Bab 12 Hanya Baby Sitter
"Lancang kamu!" seru Angel lanjut berteriak. "NGACA, KAMU PEMBANTU kok, manggil majikan kakak dan tante?! Punya kaca nggak, sih?!" Perempuan itu berdiri. Sorot mata tajam dan menuntut.
"Maaf, tapi nggak baik bicara kasar di depan anak-anak."
"BUKAN URUSAN KAMU! DIA ANAKKU, TERSERAH AKU MAU NGOMONG GIMANA! SEHARUSNYA KAMU YANG ORANG LAIN ITU YANG SADAR DIRI!"
"ANGEL!"
Adam langsung turun dari pangkuan Shenna dan berlari menghampiri Wira yang menatap nyalang ke arah Angel, perempuan itu, mantan istrinya.
"Jaga mulut kamu. Jaga sikap kamu. Seharusnya kamu yang sadar diri dan MALU untuk MUNCUL di depan Adam," kesal Wira saat itu, masih berusaha menahan amarahnya. Mengingat keberadaan Adam dan kini mereka berada di tempat umum. "Shen! Pulang!"
Wira membuka pintu mobil dan masuk bersama Adam setelah memberikan tatapan tajam pada Angel, disusul Shenna. Dan Angel, tatapannya tak kalah tajam dan penuh akan amarah dari mantan suaminya. Ia terus memandangi Wira, Adam dan Shenna yang kini sudah bersembunyi di dalam mobil, hingga mereka pergi.
"Kamu akan menyesal, Wir! Nggak akan ada yang bisa gantiin posisi aku. Apa lagi cewek seperti dia. Kalian tunggu aja."
***
Setibanya di rumah, Wira langsung menuju kamar. Ia membiarkan Adam bersama Shenna. Tidak ingin Adam melihat sisi buruknya, hingga dia berhasil mengendalikan emosinya.
Wira melempar kasar tas ke lantai. Meninju pintu yang kini terdapat bercak merah karena tangannya yang berdarah. Menarik rambutnya hingga berantakan sampai beberapa helai rambut patah dan tercabut, seraya itu dia berteriak mengeluarkan emosi yang tertahan di tenggorokan. Ia terduduk di depan pintu. Matanya terpejam, berusaha meredam emosi yang hampir menguasai.
Bayangan-bayangan masa lalu saat bersama Angel, terlintas bergantian dalam ingatan. Mungkin tidak banyak kenangan manis yang mereka ciptakan saat itu. Namun satu kenangan berharga itu pun sudah sangat cukup membuatnya kacau. Kenangan yang ia harapkan dan banggakan namun hancur lebur dalam seketika. Benar-benar singkat.
Satu kenangan manis namun satu kepahitan yang terjadi setelahnya lebih menyakitkan dari apapun. Sebagai seorang laki-laki dan ayah, Wira sangat ingin melenyapkan wanita itu agar ia tidak perlu bertemu dengan wanita itu lagi. Adam pun tidak perlu melihat wanita yang tidak memiliki hati itu.
***
Pukul sebelas lewat lima puluh enam menit, Adam sudah tidur. Shenna dengan setia berada di sebelah Adam, berbaring; menatap dengan pandangan kosong pada Adam di depannya. Ingatan tentang kejadian di toko es krim tadi berputar dan terus terputar ulang, seakan ingin mengingatkan dirinya untuk tetap pada tempatnya.
Segala makian dan tatapan angkuh yang sungguh tidak ia sukai itu sangat mengganggu. Jika saja tidak ada Adam, mungkin dia dan wanita itu sudah beradu teriakan dan makian. Tetapi ketika mengingat perkataan Angel yang mengatakan jika dirinya adalah ibu dari Adam, membuatnya bersyukur tidak melakukan itu. Dia tidak ingin menyisakan memori buruk tentangnya di depan Adam.
Hari itu, waktu terasa berlalu begitu lambat. Wira masih berdiam diri di kamar sejak siang tadi hingga malam pukul tujuh kini. Adam menjadi lebih pendiam, begitupun Shenna. Adrian dan Niken pun dibuat bingung dengan keadaan senyap malam itu.
"Shen," panggil Adrian. "Wira mana? Dan kenapa kalian berdua banyak diam? Apa ada masalah?"
Shenna melihat Adrian sebentar lalu beralih ke Adam. Ia menyuruh Adam untuk memanggil ayahnya. Setelah Adam mengangguk dan berjalan ke kamar sang ayah, Shenna kembali mengarahkan pandangannya kepada Adrian dan Niken. Ia mulai bercerita tentang kejadian hari ini dari awal hingga kepulangan mereka. Kecuali tentang perlakuan Angel padanya.
Mendengar cerita Shenna, Niken dan Adrian sontak merasa panas di hati mereka. Dada turun naik, raut wajah berubah seketika menjadi penuh akan emosi, terutama Niken. Sedangkan Adrian, ia lebih tenang meski masih bisa terlihat oleh Shenna raut kesal di wajah laki-laki berusia lima puluh lima tahun itu.
"Beraninya dia!"
Niken sungguh kesal. Mendengar nama perempuan itu saja sudah bisa membuatnya naik pitam. Apalagi mengetahui bahwa perempuan itu berani menemui anak dan cucunya? Itu sangat berhasil membuat hasrat Niken untuk menjambak rambut mantan menantunya itu semakin kuat. Tidak hanya menjambak, dia juga ingin sekali memukul dan memaki wanita itu hingga keluar semua amarah yang ia simpan selama bertahun-tahun.
"Dia nggak berbuat yang nggak-nggak, kan?" tanya Adrian, dan Shenna menggeleng pelan menjawab.
Adrian memejamkan mata sebentar; menekan amarah agar tidak keluar. Saat ia hendak kembali berucap, matanya menangkap sosok sang anak yang kini berjalan mengarah di mana mereka berada bersama cucunya. Mata sepasang suami istri itu penuh iba memandang sang anak. Meski Adrian masih kesal namun bagaimana pun ia tahu bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan anaknya. Hanya saja, perasaan kesal itu terus memenuhi.
"Adam, sini sama Tante." Shenna mengajak Adam untuk makan di depan televisi di ruang tamu agar Adam tidak mendengar pembicaraan orangtuanya.
Seperginya Adam dan Shenna, Niken menyuruh Wira makan. Ia dan suaminya memerhatikan gerak anak mereka yang lamban, seperti tidak ada semangat sedikitpun. Raut wajahnya pun tampak lesu dilengkapi dengan penampilan yang lusuh.
Niken ingin merengkuh dan meminta anaknya untuk mengeluarkan semua emosi dengan bercerita padanya agar dirinya tidak memendam beban seorang diri namun dia harus menahan itu. Dan akan menunggu hingga Wira sudah siap untuk bercerita. Hatinya sedih melihat anaknya kembali seperti saat-saat itu. Rapuh dan tidak bersemangat.
Di sisi lain.
"Bunda?" Adam mendongak. "Ayah sedih, ya? Kok, ayah diam aja? Sama Adam juga nda mau ngomong?"
Shenna tersenyum tipis seraya kedua tangannya menyentuh lembut pipi Adam dan mengusap pelan kulit lembut itu. "Adam malam ini tidur sama ayah, ya? Temani ayah, biar ayah nggak kesepian. Ayah mungkin lagi capek, makanya banyak diam."
"Tapi Ayah nda mau ngomong." rajuknya pun merasa sangat sedih. Ayahnya tidak pernah mendiamkan nya seperti ini.
"Kalau begitu Adam buat ayah ngomong."
"Caranya?"
Shenna berbisik pada Adam. Memberitahu jurus-jurus membujuk yang ia punya, yang biasa dirinya gunakan untuk merayu keluarganya saat mereka melarang nya untuk melakukan sesuatu yang bagi mereka tidak boleh ia lakukan. Setelah selesai berbisik, keduanya tersenyum lebar. Adam mengikuti Shenna yang mengedipkan mata kanannya padanya.
"Semangat?"
"SEMANGAT!"
Teriakan Adam membuat tiga orang yang sedang serius di meja makan itu menoleh ke arah mereka. Shenna pun menoleh sebentar ke arah tiga orang di meja makan lantas tertawa cengengesan bak orang yang tertangkap basah sambil mengucapkan kata 'maaf'.
Shenna kembali beralih pada Adam. "Iya, Adam harus semangat. Semangat belajar, semangat... Apa lagi?"
"Main?"
"Masa main? Semangat sekolah, dong."
"Tapi Adam kan, besok libur, Bun."
"Oh, iya. Tante lupa," ucapnya. "Semangat menjalani hari libur, kalau begitu."
Adam mengangguk, sedangkan Shenna mengutuk kebodohannya karena salah mengambil cerita untuk pengalihan. Mereka pasti curiga padanya.
***
Seperti rencana keduanya tadi, Adam kini tengah bermanja-manja pada Wira. Bocah enam tahun itu terus duduk di pangkuan ayahnya. Mencolek dan memegangi wajah sang ayah. Tidak hanya itu, Adam juga beberapa kali mengedipkan mata, menunjukkan sisi dirinya yang menggemaskan. Ia juga memaksa ayahnya agar memeluknya. Saat tangan Wira melingkar, memeluk, ia mendongak menanti tanggapan si ayah.
Gemas karena ayahnya masih saja diam, Adam kecil bangkit; menatap si ayah kesal. Wajahnya merengut dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Sedangkan Wira melihatnya bingung.
"Ada apa?"
"Ayah kok, nggak peduliin Adam?
Ayah kok, diam aja?
Ayah kok, nggak peluk Adam?
Ayah kok, nakal?
Ayah kok ...,"
Wira menunggu Adam melanjutkan protesannya.
"Kok... Apa? Apa lagi, Yah?"
Wira tidak bisa menahan tawa gelinya melihat Adam yang malah bertanya padanya, tentang apa kata selanjutnya yang harus ia katakan. Wira lalu mengisyaratkan Adam untuk kembali duduk di pangkuannya; mengarahkan Adam agar duduk menghadap ke arahnya.
"Maaf, ya? Ayah nggak ada maksud buat Adam sedih. Ayah nggak ada maksud mendiamkan Adam.
Maaf ya, Sayang?"
Adam lantas tersenyum lebar.
"Bunda, betul!"
Senyum Wira hilang seketika, lalu bertanya, "Maksudnya?"
"Bunda tadi suruh Adam buat Ayah nggak diam lagi. Biar capek Ayah hilang."
***
Hari ini adalah hari minggu. Dan hari ini, keluarga Nugraha ingin mengadakan camping. Niken dan Shenna, juga mbok Nah sudah memasak banyak dari pagi-pagi sekali.
"Adam mau duduk di depan apa di belakang?" tanya Niken saat ia dan Adam sudah akan masuk ke dalam mobil.
"Mau sama bunda sama ayah."
Niken menoleh ke belakang. Matanya bertemu dengan tatapan bertanya Shenna yang baru saja tiba. Lantas mengungkapkan keinginan Adam, "Adam mau duduk sama kamu dan Wira. Kalian duduk di belakang, ya?"
"Oh?"
Meski terlihat bingung, Shenna tetap mengangguk. Niken tersenyum geli melihat reaksinya saat itu. Tak lama Wira datang. Ia berdiri di sebelah Shenna. Dengan dahi berkerut, ia berusaha menemukan kenapa mamahnya tersenyum seperti itu. Mata besarnya melirik gadis di sebelahnya, yang ternyata sedang bengong.
Begitu tersadar, Shenna langsung mengajak Adam masuk. Niken memberitahukan pada Wira, jika Adam ingin duduk bersama mereka berdua saat Wira hendak duduk ke kursi depan. Reaksi yang Wira berikan saat itu sama bengong nya seperti Shenna tadi. Shenna di dalam, melihat reaksi Wira tersenyum mengulum sembari membuang muka agar tidak satu pun yang melihat.
"Ayo." desak Adrian.
Niken menepuk lengan anaknya dan mengisyaratkan agar Wira segera masuk. Mau tidak mau Wira pun duduk di belakang bersama Adam dan Shenna, dengan Adam yang duduk di antara mereka. Selama perjalanan, Adam terus mengoceh. Mengutarakan tempat yang ingin dia kunjungi bersama ayah dan bundanya. Makanan dan minuman yang ingin dimakan, dan hal-hal lainnya. Hingga tanpa terasa mereka sampai di tempat tujuan.
Dengan girang Adam berlari ke taman. Shenna bersusah payah mengejar Adam dengan menghidari orang-orang yang berlalu lalang karena taman yang begitu ramai.
"Bunda, betul!"
"Maksudnya?"
"Bunda tadi suruh Adam buat Ayah nggak diam lagi. Biar capek Ayah hilang."
Sejak di perjalanan tadi, Wira terus terpikirkan kata-kata anaknya tentang gadis yang hingga saat ini tidak bisa ia temukan identitasnya. Ia juga tidak tahu mengapa dirinya harus memikirkan itu. Wira ingin menyalahkan seseorang saat ini namun siapa yang dengan ikhlas menerima pelampiasannya?
Wira geli sendiri memikirkan itu.
Baru kali ini ia merasa dirinya bodoh dan aneh.
Mungkin, perkataan papahnya saat memarahi nya kini menjadi kenyataan. Begitulah pikir Wira saat itu, yang tersadar akan sikapnya sendiri.
Memang benar, jika melihat kekurangan orang lain lebih mudah daripada melihat kekurangan diri sendiri. Karena itu, orang lebih mudah menilai dan menghakimi orang lain. Wira merasa iba pada dirinya sendiri.
Wira berdiri lantas menghampiri Adam dan Shenna di tengah-tengah taman yang luas. Taman sudah hampir penuh dengan anak-anak yang sedang bermain.
Seperginya Wira, Adrian memanggil istrinya, "Mah?"
Niken menoleh dengan ekspresi bertanya.
"Hanya kalau... Kalau anak Mamah itu akhirnya menyukai ...."
Niken diam menunggu sang suami melanjutkan kalimatnya. Dahinya mengerut saat sang suami tak kunjung bicara.
"Kenapa nggak lanjut, Pah?"
Adrian tersenyum, sementara hatinya ragu untuk menanyakan pendapat istrinya tentang pemikirannya yang mungkin bagi istrinya itu adalah ketidakmungkinan.
"Nggak apa," dustanya. "Papah itu cuma bingung sama Wira, sampai sekarang kenapa belum juga mendapatkan bunda untuk Adam. Padahal katanya dia cakep minta ampun dan jadi idola, ha ha. Lucu."
Adrian berharap Niken bisa teralihkan dengan alasannya itu. Mungkin nanti, ia akan meneruskan kalimat yang digantungnya tadi saat hatinya yakin.
Di lain sisi, Wira berusaha mendorong diri untuk bertanya pada gadis di sebelahnya. Tetapi gengsinya cukup tinggi untuk bertanya secara langsung. Dari belakang, Wira menggaruk-garuk pinggangnya yang tak gatal karena kegugupan yang datang entah dari mana dan apa alasan kegugupan itu datang. Beberapa kali dia membuang napas dan menariknya lagi. Beberapa kali pula dia menghentakkan kaki di atas rumput yang menutupi tanah di bawahnya.
Shenna sudah kembali ke sebelahnya setelah menghampiri Adam, memberikan nya minum.
"Shenna ...,"
Shenna menoleh dengan tatapan bertanya.
"Maaf."
"Untuk?"
"Kejadian kemarin," sesal Wira, teringat kembali tentang kejadian kemarin. "Aku nggak tau dia akan sekasar itu sama kamu. Aku minta maaf."
Shenna tersenyum lantas berkata, "Nggak apa, Kak. Emang aku yang salah."
"Kamu nggak salah," kata Wira, masih enggan beralih pada gadis di sebelahnya. "Bayu pernah bilang, kalau dia adalah wanita yang kasar tapi aku nggak percaya. Karena selama aku kenal dan sebelum nikah sama dia, yang sering aku liat dia itu lembut, manja, baik.
Hah... Sekali lagi maaf."
"Kakak nggak perlu minta maaf, Kakak nggak salah."
"Tapi dia ...."
"Dia yang ngomong bukan Kakak. Lagian emang bener yang kak Angel bilang, aku nggak tau malu karena berani panggil orang tua Kakak dengan sebutan om dan tante, padahal aku cuma baby sitter."
"Tapi itu permintaan mereka sendiri, kan?"
"Seharusnya aku tau diri, dan meyakinkan mereka itu nggak sopan. Nggak seharusnya seorang baby sitter manggil majikannya seperti itu."
Wira tersenyum kecut lantas menunduk. Matanya terpejam sesaat sembari napas yang keluar terdengar berat dari rongga hidung dan mulutnya. Kemudian, ia kembali mengarahkan pandangannya pada Adam yang tampak begitu asyik bermain dengan teman barunya.
"Itu hanya pemikiran orang-orang sombong," bijak Wira.
Shenna kembali menoleh.
"Seandainya mereka bisa berpikir lebih terbuka, pemikiran seperti itu nggak akan ada."
Shenna kembali memerhatikan Adam.
"Em ...,"
Gadis itu kembali menoleh ke arahnya.
"Kamu tinggal di mana? Maksudnya, tepatnya di mana?"
"Perumahan Bougenville."
Wira yang tadi enggan untuk melihat wajah gadis di sampingnya sontak menoleh. Matanya melebar melambangkan keterkejutannya.
"Bo... Bougenville?"
Shenna mengangguk.
"Itu bukannya perumahan elit?"
Kekehan dari gadis itu terdengar, dia lalu berkata, "Itu rumah mami bukan aku. Kalau aku rumahnya di Jogja. Rumahnya juga biasa aja, cuma dari kayu."
"Em, memangnya rumah mami kamu dan rumah kamu itu beda?"
Entah mengapa, Wira sangat penasaran tentang Shenna, membuatnya terus bertanya. Padahal, niat awalnya hanya ingin tahu letak rumah asli gadis itu agar temannya bisa mencari tahu lebih mudah.
"Beda, lah. Aku itu cuma numpang di rumah mami."
"Aku nggak ngerti."
