Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Sangkar Emas

Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju, pintunya dibuka dengan kasar dan dinginnya menusuk sampai ke tulang, menusuk ke paru-paru sampai napasku sakit.

Istana Blackwood, bangunan yang sangat besar namun gelap pekat karena terbuat dari batu hitam yang sudah kena hujan dan darah selama puluhan tahun, jendelanya tinggi tapi tidak ada cahaya, menara-menaranya runcing ke langit seperti taring. Istana ini lebih mirip kuburan raksasa daripada rumah.

10 tahun lalu tempat ini juga yang membakar pack ku. Aku masih ingat asapnya naik dari bukit ini dan membakar langit malam jadi merah.

Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran, bukan karena takut pada dinginnya, tapi karena aku menahan marah, marah yang sudah 10 tahun aku simpan dan sekarang ada di depan mata.

"Jalan" bentak salah satu anak buah Rowan, suaranya kasar dan tangannya mendorong punggungku.

Aku mengikuti saja dengan kepala menunduk dalam-dalam, bahu merosot, bibir bergetar, akting gadis ketakutan nomor satu yang sudah aku latih di depan cermin retak selama berbulan-bulan.

Di dalam istana terasa lebih dingin, tapi dinginnya berbeda dengan yang di luar, ini dingin yang datang dari dindingnya, dingin yang datang dari orang-orangnya.

Lantainya marmer hitam mengkilap dan memantulkan wajahku yang pucat, lampunya redup cuma dari obor yang bergoyang. Pelayan-pelayan semuanya berjalan tanpa suara sambil menunduk, tidak ada yang berani melihat mata, tidak ada yang berani tertawa, dan tidak ada yang berani hidup.

Aroma istana ini bau besi, bau lilin tua, dan bau kesepian yang sudah mengendap terlalu lama.

Rowan jalan di depan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, punggungnya lurus, langkahnya tidak cepat tidak lambat, seperti raja yang sudah yakin semua orang akan mengikuti. Sampai kita berhenti di depan pintu kayu besar yang diukir dengan lambang serigala dan bulan.

"Kamarmu" katanya, akhirnya dia menoleh padaku.

Matanya menyapu tubuhku dari atas sampai ke bawah, lambat, seperti sedang menimbang barang, seperti sedang mencari cacat.

"Kamu akan jadi apa?" tanyanya tiba-tiba, suaranya datar tapi ada sesuatu di dalamnya yang bikin tengkukku meremang.

Aku kaget, jantungku serasa mau copot, "Maksudnya, Tuan?"

"Kamu teriak butuh perlindungan waktu di pelelangan. Teriak minta dibeli, terus sekarang diam seribu bahasa".

Dia melangkah maju satu langkah, jarak kami jadi dekat, aku bisa mencium bau wine semalam dari napasnya, "terus sekarang kamu diam, jadi kamu butuh apa sebenarnya, uang, atau rumah, atau ada hal lain yang kamu mau dariku?"

Nafasku ketahan di dada, jantungku menderu cepat sampai aku takut dia bisa mendengarnya. Dia mulai curiga, dia terlalu pintar untuk seorang Alpha yang katanya mati rasa.

Aku menunduk lebih dalam lagi, bahuku bergetar, aku cubit pahaku biar air mata keluar. "Aku ,,, aku hanya takut sendirian, Tuan" bisikku dengan suara serapuh mungkin, "aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, tidak punya pack, tidak punya rumah. Kalau bukan karena Tuan, aku pasti mati di jalan".

Sesaat dia diam lama. Matanya yang emas itu menelusuri wajahku, mencari kebohongan, mencari celah. Lalu kemudian, dia mengeluarkan kunci besi besar dari sakunya dan memasukkannya ke pintu.

"Ini kamarmu" katanya sambil mendorong pintu, "ada makanan di meja, ada pakaian di lemari, ada perapian biar kamu tidak mati kedinginan".

Dia berhenti, lalu menatapku lagi, "jangan keluar tanpa izin, dan jangan bicara ke siapa-siapa kalau bukan aku yang minta, mengerti?"

"Mengerti, Tuan" jawabku cepat.

Setelah itu dia pergi, langkahnya menjauh di koridor marmer yang bergema. Tapi baru beberapa langkah dia berhenti, punggungnya masih menghadap aku, lalu dia menoleh lagi setengah badan.

"Kalung itu" jarinya menunjuk tepat ke kalung kayu di leherku yang sudah kusam dan retak, "dari siapa?"

Darahku seakan berhenti mengalir, di telingaku berdengung, kalung Nenek Selma, satu-satunya bukti kalau Lyra Voss pernah ada, satu-satunya bukti kalau aku bukan Elara Black.

"Pen,,, peninggalan ibu saya, Tuan" jawabku cepat, suaraku bergetar beneran kali ini, "beliau yang kasih sebelum beliau meninggal".

Dia tidak menjawab, dia cuma menatap mataku lama banget, sangat lama sampai aku merasa dia bisa melihat ke dasar jiwaku dan melihat Lyra yang bersembunyi di sana. Mata emas itu gelap, tidak ada emosi, tidak ada kasih, yang terlihat hanya kelelahan. Terus dia cuma "Hm" pelan dan pergi meninggalkan aku berdiri di depan pintu.

Aku cepat-cepat masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat sampai suaraku tertahan, kakiku langsung lemas dan aku duduk di lantai marmer yang dingin.

Kamar ini sangat besar, terlalu besar untuk satu orang, ada tempat tidur dengan selimut bulu, ada perapian yang apinya menyala, ada meja penuh roti, buah, dan sup yang masih mengepul. Tapi di mataku, kamar ini seperti sangkar emas, indah dari luar tapi mengurung dari dalam.

Aku pegang kalung kayu di leherku erat sampai kayunya melukai telapak tanganku, "Nenek, aku sudah di dalam" bisikku dengan suara yang pecah, "tahap satu sudah selesai, aku sudah di dalam rumahnya, di dalam istananya".

Malam itu aku tidak tidur sama sekali. Aku duduk di dekat pintu dan menempelkan telingaku ke kayu, mendengar langkah kaki berat di koridor, mendengar suara Rowan membentak anak buahnya karena ada laporan tentang perampok di perbatasan, mendengar suara pelayan berbisik tentang "Alpha yang tidak pernah tidur". Aku hafalin semuanya, aku catat semuanya di kepala, nama, jadwal, siapa yang setia dan siapa yang takut.

Besok, aku mulai tahap kedua. Masuk lebih dalam, jadi pelayan dapur biar aku bisa ke semua ruangan, jadi bayangan yang tidak terlihat, dan pada akhirnya menjadi Luna di sampingnya biar aku bisa menusuknya disaat dia paling lengah.

Tapi begitu aku menutup mata sebentar di atas karpet, yang muncul bukan wajah Papa yang berlumuran darah, bukan juga jeritan Mama. Yang muncul adalah mata emas Rowan waktu dia bertanya dengan nada lelah, "kamu butuh apa sebenarnya?" Dan cara dia menunjuk kalungku, seperti dia mengenali sesuatu.

Sial, sial banget Kenapa dia harus bertanya seperti itu? Kenapa dia harus menatapku seperti itu? Kenapa di tengah semua rencana balas dendam ini, ada bagian kecil di dadaku yang goyah saat dia mendorong semangkok sup ke arahku semalam?

Aku pukul kepalaku ke lantai pelan, "Jangan lemah Elara, dia pembunuh, dia yang bakar semuanya".

Tapi perapian di kamar ini terlalu hangat, dan sup di meja itu terlalu wangi, dan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun aku tidur di tempat yang tidak membuatku menggigil.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel