Bab 19 Adam Yang Hilang
Seminggu sudah berlalu, tak ada pertemuan atau sapaan singkat melalui pesan atau telepon di antara keluarga Nugraha dan Shenna. Keadaan rumah Nugraha tampak sepi, hanya suara gesekan panci dan wajan yang bertemu berusaha mencairkan suasana. Membuat keramaian dalam kesenyapan di rumah itu. Bahkan suara Adam pun sangat jarang terdengar, jika terdengar, hanyalah suara rengekan si kecil.
Sedangkan di rumah Shenna, tidak jauh dari biasanya. Sedikit keributan dan perdebatan Minzy dan Shenna terdengar setiap harinya di rumah itu, baik pagi, malam, sore ataupun siang. Hanya saja, jika sedang sendirian di rumah atau di kamar, Shenna banyak melamun. Perasaan tidak enak hati karena berhenti secara tiba-tiba dan terus memikirkan Adam dan sikap Niken yang berubah.
Keadaan hati gadis itu masih sama seperti kemarin-kemarin, hanya saja dia berusaha keras mengontrol agar keluarganya tidak khawatir padanya. Hanya mereka yang dia punya, dia harus membuat mereka bahagia. Lagi pula, larut dalam kesedihan juga tidak akan pernah mengubah keadaan. Dirinya tetap tidak akan bisa bertemu dengan Adam lagi.
Mulai besok, senin, Shenna akan membantu Minzy di kafe Al' Bakery and Coffee.
Di hari minggu seperti hari ini, mereka seperti biasa pergi ke Jogja, tempat asal almarhum papa dan ayahnya, adik dari papanya. Shenna juga lahir di sana. Ayah dan bundanya, orangtua Ivan, tinggal dan merawat rumah peninggalan orangtua mereka di sana. Ivan langsung pulang ke Yogyakarta hari itu, setelah mengantar Shenna pulang. Karena dia bekerja di sana, sehingga tidak bisa berlama-lama di Jakarta.
Danau di depan rumahnya adalah tempat biasa dirinya dan kakak-kakaknya dulu bermain saat masih tinggal di Jogja. Dia pindah ke Jakarta ikut Fanesa saat usianya tiga belas tahun.
Hari ini, saat-saat itu kembali diulang namun hari ini Shenna memancing bersama sang ayah dan sang papi. Ditemani dengan gorengan, cemilan, dan es buah. Tenda dari terpal berwarna biru dijadikan pelindung dari panas di siang hari itu.
"Lama, ih," protesnya, bosan karena sudah lima menit duduk menunggu belum juga dapat ikan satu pun. "Ikannya bobok kali, Yah, Pi." Ia melontarkan gurauan karena bosan, ayah dan papinya tidak mengeluarkan suara apapun.
Ridwan dan Athalla menoleh ke belakang di mana si bungsu bersantai memakan makanan mereka, tersenyum mengembang menampilkan deretan gigi putih yang tidak besar tidak juga kecil itu.
"Baru juga berapa menit, kayak kamu yang mancing aja, sok-sok protes." komentar Athalla disambut kekehan geli dari si bungsu dan Ridwan.
Mereka semua memperlakukan Shenna layaknya anak kecil tetapi tidak menghilangkan ketegasan dalam mendidik nya. Mereka tidak ingin keponakan mereka itu merasa kesepian dan hidup tanpa kasih sayang, karena sejak kecil anak itu sudah hidup sendiri tanpa orang tua. Juga agar gadis yang dulu selalu ceria itu tidak merasa terlalu berbeda saat orangtuanya masih ada ataupun saat sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan hanya merekalah yang dapat melakukan itu untuknya.
"Yakin nggak sih, ikannya masih ada? Siapa tau dia udah ngungsi di kolam pak Iwan yang baru, yang masih fresh airnya."
"Coba kamu cebur, periksa apa masih ada ikannya apa nggak." canda Athalla membalas gurauan Shenna, dan kembali disambut tawa oleh si kecil mereka dan Ridwan yang matanya juga ikut tersenyum.
"Ogah lah, Yah. Nanti Dedeknya demam. Kasian bunda, mami sama papi nanti repot. Dedek kan, ngerusuh kalo demam."
Mereka bertiga tertawa geli merespons kalimat Shenna, sudah lama mereka tidak bercanda seperti itu. Rasanya segala beban terlepas saat dapat bercanda dengan orang-orang terkasih.
***
"Ayah, nanti ketemu bunda, yuk!" ajak Adam berseru dengan semangat, tidak sabar dia untuk bertemu dengan Shenna. Adam sangat merindukan gadis itu, sampai-sampai ia terus memimpikan Shenna setiap malamnya.
"Nggak,"
Mereka menatap bingung ke arah Niken.
"Kalian nggak boleh bertemu dia itu lagi." Nada bicara Niken sangat menentang, ekspresi wajahnya pun sama, membuat Wira dan Adrian bingung dengan sikapnya.
"Kenapa begitu, Mah?" tanya Adrian. "Bukannya kita sudah membicarakan itu?"
Niken tidak menjawab, malah berlalu menuju kamarnya dan menutup pintu cukup kasar, menambah kebingungan ayah dan anak itu. Mereka bertukar pandang, bertanya terhadap satu sama lain ada apa dengan sang ratu, dan mereka kompak menggeleng sebagai jawaban bahwa mereka tidak tahu.
Mereka menebak bahwa ada sesuatu yang tidak beres, karena sebelum Shenna ingin berhenti hari itu, Niken pun mengatakan kalau Shenna boleh mengunjungi Adam meski sudah tidak tinggal dengan mereka lagi.
Tapi... Ada apa dengan Niken? Kenapa sikapnya berubah dengan tiba-tiba seperti itu?
Di sebelah Wira, Adam menunduk, merengut karena tidak diperbolehkan menemui Shenna. Padahal dia sudah semangat-semangat nya dan sudah merencanakan banyak hal yang akan mereka lakukan saat bertemu nanti.
"Bunda." lirih Adam dalam hati.
***
"Ayah, nenek kenapa nggak bolehin Adam ketemu bunda?" Adam menampilkan raut sedih dan kecewa, menatap sang ayah yang juga kecewa dengan sikap mamahnya tadi.
"Sabar, ya? Nanti kita pikirin gimana caranya biar bisa ketemu bunda. Sekarang, Adam fokus belajar aja."
Adam sontak menunduk lesu sambil manyun, lalu masuk ke area sekolah setelah mencium punggung tangan Wira dan mengucapkan salam. Wira memandang sendu anaknya yang berjalan lesu memasuki area sekolah.
"Mamah kenapa?" gumamnya pelan.
***
"Adam kenapa?" Nika berjongkok di depan Adam, meletakkan kedua tangan di masing-masing pundak Adam.
"Adam kangen bunda." jawabnya pelan dengan kepala menunduk. Hatinya terasa kosong karena sudah seminggu tidak melihat wajah dan mendengar suara gadis yang dipanggil nya 'bunda'. Rasa rindu begitu menyelimuti hati yang sunyi dan selalu merindukan kasih sayang seorang ibu.
Nika penasaran, pun bertanya, "Memang... Tantenya ke mana? Tantenya sudah nggak tinggal di rumah Adam lagi?" Binaran di mata sipit Nika menunjukkan ketidaksabaran akan jawaban Adam, tidak sabar mendengar jawaban yang menyatakan bahwa gadis itu benar-benar sudah pergi dari rumah Nugraha. Kalau sampai benar, dia sungguh bersyukur dan berharap Shenna tidak akan pernah kembali lagi menemui Adam dan Wira.
Di depannya Adam diam saja, masih menunduk memikirkan Shenna. Dia tidak ingin berbicara dengan siapapun tetapi dia ingat nasehat Shenna kalau dirinya tidak boleh mendiamkan orang, saat orang itu berbicara dengannya. Apa lagi yang berbicara itu orang yang lebih tua darinya.
Tapi sungguh! Adam enggan berbicara.
"Adam?"
Adam tak menghiraukan nya. Meski demikian, Nika tahu jawabannya, melihat Adam yang lesu dan diam, dia sangat yakin jika Shenna sudah pergi. Untuk selamanya.
Dalam hati, Nika bertepuk tangan senang. Bersorak riang, merayakan keberhasilannya menyingkirkan Shenna dari hidup Wira dan Adam. Dia tidak menyangka akan semudah ini membuat gadis itu pergi.
"Akhirnya," batinnya. "Sekarang aku bisa bersama Wira. Nggak ada lagi penghalang, ha ha ha."
"Adam?"
Adam dan Nika beralih. Keduanya mendongak untuk melihat perempuan yang memanggil Adam tadi. Seorang wanita berambut coklat panjang bergelombang dengan jeans biru panjang dan kemeja putih lengan panjang, tersenyum manis pada Adam. Kemudian wanita itu jongkok di depan Adam, membuat Nika harus berdiri, memandang tak suka pada wanita tersebut.
"Siapa lagi dia?" tanyanya dalam hati. "Wira memang cakep, wajar banyak cewek yang suka dan mendekati dia lewat Adam, artinya usahaku belum selesai."
Adam diam saja membalas tatapan Angel di depannya. Dia masih mengingat wajah itu, wajah yang pernah marah-marah pada bundanya. Adam ingin lari namun juga takut jika wanita itu akan memarahi nya. Dia sesekali melirik Nika yang masih berada di dekatnya, meminta pertolongan agar menjauhkan dirinya dari wanita itu.
"Maaf, anda siapa?" tanya Nika lembut, berusaha untuk bersikap ramah.
Angel berdiri menghadap Nika lantas berucap, "Saya Angel, Bunda kandung Adam. Bukan cewek nggak tau malu si pengasuh itu." Dia berucap begitu angkuh dan penuh penekanan pada kata 'pengasuh'.
Saat melihat gurunya dan Angel berbicara, Adam dengan gesit berlari menuju kursi tempat biasa Shenna duduk menunggu nya tanpa keduanya sadari. Ia bersembunyi di balik pohon besar di dekat kursi, berharap si ayah bisa segera datang. Atau sang bunda lah yang datang.
Begitu menyadari Adam tidak bersama mereka lagi, Angel dan Nika malah bertengkar dan menyalahkan satu sama lain. Kemudian berpencar mencari keberadaan Adam. Nika mencari ke dalam kelas, dan Angel mencari area luar.
"Adam?"
Mendengar suara itu memanggil namanya, Adam bersembunyi semakin dalam. Berjongkok agar tidak dapat terlihat oleh siapapun itu yang mencari nya.
"Adam!"
"Ayah," panggilnya dalam hati dengan perasaan takut. "Bunda bantuin Adam."
***
"BAGAIMANA BISA?!" teriak Wira kesal sekaligus panik setelah mendapatkan telepon dari Nika bahwa Adam tiba-tiba menghilang. "Ini masih di lingkungan sekolah, seharusnya kalian menjaga Adam! Kenapa Adam bisa menghilang?!"
Nika menjelaskan apa yang terjadi sebelum Adam tiba-tiba menghilang. Tentu saja dia tidak meninggalkan kisah kedatangan Angel tadi, dia berharap dengan begitu wanita itu bisa tersingkirkan tanpa harus dirinya turun tangan seperti dia membuat Niken mengusir Shenna. Dan sepertinya dia berhasil, bisa dilihat dari reaksi yang Wira berikan begitu mendengar penjelasannya.
"MAU ADA SIAPA ATAU APAPUN YANG TERJADI, ADAM TANGGUNG JAWAB KALIAN!" teriak Wira marah. Marah karena keteledoran pihak sekolah dan marah karna Angel berani menampakkan dirinya lagi di depan Adam. Semua amarah yang ia rasakan bersatu saat itu. Dadanya naik turun karena jantungnya yang memompa begitu cepat saat dirinya marah. Tatapannya begitu nyalang dengan mata yang memerah.
Nika, pak satpam Purwo dan beberapa guru yang ikut menjelaskan pun tertunduk karena merasa bersalah atas keteledoran mereka. Dan dalam hatinya, Nika hanya dapat pasrah jika setelah ini dirinya juga akan mendapat teguran keras dari kepala sekolah.
Kring, Kring.
Suara telepon Wira berbunyi, tanda adanya panggilan masuk lantas dia mengangkat panggilan tanpa melihat nama yang tertera, dia menjawab dengan penuh emosi karna panggilan tersebut sangat mengganggunya.
"APA?!" Teriakannya mengejutkan seseorang di seberang sana. Ingin sekali seorang itu balas memaki dan menjitak keras hingga beberapa kali kepala Wira. Tapi nanti, dia menunggu saat mereka bertemu nanti saja.
"Oh?"
