Bab 4 Ayam Crispy
Shenna meletakkan semangkuk ukuran sedang berisi bistik ayam, semangkuk nasi, satu telur mata sapi, gelas, sendok, piring dan satu teko air minum di atas meja begitu selesai memasak. Lalu kembali ke kamarnya untuk membangunkan Adam. Di kamar, Adam masih betah menutup mata di bawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Shenna tersenyum melihat itu namun ia harus segera membangunkan Adam agar tidak terlambat ke sekolah.
"Adam," Saat Shenna membuka selimut, Adam kecil meringkuk merasakan dingin yang tiba-tiba menyentuh tubuhnya. "Bangun Sayang. Nanti Adam telat ke sekolah kalau nggak bangun sekarang." Shenna lalu berbaring dan menghadapkan tubuhnya ke arah Adam.
"Adam." panggilnya lagi sembari membuka perlahan selimut.
"Sebentar, Bundaaa." ujar Adam setengah merengek. Namun Shenna harus kembali terdiam mendengar panggilan Adam tersebut terhadapnya.
"Tante bukan bunda kamu, Adam," batinnya. "Malah Tante maunya kamu panggil 'kakak' aja, biar keliatan mudanya." Shenna terkekeh kecil menanggapi kalimatnya sendiri.
"Adam, bangun. Tante sudah masak enak, sesuai permintaan Adam semalam. Kalau dingin nanti nggak enak, loh."
Adam menguap dan dengan perlahan membuka mata namun tertutup kembali begitu bertemu cahaya yang masuk melalui jendela. Shenna membiarkan tangannya melayang di atas kepala Adam untuk melindungi nya dari cahaya. "Ayo, bangun."
Adam bangkit dari tiduran dengan mata yang masih terpejam. Setelah mengedipkan mata beberapa kali, Adam akhirnya membuka matanya dengan sempurna. Ia menoleh ke arah Shenna.
"Dingiiin." ucapnya manja.
"Tante sudah siapin air hangat."
"Nggak mau mandi sendiri."
"Tante mandiin?"
Adam mengangguk.
"Baik. Ayo."
Adam merentangkan kedua tangan meminta digendong. Dengan perasaan gemas Shenna pun menyambut, lalu menggendong Adam menuju kamar mandi.
Malam tadi, setelah berdebat kecil dengan Wira, Adam kembali ke kamar Shenna. Ia meminta izin pada ayahnya dan Shenna agar ia bisa tidur bersama Shenna. Dan mau tidak mau Wira mengijinkan, kalau tidak Adam akan merengek sepanjang malam. Dan esoknya ia akan demam.
Adam itu cukup mudah sakit. Setiap kali ia menangis dalam waktu yang lama, maka ia akan sakit setelahnya. Sebab itu, Wira sangat mengusahakan untuk tidak membuat anaknya itu menangis. Ia akan sangat merasa bersalah jika itu sampai terjadi.
Kurang lebih delapan menit, Shenna selesai memandikan Adam. Setelah menyapukan bedak dan minyak kayu putih, ia memakaikan seragam olah raga pada Adam. Lalu menata rambut Adam. Setelahnya, ia mengajak Adam untuk sarapan.
Di dapur, Adrian, Niken dan Wira sudah duduk manis di kursi. Shenna membantu Adam untuk duduk di kursi di sebelah Niken. Ia menyiapkan sarapan Adam, lalu menyuapinya.
"Kamu makan juga." kata Adrian mengingatkan Shenna.
Shenna mengangguk sembari berkata 'iya', lalu lanjut menyuapi Adam yang terus menempelinya. Hingga suapan ke lima, Niken bersuara.
"Kamu sambil makan. Adam bisa makan sendiri, kan?"
"Mau sama Bunda." pinta Adam dengan wajah memelas.
"Tantenya mau makan juga."
"Nggak apa, kok. Shenna juga belum lapar."
"Kamu mau menunggu sampai kamu lapar?" kata Adrian menegaskan, membuat Shenna kaku di tempatnya. Niken menegur suaminya dengan menendang pelan kaki suaminya itu di bawah meja.
"Adam sama Ayah aja." kata Wira begitu ia selesai sarapan. Dan mau tidak mau, Adam berpindah duduk di sebelah Wira. Shenna memindahkan makanan Adam ke depan Wira.
"Kamu makan, ya." kata Niken kembali menyuruh Shenna.
Shenna mengangguk pelan mengiyakan. Ia kembali kaku setelah ia berusaha keras menenangkan diri dengan keadaan barunya, dan setelah diinterogasi oleh Adrian malam tadi. "Kalau begini terus, encok Shenna, Miii."
Ia merengek dalam hati karena ia terus dibuat kaku di rumah itu dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Di keluarga Nugraha, mereka tidak pernah membiarkan asisten rumah tangga makan setelah mereka, melainkan menyuruh mereka makan bersama-sama dengan mereka. Bahkan saat mereka makan-makan di luar, asisten rumah tangga pun diajak. Namun, asisten rumah tangga mereka_mbok Nah tengah pulang kampung, sehingga Niken sendiri yang harus memasak. Meski biasanya ia juga ikut membantu dan terkadang ia juga yang memasak dan si mbok yang membantunya.
Kini, selama mbok Nah masih di kampung, Shenna lah yang akan membantunya.
***
Wira dengan raut wajah yang serius menghadapi benda canggih berlayar datar di depannya. Sesekali ia tersenyum tipis saat mengingat hari ini ia batal bertemu dengan kliennya yang cerewet, karena kliennya itu tengah berhalangan. Wira tidak mendengarkan dengan baik halangan apa yang dialami kliennya. Ia juga tidak mempedulikan itu.
Asyik ia dengan file-file, ponselnya berdering. Nama sang mama tertera di layar. Segera ia menjawab panggilan Niken.
"Assalamu'alaikum...."
"Kenapa tiba-tiba?"
Wira menghela napas.
"Ya."
Wira meletakkan ponsel kembali di atas meja begitu panggilan berakhir, lalu kembali membaca ulang file yang masuk ke email-nya.
***
Adam duduk seorang diri di ayunan yang berada di taman mini sekolahnya. Ia duduk dengan kepala ditekuk dan wajah yang cemberut. Entah apa yang ada di dalam pikiran anak laki-laki itu, hingga membuatnya menyendiri, sementara teman-temannya bermain.
"Adam?" panggil wali kelas Adam, Nika.
Adam menaikkan pandangannya ke arah Nika sesaat, lalu kembali menunduk.
Nika duduk di sebelah Adam, memeluknya agar Adam merasa lebih baik dan mau mengutarakan apa yang membuatnya berdiam diri.
"Adam kenapa?"
"...."
Karena tak ada jawaban, Nika menunduk, melihat keadaan Adam. Meski Adam termasuk anak yang pendiam namun ia tidak pernah seperti ini. Nika lalu berlutut di depan Adam. Kedua tangannya memegangi tangan Adam. Sembari tersenyum manis, ia kembali membujuk Adam. "Adam mau apa? Nanti Ibu belikan."
"...."
"Adam mau es krim?"
"....."
"Adam mau sosis?"
"....."
"Atau Adam mau main sesuatu yang nggak ada di sini?"
Bukannya mendapat jawaban, malah Adam meninggalkannya. Adam berlari memasuki kelas. Nika menghela napas sembari menatap iba pada salah satu anak didiknya itu, saat melihat raut Adam yang sendu.
***
"BUNDA!" teriak Adam sembari berlari dan tersenyum lebar begitu melihat sosok Shenna yang berdiri di parkiran. Shenna tersenyum menyambut Adam sembari berlutut menyambut Adam dalam pelukannya.
"Gimana belajarnya? Baik-baik aja, kan?"
Adam mengangguk. Shenna kemudian melihat ke arah gedung sekolah, mencari salah satu guru yang mengajari Adam. Ia ingin menanyakan bagaimana Adam saat di sekolah namun ia hanya menemukan guru-guru yang sibuk menjaga murid lain yang belum dijemput orang tua mereka. Ia tidak enak bertanya karena guru-guru tengah sibuk, sehingga memutuskan untuk langsung pulang.
"Taksi!"
Shenna dan Adam memasuki taksi begitu taksi berhenti di depan mereka. Dan taksi menjalankan taksi nya setelah Shenna mengatakan alamat yang dituju. Di jalan, Adam tidak mau duduk di kursi, melainkan duduk di pangkuan Shenna. Ia terus memegangi tangan gadis itu dan terus memanggilnya bunda.
Pagi tadi, sebelum Niken dan Adrian berangkat ke kantor, mereka mengatakan untuk membiarkan Adam memanggil Shenna dengan sebutan bunda. Setidaknya, hingga Adam sudah cukup besar untuk mengerti keadaan saat ini. Dan tentu itu atas persetujuan Wira sebagai ayahnya.
Walau dengan berat hati sebenarnya.
***
"Terima kasih, Pak."
"Assalamualaikum...." ucap keduanya begitu memasuki rumah.
"Adam, langsung ganti baju, ya?"
