4. Alpha Yang Makan Sendiri
Jam tiga pagi.
Aku tidak bisa tidur. Sudah tiga malam sejak aku masuk ke istana ini, tetapi mataku masih terbuka lebar setiap kali cahaya obor di koridor padam.
Sangkar emas ini terasa begitu pengap. Dindingnya terlalu tinggi, langit-langitnya terlalu jauh, dan keheningannya terlalu keras sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Jadi, aku menyelinap keluar.
Memang dilarang. Namun, kalau ketahuan, paling-paling aku hanya akan dimarahi atau dipecat. Dan dipecat rasanya jauh lebih baik daripada mati bosan di kamar itu.
Aku berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara. Aku sudah menghafal jalan menuju dapur karena semalam mendengar para pelayan melewatinya.
Aku hanya ingin mencari air. Tenggorokanku kering setelah seharian berpura-pura menjadi gadis ketakutan. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur yang terbuka setengah, langkahku terhenti.
Dia ada di sana. Alpha Rowan Blackwood.
Dia duduk sendirian di ujung meja panjang yang biasanya digunakan untuk makan tiga puluh orang.
Jas hitam mahalnya telah dilepas dan digantung di sandaran kursi. Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan kulit pucat di baliknya. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, beberapa helainya jatuh ke dahi.
Di depannya terdapat semangkuk sup yang masih mengepul, tetapi tidak disentuh. Sebotol wine sudah tinggal setengah. Hanya satu lilin yang menyala di atas meja, cahayanya bergoyang-goyang diterpa angin dari jendela.
Rowan sedang menatap ke luar. Salju turun tanpa henti di balik jendela besar itu. Wajahnya tidak terlihat dingin. Tidak kejam. Tidak seperti Alpha yang sepuluh tahun lalu membakar pack-ku.
Malam ini, wajahnya justru terlihat lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan garis-garis kelelahan yang samar di sudut mulutnya.
Aku mengira dia tidak menyadari kehadiranku karena aku bahkan menahan napas. Ternyata aku salah.
"Keluar."
Suaranya terdengar pelan tanpa sedikit pun menoleh. Serak, seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak tidur.
Sial. Ketahuan. Aku segera mundur satu langkah dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Maaf, Tuan. Aku haus."
"Ambil."
Tangannya menunjuk ke kendi air di atas meja tanpa menoleh kepadaku.
"Lalu duduk."
Jantungku serasa copot.
"Duduk, Tuan?"
"Iya. Duduk."
Kali ini dia menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti tawa kecil yang sinis, tetapi terdengar terlalu lelah untuk benar-benar mengejek.
"Aku tidak menggigit." Dia berhenti sejenak. "Setidaknya... tidak malam ini."
Aku menelan saliva. Kemudian berjalan mendekati meja dan duduk di ujung yang paling jauh darinya.
Jarak kami sekitar lima kursi.
Tanganku sedikit gemetar ketika menuangkan air ke dalam gelas kayu. Airnya tumpah sedikit dan membasahi permukaan meja. Aku segera mengusapnya dengan lengan baju.
Rowan diam. Bahkan diamnya Terlalu lama. Keheningan itu membuatku ingin segera berdiri dan kembali ke kamar.
Namun, tiba-tiba dia mendorong mangkuk sup yang ada di depannya ke arahku dengan satu jari.
"Makan."
Aku menatap mangkuk itu.
"Kamu kurus."
Aku mengangkat wajah. "Ini punya Tuan. Aku tidak lapar."
Dia menyandarkan punggung ke kursi dan memejamkan mata sebentar.
Aku ragu. Namun, akhirnya aku mengambil sendok dan mulai makan. Pelan-pelan. Sup itu hangat. Rasanya sederhana, tetapi enak. Asinnya pas, dengan potongan daging dan wortel yang lembut.
Aku tidak menyadari betapa laparnya diriku sampai sendok pertama menyentuh lidahku. Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak terakhir kali aku menikmati makanan hangat seperti ini. Selama ini, aku hanya mengenal roti keras dan air dingin. Aku menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan perubahan ekspresiku.
"Kenapa jam segini belum tidur?" Pertanyaan Rowan tiba-tiba membuatku hampir tersedak.
Aku segera menelan makanan. "Tidak bisa tidur, Tuan."
"Karena takut?"
Aku terdiam sesaat. "Karena... masih baru." Suaraku sengaja kubuat pelan.
Rowan hanya mengangguk kecil. Kemudian dia mengangkat botol wine dan meneguknya langsung dari sana.
"Aku juga tidak bisa tidur." Suaranya terdengar lebih rendah. "Sudah sepuluh tahun."
Tanganku berhenti. Sepuluh tahun. Angka yang sama. Angka yang menusuk tepat ke luka yang selama ini berusaha kusembunyikan. Tanpa sadar, pertanyaan itu keluar dari bibirku sebelum sempat dicegah oleh pikiranku.
"Kenapa, Tuan?"
Rowan terdiam. Matanya yang emas terbuka dan langsung menatapku. Tatapan itu tajam bahkan terlalu tajam. Seolah-olah dia ingin melihat menembus kulitku hingga ke tulang.
"Karena ada malam yang tidak bisa kulupakan."
Darahku mendadak terasa dingin. Bulu kudukku berdiri. Apa dia ingat? Apa dia tahu? Apa dia mencium kebohongan yang selama ini melekat pada tubuhku? Aku menahan napas.
Namun, Rowan hanya menggeleng pelan, seolah sedang mengusir sesuatu dari pikirannya. Kemudian dia berdiri. Kursinya berderit di atas lantai batu. Tubuh tingginya menutupi cahaya lilin di belakangnya.
"Setelah selesai makan, cuci piringmu. Lalu kembali ke kamar."
Dia mengambil jas hitamnya dari sandaran kursi.
"Besok kamu mulai bekerja di dapur pukul lima. Martha yang akan mengajarimu."
Aku mengangguk. "Baik, Tuan."
Rowan berjalan pergi. Langkahnya terdengar berat di atas lantai batu.
Aku menatap punggungnya. Lebar. Tegap. Kaku. Namun, entah mengapa, malam ini punggung itu terlihat begitu kesepian. Cara dia berjalan seperti seseorang yang sedang membawa beban terlalu berat untuk dipikul seorang diri.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Rasa bersalah. Bukan karena aku telah berbohong kepadanya. Bukan pula karena aku berencana membunuhnya. Melainkan karena orang yang ingin kuhancurkan ternyata juga tidak bisa tidur selama sepuluh tahun. Sama sepertiku.
Aku menatap sup di dalam mangkuk. Uapnya masih mengepul perlahan. Tanganku yang menggenggam sendok bergetar.
Nenek...
Ini tidak sesuai rencana. Katanya dia monster. Katanya dia tidak punya hati. Lalu kenapa dia memberiku makan? Kenapa dia membiarkanku tinggal di kamar yang hangat? Dan kenapa dia menyuruhku bekerja di dapur, bukan menempatkanku di tempat lain yang mungkin jauh lebih kejam?
Aku menghabiskan sup itu sampai tetes terakhir. Entah mengapa, membuangnya terasa seperti menghina kebaikan yang baru saja dia berikan kepadaku. Dan aku membenci diriku sendiri karena merasa hangat setelah menerimanya.
Setelah selesai makan, aku membawa mangkuk dan gelas ke tempat pencucian. Namun, ketika sedang mencuci piring, tanganku tiba-tiba berhenti. Dari jendela, aku melihat pantulan diriku. Dan di belakang pantulan itu...
Ada bayangan Rowan. Dia masih berdiri di ujung koridor. Dia belum pergi. Punggungnya menghadap ke arahku. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana.
Tiga detik. Mungkin lebih. Lalu, tanpa menoleh, dia kembali melangkah. Bayangannya perlahan menghilang ke dalam kegelapan.
Aku berdiri diam. Tidak tahu kenapa pemandangan sederhana itu terasa begitu mengganggu pikiranku.
Aku kembali ke kamar dengan perut kenyang, tetapi dada justru terasa semakin sesak. Malam itu aku akhirnya tertidur. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak bermimpi tentang darah. Aku juga tidak bermimpi tentang api.
Aku hanya bermimpi duduk di sebuah meja makan bersama seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang tidak menatapku dengan kebencian.
Aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun... Aku merasa aman.
Ketika terbangun, pipiku sudah basah. Aku menyentuhnya dengan ujung jari. Air mata. Aku tidak tahu mengapa aku menangis.
Dan yang lebih menakutkan... Aku tidak tahu air mata itu milik Lyra yang masih terluka, atau milik Elara yang mulai mengenal sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia rasakan.
