2. Pelelangan Daging
10 tahun, selama 10 tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, dan menghitung berapa kali aku muntah karena membayangkan wajahnya lagi.
Tempatnya kotor, berisik, bau alkohol murah bercampur dengan bau serigala yang putus asa dan bau keringat yang sudah berhari-hari tidak mandi. Ini pelelangan mate, tempat para Alpha miskin membeli istri dengan harga murah dan tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.
Lantainya lengket, lampunya redup, dan di atas panggung ada tali tambang yang mengikat pergelangan tangan wanita-wanita yang matanya sudah mati.
Aku Elara Black, bukan siapa-siapa, wajah biasa saja sengaja aku coreng dengan debu, rambut coklat kusam aku acak-acakan biar kayak orang belum makan seminggu, dan memakai baju bekas kebesaran yang dulu punya Nenek Selma.
Sengaja, aku sengaja tidak mau terlihat cantik karena cantik itu bahaya, cantik bikin harganya mahal dan bikin dia curiga. Aku mau kelihatan menyedihkan, biar dia kasihan, biar dia merasa dia berkuasa, biar dia membeli aku dengan harga yang dia anggap remeh.
Di ujung ruangan, dia duduk dengan sombongnya di kursi kayu paling tinggi, dikelilingi dua pengawal bertubuh besar, Alpha Rowan Blackwood.
10 tahun dan dia masih sama, masih tinggi sampai harus mendongak kalau mau melihat matanya. Masih dingin sampai ruangan ini serasa lebih beku, masih kayak patung es yang kalau disentuh bisa melukai. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, jas hitamnya mahal dan tidak ada setitik debu pun yang menempel, dan mata emasnya itu menyapu seluruh ruangan kayak lagi melihat sampah yang harus dia bersihkan.
Jantungku sakit melihat Rowan, sakitnya bukan karena rindu, bukan karena cinta, tapi karena benci, benci yang sudah aku pelihara 10 tahun sampai dia jadi rumah di dalam dadaku.
Tanganku mengepal di balik rok lusuh, kuku menancap ke telapak tangan sampai sakit biar aku ingat tujuan aku datang ke sini.
"Pelelangan dimulai" teriak pelelangnya, suaranya serak dan matanya merah, "Lot pertama, wanita muda, sehat, pinggul lebar, bisa melahirkan anak Alpha".
Wanita-wanita naik ke panggung satu-satu dengan wajah menunduk dan bahu yang gemetar. Ada yang menangis pelan, ada yang sudah pasrah, dan ada yang masih berharap dibeli orang baik.
Aku sendiri sangat muak melihatnya. Muak karena 10 tahun lalu pack kami juga diperlakukan seperti ternak, disembelih tanpa ditanya.
Sampai akhirnya pelelang itu menunjuk ke arahku, "Lot ketujuh, Elara Black, 21 tahun, yatim piatu, tidak punya pack, tidak punya penyakit".
Aku naik ke panggung, kayu di bawah kakiku berderit, kepalaku tertunduk dalam-dalam, tanganku gemetar beneran karena gugup dan marah jadi satu. Inilah akting terbaik seumur hidupku karena taruhannya adalah nyawaku.
"Harga awal 50 koin emas".
Ruangan sepi, tidak ada yang angkat tangan, beberapa Alpha malah meludah, "kurus, tidak ada dagingnya".
Dalam hati aku tersenyum, "awal yang bagus, rencanaku berjalan mulus."
Aku tarik napas, lalu aku angkat kepala perlahan, rambutku menutupi setengah wajah, mataku merah karena aku cubit dari tadi biar kelihatan habis menangis, dan aku teriak dengan suara pecah yang sudah aku latih 3 bulan.
"AKU BUTUH ALPHA YANG KUAT!" suaraku menggema di ruangan kotor itu, "Aku capek kelaparan, aku capek tidur di jalan, aku capek dipukulin tuan tanah, beli aku, siapa aja, asal dia kuat bisa melindungi aku! Aku akan jadi istri yang penurut!"
Seluruh ruangan hening selama 3 detik, lalu pecah tawa, beberapa Alpha menepuk meja, "gila ini cewek, jual diri teriak-teriak".
Bagus, semua mata tertuju ke aku sekarang, termasuk mata emas di pojok sana.
Aku tidak peduli dengan tawa itu, mataku lurus menatap tajam ke arah dia, ke Rowan. Aku mau dia melihat aku putus asa, aku mau dia melihat aku lemah.
Dia tidak bergerak sama sekali. Punggungnya tegak, satu tangannya bertumpu di sandaran kursi. Jari-jari besarnya mengetuk meja pelan, tok, seperti menghitung waktu sampai dia bosan.
"100 koin" suara serak dari Alpha botak di baris kedua.
"150" sahut Alpha lain yang giginya ompong.
Dalam hati, aku mulai panik. Jantungku berdebar, kalau bukan dia yang beli bagaimana? Kalau dia cuma melihat terus pergi bagaimana? Rencanaku 10 tahun bisa gagal cuma karena 50 koin.
Aku gigit bibir sampai berdarah biar air mataku keluar beneran.
Dan tak lama kemudian suara itu datang lagi, memotong semua suara, sedingin salju 10 tahun lalu yang membekukan pack ku.
"500 koin emas".
Semua orang menoleh, pelelangnya sampai tersedak ludahnya sendiri.
Rowan Blackwood mengangkat satu jari, santai, wajahnya datar seperti sedang membeli sekarung beras di pasar, bukan manusia yang akan dia bawa pulang.
"500 ,,, 500 sekali, dua kali ,,, terjual, kepada Alpha Rowan Blackwood" pelelangnya gagap.
Aku diturunkan dari panggung oleh dua penjaga. Tangan kasar menarik lenganku sampai memar, lalu aku diseret ke depan dia melewati kerumunan yang mencibir.
Bau cedar dan darah kering langsung menyergap penciuman ku begitu aku sedeket ini, 10 tahun dan baunya masih sama.
Dia berdiri tinggi banget sampai bayangannya menutupiku. Dia lihat aku dari atas sampai ke bawah, lambat, teliti, seperti sedang menilai kuda yang baru dia beli.
Matanya berhenti di leherku, di kalung kayu kusam peninggalan Nenek Selma yang sudah retak, satu-satunya bukti kalau Lyra Voss pernah ada.
Alis Rowan berkerut sedikit, "Kamu berisik" katanya pelan, tapi suaranya masuk ke tulangku.
Aku langsung menunduk. Bahuku bergetar, berbisik dengan suara yang aku buat serapuh mungkin, "Maaf, Tuan, aku takut, aku gak mau kembali ke jalanan".
Dia diam beberapa detik yang rasanya setahun sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Lalu dia melangkah maju, lewat di sampingku tanpa menyentuhku.
"Ikut!"
Itu saja, hanya satu kata, tapi satu kata itu meruntuhkan 10 tahun penantianku.
Aku mengikutinya keluar dari ruangan bau itu, ke udara malam yang dingin, ke kereta kudanya yang besar dan hitam, ke istananya yang berdiri di atas bukit yang 10 tahun lalu adalah tanah pack ku.
Aku masuk ke kereta kudanya, duduk di ujung kursi sejauh mungkin, ikut ke istananya, serta ikut ke sarang serigala yang 10 tahun lalu membunuh keluargaku dengan tangannya sendiri.
Sepanjang perjalanan dia tidak bicara, hanya melihat keluar jendela ke hutan yang gelap.
Dan aku di sini, Elara Black, dengan pisau kecil tersembunyi di balik korset.
Rencana tahap satu selesai. Sekarang aku sudah berada di dalam lingkungannya. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menusuk dia dari belakang, tepat di jantung yang katanya sudah mati 10 tahun lalu.