Adam mengangguk lalu berlari menuju kamar Shenna dan berganti pakaian. Sementara itu, Shenna menyiapkan makan siang untuknya dan Adam. Mengingat hanya dirinya dan Adam yang akan makan siang di rumah, sedangkan Wira, Adrian dan Niken makan di tempat kerja mereka.
Setelah mengganti pakaian, Adam keluar menghampiri Shenna di dapur.
"Bunda masak apa?" tanyanya dengan tubuhnya yang disandarkan pada lemari kaca tempat menyimpan gelas, sendok, dan perkakas rumah tangga lainnya. Dan senyum tipis tertera di wajah menggemaskan nya.
Shenna tertawa kecil melihat tingkah Adam yang seperti malu-malu namun sebenarnya Adam hanya merasa senang. "Masak ayam crispy. Adam suka?"
Adam mengangguk semangat.
"Tunggu sebentar, ya?"
Adam mengangguk lagi. Adam terus memandangi gadis yang dianggapnya bundanya itu tanpa berpaling sedikitpun. Hatinya tengah berbahagia sejak kemarin ia pertama bertemu dengan Shenna. Bahkan, ia sangat bahagia. Sampai-sampai, ia terlihat seperti orang dewasa yang tengah kasmaran. Adam kecil terus tersenyum saat memandangi Shenna.
Setelah selesai memasak ayam crispy yang sudah dipotong kecil-kecil sepanjang jari kelingking, dan menyiapkan nasi untuk mereka, Shenna dibantu Adam mengangkut makan siang mereka ke ruang tamu. Mereka berencana makan siang sambil menonton televisi.
Baik Adam ataupun Shenna, sama-sama memakan lahap ayam crispy. Saking lahapnya, tak butuh lama bagi keduanya untuk menyelesaikan makan siang mereka. Saat Shenna dan Adam akan kembali menyuapkan ayam crispy ke dalam mulut, pintu rumah terbuka. Sosok Wira dilihat mereka.
"Ayah." sapa Adam dan dibalas senyuman oleh Wira.
Wira berjalan ke arah mereka dan duduk di kursi di dekat Adam. Dia bertanya, "Makan apa?"
"Ayam crispy, kata Bunda," jawab Adam. "Eeenak, Yaaah."
Wira tertawa kecil melihat reaksi anaknya yang seperti baru sekali ini merasakan masakan enak. Mungkin, karena ia mengira jika Shenna adalah bundanya, sehingga ia merasa sangat senang dimasakkan oleh gadis itu, pikir Wira.
"Kakak, mau?" tanya Shenna dengan suara pelan.
Wira melirik tiga potong ayam crispy lalu mengangguk saat lidahnya tergoda akan potongan ayam berbalut tepung yang sudah digoreng di dalam piring di depan Adam. Belum lagi suara kriuk-kriuk saat Adam mengunyah, menambah minatnya untuk memakan ayam crispy. Shenna segera bangkit, dan membawa piring kotor ke dapur. Membiarkan beberapa potong ayam untuk Adam.
"Enak banget, ya?" tanya Wira dengan suara pelan.
"Iya, Yah. Adam suuukaaaaaaaa sekali." jawabnya dengan bibir yang manyun karena mulutnya berisi makanan, ketika mengutarakan rasa sukanya.
"Makan yang baik."
Adam mengangguk lalu kembali menggigit ayam yang ada di tangannya. Wira menelan ludah melihat Adam yang terlihat begitu menikmati ayam crispy yang suara kriuk-kriuk nya terdengar begitu menggoda. Ia melirik sebentar ke arah Shenna. Saat dilihatnya Shenna fokus memasak, dengan gerakan cepat Wira menjemput sepotong ayam dan langsung memasukkan ke dalam mulut.
Adam tersenyum lebar melihat itu.
Ruang tamu, meja makan dan dapur masih satu ruangan, karena itu, Wira bisa melihat apa yang dilakukan Shenna di dapur. Rumah keluarga Nugraha itu memiliki ruangan yang sangat luas di lantai satunya. Seperti bundaran, semua tempat menjadi satu ruangan. Hanya ada pembatas lemari panjang dua meter setengah, dengan tinggi kurang lebih dua meter yang memisahkan dapur dan meja makan, juga ruang tamu.
"Enak kan, Yah?"
Wira mengisyaratkan Adam untuk diam. Adam mengangguk mengerti lalu kembali sibuk pada ayamnya yang kini tersisa satu.
"Bunda, ayamnya habis!" serunya.
"Iya, sebentar lagi."
Shenna kembali ke ruang tamu begitu selesai memasak, dengan semangkuk ayam crispy dan sepiring nasi untuk Wira. Setelah itu, ia kembali ke dapur membuatkan minuman segar untuk keduanya.
Wira memakan makan siang nya yang di luar rencana, karena rencananya ia akan makan siang di kafe milik sahabatnya namun karena permintaan mamanya agar ia pulang lebih awal, membuatnya membatalkan rencananya. Tetapi, sebenarnya tidak juga. Wira berencana untuk mengajak Adam dan Shenna ke tempat Bayu setelah ini. Namun itu pun bukan rencana awalnya, melainkan ia hanya ingin membawa Adam namun tidak mungkin juga ia meninggalkan Shenna sendirian di rumah. Juga, Shenna kan, baby sitter anaknya.
"Enak kan, Yah?"
Wira mengangguk pelan.
"Nah, ini es buah biar seger." kata Shenna seraya meletakkan dua mangkuk es buah ukuran sedang di atas meja.
"Waaaaaaa!" heboh Adam. Matanya melotot penuh akan kekaguman dengan senyum lebar terpatri di wajah bulatnya. "Adam mau!"
"Sudah belum makan nya?"
"Sudah!" serunya. "Ayah belum, jadi nggak boleh makan es buah." Adam tertawa saat melihat reaksi ayahnya yang tampak jika ia sedang mengutarakan protes karena tidak diperbolehkan anaknya sendiri untuk menikmati es buah yang kini memanggilnya dengan sejuta kenikmatan.
Shenna tidak sengaja melepaskan tawanya mendengar gurauan Adam namun segera mengatup mulutnya begitu menyadari tatapan Wira.
"Maaf."
***
"Enyak, enyak, enyak." sorak Adam sembari menari kecil di kursinya.
"Kamu sudah banyak makan, hati-hati perut kamu nanti sakit." kata Shenna mengingatkan.
Wira, Shenna dan Adam kini berada di kafe milik Bayu, sahabat Wira sejak sekolah menengah pertama. Kafe yang diberi nama Delicious cafe itu menyediakan makanan penutup, seperti cake, bolu, puding, dan macam makanan ringan lainnya. Juga ada menu utama yang hanya akan ada saat makan siang dan makan malam. Pagi, kafe tidak buka. Kafe buka mulai pukul sepuluh siang hingga pukul sebelas malam.
Wira tengah berbincang dengan Bayu di meja lain, yang jaraknya dua meja dari meja dimana Shenna dan Adam berada.
Awal melihat Shenna yang datang bersama Wira dan Adam, Bayu mengira Shenna adalah gadis special di hati Wira namun ternyata special di hati Adam. Kenyataan itu sedikit menggelitik Bayu saat mengetahui itu.
"Kenapa nggak dijadiin aja? Kayaknya dia baik dan suka anak kecil."
TAK!
"Ash!" ringis Bayu begitu mendapatkan jitakkan kuat dari Wira.
"Jangan asal bicara!" omel Wira.
"Aku cuma ngusulin," ujar Bayu membela diri. "Lagi pula dia juga cantik, baik, masih muda, suka anak-anak. Dan yang paling penting, Adam juga suka sama dia."
"Aku masih belum percaya sama dia. Dan nggak mungkin aku sama dia."
"Kenapa nggak?" tanya Bayu yang terlihat menantang.
"Dia jauh dari ideal. Dan aku sama sekali nggak tertarik sama dia. Aku baru kenal sama dia. Aku juga masih harus memastikan apa benar semua yang dia bilang sama keluargaku."
"Jadi kamu mau cari tau tentang dia?"
Wira mengangguk.
"Hati-hati, siapa tau kamu bakal jatuh cinta sama dia karena terlalu penasaran sama dia."
"Kubilang jangan asal ngomong!" kesal Wira dengan tangan yang kembali menjitak kepala Bayu.
"Ya, ya ,ya!" kesal Bayu. "Terserah."
Di sisi lain, Adam mulai merasakan perutnya sudah sangat penuh. Perutnya tampak begitu kencang dan buncit.
"Tuh, kan. Sakit nggak perutnya?"
Adam mengangguk pelan. Wajahnya cemberut.
"Minum dulu."
Adam minum.
"Diamkan aja dulu. Nanti, kalau sudah enakan, baru gerak." ucapnya sembari mengelus pelan perut Adam.
"Nggak enak, Bundaaa." adunya. Wajahnya masih cemberut. Bibir mungilnya dicebikkan.
"Sabar, yah. Nggak lama, kok."
Hingga beberapa detik, akhirnya Adam sudah merasa lebih baik. Ia sudah mulai nyaman bergerak. Dan kini, ia kembali bermanja dengan duduk di pangkuan Shenna dengan menghadapkan tubuhnya ke arah Shenna, memeluk Shenna.
"Kenapa?" tanya Wira sembari mendudukkan diri di kursi di depan Shenna dan Adam. Nada bicaranya datar dan lengkap dengan ekspresi wajah yang datar pula.
"Kebanyakan makan, tapi sudah lebih enakan. Sudah leluasa geraknya." jawab Shenna.
"Adam mau pulang?"
Adam menoleh ke belakang, lalu menggeleng.
"Terus, masih mau lama-lama di sini?"
Adam menggeleng lagi.
"Terus?"
"Adam mau jalan-jalan, tapi nanti dulu. Perut Adam masih kencang."
"Makanya, makannya jangan berlebihan. Nurut apa kata Tante, nggak boleh makan terlalu banyak."
"Maaf." sesal Adam dengan kepala menunduk.
"Ya, nggak apa. Tapi lain kali, dengarkan Tante, ya."
Adam mengangguk.
"Kamu juga, lain kali lebih tegas. Nggak apa kamu tegur Adam, selama itu memang demi kebaikan Adam." tegas Wira dengan wajah yang tampak begitu serius. Bahkan, Shenna merasa ia sedang dimarahi oleh Wira. Dan Shenna hanya menjawab dengan anggukan ajaran Wira itu.
"Kalau kamu tetap mengikuti kemauan Adam, percuma aja kamu kasih tau dia."
Shenna mengangguk lagi.
Wira menghela napas, dan bertanya lagi, "Adam sudah lebih baik?"
Adam mengangguk.
"Adam mau ke mana lagi?"
"Ke taman?"
"Ayo."
Sontak senyum tertera lebar di wajah Adam. Matanya berbinar mendengar persetujuan sang ayah. Akhirnya ia bisa berjalan-jalan bersama ayah dan bundanya, begitulah pikiran Adam saat itu. Shenna menggendong Adam, mengikuti Wira yang sudah jalan lebih dulu. Meski Adam cukup berat namun Shenna merasa nyaman saat ia menggendong dan memeluk Adam.
Ia dan Adam duduk di kursi di sebelah kursi kemudi. Adam masih betah duduk di pangkuannya namun kali ini Adam mengarahkan kedua tangan Shenna untuk memeluknya, sehingga gadis itu memeluknya dari belakang.
Melihat tingkah Adam sejak malam tadi, Wira merasa Adam begitu manja pada gadis yang baru mereka kenal itu. Ia senang melihat wajah ceria anaknya namun ia juga khawatir tentang Shenna yang baru mereka kenal kemarin. Ia merasa ragu pada gadis itu.
Baginya, gadis muda yang berpendidikan tinggi tetapi mau bekerja menjadi baby sitter itu mencurigakan. Ia juga curiga, kenapa anaknya itu langsung menyukai gadis itu, sedangkan sebelumnya Adam sangat sulit untuk dekat dengan orang lain. Bahkan, tante dan om nya sendiri. Dan tidak hanya Adam yang menyukai Shenna, tetapi mamanya pun sama. Apalagi ia beberapa kali menonton berita di televisi tentang penculikan anak, itu membuat Wira semakin khawatir akan kedatangan tiba-tiba Shenna.
***
Wira mengikuti Shenna dan Adam yang berjalan mendahuluinya. Baik Adam ataupun Shenna, terlihat begitu bahagia. Keduanya tampak begitu menikmati jalan-jalan siang mereka di taman. Shenna mengikuti langkah kecil Adam yang berlari menghindarinya.
"Kamu keliatan bahagia banget, nak," gumamnya dengan mata yang terus fokus pada dua orang yang asyik berlari-larian. Wira menghela napas. "Maaf, nak... Ayah mungkin belum bisa membahagiakan Adam. Ayah belum bisa memberikan kebahagian yang sempurna untuk Adam."
"AYAH!" teriak Adam sembari melambai ke arah Wira, dan dibalas lambaian pula oleh Wira bersamaan dengan senyum lebar.
Adam kini terperangkap dalam dekapan Shenna. Ia kesulitan melepas pelukan Shenna yang begitu erat mengikatnya. Kemudian keduanya terduduk di atas rerumputan hijau sembari tertawa riang. Wira terharu melihat pancaran bahagia yang Adam tampilkan sejak kemarin. Dan puncaknya adalah hari ini.
"Ayah bahagia melihat kamu bahagia seperti sekarang, nak."
