Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 ANGEL

"Bunda, ini bacanya 'Adam sayang ayah dan bunda'." kata Adam seraya membaca tulisan yang ia tulis di buku saat di sekolah tadi. Ia merasa bangga saat menuliskan kalimat sederhana namun memiliki makna yang sangat besar baginya.

"Pintar," puji Shenna sembari jemarinya mencubit pelan pipi Adam. "Belajar yang rajin biar makin pintar, ya? Dengarkan guru yang mengajar di depan dengan baik."

"Siap!" seru Adam semangat. "Oh ya, Bunda. Nanti kata ayah ada acara jalan-jalan sama teman-teman. Sama orang tua juga. Tapi ayah nggak bisa ikut, jadi Bunda yang temani Adam."

"Oya?"

Adam mengangguk.

"Em, acara jalan-jalan apa?"

"Iya, Bunda. Tanya ayah sana."

Sebelah alis Shenna terangkat mendengar Adam yang menyuruh nya bertanya pada sang ayah. Nada dan kata 'sana' yang diucapkan si kecil terdengar seperti saat kakaknya menyuruh nya meminta uang pada sang mami.

"Ini anak," batinnya. "Emang bapaknya segininya, ya? Kok, pinter banget. Pintar jawabnya itu, loh." Shenna tersenyum tipis sembari menggeleng pelan, menanggapi sikap Adam tersebut. Dalam hati dia bertanya lagi, bagaimanakah anak itu saat dia dewasa nanti.

"Tadi di sekolah belajar apa aja?"

"Belajar matematika sama nyanyi, Bun. Bu guru sering ngajarin nyanyi. Suara ibu guru bagus, Bun."

"Wah, kalau begitu Adam juga harus bagus suaranya. Biar ibu gurunya bangga sama Adam."

Adam kembali mengangguk semangat dengan mata berbinar. Dan berkata, "Bun, nanti jalan-jalannya bawa es krim, ya? Kan, haus kalau jalan-jalan."

"Kalau es krim kita beli di jalan aja."

"Kenapa di jalan?" Adam menunduk menatap Shenna yang tengkurap di depannya, menemaninya mengerjakan tugas sekolah di atas ranjang di kamar Shenna.

"Nanti meleleh. Kan, sayang es krim nya dibuang kalau meleleh."

Adam mengangguk seraya mengeluarkan kata 'oo' namun tidak mengalihkan pandangan dari tugas bahasa indonesia yang sedang dia kerjakan saat ini. Matanya bisa berbagi fokus saat belajar. Indera pendengar dan penglihatannya bekerja sesuai dengan tugas masing-masing.

***

"Nggak mudah, Bro. Kalau aja semudah itu, tanpa kamu tagih udah aku kasih."

"...."

"Haish!" ringis Wira kesal. "Gini, kamu cari terus informasi dia, sambil kamu nunggu aku dapat KTP-nya."

"...."

"Iya-iya. Aku usahain secepatnya."

"...."

"Yoo, thanks."

Wira mengusap kasar wajahnya hingga sedikit memerah. Ingin sekali ia berteriak meluapkan kekesalannya. Gadis itu benar-benar mengganggu pikirannya. "Kenapa kamu pake acara datang ke sini, Shen?!" Wira menarik rambutnya hingga lebih berantakan dari sebelumnya.

"Bikin mumet kepala aku aja tau nggak!" Kakinya menendang kursi kecil Adam yang berada di dekat ranjang. "Coba kamu pergi sana!"

***

Adrian dan Niken baru selesai sarapan. Mereka sudah siap untuk bekerja. Pagi ini, mereka hanya sarapan berdua karena Wira masih tidur, sedangkan Adam dan Shenna sudah berangkat ke sekolah sejak lima menit yang lalu dengan menggunakan taksi.

"Mah, bangunin anaknya, gih."

"Papah yang bersihin meja makan, ya?"

"Oh, biar Papah yang bangunin Wira." Adrian lantas berlenggak menuju kamar Wira di lantai dua. Sebelum benar-benar pergi, ia sempatkan untuk berkedip pada sang istri, membuat Niken mendengkus sambil membuang muka.

Terkadang, Niken kesal juga pada suaminya yang sangat anti untuk membantunya di dapur. Bahkan, saat ia hamil tua dan sudah melahirkan pun, suaminya itu hanya mengandalkan asisten rumah tangga dan orangtua mereka.

Bicara tentang asisten rumah tangga, mbok Nah baru akan sampai sore nanti.

Di kamar Wira, Adrian duduk di kasur yang ternyata sudah rapi. Dari dalam kamar mandi, terdengar suara air dan kicauan sang anak yang sepertinya tengah berbahagia, karena itu bernyanyi seraya ia mandi.

Iseng, Adrian memeriksa ponsel Wira. Membuka aplikasi pesan, whatsapp, facebook dan sosial media lainnya. Ia membuang napas kasar setelah selesai memeriksa ponsel anak bungsunya. Raut berubah menjadi sinis karena tak mendapatkan satu pun chat anaknya dengan seorang perempuan yang akan menjadi menantunya. Ia ragu anaknya itu benar-benar serius ingin mencarikan ibu untuk cucunya.

Pintu kamar mandi terbuka. Sosok Wira dengan baju kaus lengan pendek berwarna hitam dan boxer hitam, sedang mengeringkan rambut dengan handuk sembari berjalan ke arah lemari pakaian. Ia masih belum menyadari keberadaan Adrian.

"Udah ketemu, Wir?"

Wira terperanjat karena terkejut akan suara papahnya yang tiba-tiba. Lalu dia protes, "Ngagetin aja, sih." Dia membuka lemari, mengambil pakaian kerja yang sudah disiapkan dan memakainya.

"Mana calon mantu Papah? Kok, sampai sekarang belum ada tanda-tandanya?" tanya Adrian ketus. Tidak hanya ketus, tetapi juga menuduh. Menuntut. Menyindir.

"Astaghfirullah, Pah. Sabar," Ekspresi wajah Wira sontak menjadi kesal. "Nggak Bayu, nggak Papah, kenapa nagih banget, sih? Aku yang lagi cari aja nggak sampai segitunya."

Setelah merapikan pakaian, ia menuju cermin. Memastikan penampilannya sudah rapi sembari menata rambut. Rambut dengan gaya overlay adalah kesukaan Wira. Simple but cool, katanya.

"Tau lah!" ketus Adrian pasrah lantas berdiri, hendak kembali ke bawah. "Terserah kamu. Dapat atau nggak. Cepat atau lambat, urus sendiri."

Wira menampilkan ekspresi bengong karena perkataan Adrian. Ini adalah kali pertama nya melihat papahnya mengomel.

"Diperhatiin malah sewot. Dicuekin, dibilang nggak perhatian." keluh Adrian, melangkah keluar kamar dengan lesu.

"Papah kenapa? Ngambek?"

***

Shenna. Gadis itu duduk seorang diri di kursi tunggu di sekolah Adam. Angin yang lewat membuat rambut hitam panjangnya melambai indah. Raut wajahnya terlihat murung. Arah pandangnya tidak fokus. Pikirannya memerintahkan agar tetap di sini atau di manapun, asal tidak di tempat itu.

"Mba?"

Suara seorang wanita menyadarkannya. Ia tampak gelagapan seraya bergeser, mempersilakan wanita di depannya itu duduk. Dalam pikirannya saat itu, si pemilik suara menyuruhnya bergeser karena si pemilik suara ingin duduk, karena itu ia dengan cepat menggeser tubuhnya.

"Mba yang waktu itu mau jemput Adam, tapi Adamnya sudah pulang sama ayahnya, kan?"

Shenna mengangguk. Wanita itu, Nika, tersenyum sembari mendudukkan diri di sebelah kiri Shenna.

"Mba nunggu Adam?"

Shenna mengangguk lagi.

"Adam pulangnya masih lama, Mba. Kasian Mba, menunggu lama nanti."

"Nggak apa. Lagi bosan di rumah."

"Begitu. Em, di belakang sekolah ada kantin. Mba ke sana aja biar nggak kepanasan."

Shenna mengucapkan terima kasih atas saran Nika tersebut, lalu guru muda itu berpamitan, hendak masuk ke dalam kelas. Namun di langkah ke dua ia berhenti dan kembali mendekati Shenna.

"Maaf, saya boleh tanya?"

"Boleh, tanya apa?"

"Em, apa bunda dari Adam bisa datang di acara pariwisata nanti?"

"Bunda Adam?"

Nika mengangguk.

"Oh, maaf," ucapnya lalu menjelaskan maksud Adam. "Maksud Adam, bundanya itu saya. Adam memang sering manggil saya bunda, padahal saya bukan bundanya."

Kalau boleh, Nika ingin sekali berteriak senang sekarang juga. Hatinya bertepuk tangan senang saat ini, mendengar pernyataan yang dilontarkan gadis di depannya. Sambil menahan senyum, Nika kembali bertanya, "Kalau Mba bukan bundanya, lalu Mba siapa? Tantenya Adam, kah?"

Gadis di depannya menggeleng, lalu berkata, "Saya cuma baby sitter nya Adam. Maaf kalau bikin Ibu salah paham."

"Oh, tidak apa. Kalau begitu saya permisi." Nika menuju kelas dengan senyum manis terukir di wajah ovalnya. Hatinya sungguh merasa senang. Ia merasa adanya harapan di depan sana yang menunggunya.

Harapan untuk bisa bersama Wira.

***

"Adam, kamu mau ke kantin?"

Adam menggeleng, lalu berkata, "Adam mau ketemu bunda."

"Oh, baby sitter nya Adam itu, ya?"

Adam mengangguk.

"Baby sitter Adam sekarang ada di kantin. Tadi Ibu menyuruh dia ke sana biar nggak kepanasan."

"Kalau gitu Adam ke kantin aja. Dah, Ibu!" Adam hendak berlari namun Nika kembali memanggil nya. Adam pun berhenti. Memberikan tatapan bertanya pada guru yang kini sudah berdiri di depannya.

"Biar Ibu antar, ya?"

Adam mengangguk.

***

"Bundaaa!" teriak Adam seraya melambai ke arah Shenna yang kini juga melambai ke arahnya.

Shenna berdiri lalu membungkuk menyambut Adam.

"Bunda, Adam mau mie."

"Nggak boleh mie. Nasi aja, ya?"

"Kenapa?" tanyanya lesu. Adam kini sudah duduk di kursi sebelah kanan Shenna.

"Nggak baik sering makan mie. Adam juga tadi malam sudah makan mie."

"Memangnya mie bikin sakit ya, Bun?"

"Kalau berlebihan, iya."

"Em, terserah Bunda aja, deh." Adam kembali menampilkan senyum menggemaskan yang selalu membuat si baby sitter-nya itu gemas bukan main.

Shenna berdiri dan menghampiri pemilik kantin yang duduk di kursi depan meja kasir, hendak membelikan makanan untuk Adam. Pilihannya jatuh pada soto. Saat sudah selesai memesan dan membayar, dia pun kembali ke meja di mana Adam menunggu nya. Ia ingin menyuapi Adam namun Adam menghentikan nya dengan mengatakan jika ia ingin makan sendiri. Perasaan bangga kembali Shenna rasakan saat Adam mengatakan itu. Layaknya seorang ibu yang bangga mendapati anaknya yang ingin belajar mandiri.

"Makan yang banyak, ya," Ia tersenyum sembari memerhatikan Adam memakan soto. Sembari itu, dalam hati ia lanjut berkata, "Adam, maafin Tante kalau tiba-tiba Tante harus pergi. Tante juga sedih harus pisah tapi Tante nggak bisa terus-terusan sama Adam."

***

"Mba?" panggil Nika pada Shenna yang sudah siap untuk pulang bersama Adam.

Shenna dan Adam berhenti lalu berbalik, dan bertanya, "Ya, ada apa?"

"Tadi Pak Wira telepon, katanya kalian tunggu sampai dia datang."

"Huh? Maksudnya, kak Wira mau jemput?"

Nika mengangguk.

"Oke. Terima kasih, Bu."

Setelah itu, Nika pergi. Menyisakan Shenna dan Adam duduk di kursi tunggu menunggu Wira menjemput mereka. Seperti biasa, Adam bergelayut manja. Duduk di pangkuan dan sesekali ia berdiri dan mencium pipi Shenna.

Sisi lain, Nika yang melihat itu pun merasakan ketidaksukaan. Tangan rampingnya mengepal dan bibir berisinya mengerucut menahan kesal yang kini menyerang.

"Bunda, ayah mau ajak jalan-jalan?" Adam mendongak, melihat Shenna yang menunduk untuk melihatnya.

"Nggak," jawabnya. "Ayah kan, lagi sibuk. Nanti kalau ayah sudah nggak sibuk, Adam pasti diajak jalan sama ayah."

"Tapi ayah lama. Ayah kerja terus."

"Wajar. Ayah kerja buat bantu kakek, dan biar ayah punya uang buat beli keperluan Adam."

Adam cemberut.

"Jangan begitu, Sayang. Nanti ayah sedih. Seharusnya kalau ayah pulang kerja, Adam hibur ayah. Kasih senyum manis punya Adam biar ayahnya semangat liat Adam senyum. Biar ayah senang dan capeknya berkurang."

Adam mengganti posisi duduknya dan kini ia duduk dengan menghadap Shenna. Keduanya saling memeluk satu sama lain. "Adam harus senyum terus sama ayah? Nggak boleh marah?"

Shenna tertawa kecil.

"Nggak boleh marah sama orangtua. Orangtua udah capek banget kerja buat anak, jangan sampai kita bikin mereka sedih. Apa yang orang tua larang itu demi kebaikan kita. Orang tua pasti mau jalan-jalan sama anak-anak mereka, tapi mereka juga nggak bisa memaksakan keadaan kalau pekerjaan mereka masih banyak.

Pokoknya, Adam harus sabar. Bantu dan hibur ayah saat ayah pulang kerja. Ayah pasti capek banget kerja seharian."

"Oke-oke," ujar Adam sembari mengangguk. Membuat gadis di depannya terkekeh geli. "Tapi nanti ayah ajak Adam jalan, kan?"

"Iya. Pasti."

Tit!

Suara klakson mobil mengalihkan Shenna. Mobil Wira berhenti di dekat mereka. Shenna bangkit. Sebelum benar-benar berdiri, ia membenarkan posisi Adam hingga kini Adam dalam gendongannya. Saat Shenna hendak membuka pintu belakang, Wira memberitahukan agar mereka duduk di depan. Ia pun akhirnya duduk di kursi sebelah kursi kemudi. Seperti biasa, Adam duduk di pangkuannya.

"Gimana di sekolah?" tanya Wira seraya ia melirik sekilas pada sang anak lalu kembali fokus menyetir.

"Baik, Yah," jawabnya. "Yah? Makan es krim dulu, yuk. Adam maaauuu!"

"Boleh."

Adam bersorak sembari bertepuk tangan senang, mendengar jawaban Wira. Sudah lama juga ia tidak makan es krim, membuatnya merindukan betapa nikmatnya lelehan es krim yang mengenai lidahnya.

Mereka menuju toko es krim yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Setibanya di toko es krim, Wira masuk ke dalam toko memesankan es krim untuk Adam dan Shenna. Shenna dan Adam memilih duduk dan menunggu di parkiran.

"Adam?"

Suara perempuan terdengar, mengalihkan perhatian Adam dan Shenna. Dilihat oleh mereka, seorang perempuan berambut panjang berwarna coklat dan bergelombang berdiri di depan mereka. Perempuan itu tersenyum manis ke arah keduanya. Pada Adam, tepatnya.

"Adam sama siapa ke sini?"

"Ayah sama bunda." jawab Adam sembari matanya menatap perempuan itu, meneliti. Adam menanam dalam, pesan dari orang tuanya untuk tidak bicara dan berhati-hati pada orang asing.

Mendengar jawaban Adam, perempukan itu pun beralih pada Shenna. Tatapannya sinis, senyum remeh dia tujukan pada gadis di depannya.

"Ayahnya mana?" tanyanya lagi pada Adam.

"Di dalam beli es krim." Perempuan itu lantas menoleh ke arah toko es krim; dan kembali pada Adam dan Shenna.

"Kamu... Istri Wira?" tanyanya dengan mata yang naik turun memerhatikan penampilan gadis di depannya.

Shenna menggeleng cepat lalu berkata, "Bukan. Aku baby sitter Adam."

"Ooo, jadi kamu cuma PEMBANTU?!" ujar perempuan itu penuh penekanan dan nadanya cukup tinggi pada kata terakhirnya. "Hm, Wira sangat pintar mencari pembantu."

"Bukan kak Wira tapi tante yang bawa aku ke sana." jelas Shenna. Dan penjelasannya membuat perempuan itu melotot tak percaya. Bukan karena ia dibawa oleh Niken, melainkan karena panggilan Shenna pada orang tua Wira dan Wira sendiri.

"Kak Wira? Tante?" ucapnya mengulang. "Lancang kamu!"

Adam dan Shenna terkejut.

"NGACA! PEMBANTU kok, manggil majikan kakak dan tante?! Punya kaca nggak, sih?!" Sorot mata perempuan itu tajam dan menuntut.

"Maaf tapi nggak baik bicara kasar di depan anak-anak."

"BUKAN URUSAN KAMU! DIA ANAKKU, TERSERAH AKU MAU NGOMONG GIMANA! SEHARUSNYA KAMU YANG ORANG LAIN ITU YANG SADAR DIRI!"

"ANGEL!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel