Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Bisik-bisik Di Dapur

Jam 5 pagi. Tanganku sudah lecet kena air es, kulitnya merah dan perih setiap kali kena sabun.

Aku kupas kentang sambil menunduk karena takut ketemu tatapan siapa-siapa, dan takut ada yang bisa membaca rasa bersalah di mataku.

Hangatnya sup semalam masih terasa di lidahku dan tatapan mata emasnya juga masih terasa menusuk di kepala sampai aku tidak bisa tidur lagi.

"Alpha yang makan sendiri", gumamku pelan, aku menggeleng menolak, "Tidak ,,, tidak ,,, jangan memikir dia".

"Baru ya".

Suara perempuan parau bikin aku kaget sampai pisau hampir jatuh.

Di sebelahku ada pelayan tua. Rambutnya diikat ketat dengan kain lusuh, tangannya gesit memotong daging dengan satu tangan. Walau punggungnya bungkuk tapi sorot matanya sangat tajam.

Namanya Martha, katanya sudah 15 tahun bekerja di sini, sejak istana ini masih penuh tawa.

"Iya, Bu," jawabku pelan, kepalaku masih menunduk.

Martha mengelap tangannya di celemek sambil memperhatikan aku dari atas sampai bawah seperti sedang menilai.

"Namanya siapa?"

"Elara Black, Bu".

Martha mendengus, "Elara Black, nama yang bagus untuk orang yang tidak punya siapa-siapa".

Tanganku berhenti mengupas, "Maksudnya Bu?"

Martha mendekat sampai tercium bau bawang dan sabun. Suaranya diturunkan jadi bisik-bisik, "hati-hati nak, di rumah ini dindingnya punya telinga dan Alphanya punya hati yang sudah mati 10 tahun lalu".

Darahku berdesir seakan semuanya turun ke kaki sampai pisau di tanganku bergetar. "10 tahun lalu", ulangku dengan suara serak.

Martha mengangguk sambil mengiris bawang, air matanya keluar tapi bukan karena bawang.

"Iya, sejak malam bulan darah itu, sejak upacara pengikatan gagal, sejak Lunanya lari meninggalkan dia di depan altar dengan gaun putih dan mahkota yang dia pesan khusus dari kota".

Altar, gaun putih, mahkota. Itu aku, itu malam yang seharusnya jadi hari aku jadi Luna Rowan. Tanganku mengepal sampai kuku menancap.

"Katanya sih Luna itu pengecut" lanjut Martha sampai pisaunya menghantam talenan, "nikah cuma buat kekuasaan pack Voss, terus kabur disaat malamnya membawa rahasia pack. Kasihan Alpha kita, 10 tahun dia bangun istana ini sendirian, dan selama 10 tahun juga dia tidak pernah tersenyum lagi".

Mangkok di tanganku hampir jatuh, air dinginnya sampai mengenai kakiku. Jadi di mata semua orang dia korban, jadi selama ini dia yang ditinggal dan

selama ini dia yang mengira aku pengkhianat.

"Bu Martha" panggil pelayan lain dari ujung dapur, "jangan menakut-nakuti anak baru".

Martha cuma tertawa kecil, "aku tidak menakut-nakuti, aku cuma bilang fakta. Kamu yang baru, jaga diri baik-baik ya Elara".

Setelah itu, pelayan itu pergi meninggalkan aku dengan kepala yang berdengung dan dada yang sesak. Setiap kata yang keluar dari mulut Martha seperti palu yang memukul rencanaku.

Pintu dapur terbuka dengan suara yang mengagetkan semua orang. Langkah berat, bau cedar, bau salju, dan bau wine yang masih tersisa.

Rowan masuk masih memakai kemeja yang sama seperti jam 3 pagi tadi, dagunya belum dicukur dan ada bayangan hitam di bawah matanya.

Semua pelayan langsung menunduk, tidak ada suara selain suara pisau dan api.

"Kerja" katanya pendek, suaranya serak.

Tapi saat lewat di belakangku, dia berhenti sedetik. Jaraknya sangat dekat sampai aku bisa merasakan hangat dari tubuhnya. Lalu dia membungkuk sedikit, berbisik di telingaku pelan banget sampai hanya aku yang bisa mendengar bahkan nafasnya mengenai kulit leherku.

"Tanganmu gemetar".

Aku tidak berani menoleh, tidak berani bernapas, karena kalau aku menoleh dia akan melihat di mataku ada rasa bersalah yang sudah 10 tahun aku kubur. Yang aku rasakan jantungku berdetak seperti mau copot.

Lalu setelah Rowan berbisik, dia melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban.

Martha yang dari tadi memperhatikan langsung tersenyum sambil mengiris bawang. Senyum yang aneh, senyum yang seolah tahu sesuatu.

"Katanya tidak pernah memperhatikan pelayan", bisik Martha pelan ke aku, "tapi dia melihat tanganmu gemetar, menarik ya".

Aku tidak menjawab, aku pura-pura sibuk mencuci sayur. Tapi di dalam kepalaku kacau karena Rowan memperhatikan aku. Rowan ingat detail kecil yang katanya sudah mati rasa.

Siang harinya, aku disuruh mengantar makanan ke ruang kerja Rowan. Nampan di tanganku berat, tapi bukan karena makanannya, berat karena kakiku gemetar.

Aku ketuk pintu tiga kali. Tok ,,, tok ,,, tok ,,,

"Masuk".

Di dalam ruangan gelap, hanya ada meja besar, tumpukan berkas, dan perapian. Rowan duduk, kemejanya sudah diganti, tapi matanya masih merah.

"Letakkan di sana".

Aku meletakkan nampan di meja, tanganku sangat hati-hati biar tidak berisik. Ketika aku mau mundur, mataku tidak sengaja melihat ke arah dinding.

Di sana ada lukisan, lukisan seorang wanita dengan gaun putih dan mahkota bunga, wajahnya ditutup dengan goresan tinta hitam sampai tidak kelihatan.

Tapi bentuk tubuhnya, tinggi badannya, itu aku 10 tahun lalu.

Nafasku tercekat. Dadaku sesak.

"Keluar" suara Rowan tiba-tiba membuatku tersentak.

Aku langsung lari keluar tanpa membungkuk.

Di luar aku bersandar di dinding, tanganku menutup mulut. Dia masih menyimpan lukisan itu, dia masih menyimpan luka itu.

Malamnya Martha mendekatiku lagi saat kami sedang mencuci piring. "Nak" katanya pelan, "kamu mirip seseorang".

Jantungku seakan berhenti, "Mirip siapa Bu?" tanyaku.

"Mirip Luna yang dulu", Martha mengusap piring dengan kuat, "tapi tidak mungkin, Luna itu sudah mati, katanya tenggelam di sungai sewaktu sedang melarikan diri."

Martha menatapku tajam, matanya seolah sedang menyelidik. "Aku cuma becanda" katanya lalu tertawa, "kamu jangan takut ya".

Tapi aku tahu, dia tidak becanda. Martha tahu sesuatu, atau dia sedang memancing.

Malamnya aku kembali tidak bisa tidur. Di jam 2 pagi

aku ke dapur lagi untuk minum. Dan di sana ada Rowan sedang duduk di tempat yang sama, dengan botol wine yang sama.

Dia menoleh melihat aku, tapi tidak kaget, seperti sudah menunggu.

"Kamu lagi" katanya.

"Aku haus, Tuan".

"Duduk".

Kali ini aku duduk lebih dekat, hanya berjarak 2 kursi.

Dia mendorong roti ke arahku, "Makan, biar tidak pingsan saat sedang kerja".

"Terima kasih, Tuan".

Kami diam lama, hanya ada suara api di perapian.

"Kenapa kamu lari ke pelelangan" tanyanya tiba-tiba.

Aku kaget, "Aku ,,, aku tidak punya pilihan, Tuan".

"Semua orang punya pilihan", dia meneguk wine, "kecuali orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk kehilangan".

Kalimat itu menamparku karena dia benar. 10 tahun lalu aku juga tidak punya pilihan selain lari.

"10 tahun", kataku tanpa sadar.

Dia menoleh, "Apa?"

"Tidak, tidak apa-apa Tuan", aku cepat-cepat menunduk.

Rowan diam, lalu dia berdiri. Sebelum pergi dia berhenti di belakang kursiku. Tangannya hampir menyentuh bahuku tapi berhenti di udara, lalu dia mengepalkan tangannya dan pergi.

Aku duduk di sana lama setelah dia pergi. Martha benar, hatinya sudah mati 10 tahun lalu. Tapi kenapa cara dia mendorong roti ke aku, dan cara dia berbisik "tanganmu gemetar", serta cara dia hampir menyentuhku, itu tidak seperti orang yang hatinya mati.

Aku kembali ke kamar dengan kepala yang sakit.

Di dalam laci aku sembunyikan pisau kecilku. Malam ini aku malah memegang kalung kayu Nenek Selma dan berbisik, "Nenek, rencananya mulai retak".

Besok aku harus lebih hati-hati karena Martha curiga dan karena Rowan mulai memperhatikan. Tapi yang paling berbahaya dari semua itu adalah aku mulai kasihan pada orang yang seharusnya aku bunuh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel