Adam, karena dirinya selalu bersama bocah menggemaskan itu. Bahkan tidur bersama.

"Loh? Adam nggak tidur sama orang tuanya?"

Shenna menggeleng.

"Apa nggak masalah Adam tidur sama pengasuh?

Mami nggak pernah ketemu loh, kasus kayak gitu."

"Shenna juga nggak percaya awalnya, tapi memang gitu, Mi. Kalau nggak sama Shenna, Adam nya ngambek."

"Oh, jadi Adam yang mau?"

Shenna mengangguk.

"Kalau begitu, anak Mami hebat, dong."

Shenna tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya, senang mendengar pujian sang mami. Lalu dia bertanya, mengapa maminya itu menyebut dirinya hebat.

"Anak kecil itu, sangat susah untuk dekat sama orang lain. Apalagi yang baru dikenal. Dan biasanya, jika seorang anak menyukai seseorang, artinya dia merasa nyaman sama orang itu."

"Waaaaaa!" Shenna merasa tersanjung dan kagum pada dirinya sendiri setelah mendengar penjelasan Fanesa. Senyumnya semakin lebar dan matanya membentuk bulatan sempurna.

"Biasanya, orang itu mempunyai jiwa keibuan yang tinggi." lanjut Fanesa.

"Ahay! Artinya Shenna keibuan, dong?"

"Em... Mungkin?" ucap Fanesa berlagak ragu.

"Kok, mungkin?" protes Shenna tak terima. Baru saja ia merasa disanjung, dan kini maminya ingin menjatuhkannya? Shenna tidak terima.

"Yah, soalnya anak Mami ini manjanya minta ampun, jadi Mami itu ragu kalau anak Mami ini bisa bersikap dewasa dan keibuan?" goda Fanesa.

"Mami!" kesalnya, "baru aja kasih harapan, udah mau robohin harapan Shenna aja. Shenna sudah mau terbang tinggi ini."

"Loh? Memang betul, kan? Kamu manja, kan?"

Shenna ingin sekali menyahut, melontarkan protesannya namun sayangnya perkataan Fanesa BENAR-BENAR benar. Ia kalah telak, membuatnya hanya bisa menatap kesal pada Fanesa. Fanesa sendiri tertawa geli melihat anak bungsunya yang sangat terlihat jika ia tengah merasa malu karena ia kalah telak.

"Assalamu'alaikum ...."

Suara salam yang dilontarkan dua orang yang baru memasuki rumah mengalihkan perhatian Fanesa. Sembari menjawab salam, ia berdiri menyambut suami dan anak keduanya.

"Kenapa si adek?" tanya Minzy melihat wajah adiknya yang cemberut, dan itu pun mengundang perhatian Ridwan.

"Kenapa si adek, Mah?"

"Ngambek dia kalah debat sama Mamah." jawab Fanesa sambil tersenyum mengejek ke arah Shenna yang masih menatap kesal ke arahnya.

Minzy duduk di sebelah kanan Shenna dan Fanesa duduk di sebelah kirinya. Sedangkan Ridwan duduk di single sofa di sebelah Fanesa. Ketiganya lalu membicarakan tentang apa yang menjadi perdebatan ibu dan anak itu hingga sang anak merajuk. Lanjut dengan bagaimana Shenna dengan pekerjaan barunya dan bagaimana keluarga itu bersikap padanya. Sontak Shenna kembali menggebu-gebu menceritakan semua tentang keluarga Nugraha sesuai dengan apa yang ia ketahui dan apa yang ia rasakan selama beberapa hari ini tinggal dengan mereka.

Namun ia tidak menceritakan tentang rasa penasarannya terhadap ke mana atau mungkin di mana bunda dari Adam berada. Kenapa ia tidak pernah melihat wanita yang melahirkan Adam di rumah itu. Kenapa Adam bisa memanggilnya bunda. Semua itu sangat menghantuinya namun ia tidak mungkin menanyakan dan menceritakan itu pada keluarganya. Dan, ia adalah gadis yang lancang jika ia sampai menanyakan itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel