Bab 14 Tidak Ingin Berpisah 1
Shenna terbangun dari tidur saat waktu menunjukkan pukul tiga subuh. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari dengan keringat cukup banyak yang keluar membasahi area wajah.
Ia berbaring lagi, mencoba tidur kembali namun gagal. Mimpi yang membuatnya terbangun tadi terus membayangi, membuatnya takut untuk kembali mengatup mata. Shenna lalu bangkit dari kasur, menuju kamar mandi. Setelah menggosok gigi dan mencuci wajah, Shenna mengambil air wudhu lalu menyiapkan mukena dan sajadah; dan kemudian menjalankan shalat tahajud.
Begitu selesai shalat, hati dan pikirannya mulai tenang meski mimpinya tadi masih terbayang. Ia duduk di atas sajadah, berdoa dengan mata terpejam hingga waktu shalat subuh tiba; dan kemudian melanjutkan dengan shalat subuh.
Shenna menuju dapur begitu selesai shalat dan merapikan tempat tidur. Memasak menu sarapan mereka pagi ini. Pukul lima lewat tiga puluh lima menit, Fanesa dan Minzy keluar dari kamar mereka langsung menuju dapur dan saat itu pula Shenna selesai memasak.
"Waaa, kamu bangun awal, Dek?" komentar Fanesa sembari memandangi makanan-makanan yang sudah tertata rapi di dalam mangkuk dan piring di atas meja makan. "Tumben kamu cepet bangun?"
"Artinya, waktunya bangunin papah, Mah. Sekalian mandi," kata Minzy. "Adek udah mandi belum?"
Shenna menggeleng.
"Mandi, gih. Sisanya biar Kakak aja."
Shenna ke kamarnya setelah mengatakan 'oke', begitu juga dengan Fanesa. Minzy melanjutkan pekerjaan Shenna tadi, menyiapkan gelas, piring, sendok, garpu dan air minum. Mencuci mangkuk, panci kotor yang dipakai adiknya memasak tadi.
***
"Dek, kata kak Ivan, ayah sama bunda mau ke sini hari ini,"
Shenna mulai bergerak gelisah.
"Katanya mumpung kamu ada di rumah. Kamu nggak kemana-mana, kan?"
Shenna menggeleng pelan.
"Kamu nanti belanja, ya?"
Shenna mengangguk.
"Zy, kamu bisa temani adek?"
Minzy mengangguk; kemudian Fanesa menyerahkan uang beserta list belanjaan. Minzy menyambut beberapa lembar uang seratus ribu dan secarik kertas berisi list belanjaan yang diberikan Fanesa. Mata yang mempunyai sorot tajam itu membaca apa saja yang harus mereka beli. Cukup banyak dan mampu membuat sesak mobilnya.
***
Minzy berjalan dengan santai melewati deretan bumbu-bumbu dapur, sayur mayur, ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan, ayam potong dan lainnya di pasar. Kedua tangan sudah hampir penuh dengan kresek berisi barang belanjaan yang digenggam nya. Sementara itu mata tajamnya masih menjelajah mencari sayur yang dicari.
Di belakang, adiknya berjalan dengan ogah-ogahan. Tangannya pun sama penuhnya dengan Minzy namun bawaannya lebih ringan dari pada si kakak.
Sepanjang jalan, Shenna terus memikirkan jawaban apa yang harus dikatakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarganya nanti. Ia masih ingin bersama Adam, belum siap untuk berpisah dengan si menggemaskan Adam.
"Dek!"
Nada ketus Minzy menyadarkan nya lantas berlari kecil menghampiri kakaknya yang menatap sinis padanya. Tiba di depan Minzy, dia menatap takut-takut lalu menunduk.
"Kalau belanja jangan melamun, nanti nabrak,"
Shenna mendongak kecil, bibirnya manyun, cemberut.
"Kalau di jalan kamu melamun, ketabrak baru tau!"
"Iya-iyaaa!" sahutnya tak kalah ketus, kemudian bejalan lebih dulu meninggalkan Minzy yang kini mengikutinya dari belakang.
Minzy diam, menunggu ke mana adiknya itu akan membawanya, sementara dia tidak tahu apa lagi yang hendak dibeli. Meski terasa berat dan tangannya pun sudah pegal dan memerah karena barang bawaannya, tetapi ia lebih penasaran dengan keadaan si adik. Tidak biasanya anak itu banyak diam seperti itu.
Ketika sudah cukup jauh, Shenna berhenti. Dengan menampilkan cengengesnya, dia balik badan lantas bertanya pada kakaknya, apa lagi yang harus mereka beli. Namun bukannya mendapatkan jawaban, malah mata tajam itu semakin menajam lengkap dengan lirikan sinis dan membunuh dari Minzy yang kemudian berbelok ke arah kanan. Shenna mengikuti, berlari kecil karena langkah kakaknya itu lebih lebar darinya. Maklum saja, kakaknya lebih tinggi darinya.
Shenna mengambil alih beberapa bawaan dari tangan Minzy karena bawaan mereka baru bertambah lagi dengan satu kilo timun, terong dan bawang merah juga bawang putih. Setelahnya, mereka langsung pulang.
***
"Adam?"
Adam tak menghiraukan panggilan Wira dan terus menyibukkan tangannya dengan mainan yang sejak tadi dipukulkan nya pada meja kayu di ruangan Wira.
Sepulang sekolah hari ini, Adam ikut Wira ke kantor. Sejak kemarin Adam lebih sering mendiamkan mereka. Siapapun sebenarnya. Dia tidak begitu menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Wira berdiri, mendekati Adam dan duduk di sampingnya. Dia mengusap kepala Adam dengan tangan kirinya. Dia berkata, "Adam sabar dulu, ya? Besok tantenya pulang, kok."
Adam mendongak lalu bertanya, "Kapan?"
"Besok, tapi Ayah nggak tau jam berapa."
"Sekarang! Adam maunya bunda pulang sekarang, nda mau nanti!" Dadanya naik turun karena kesal karena yang dipanggil nya 'bunda', tidak kunjung datang. Mata dan hidungnya pun mulai memerah dan tak lama Adam mulai menangis lagi dan lagi.
Saat di sekolah tadi pun Adam hanya diam dan kemudian menangis saat disuruh maju ke depan menjawab soal, membuat pihak sekolah kelabakan.
Lantas Wira menarik Adam dalam pelukannya. Suara tangis Adam yang terbenam benar-benar membuat hatinya sakit. Dia juga bingung harus bagaimana agar putranya dapat berhenti menangis. Yang dia tahu hanya kehadiran Shenna lah jawabannya tetapi dia juga tidak tahu alamat rumah gadis itu. Juga, dia dan orang tuanya tidak enak jika mengganggu istirahat gadis itu.
Adam kecil sangat merindukan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia rasakan sejak dirinya masih kecil. Dia merasakan kenyamanan yang berbeda dari kasih sayang yang diberikan Shenna, kasih sayang yang begitu tulus, lembut. Namun bukan berarti Wira, Niken dan Adrian tidak menyayanginya dengan tulus, bahkan mereka memberikan semuanya untuk Adam. Adam merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis itu.
Sesuatu yang membuatnya begitu nyaman dan betah bersamanya.
***
"Waaa!"
Mulut Shenna terbuka cukup lebar melihat cemilan kesukaannya berlimpah ruah di ruang tamu. Keripik kentang, keripik singkong, sosis dan roti untuk membuat burger, dan es krim, "Banyak banget!" Shenna gemas ingin segera memakan mereka namun dia juga belum makan malam. Makanan masih belum selesai dimasak.
Keluarganya dari Jogja baru datang pukul setengah enam sore tadi dengan membawa banyak makanan kesukaannya dan oleh-oleh stroberi dari kebun mereka.
"Kayak baru liat aja kamu," komentar Minzy. "Norak."
"Biar norak yang penting suka! Bilang aja Kakak iri nggak dapet oleh-oleh banyak kayak aku!" sahutnya, tak kalah meremehkan dari kesombongan Minzy.
"Yeee! Aku nggak pernah iri sama kamu."
"Aku juga nggak pernah iri sama kamu ya, Kak."
"HEY! APA ITU?!" Teriakan dari arah dapur dari sang ratu utama membuat keduanya berhenti melanjutkan debat mereka.
Sudah menjadi kebiasaan Shenna dan Minzy memang, kadang kalanya mereka berdebat menggunakan kata yang biasa digunakan mereka saat bersama teman. Kadang mereka juga berlagak seperti musuh, teman dan saling sindir menyindir. Berbeda jauh dengan Ivan. Kalau Ivan adalah kakak yang lebih mengayomi dan lebih sabar, dan Minzy lebih pada kakak yang bersifat seperti teman. Tetapi mereka sangat dekat, saling menjaga satu sama lain itu pasti.
"Tuh, rasain." kata Shenna.
"Kamu tuh, yang rasain." balas Minzy.
"Udah lah, guys. Mending bantu siapin makanan," Kali ini Ivan yang ikut nimbrung sembari menjitak pelan kepala mereka berdua. "Kamu juga Zy, ngapain ngajak debat." Ivan berlalu meninggalkan mereka menuju dapur, kemudian diikuti Shenna lebih dulu lalu Minzy.
Ayah dan papi Shenna membuka karpet ukuran sedang yang tadi tergulung di lantai lalu menyusun piring-piring, gelas, dan sendok di atas mangkuk yang disediakan untuk meletakkan sendok jika ada yang ingin makan menggunakan sendok. Shenna dan Ivan datang membawa semangkuk nasi dan sayur lalu meletakkan nya di atas karpet, disusul Minzy yang membawa ikan goreng dan ayam bakar.
Selesai bersiap, mereka duduk mengelilingi makanan yang menggugah selera itu. Lantas berdoa dan makan.
Setelah selesai makan dan merapikan, serta membersihkan piring, gelas dan mangkuk yang kotor, mereka berkumpul di ruang tamu.
Shenna asyik memakan keripik kentangnya, terhenti saat Ivan bersuara, menanyakan tentang Adam. Dengan tatapan ragu dan khawatir, dia melihat ke arah Ivan lalu ke yang lainnya.
"Adam baik." Shenna menunduk sambil menyuap dua keripik kentang ke dalam mulut, menutupi kegugupan.
"Kenapa Adam waktu itu memanggil kamu 'bunda'?"
Meski tahu apa yang akan kakaknya tanyakan namun tidak memungkinkan dirinya tidak akan terkejut saat pertanyaan itu keluar. Shenna masih menunduk, berpikir dan merangkai kata yang benar untuk menjawab. Tidak ingin keluarganya salah paham.
Keluarga utama yang saat itu ada di sana, mengerutkan dahi mereka bingung dengan pertanyaan Ivan. Ivan mengatakan pada mereka agar mendengar penjelasan Shenna lebih dulu baru bertanya.
Takut-takut Shenna mengangkat kepalanya, melihat satu per satu orang-orang yang ada di sana. Terakhir pandangannya jatuh pada mami dan ayahnya.
"Adam... Dia... Dia panggil Shenna begitu karena... Em, nggak tau," Shenna membuang muka ke arah lain. "Shenna nggak tau kenapa tapi mungkin karena dia kangen sama bundanya, makanya panggil Shenna begitu.
Soalnya, ayah sama bundanya cerai udah lama." Tiba-tiba wajah Angel terlintas di ingatannya, membuat nya merinding.
Shenna kembali beralih ke arah mereka karena tidak ada respon apapun yang ditangkap pendengarannya. Yang didapatinya, mereka semua tengah memandang ke arahnya. Dan gadis itu kesulitan membaca arti dari tatapan mereka, membuatnya semakin takut.
"Aku nggak mau pisah sekarang." batinnya saat itu takut.
