Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 16 Gugup

"Kenapa?"

Wira berbaring di kasur, menatap langit kamar; memikirkan tentang Shenna dan Adam. Entah mengapa, rasanya dia tidak ikhlas gadis itu berhenti begitu saja, apalagi dirinya baru saja dapat menerima keberadaannya, membuat perasaan menyesal tumbuh di hati.

Dia pun tidak bisa membayangkan bagaimana Adam tanpa gadis yang dipanggil nya 'bunda' itu. Sehari saja putranya sudah merana, apalagi selamanya? Apa bisa Shenna membujuk Adam?

Argh! Memikirkan itu membuat kepalanya pening dan hatinya semakin gelisah. Ingin sekali dia melarang gadis itu pergi, tetapi apa alasan yang masuk akal? Gadis itu berhenti karena harus membantu kakaknya, sedangkan dia hanyalah orang lain.

"Aish!"

***

"Mba, nggak pulang lagi?"

Shenna beralih ke arah Nika lantas mengangguk pelan.

"Kenapa? Bosan, kah?" Nika mendudukkan diri di sebelah kiri Shenna tanpa beralih.

"Nggak apa, saya cuma... Mungkin bener saya bosan, soalnya di rumah cuma sendirian."

Nika mengangguk mengerti, berkata, "Em... Mba, jalan-jalan aja. Adam biar saya yang jaga. Nanti kalau sudah pulang, saya hubungi Mba."

Shenna tersenyum menerima tawaran Nika lantas memberikan nomor ponselnya kepada Nika. Setelah Nika pamit masuk, dia pun pergi berjalan-jalan. Kalau boleh jujur, ada perasaan yang mengganjal di hatinya, seperti ada yang mengganggu dan membuatnya tidak ingin berlama-lama di rumah itu.

Di ruangannya, Nika duduk bersandar, sebuah senyum sarkastik tertera di wajah oval miliknya.

"Hm, lebih baik Wira yang menjemput dari pada kamu." gumamnya. Senyumnya semakin lebar, membayangkan wajah Wira yang tersenyum manis saat berbicara dengannya. Sangat tampan dan menawan.

"Kamu akan dan hanya milikku."

***

"Mau pulang bersama?" tanya seorang wanita yang menjadi calon klien Wira.

Sembari tersenyum tipis, Wira menjawab, "Tidak, terima kasih."

"Tapi mobilmu di bengkel, kan?"

"Tidak apa, masalah pulang itu gampang. Ibu duluan saja." tolaknya lembut namun wanita itu masih saja memaksanya agar pulang bersama. Dalam hatinya, Wira menggerutu kesal. Kalau saja papanya tidak ada kepentingan lain, pasti bukan dirinya yang ada di sini bersama wanita di depannya itu.

Saat mata besar dan sedikit tajam itu tidak sengaja melirik ke arah kirinya, dilihatnya sosok seorang gadis berambut hitam panjang dengan jeans hitam panjang dan baju kaus lengan panjang over size berwarna kuning tengah duduk menghadap ke luar. Tiba-tiba, dia mendapatkan ide untuk menolak wanita yang jelas lebih tua darinya itu.

"Maaf tapi pacar saya sudah menunggu, jadi... Ibu duluan saja. Saya permisi."

Raut kecewa sekaligus kesal terlihat kentara di wajah wanita itu lantas ia pergi dengan perasaan kesal begitu Wira melangkah meninggalkan dirinya.

Wira mendekati Shenna yang tengah duduk santai menghadap taman mini yang disuguhkan pemilik kafe yang bernuansa merah muda, dan dinding kaca sebagai pembatas antara area luar dan dalam. Kopi moccacino dengan soft cream dan cake rasa pandan menemani kesendiriannya di pagi menjelang siang itu. Meski bertema girly, bukan berarti tidak memungkinkan laki-laki untuk berada di dalamnya. Semua kalangan boleh-boleh saja berada di tempat itu.

"Shen?"

Shenna menengok ke sisi kanannya dan terkejut mendapati bosnya berdiri tepat di sebelahnya namun santai kemudian setelah Wira menyuruh nya untuk lebih santai sembari ia mendudukkan diri di kursi di sebelah gadis itu. Wira sengaja menggeser lebih dekat kursinya dengan kursi yang diduduki Shenna agar wanita itu percaya bahwa gadis di sebelahnya kini adalah kekasihnya.

"Kakak ...."

"Aku ada rapat tadi."

Shenna mengangguk mengerti.

Sebelum benar-benar pergi, wanita itu mengintip dari balik tembok, memerhatikan interaksi keduanya yang malah membuatnya semakin kesal. Kemudian dia pergi sembari memaki dalam hatinya.

Selama hampir sepuluh menit senyap, akhirnya Wira membuka suara. Dia bertanya, kapankah waktu tepatnya gadis itu akan berhenti. Shenna menjawab, dia belum tahu pasti kapan, yang jelas masih cukup lama. Dia juga meminta izin, jika boleh, setelah dia berhenti nanti dia bisa menemui Adam. Dan tentu saja Wira mengijinkan. Dia yakin putranya akan merasa sangat senang, mengingat betapa sayangnya anaknya itu pada gadis di sebelahnya.

Wira kemudian menanyakan di manakah alamat kafe milik kakaknya. Alamat rumah Shenna atau maminya. Dia juga meminta nomor telepon Shenna, agar saat dia sudah tidak di rumahnya lagi, Adam masih bisa berbicara dengannya.

Shenna melihat jam di pergelangan tangan kiri Wira; dan kemudian dia pamit karena harus menjemput Adam namun Wira menghentikan nya saat dia sudah akan pergi. Wira mengatakan jika boleh dia ingin menumpang karena mobilnya masih di bengkel. Shenna hanya menjawab dengan anggukan.

Perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mereka sampai di sekolah Adam. Kekakuan menyelimuti keduanya sepanjang jalan menuju sekolah Adam. Pesan masuk di ponsel Wira pun tak dia hiraukan seakan tubuhnya ikut kaku, untuk bergerak mengeluarkan ponsel dari saku sekalipun.

Murid-murid sudah banyak yang keluar dari kelas, termasuk Adam sendiri, yang kini sedang duduk bersama Nika.

Wira dan Shenna berjalan berdampingan menghampiri Adam yang sepertinya belum menyadari kedatangan mereka namun tidak dengan Nika. Hatinya bergemuruh, tangannya mengepal tidak menyukai dengan apa yang dia lihat.

"Adam."

Adam mendongak dan segera turun dari kursi, berlari menghampiri ayahnya dan Shenna. Dia memeluk Shenna lalu mengisyaratkan ayahnya agar ikut berjongkok lalu dia memeluk keduanya, membuat jantung dua cucu Adam dan Hawa itu berdetak kuat. Mata keduanya sama-sama melebar, terkejut. Dari ujung mata, mereka melirik satu sama lain sesaat lalu kembali pada Adam.

Pemandangan itu semakin membuat Nika terbakar; dan tidak hanya Nika, wanita lain yang bersembunyi di dalam mobil tidak terlalu jauh dari mereka pun merasakan hal yang sama ketika melihat kejadian itu.

Shenna menarik diri lalu menggendong Adam, diikuti Wira di sampingnya berdiri gugup. Wira berjalan lebih dulu menuju mobil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menghilangkan gugup. Shenna dan Adam masuk setelah dirinya masuk ke dalam mobil.

"Ayah sama Bunda kok, sama-sama?" tanya Adam. "Bunda jemput Ayah?"

Shenna menggeleng pelan dan mengatakan jika mereka bertemu di kafe. Karena mobil ayahnya mogok maka dari itu ayahnya ikut dengannya.

Adam mengangguk mengerti penjelasan gadis itu. Kemudian dia mengajak kedua orang yang disayanginya itu pergi makan-makan dan membeli es krim. Shenna mengatakan jika ayahnya tidak bisa karena harus kembali ke kantor namun Wira malah mengatakan yang sebaliknya. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak kembali ke kantor dan ingin pergi jalan-jalan bersama Adam. Sontak Adam berseru senang.

Bisa menikmati dunia luar bersama ayah dan bundanya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan harapan terbesar seorang Adam. Melihat betapa bahagianya si kecil, membuat keduanya berpikir lagi dan lagi, bagaimana keadaan anak itu jika Shenna pergi.

***

"Tidak bisa didiamkan, aku harus melakukan sesuatu!"

***

"Mereka!" kesalnya. "Aku nggak akan biarin kalian bersama! Kalau aku nggak bisa, artinya kalian juga nggak akan pernah bersama!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel