Bab 17 Layaknya Keluarga Kecil
Mereka tiba di KFC karena Adam sangat menyukai ayam kentucky dan di sana juga terdapat es krim. Wira memesankan tiga porsi ayam kentucky dengan saus tomat dan sambal untuk mereka tanpa nasi. Minumnya mereka hanya membeli air mineral.
Saat ingin kembali ke kursi di mana keduanya duduk, matanya memandang sendu putranya yang terlihat begitu riang. Ia tidak bisa membayangkan dan sangat tidak tega jika harus membiarkan putranya itu menangis. Wira bingung harus bagaimana.
Wira duduk di sisi kanan Adam, Shenna di sisi kiri.
"Bun, nanti libur sekolah, Adam jalan-jalan lagi yah, sama Bunda sama Ayah? Adam mau liburan kayak teman-teman Adam sama Ayah sama Bundanya.
Sebentar lagi kan, Adam libur sekolah, Bun.
Iya kan, Yah?"
Wira mengangguk pelan menjawab. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar permintaan putranya. Masih adakah Shenna bersama mereka saat liburan sekolah nanti? pikirnya saat itu.
Tidak hanya Wira, Shenna pun sama. Ia sungguh tidak tega meninggalkan Adam. Permintaan Adam membuatnya semakin berat. Ia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua, dan itu sangat menyedihkan.
"Iya, nanti Tante temenin kalau... Nggak ada kesibukan." jawabnya kemudian meski ragu juga jika keluarga Nugraha akan mengijinkan nya untuk ikut liburan bersama mereka. Karena saat itu, belum tentu dirinya masih berada di rumah itu. Belum tentu mereka belum mendapatkan baby sitter yang baru, atau mungkin Wira sudah menemukan bunda untuk Adam.
Makanan datang. Adam dan Shenna menyambut semangat makanan mereka, tidak sabar ingin segera menyantap makanan kesukaan mereka itu. Shenna memotong kecil-kecil ayam agar Adam makannya tidak celemotan dan lebih mudah juga untuk si kecil; kemudian berlomba dengan Adam menghabiskan makanan mereka.
Tiada kata lain yang bisa menjelaskan apa yang terpancar dari wajah keduanya, selain kata 'riang', si lambang kebahagiaan. Seperti tidak ada satu pun kejadian yang akan membuat mereka bersedih saat ini, di depan sana atau kapanpun itu.
"Kalian cocok banget," batin Wira. "Mungkin itu yang buat kalian nyaman satu sama lain." Ia berucap dengan mata yang terfokus pada kedua orang yang saling menyuapi ayam ke dalam mulut satu sama lain. Dua orang yang ikut menghebohkan dunianya. "Kalian ...."
"Kak?"
Wira melihat ke arahnya.
"Nggak makan?" Shenna menyuapkan sepotong ayam yang sudah dicelupkan ke dalam saus ke dalam mulut, masih melihat Wira.
"Oh." Wira lantas ikut menyuap potongan ayam ke dalam mulut. Ekspresi dan matanya sama sekali tidak tampak bahwa ia baik-baik saja. Seperti memendam sesuatu, begitulah yang ditangkap Shenna saat melihat Wira makan tetapi sorot mata yang terlihat seakan dia tengah melamun.
"Kak jangan suka nge blank nanti kehasut setan." Shenna terkikik mendengar perkataannya, terdengar begitu akrab sampai dirinya berani menjadikan bosnya bahan candaan.
Adam di sebelahnya pun ikut tertawa geli mendengar kata 'setan', padahal dia tidak mengerti maksud Shenna. Yang ditangkap nya adalah jika Shenna mengatakan ayahnya tampak seperti hantu jika berdiam diri seperti itu.
Hm.
"Memang Adam ngerti maksud tante?" tanya Wira melihat putranya menertawakan nya.
"Ayah kayak hantu, ha ha."
Mata Shenna dan Wira terbelalak, tak percaya dengan tangkapan Adam atas kalimat Shenna.
Shenna buru-buru menjelaskan kepada Adam maksudnya agar Adam tidak jadi anak yang kuwalat pada orang tua karena mengatai orang tuanya. Ia menyuruh si kecil agar meminta maaf pada ayahnya setelah membuat Adam mengerti.
"Maaf Ayah, Adam nakal." Adam merengut sedih begitu menyelesaikan kalimat permintaan maafnya.
Tidak tega, Wira pun membatalkan niat untuk menjahili putranya dengan memeluk Adam kecil sembari memberikan senyuman hangat. Dia berujar, "Nggak apa, asal lain kali Adam harus tanya dulu apa maksud perkataan orang tua, ya?"
Adam mengangguk.
"Ya sudah, Ayah maafin."
Senyum Adam melebar lantas mengecup pipi Wira kemudian Shenna. Kejadian tersebut membuat seseorang yang melewati mereka memuji kedekatan mereka, mengatakan bahwa mereka adalah keluarga yang manis dan harmonis. Sontak saja itu membuat keduanya salah tingkah.
Adam saja tertawa geli melihat keduanya yang salah mengambil minum, Shenna mengambil minuman Adam begitupun Wira. Dan kesalahan lainnya, keduanya malah menjemput ayam milik Adam lantas mencelupkan ke dalam saus tomat. Tidak hanya itu, mereka juga malah berebut paha ayam yang lebih dulu dicapai Shenna namun Wira enggan mengalah padahal dada ayam masih tersisa dua potong.
Selesai makan, Adam mengajak mereka ke mal, katanya ia ingin membeli baju dan bermain di game center.
Tiba di mal, Adam menarik keduanya menuju stand es krim, memesan rasa coklat untuknya dan Shenna, rasa vanila untuk ayahnya. Kemudian menuju lantai dua. Tiba di atas, mereka berkeliling mencari stan pakaian yang menarik perhatian Adam. Begitu ketemu, Adam menyuruh ayahnya memegangi es krim mereka, sedangkan dirinya dan Shenna mencari baju yang pas.
Adam mengajak mereka ke toko yang menjual pakaian anak-anak dan dewasa. Ia berniat mencarikan pakaian untuk kedua orang tuanya juga.
Wira bersandar pada dinding dekat pintu masuk, memasukkan sedikit-sedikit es krim ke dalam mulut sembari matanya sibuk memerhatikan dua orang yang sibuk berdebat masalah warna baju. Adam ingin warna putih tetapi Shenna menyuruhnya memilih warna lain agar tidak cepat kotor. Begitu juga dengan celana, lagi-lagi Adam menginginkan warna putih, Shenna menyuruhnya memilih warna biru tua saja.
Wira terkekeh geli sambil dalam hati ia berkomentar, "Kayak anak sama emaknya aja. Biasanya anak cewek tapi ini anak cowok."
"Bunda, Adam maunya sandal."
"Ribet kalau pake sandal perekat begitu, kalau perekatnya rusak gimana?"
"Kalau talinya hilang gimana?" debat Adam karena Shenna menyuruhnya memilih sepatu.
"Kamu kok, pinter banget, sih?"
"Adam memang pintar." ucap Adam tersenyum bangga. Sedangkan gadis di depannya manyun karena dirinya kalah telak dari anak kecil. Setelah ini ia harus siap-siap dikerjai Adam karena kalah taruhan.
Sebelum mulai berbelanja, Adam mengajaknya untuk bertaruh, siapa yang akan kalah di antara mereka dalam memperebutkan pakaian mana atau warna apa yang boleh dibeli dan tidak, yang kalah akan menuruti perintah si pemenang. Shenna pun bingung saat itu, Adam belajar dari mana bertaruh seperti itu tetapi ia mengiyakan saja agar anak itu tidak cerewet, bisa-bisa dia ditegur Wira kalau tahu dirinya lah penyebab putranya menangis.
"Bunda kalah," olok Adam. "Bunda harus ngikutin yang Adam bilang, oke?"
Shenna mengangguk. Kemudian, karena penasaran dia menanyakan dari mana Adam tahu tentang pertaruhan seperti itu. Adam menjawab ia belajar dari teman ayahnya, ia sering melihat ayahnya dan teman-temannya bertaruh kalau sedang berkumpul.
Adam menarik Shenna menuju deretan pakaian untuk orang dewasa. Bak orang dewasa pula dia memandangi baju-baju yang tergantung, memikirkan baju mana yang akan dipilihkan nya untuk ayahnya dan Shenna. Dan pilihannya jatuh pada kemeja polos berwarna merah maroon berlengan panjang untuk ayahnya, dress round neck polos berwarna merah maroon pula dipilihnya untuk Shenna.
Shenna menganga menanggapi pilihan Adam. Dalam hati ia mengomentari kepintaran Adam dengan mengatakan kalau anak itu benar-benar ingin membuat mereka terlihat seperti sebuah keluarga. Benar-benar pintar. Kemudian ia juga bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Wira sepintar itu? Apakah laki-laki beranak satu itu pintar juga dalam melayangkan hati wanita dengan membuat nya terkesan?
Seperti, memilih baju couple.
HAH! Memikirkan nya, membuat Shenna malu sendiri. Bagaimana bisa dirinya berpikir seperti itu. Benar-benar lancang. Shenna menggeleng menanggapi pemikirannya.
Selesai memilih, Adam kemudian menarik kembali keduanya menuju tempat bermain, Amazon. Adam bilang ia ingin bermain basket, maka Wira menggendong putranya agar bisa melempar bola ke dalam ring. Beberapa kali percobaan gagal dan gagal, hingga akhirnya Adam menyerah dan menyuruh Wira yang bermain agar ia bisa mendapatkan hadiah.
Dari awal lemparan hingga lemparan ke tujuh, Wira selalu berhasil dan tentu berhasil pula mendapatkan hadiah. Tetapi hadiahnya adalah topi couple, bukan boneka atau robot yang Adam inginkan.
Adam pun mengambil topi tersebut lantas memasangkan topi yang berwarna hitam pada ayahnya dan topi yang berwarna putih pada Shenna. Sekali lagi, si kecil yang sangat pintar itu membuat mereka salah tingkah, membuat opini orang lain terhadap mereka, bahwa mereka adalah sebuah keluarga kecil yang angat manis, harmonis dan romantis.
Setelah bermain basket, Adam mengajak mereka membeli mainan, minuman dingin, cemilan dan cake.
Adam masih ingin jalan-jalan namun Shenna membujuk nya agar pulang saja karena Adam harus tidur siang agar malamnya ia tidak rewel. Beruntung, Adam yang memang sudah mulai lelah sehingga ia menyetujui meski awalnya ia menolak.
***
Setibanya di rumah, Shenna langsung menidurkan Adam di kamar Wira atas permintaan Wira. Sementara itu, Wira lanjut menghadap komputer memeriksa mungkin ada email yang dikirim sekretaris papahnya untuk dirinya kerjakan dan disetujui, atau mungkin ada pertemuan lagi.
Shenna memandangi wajah damai si kecil yang masih setengah sadar. Tangan kecil itu terus memegangi tangannya, seperti takut gadis itu kembali meninggalkan nya. Setelah Adam benar-benar tertidur, ia pun bangkit dan pamit ke kamarnya.
Sebelum gadis itu pergi, Wira menyuruh Shenna agar mengambil pakaiannya yang mereka beli tadi. Dengan ragu ia mengambil dress yang dipilih Adam tadi lantas keluar. Ingin sekali dia mengadukan pada Wira tentang pilihan Adam untuk mereka tetapi ia juga takut Wira akan berpikir dirinya terlalu percaya diri dengan berpikiran seperti itu.
"Haish!" Shenna menarik rambutnya cukup kuat hingga dirinya pun meringis akibat tarikannya sendiri.
Di kamar, gaun tadi digantungnya lalu dipandangi. Senyum lebar seketika terukir di wajah bulatnya, melihat begitu cantik dan sesuai dengan dirinya gaun pilihan si kecil. Namun senyum itu luntur ketika membayangkan Adam menyuruh mereka memakai pakaian tersebut saat mereka berjalan-jalan atau....
"Haish!"
