Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Adam Yang Merajuk 2

Wira menyesap moccachino bersamaan dengan Luna yang menyuapkan bakso ke dalam mulut. Mereka sedang sibuk memerhatikan sahabat mereka yang hari ini lebih banyak melamun. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu sudah kesekian kalinya menarik ulur napas hingga membuat jengah keempat sahabatnya. Ingin bertanya namun sepertinya sahabat mereka itu sedang tidak ingin diganggu. Tetapi mereka juga sangat penasaran ada apa dengan Wira.

"Ehem!" Bayu membersihkan pita suaranya yang tadi sempat parau karena minuman yang diteguknya itu terlalu manis dengan berdehem. Perhatian mereka kini tertuju padanya, termasuk Wira sendiri pun menunggu kalimat yang akan Bayu keluarkan.

"Bro, aku kemaren liat dia ...."

"Aku juga." potong Wira membuat sahabat-sahabatnya itu terkejut.

Bukan berlebihan namun sumpah serapah sempat Wira ucapkan terhadap wanita itu, yang menandakan jika Wira sangat membenci wanita itu sehingga mereka khawatir dengan apa yang akan Wira lakukan pada Angel jika mereka bertemu.

"Terus... Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakuin ke dia?" tanya Luna. Mereka menatap Wira penasaran.

"Nggak aku apa-apain."

"Serius?! Bukannya kamu ...."

"Aku udah punya anak, jadi nggak mungkin aku ngamuk di depan anakku," terang Wira membuat keempatnya menghela napas lega. "Apalagi Adam itu terlalu pintar jadi aku nggak mau bikin dia takut. Atau lebih parahnya dia ngikutin kelakuanku."

Keempatnya mengangguk mengerti dan bersyukur dalam hati mereka.

"Tapi... Aku sekarang malah khawatir sama Shenna." lanjut Wira sembari mengingat kejadian kemarin. Ia tahu bagaimana watak Angel. Angel adalah tipe wanita yang akan melakukan apa saja agar keinginannya bisa terpenuhi karena itu ia khawatir.

"Kenapa?!" tanya mereka bersamaan, penasaran.

Wira kembali menghela napas lalu menceritakan ulang kejadian kemarin saat mereka bertemu. "Angel kemarin marah-marah dan memaki dia. Jadi aku rasa Angel nggak suka sama dia dan... You know lah, gimana Angel."

"Gawat dong, kalau begitu?" Reza berucap, dan Wira mengangguk mengiyakan.

"Jadi yang menganggu pikiran kamu sekarang itu?" Bayu bertanya ulang, meyakinkan pemahamannya agar tidak salah memberikan saran, karena bagaimana pun dirinya lah yang tertua di antara mereka berlima. Sehingga ia harus lebih dewasa, bijak dan tenang agar bisa memberikan solusi yang baik.

Begitulah pendirian Bayu.

"Bukan," Mereka mengerutkan dahi bingung. "Tapi yang menggangguku dari kemarin itu, waktu dia bilang rumah maminya dan rumahnya itu beda. Dan dia cuma numpang di rumah maminya.

Menurut kalian apa artinya?" Wira sungguh penasaran.

"Tanya aja langsung?" usul Reza.

Wira seketika mengubah ekspresinya menjadi datar menanggapi usulan Reza yang pikirnya terlalu mencolok.

"Mungkin maminya itu cuma orangtua angkat?" tebak Zaki.

"Mungkin." Setuju Luna.

"Terus bang Ivan yang kemarin baik kok, sama dia. Manis banget sampe elus kepalanya."

Malam itu, acara nongkrong mereka digunakan hanya untuk membahas tentang Shenna, maminya dan Ivan. Mulai dari kebingungan dan rasa penasaran Wira tentang tempat tinggal gadis itu. Pandangan mereka tentang Ivan saat pertama kali bertemu malam itu. Tentang alamat rumah mami dari Shenna dan lainnya yang menurut mereka berhubungan dengan gadis berambut hitam itu. Sampai berniat turun tangan, ingin mencari tahu rumah gadis itu.

***

"Pah, aku mau balikkan sama Wira."

Cornelius sontak menatap tajam pada sang anak. Sedangkan Maria menggeleng tak percaya akan permintaan anak mereka itu.

"Apa yang ada di otakmu, hah?!" geram Cornelius. "Apa kamu tidak memikirkan kesalahan kamu dulu?! Apa kamu tidak punya malu?!" Urat leher Cornelius mengeras seketika.

"Pah, aku mau balikkan sama Wira. Aku mau hidup sama dia dan Adam, anak kami!"

"Dia bukan anak kalian ataupun anak kamu! Dia cuma anak yang kamu...." Cornelius menggantungkan kalimatnya, enggan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan dan memalukan yang pernah dilakukan anaknya. Hatinya sungguh sakit saat mengetahui kebohongan anaknya yang mati-matian dibelanya, bahkan ia sampai mengatai Wira karena kebohongan anaknya itu. Sungguh ia malu. Untuk bertemu dengan keluarga Nugraha pun Cornelius tidak sanggup.

Dulu, tepatnya enam tahun silam, Angel datang padanya dengan mengatakan jika ia tengah hamil anak Wira. Anaknya itu menangis kuat meminta orang tuanya menikahkan dirinya dengan laki-laki pujaannya itu. Sebagai seorang ayah, tentu ia marah besar atas kenyataan yang menimpa anaknya hingga dengan segera dan memaksa Angel agar membawanya menemui Wira untuk meminta pertanggung jawaban.

Setibanya di kediaman Wira, kemarahan langsung dia tumpahkan tanpa mendengarkan lebih dulu penjelasan Wira yang tentu bingung akan kedatangan dan perlakukan mereka padanya.

Setelah mengetahui alasan yang membawa Angel dan kedua orang tuanya datang, Wira menolak keras karena ia tidak merasa pernah melakukan itu. Angel pun mengatakan jika saat itu dirinya tengah mabuk untuk meyakinkan Wira dan kedua orang tua mereka. Dan Wira kembali mengelak karena dirinya tahu betul bahwa sekalipun tidak pernah ia menyentuh minuman keras. Mencium baunya saja sudah membuatnya pening.

Tetapi sayangnya, Cornelius dan Maria lebih memercayai anak mereka. Ditambah Angel yang sangat siap untuk berpindah keyakinan hanya demi menikah dengan Wira. Pikirnya saat itu, tidak mungkin anaknya rela berpindah keyakinan hanya karena laki-laki jika tidak ada alasan yang lebih kuat.

Sedangkan Adrian dan Niken yang masih shock. Dengan bimbang, mau tidak mau mereka menyetujui permintaan keluarga Angel. Wira pun akhirnya menyetujui. Tekanan yang diberikan Cornelius dan melihat keadaan Angel malam itu, membuat mereka sangat bimbang sekaligus kasihan.

Setelah terjadinya pernikahan, Angel tinggal di kediaman Nugraha. Mereka bersikap dingin terhadap nya. Tentu ia terganggu namun dengan berjalannya waktu, seiring dengan perutnya yang mulai membesar, perlakuan mereka pun berubah. Terutama Adrian dan Niken. Mana bisa mereka membiarkan nya sendirian mengurus diri di saat dirinya hamil muda seperti itu. Wira sendiri mulai memperbaiki sikapnya setelah kehamilan Angel memasuki usia lima bulan.

Saat kehamilannya memasuki usia sembilan bulan, semua benar-benar berubah seperti harapannya. Wira dan kedua orang tuanya begitu baik dan perhatian padanya. Wira menjaganya dengan penuh kasih sayang dan begitu protektif. Di saat-saat itulah yang menjadi kenangan manis untuk seorang Wira bersama Angel. Saat dirinya menjaga istrinya yang sedang mengandung anak mereka.

Benar atau tidaknya, Wira harus dan merasa senang bisa mengurus dan memiliki anak itu.

Namun kebahagian tersebut tidaklah bertahan lama karena enam bulan setelah kelahiran anak mereka, sebuah fakta terungkap. Berkat seorang wanita yang datang dengan sebuah map dan mengatakan jika ia ingin memberikan berkas-berkas pengadopsian yang waktu itu belum selesai.

Wira dan Niken membaca dengan teliti tulisan-tulisan yang terlampir di atas kertas. Fakta mengejutkan mereka temukan. Fakta di mana seorang bayi yang diadopsi atas nama Angel, sama dengan waktu, tanggal, bulan dan tahun kelahiran Adam yang mereka tahu.

Kenapa dikatakan, waktu yang sama dengan kelahiran Adam yang mereka tahu?

Pagi di hari itu, saat Wira, Adrian dan Niken sedang tidak berada di rumah, Angel pamit pada mbok Nah untuk pergi check up kehamilan. Dan siangnya, Wira mendapatkan kabar bahwa Angel sudah melahirkan. Sebab itu, ia tidak menyaksikan proses kelahiran Adam.

Dan setelah mendengar penjelasan dari perempuan yang mengaku sebagai pengurus panti asuhan tempat Adam diadopsi, akhirnya mereka tahu, mengapa mereka baru diberitahu setelah Adam lahir. Dan sayangnya mereka mengetahui fakta tersebut setelah Angel pergi, menghilang tanpa kabar dan meninggalkan Adam bersama mereka.

Tidak sampai di situ, dua minggu setelah fakta terungkap, Angel datang dengan membawa sebuah surat. Surat cerai. Ia ingin Wira menceraikan nya. Dan tentu dengan sepenuh hati Wira menerima permintaan perceraian tersebut. Hatinya sungguh sakit dan sangat membenci wanita yang bernama Angel itu.

Setelah menandatangani surat cerai dan hasil keputusan sidang diumumkan, Wira mengecam wanita yang begitu kejam itu, keras. Sumpah serapah ia lontarkan, mengutarakan betapa sakit hatinya; dan begitupun kedua orangtuanya.

Sejak itulah, Cornelius dan Maria tidak sanggup untuk bertemu mereka karena sangat malu atas perbuatan anak mereka. Dan perlakuan mereka pada Wira saat itu.

"Tidak, Angel. TIDAK!"

***

"...."

"Jadi bener dia tinggal di sana?" Senyum terukir di wajah Wira.

"...."

"Ha ha ha, maaf. Aku akan traktir kamu sebagai ucapan terima kasih."

"...."

"Terima kasih, Bro. Sorry, aku ngerepotin.

Sekali lagi terima kasih."

Wira meletakkan ponsel di atas meja begitu panggilan berakhir. Bersandar pada sandaran sofa dengan pandangan tak tentu namun bayangan seorang gadis kini terlintas di ingatannya. Kelegaan terasa saat akhirnya ia mengetahui tentang Shenna. Yang artinya, dia tidak perlu lagi khawatir jika gadis itu berada dekat dengan anaknya. Wira akhirnya bisa memercayakan Adam pada Shenna.

***

"Ayah, Adam nggak mau sekolah!" seru Adam, memberontak saat hendak dipakaikan seragam sekolah.

"Kenapa? Kenapa Adam nggak mau sekolah?" tanya Wira seraya merapikan rambut putranya.

"Adam nggak mau sekolah!" serunya lagi. Wajah si kecil cemberut dan tangannya dilipat di depan dada. Ia menatap kesal pada ayahnya.

"Kenapa?" tanya Wira lagi.

Semua penghuni di rumah itu dibuat bingung dengan sikap Adam yang tiba-tiba berubah seperti saat ini. Tidak pernah sekalipun anak itu meminta untuk libur sekolah, malah dia lah yang paling semangat pergi ke sekolah.

"Adam kenapa nggak mau sekolah?" tanya Niken sembari berlutut di sebelah Wira. Tangan kirinya naik untuk mengusap kepala cucunya lembut.

"Adam ...," Adam menunduk. Raut sedih kini ia tampilkan. "Adam mau ke sekolah sama bunda." Air matanya pun akhirnya mengalir. Rengekan mulai terdengar di rumah itu.

Niken, Adrian dan mbok Nah hanya bisa menatap dengan perasaan sedih pada bocah laki-laki yang kini menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya. Mereka tidak bisa berbuat banyak, apalagi meminta Shenna untuk kembali saat ini juga, itu sangat tidak mungkin. Shenna baru pulang malam tadi, tidak mungkin mereka memintanya untuk kembali pagi ini juga. Mengingat gadis itu sudah hampir dua bulan tidak pulang.

"Adam, tante pulang ke rumah keluarganya dan baru pulang selasa nanti." jelas Wira.

"Adam mau bundaaaaaaaa!" Tangis Adam semakin pecah. Wajah dan matanya sudah sangat memerah. Wira pun kelabakan dibuatnya. Adam tidak mau mendengarkan mereka, malah tangisnya semakin menjadi setiap kali mereka membujuk.

"Adam, kasian tante nya kalau nggak pulang-pulang. Tante Shenna pasti kangen banget sama keluarganya. Jadi biarin Tante nya pulang dulu.

Adam sama Ayah, Nenek, Kakek sama Mbok Nah dulu sementara nunggu tante pulang." bujuk Niken.

"Bundaaaa!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel