Pustaka
Bahasa Indonesia

BOUND IN BLOOD

22.0K · Ongoing
lyns_marlyn
30
Bab
99
View
9.0
Rating

Ringkasan

10 tahun lalu, Alpha Rowan Blackwood membantai seluruh pack milik Lyra Voss. Dia satu-satunya yg selamat. Sekarang dia kembali dengan wajah baru, nama baru, dan satu tujuan yaitu balas dendam. Caranya? Menjadi "mate terpilih" Alpha Rowan. Memasuki istananya, dan menjadi Luna nya untuk menghancurkan hidupnya dari dalam. Rencananya sempurna sampai Rowan memperlakukannya seperti ratu, sampai sentuhannya terasa nyata, dan sampai hati Lyra yang sedingin es mulai retak. Dia datang untuk berbohong, dan dia datang untuk membunuh. Tapi bagaimana jika monster yang dia buru adalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya? Dan bagaimana jika saat kebenaran terbongkar, orang yang paling tersakiti adalah dirinya sendiri?

FantasipetarungSalah PahamMusuh Jadi CintaBalas DendamKekuatan SuperMenyedihkan

1. Malam Darah Dan Salju

Salju turun malam itu sangat putih dan lembut bagai kapas, namun yang terlihat oleh mata hanyalah sebuah kebohongan karena dibawahnya ada darah, banyak banget darah yang meresap ke tanah dan membuat putihnya jadi merah

Waktu itu aku masih umur 11 tahun. Tanganku masih kecil, masih suka menggenggam tangan Mama saat jalan ke pasar, dan masih suka mengambil kue diam-diam di dapur, tapi malam itu tanganku hanya bisa menggenggam gaun Mama yang sudah basah, basah oleh darahnya dia yang terus mengalir dan menghangatkan tanganku yang sedari tadi membeku.

"Lyra, lari ,,, jangan melihat ke belakang" itu bisik terakhir Mama, suaranya gemetar dengan napasnya yang putus-putus dan dadanya naik turun seperti orang tenggelam, matanya melihat aku seakan minta maaf karena tidak bisa melindungi aku lagi, seakan dia menyesal karena melahirkan aku ke dunia serigala yang kejam ini.

Tak lama kemudian, pintu kayu rumah kami didobrak dari luar dengan suara yang memekakkan telinga, engselnya sampai lepas dan kayunya pecah jadi serpihan.

Mereka masuk, serigala-serigala hitam dengan mata merah menyala seperti bara, bulu mereka basah kuyup kena salju tapi yang menetes dari dagu mereka bukan air. Bau darah sudah tercium dari bulu mereka sebelum mereka mulai membunuh, bau besi dan kematian yang sampai sekarang masih aku ingat kalau aku mimpi.

Aku sembunyi dibalik lemari kayu tua di pojok kamar. Badanku mengecil sebisa mungkin, badanku gemetaran tapi yang paling gemetaran itu di hatiku oleh rasa takut yang melingkupi diriku sampai rasanya aku bisa muntah kapan saja.

Dari celah lemari aku bisa melihat semuanya.

Aku mendengar Papa teriak, suaranya parau dan marah, "Rowan, kita bersahabat, kenapa kau melakukan ini?! Kita tumbuh bareng, kita berburu bareng, anak-anak kita main bareng!"

Ada suara ketawa rendah, tapi kejam. Suara yang berat dan datar seperti orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan. Suara yang sampai sekarang masih aku dengar setiap aku menutup mata dan setiap kali angin malam berhembus lewat jendela.

"Karena Alpha yang lemah tidak pantas hidup, Voss"

Tak lama kemudian cakar mencabik udara. Ada suara daging disobek, serta lengkingan jerit kesakitan. Papa yang dulu selalu menggendongku dan meninabobokan aku, dan tangis anak-anak dari rumah sebelah yang ikut dibantai malam itu.

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan sampai bibirku biru, takut kalau aku bersuara, takut kalau napasku kedengaran, takut kalau jantungku yang berdetak kencang ini mengkhianatiku.

Dan ditengah semua kekacauan itu, ditengah api obor dan teriakan, aku melihat dia.

Tubuhnya tinggi tegap, lebih tinggi dari semua orang di pack kami, jas hitamnya basah kuyup, rambutnya hitam panjang basah oleh salju dan darah yang menetes dari ujungnya, matanya berwarna emas tapi kosong seperti tidak ada jiwa di dalamnya, seperti danau beku yang tidak memantulkan apa-apa.

Dialah, Alpha Rowan Blackwood, anak dari sahabat terbaik Papa.

Dia berjalan pelan melewati mayat-mayat seperti lagi berjalan di taman saat musim gugur. Dia menginjak genangan darah tanpa peduli, dan dia menendang tubuh yang masih bergerak tanpa ekspresi.

Lalu dia berhenti tepat di depan lemari tempat aku sembunyi, jaraknya cuma satu jengkal. Aku bisa melihat ujung sepatu botnya yang penuh lumpur dan darah.

Jantungku seakan berhenti, napas ku tahan sampai paru-paruku sakit, dia bisa mencium bau ku karena serigala bisa mencium bau takut dan aku sekarang baunya pasti sangat menyengat sekali.

Tapi dia hanya menunduk sedetik, kepalanya miring sedikit seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, matanya yang emas itu menatap pintu lemari lalu dia jalan lagi, mungkin dia kira aku sudah mati di balik itu atau mungkin dia memang tidak peduli, mungkin membunuh anak kecil bukan hal yang penting buatnya malam itu.

"Mundur" katanya ke anak buahnya, suaranya datar tanpa emosi, "bakar semuanya!"

Tak lama kemudian api berkobar, lidah api menjilat dinding rumah, membakar foto keluarga di ruang tamu, membakar selimut yang Mama jahit untukku, membakar pack ku, rumahku, dan masa kecilku dalam hanya dalam satu malam.

Panasnya membakarku tapi aku tetap diam sampai semuanya sepi, sampai cuma ada suara kayu yang terbakar dan lolongan serigala yang menjauh.

Aku lari keluar lewat jendela belakang disaat semua orang sibuk, kakiku telanjang di salju, dinginnya menusuk sampai ke tulang tapi aku tidak merasakan apa-apa karena yang lebih sakit ada di dalam hatiku. Darah di pipiku, tapi bukan darahku, itu darah Mama saat dia memelukku untuk terakhir kalinya.

Aku lari sejauh yang aku bisa, melewati hutan, melewati sungai beku, sampai akhirnya aku pingsan di bawah pohon pinus dalam kedinginan dan sekarat, bibirku sudah ungu dan kesadaranku sudah putus-putus.

Tak lama aku merasakan ada tangan tua yang menggendong aku. Tangannya kasar tapi hangat, "Nak, bertahan" bisiknya dengan suara serak, "Nenek Selma ada di sini, jangan tidur dulu ya".

3 hari 3 malam Nenek Selma menggendong aku melewati salju setinggi lutut, sembunyi di gua yang pengap dan makan akar pahit biar kami tidak mati kelaparan. Dia juga yang menutup lukaku dengan kain dari bajunya sendiri dan yang menyuapiku salju biar aku tidak dehidrasi.

Dia satu-satunya keluarga yang selamat juga. Dia adiknya Mama yang mengganti namaku di tengah malam sambil menangis, dan dia juga yang menghapus namaku dari dunia dengan tangannya sendiri.

"Mulai sekarang kamu Elara Black" katanya sambil mengusap rambutku yang penuh jelaga, "Nak, lupakan Lyra Voss, dia sudah mati malam ini bersama orang tuamu, kalau kamu masih memakai nama itu, kamu akan mati juga".

5 tahun kemudian Nenek Selma mati, badannya udah tua dan sakit-sakitan karena hidup di pengungsian. Sebelum tutup mata, dia pegang tanganku erat dan bilang dengan napas terakhirnya, "Balas dendam boleh, tapi jangan sampai kamu jadi mereka, ya. Jangan sampai darah di tanganmu bikin kamu lupa jadi manusia".

Aku kubur dia di bawah pohon yang sama tempat dia menemukan aku. Setelah itu aku hidup sendirian. Demi menyambung hidup, aku kerja jadi pelayan di kota, bertarung di arena bawah tanah biar dapat uang, belajar cara memakai pisau dan cara memanipulasi orang. Aku mengumpulkan uang receh demi receh, dan mengumpulkan kebencian di dalam dada sampai dadaku sesak.

Dan sekarang, 10 tahun setelah malam itu, setelah salju yang sama turun lagi, namaku Elara Black, wajahku sudah berbeda, suaraku juga sudah berbeda, dan hatiku sudah berubah jadi batu.

Dan aku akan bertemu kamu lagi, Alpha Rowan Blackwood.

Kali ini, aku yang akan memburumu!