Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 15 Bimbang

"Bundaaaaaaa!" Teriakan Adam terdengar begitu melengking di area sekolah, meneriakan kata 'bunda' saat menemukan sosok Shenna sedang berdiri di dekat penjual bakso yang kebetulan mampir di depan sekolah.

Adam berlari cepat menghampiri nya, sedangkan Shenna berjongkok menyambut dengan tangan yang direntangkan. Senyum keduanya sama lebarnya. Melihat Adam yang tersenyum begitu lebar menyambut dirinya, hati Shenna semakin sakit dan ingin sekali rasanya dia menangis. Sungguh, Shenna tidak ingin berpisah dengan Adam. Shenna sudah terlanjur sayang pada anak itu.

Shenna melepas pelukan, menyentuh lembut pipi anak yang diasuhnya itu, merekam dengan baik wajah menggemaskan Adam.

"Ayo, kita pulang, Tante beli bakso kuah buat kita makan siang di rumah." Shenna menggandeng tangan kanan Adam, sementara tangan kirinya membawa kantung berisi bakso menuju mobil. Dibukakan nya pintu, membantu Adam masuk, lalu berjalan memutar menuju sisi lain mobil, membuka pintu yang menjadi akses ke kursi kemudi dan masuk. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menuju rumah keluarga Nugraha.

***

Shenna menyalin bakso ke dalam mangkuk. Aroma bakso benar-benar menyeruak dan menggoda lidah. Adam berlari keluar dari kamar Shenna pun tergoda dan tak sabaran ingin menyantap menu spesial mereka siang itu.

Mereka berdua makan di ruang tamu karena meja di situ lebih pendek, sehingga akan lebih mudah bagi Adam memakan bakso kuah yang nikmat itu.

Setelah menuang saus tomat dan kecap manis kemudian diaduk rata lalu mereka berdoa, dan mereka mulai memakan bakso. Adam memuji rasa dari kuah bakso yang begitu pas dan nyaman. Membuat lidah ingin terus menyantap rasa itu lagi.

"Assalamu'alaikum ...." Suara seorang laki-laki terdengar, disusul dengan kemunculan sosok pemilik suara tersebut.

"Wa'alaikumsalam ...." sahut keduanya.

"Ayah sini, Adam sama Bunda makan bakso,"

Wira mendekati, lalu duduk di sofa di belakang Adam.

"Ayah mau?"

"Kakak mau? Aku tadi beli 3, siapa tau mamah pulang tapi ternyata nggak jadi."

"Boleh."

Shenna bergegas menuju dapur, menyiapkan bakso yang tadi disalin ke dalam panci kecil, ke dalam mangkuk. Setelah menuangkan saus sambal, kecap manis dan sedikit sambal, dia kembali ke ruang tamu. Meletakkan semangkuk bakso kuah di atas meja di sebelah kiri Adam, di depannya.

Setelah Shenna kembali ke tempatnya, Wira yang tadi duduk di sofa berpindah duduk di samping Adam. Mengaduk rata saus dan kecap lantas makan. Kemudian ia terkejut saat rasa pedas lah yang dirasakannya lebih dahulu.

"Sambel nya banyak, ya?"

"Sedikit kok, kayak biasa porsi Kakak."

"Tapi kok, pedes banget."

"Mungkin Kakak kurang rata ngaduknya."

Mendengar kemungkinan yang diutarakan Shenna, Wira kembali mengaduk bakso lalu menyuapkan sedikit kuah, memeriksa. Dan ternyata benar, tidak terlalu pedas.

"Ya, kurang rata."

***

Wira, sejak masuk ke kamarnya tadi terus saja bergerak gelisah. Mondar-mandir seperti setrikaan. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa kali ia mengusap wajahnya, membuat wajahnya memerah.

Gemas.

Gemas.

Gemas, akhirnya Wira memutuskan melangkah keluar kamar. Tiba di lantai bawah, dia berjalan ragu ke arah kamar Shenna dan Adam. Sampai di depan pintu kamar, dia pun ragu-ragu untuk mengetuk. Beberapa kali pula tangannya naik ingin mengetuk pintu namun diturunkannya lagi dan lagi.

Saat dirinya benar-benar merasa gemas, penasaran, merasa dirinya begitu bodoh, saat dirinya membelakangi pintu, tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka. Tubuhnya kaku seketika. Perlahan Wira balik badan dengan kepala menunduk, khawatir yang di hadapannya kini adalah gadis itu. Namun kemudian ia bernapas lega karena Adam lah yang berdiri di depannya, menatap dirinya dengan tatapan bingung.

Wira tersenyum kikuk.

"A... Em...."

"Masuk, Yah. Adam baru mau panggil Ayah." Adam menarik tangan Wira, menuntun nya masuk. Saat masuk, dia tidak bisa menemukan Shenna. Dia pun bertanya pada putranya, dan Adam menjawab bahwa gadis itu tengah berada di kamar mandi.

Kharisma seorang Wira yang melekat selama bertahun-tahun, seketika menghilang saat dia dilanda kegugupan. Kegugupan yang baru kali ini dia rasakan. Bukan kegugupan karena hendak mengucapkan ijab kabul tetapi gugup karena... Atau mungkin gengsi untuk bertanya pada si baby sitter.

"Adam ...." Suara Shenna terhenti saat mendapati Wira di kamarnya, begitupun dengan Wira yang bengong, terkejut dengan jantung yang berdetak lebih cepat saat suara gadis itu terdengar.

Wira di kamar seorang gadis.

Seorang laki-laki berada di kamarnya.

Tentu saja keadaan itu adalah keadaan yang aneh, ambigu dan membuat tidak nyaman satu sama lain. Hendak mengusir tetapi laki-laki itu adalah bosnya. Hendak pergi tetapi anaknya menahannya.

Oh Tuhan.

Keduanya mendrama dalam pikiran mereka masing-masing atas keadaan yang tidak pernah terencana sekali pun itu.

"Em... Ada apa, Kak?" tanya Shenna mencairkan suasana.

Gelagapan, Wira pun menjawab, "Em, nggak... Mau... Tanya aja, di depan mobil siapa?" Wira bernapas lega setelahnya, karena pertanyaan yang tidak seharusnya membuat gugup itu akhirnya keluar. Kini dia hanya perlu berharap, semoga gadis itu tidak berpikir yang tidak-tidak tentang alasan dia bertanya.

"Oh, itu mobil kakak aku. Tadi aku ke sini pake itu."

Shenna masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Wira bersama Adam duduk di lantai dekat pintu, dan hanya merespons dengan 'oh'.

"Kak, malam nanti aku mau ngomong sama Kakak, Mamah sama Papah."

***

"Bunda, Bunda jangan tinggalin Adam lagi, ya?"

Seketika itu juga, Shenna sudah akan menangis mendengar permintaan Adam di sampingnya tetapi harus dia tahan.

"Adam nda mau ditinggal Bunda lagi. Adam sedih kalau nda ada Bunda."

Nada bicara Adam mengutarakan harapannya terdengar begitu lirih. Gadis di sebelahnya semakin dilema dan tidak tega jika harus meninggalkan si kecil.

"Aku harus jawab, gimana?" lirihnya, membatin dengan mata yang memandangi Adam yang juga melihat ke arahnya. Tatapan teduh dan penuh harap, belum lagi sentuhan lembut tangan mungil itu pada wajahnya, membuatnya semakin sedih.

***

Pukul sembilan lewat dua puluh menit, Adam akhirnya tidur. Shenna pun keluar, menemui Adrian, Niken dan Wira di ruang tamu. Saat dirinya sudah akan duduk di lantai, sigap Adrian menyuruh nya duduk di sofa, jadilah dia berpindah ke sofa bagian ujung menjaga jarak dengan Wira.

Begitu duduk, Shenna langsung berbicara pada inti. Mengatakan bahwa dia tidak bisa berlama-lama tinggal dan bekerja di rumah itu karena diminta kakaknya untuk membantu nya di kafe milik kakaknya. Dan tentu saja itu bukan alasan sebenarnya, karena tidak mungkin Shenna mengatakan jika keluarganya tidak mengijinkan dirinya bekerja di rumah keluarga Nugraha karena panggilan Adam padanya. Dan karena takut si kecil mereka, Shenna, akan mendapat masalah dengan mantan istri Wira.

Terkejut itu pasti, tetapi Wira dan orang tuanya tidak bisa juga melarang. Sedih tentu, karena mereka sudah sangat dekat, terutama Niken yang membawa nya. Wira pun sama tetapi karena dia baru saja mempercayai gadis itu tetapi gadis itu malah akan pergi. Namun yang menjadi beban pikiran mereka saat ini adalah Adam. Adam akan bagaimana jika Shenna pergi dan tidak kembali. Ditinggal beberapa hari saja dia sudah histeris dan merajuk, bagaimana kalau selamanya?

Shenna juga mengatakan jika dia akan berhenti dalam dua minggu, dan tentang Adam, dia akan berbicara; memberikan pengertian untuk Adam.

***

"Kenapa?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel