Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 18 Tak Ingin Berpisah 2

Setelah mengantar Adam ke sekolah, Shenna meminta izin kepada Niken ingin pergi ke kafe dekat dengan toko kosmetik yang juga menawarkan perawatan herbal di Bogor, menemui Ivan, kakaknya.

Dia kini sudah duduk manis di salah satu kursi yang mejanya terdapat sebuah kayu yang membentuk huruf L sembari menyesap moccachino coffee, menghirup penuh penghayatan karena cuaca di pagi itu sangat dingin.

Matanya menatap jalan beraspal yang masih terlihat ramai saat jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Sementara itu, pikirannya bekerja dengan keras memikirkan alasan apa yang harus dirinya katakan kepada Adam karena waktunya tidaklah banyak. Dua minggu bagaikan dua hari, semakin terasa berat karena harus meninggalkan si kecil.

Byur!

"Ah!" Shenna memekik kaget saat air yang terasa hangat tiba-tiba membasahi kepala dan turun ke wajah, menetes ke tangan dan celana yang dikenakannya. Dia bangkit kemudian berbalik badan dan menemukan si mantan istri bosnya yang memasang wajah angkuh dengan sebelah alis terangkat.

Mereka menjadi pusat perhatian saat itu.

"Hallo, jongos!" Angel sengaja mengucapkan kata 'jongos' dengan nada tinggi agar pelanggan lain tahu siapa gadis di depannya. "Kayaknya kabar kamu baik, huh? Baik setelah menggoda suami aku"

"Aku nggak...."

"Ssst!" Angel meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Shenna, menghentikan gadis itu untuk berbicara. "Aku nggak butuh penjelasan atau pembelaan dari kamu. Aku cuma butuh kamu pergi dari rumah itu dan jangan pernah temui anak dan suamiku."

Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik mendengar kalimat yang Angel keluarkan, dan tentu saja senyum Angel semakin lebar dan mengangkat kepalanya lebih tinggi saat mendengar sekilas suara mereka berbisik. Tatapannya semakin meremehkan gadis yang lebih muda darinya itu.

"Sudah PEMBANTU, PEREBUT suami orang, nggak tau malu banget," Matanya melotot saat berucap. "Sadar diri! Tempat kamu bukan di sini, tapi di... mungkin kamu lebih pantas di jalan, biar cowok-cowok nyamperin kamu. Jadi kamu nggak perlu datang ke rumah orang cuma buat menggoda suami orang."

Angel semakin gemas ingin mempermalukan gadis itu. Keangkuhannya semakin meninggi dan sorot matanya semakin menajam. Dia lanjut berkata, "Atau nggak ajak orangtua kamu belajar lagi, biar kalian sama-sama belajar buat nggak merebut apa yang menjadi milik orang lain!"

Byur!

Shenna menyiram moccachino nya ke wajah Angel, membuat wanita itu berteriak histeris sembari memegangi wajahnya. Beberapa pelanggan mendekati dan membantunya membersihkan diri. Shenna gemas dan benci melihat pemandangan itu. Saat dirinya diguyur, tak satupun dari mereka membantu nya, malah menonton dengan nikmatnya.

"MBA! Tau malu dikit, kenapa?"

Angel bertepuk tangan dalam hati, mendengar pembelaan dari salah satu ibu-ibu yang membantunya.

"Sudah ngambil suami orang, nyiram-nyiram lagi!"

"Tau nih, anak muda jaman sekarang kelakuannya kayak nggak ada urat malunya. Jangan jadi pelakor, Mba!" kata yang lainnya.

"Ini orang tuanya kok, biarin anaknya gangguin suami orang, sih."

"Jangan ngomong sembarangan, Bu!" seru Shenna yang tidak bisa menahan diri saat orang tuanya diikut sertakan. "Kalian nggak tau apa-apa tapi sok tau."

"Eh, ngotot lagi!"

"Kalian nggak tau apa-apa tapi seenaknya ngatain orangtua orang! Emang kalian punya hak apa ...."

"Sudah," Ivan datang, merangkul Shenna; kemudian beralih pada Angel dan ibu-ibu tadi. "Kalian nggak perlu repot-repot membuat mulut kalian jelek tentang sesuatu yang nggak kalian ketahui, cuma merugikan diri sendiri."

Angel menatap tak suka pada Ivan, tetapi dalam hati ia mengakui ketampanan laki-laki itu. Dan dia juga tidak suka melihat Ivan merangkul Shenna.

"Kamu siapa?!" tanya Angel setengah berteriak.

"Kita pulang aja, kayaknya kamu harus cepat keluar dari sana."

Shenna mendongak, menatap Ivan yang menunduk untuk melihat nya karena dirinya yang lebih pendek dari sang kakak. Dari sorot matanya, Shenna mengisyaratkan penolakan karena dirinya belum berbicara pada Adam.

Ivan yang mengerti arti tatapannya itu pun memberikan tatapan yang meyakinkan, bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan inilah yang terbaik untuknya. Ivan tidak bisa melihat adiknya diperlakukan seperti tadi lagi.

Sebelum meninggalkan Angel dan keluar dari kafe, Ivan memberikan sorotan tajam yang lebih meremehkan pada Angel. Ia mendengar semuanya tadi, semua perkataan wanita yang ia yakini adalah mantan istri Wira. Baginya, itu benar-benar memalukan dan sangat bahaya jika adiknya lebih lama lagi tinggal di tempat itu.

Di luar.

"Kak, tapi Shenna belum bilang sama Adam. Shenna harus kasih pengertian dulu."

"Itu bukan tugas kamu, tapi tugas mereka sebagai orang tua."

"Tapi Kak...."

Ivan diam, berpikir. Bagaimanapun adiknya memang harus berpamitan pada Adam dan orang tuanya. Apa lagi mereka begitu dekat, tetapi bukan tugas adiknya pula memberikan pengertian, karena harusnya orang tuanya lah yang melakukan itu. Mereka yang tahu bagaimana Adam, tentu tahu harus bagaimana agar anak mereka itu mengerti. Tapi....

"Baik,"

Shenna tersenyum.

"Kita jemput Adam, terus kita kasih dia pengertian lalu kita pergi. Harus hari ini, nggak ada penundaan."

Shenna tidak mampu mengelak jika kakaknya sudah mengatakan kata 'harus'. Itu adalah kemutlakan baginya, karena seperti itulah penegasan yang biasa keluarganya berlakukan padanya sejak dulu. Sehingga, dengan lesu dia mengangguk. Meski begitu berat tetapi memang begitulah yang terbaik.

***

Shenna bersandar di bahu Ivan, kedua tangannya memainkan jemari-jemari Ivan. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika hari ini adalah hari terakhir pertemuannya dengan Adam. Tapi dia bersyukur karena dia sempat mengukir senyum dan tawa di wajah Adam, memberikan nya kasih sayang seperti kasih sayang yang orang tuanya dulu berikan padanya.

Semua perlakuannya terhadap Adam adalah perlakuan yang dia copy paste dari cara almarhumah mama dan almarhum papanya dulu berikan saat merawat dan mengayomi dirinya yang saat itu masih kecil.

"Bundaaa!"

Shenna dengan cepat menoleh sembari menegakkan duduknya lantas bangkit dan berjongkok menyambut Adam. Tawa riang si kecil yang akan dia rindukan, membuat nya ingin menangis.

Ivan yang melihat itu pun tidak tega sebenarnya, tetapi jika semakin lama mereka bersama, akan semakin berat pula untuk berpisah.

"Om!" sapa Adam pada Ivan begitu menyadari keberadaan nya.

Ivan membalas menyapa si kecil semangat dan dengan mata yang berbinar. Ivan menyukai anak kecil karena itu pula dia sering memperlakukan Shenna seperti anak kecil walau sudah sebesar itu.

"Ayo, pulang." ajak Shenna dan Adam mengangguk mengiyakan.

Ivan berjalan lebih dulu menuju mobil dan masuk; kemudian disusul Shenna dan Adam.

Ivan meninggalkan mobilnya di rumah tante mereka, Fanesa, dan berangkat ke sekolah menggunakan mobil Minzy yang dipinjam Shenna.

***

Adam dan Shenna sudah berada di kamar Shenna. Adam memerhatikan Shenna yang merapikan pakaiannya. Kemudian, karena penasaran dia pun bertanya. "Bunda mau ke mana?"

Dengan gerakan lamban Shenna menutup tas ransel lalu berpindah dan berlutut di depan Adam. Kedua tangannya memegang tangan Adam, memberikan tatapan meyakinkan dan menenangkan.

"Adam," Shenna bersuara pelan, menekan diri agar tidak menangis. "Maafin Tante, ya? Tante... Nggak bisa jadi teman Adam lagi."

"Kenapa?"

"Tante... Harus pulang bantuin kakak Tante di tempat kerjanya. Tapi Tante janji, Tante sesekali akan mengunjungi Adam."

"Bunda mau pergi?" Adam mencebikkan bibir mungilnya, matanya sudah memerah siap akan menangis. "Jangan, Bun, hiks... Adam sama siapa kalau Bunda nda ada? Hiks... Adam nda punya Bunda kalau Bunda nda a... Hiks... Da." Tangis Adam menjadi, begitu pun Shenna tak bisa menahan tangis ketika melihat Adam menangis.

Shenna memeluk Adam, menyalurkan kehangatan untuk terakhir kalinya, merasakan kehangatan dari Adam yang juga akan dirinya rindukan. "Sayang ...."

***

"Kamu kakaknya Shenna?" tanya Niken yang baru sampai bersama Adrian dan Wira. Mereka langsung pulang ketika Shenna menghubungi mereka dan mengatakan bahwa dirinya akan berhenti bekerja hari ini.

Ivan mendongak lantas berdiri dan tersenyum menyapa mereka.

"Silahkan masuk, kenapa kamu malah duduk di luar." ajak Adrian, menuntun Ivan masuk, diikuti Niken dan Wira dari belakang.

Ivan duduk di ruang tamu ditemani Adrian dan Wira, sementara Niken ke kamar Shenna. Setibanya di kamar, Niken melihat tas ransel besar dan penuh berada di atas ranjang; kemudian dia beralih ke arah Shenna yang menggendong Adam.

"Tante ...."

"Kamu mau pergi?" sela Niken.

Entah mengapa, Shenna melihat sesuatu yang berbeda dari cara Niken menatap nya. Bukan sorot keibuan yang biasa dia lihat, melainkan tatapan yang... Seperti tidak menginginkan dirinya berada di depan wanita itu.

Shenna mengangguk pelan menjawab.

"Nek, Adam nda mau bunda pulang." rengek Adam.

Niken mengambil alih Adam darinya lantas berkata, "Ya, silahkan. Dan jangan pernah temui Adam atau Wira lagi."

Tiba-tiba Shenna merasa dirinya dilempar begitu saja. Mengakibatkan hatinya merasakan sakit yang sama seperti saat Angel menghina dan memaki nya. Ia tidak percaya dengan sikap Niken saat ini. Dia bertanya-tanya ada apa dengan Niken yang semula begitu baik padanya, tiba-tiba....

Apa karena dirinya yang berhenti tiba-tiba?

Niken keluar membawa Adam yang kini menangis tanpa suara, melihat ke arahnya penuh kesedihan. Adam dibawa nya ke kamarnya.

Shenna merasa hatinya hancur, sama seperti saat kedua orang tuanya meninggalkan nya. Nyeri yang begitu menyakitkan kini kembali menyayat dadanya. Sangat sakit.

***

"Maaf, bukan...."

"Nggak apa, lagian Adam sudah cukup besar. Dia juga pintar, pasti bisa mengerti dan mandiri," ujar Adrian setelah mendengar penjelasan Ivan tentang mengapa adiknya harus meninggalkan rumah itu hari ini juga. "Kalian nggak perlu khawatir. Ada mbok Nah juga, kok."

Lain Adrian, lain pula Wira. Dia terus diam sejak mengetahui Shenna akan pergi hari ini juga. Sesekali dia sembari menunduk melirik gadis yang juga terus berdiam diri dengan yang kepala menunduk di sebelah Ivan. Rasanya, hatinya tidak bisa menerima kenyataan jika hari ini adalah hari terakhir pertemuan mereka. Hatinya menolak kepergian gadis itu tapi dirinya juga tidak bisa menahan agar tidak pergi.

Adrian pun sesekali memerhatikan tingkah Shenna yang tidak tampak baik-baik saja.

"Kalau begitu kami permisi,"

Adrian mengangguk.

"Sekali lagi kami minta maaf karena berhenti tiba-tiba. Kami minta maaf kalau Shenna banyak merepotkan kalian selama tinggal di sini."

Adrian menggeleng.

"Dan maaf kalau-kalau dia pernah melakukan salah, menyinggung atau menyakiti kalian. Kami sungguh minta maaf."

Adrian tertawa kecil kemudian berujar, "Nggak, Shenna nggak pernah melakukan kesalahan. Dia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia juga penurut dan sangat menyayangi Adam.

Dan Shenna...,"

Shenna menaikkan pandangannya ke arah Adrian.

"Om, tante dan Wira minta maaf kalau kami pernah menyinggung atau menyakiti kamu. Kami minta maaf kalau Adam selama ini merepotkan kamu."

Shenna menggeleng cepat sembari berucap, "Nggak-nggak, kalian semua baik sama Shenna. Sangat baik malah, justru Shenna yang banyak ngerepotin kalian. Shenna malah manja juga sama kalian, he.

Maaf ya, Om, Kak, karena berhenti tiba-tiba." Suaranya merendah pada kalimat terakhirnya sembari dia menunduk lesu.

***

Shenna duduk di balkon kamar, dingin angin menambah suasana sendu di hati gadis berambut panjang itu. Angin tidak ingin mengajak lari semua kesedihan di hatinya, hanya lewat untuk menyapa. Langit pun hanya menampilkan dirinya yang gelap, tanpa berniat memberikan hamparan bintang untuk menghibur hati gadis itu.

Rindu bersarang, membelenggu bersamaan dengan kesedihan terhadap si kecil di sana yang melakukan hal yang sama dan merasakan perasaan yang sama pula.

Air mata terasa hangat membasahi pipi dan jatuh di atas baju tidur yang dikenakan nya. Nyeri di dada terus menusuk melambangkan betapa rapuh hati yang dimilikinya. Tatapan tak suka Niken, ratapan kesedihan di mata Adam, makian dan penghinaan Angel terputar kembali seakan ingin mengurung nya dalam kegelapan.

Kembali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel