Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Tamu Tak Diundang

Ketukan di Waktu Maghrib

Selesai mengenakan pakaian kering, Lastri sesaat terdiam di tepi tempat tidurnya. Lamunannya kembali kepada sosok makhluk astral berpakaian putih yang dilihatnya di gubuk kebun Mang Kodir.

“Kenapa akhir-akhir ini di desaku sering muncul makhluk-makhluk tak kasatmata?” gumam Lastri. “Yang lebih mengherankan, siang hari pun makhluk itu bisa muncul.”

Lastri menghela napas panjang.

“Makhluk itu sangat menyeramkan. Walaupun wajahnya tertutup rambut, aku masih bisa melihat kedua bola matanya yang putih menatapku sangat tajam. Ya Tuhan, jauhkan aku dari makhluk-makhluk seperti itu.”

“Lastriiii!”

“Iya, Nek!” jawab Lastri. Lamunannya buyar begitu mendengar suara neneknya.

“Cepat minum air hangat!” seru Nenek Eroh ketika melihat cucunya keluar dari kamar.

“Iya, Nek!”

“Sekalian buatkan teh pahit hangat untuk Nenek.”

“Iya, Nek.”

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Lastri untuk membuatkan apa yang diinginkan neneknya. Setelah selesai, ia duduk di samping Nenek Eroh sambil memegang gelas berisi air hangat.

Nenek Eroh memperhatikan wajah cucunya. “Wajahmu pucat.”

“Hatciiih!”

Lastri bersin.

“Cepat minum air hangatmu! Nanti kamu bisa terkena flu.”

Lastri menurut. Teh hangat yang membasahi tenggorokannya membuat tubuhnya terasa sedikit lebih nyaman.

Nenek Eroh menghela napas. “Apa tidak bisa saat hujan deras kamu berteduh sebentar dan menunggu hujan reda? Kamu pulang dengan tubuh basah kuyup. Kalau kamu sakit bagaimana?”

“Nenek tidak tahu apa yang aku alami tadi. Bisanya cuma mengomel!” protes Lastri. “Aku cepat-cepat pulang karena mencemaskan Nenek sendirian di rumah.”

Lastri kemudian menceritakan semua yang dialaminya bersama Mila di gubuk kebun Mang Kodir. Tidak ada satu kejadian pun yang ia kurangi ataupun tambahkan.

Nenek Eroh mendengarkan dengan wajah serius.

Setelah Lastri selesai bercerita, Nenek Eroh menggeleng pelan. “Kamu yakin yang kamu lihat itu benar-benar makhluk tak kasatmata?”

“Ya yakin, Nek! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Mungkin saja itu orang iseng yang sengaja menakut-nakuti kalian supaya pergi dari gubuk.”

“Yaelah, Nenek. Untuk apa aku bohong?” keluh Lastri kesal. “Sudahlah, percuma bicara dengan Nenek! Lebih baik aku merebus singkong saja. Hujan-hujan begini, enaknya makan singkong rebus.”

Lastri bangkit meninggalkan neneknya.

Namun Nenek Eroh tidak ikut tersenyum.

Tatapannya justru tertuju pada pintu kamar.

Entah mengapa, sejak mendengar cerita Lastri, ada perasaan aneh yang perlahan muncul dalam hatinya.

Seperti sesuatu yang sudah lama pergi...

kini mulai kembali.

---

Sementara itu, jauh dari rumah Lastri, Mila sedang berkumpul bersama ibu dan abahnya.

Ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama Lastri di gubuk kebun Mang Kodir.

“Akhir-akhir ini di kampung kita memang banyak kejadian aneh,” ujar Abah Tarjo, ayah Mila.

“Iya, Bah. Aku jadi takut keluar rumah.” Mila memeluk kedua lengannya. “Siang atau malam sekarang sama saja. Makhluk astral sering menampakkan wujudnya. Aku sendiri sudah dua kali bertemu dengan makhluk-makhluk seperti itu.”

Ibu Mila yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

“Sejak kematian Mira, cucunya Nenek Ijah yang bunuh diri dengan cara menggantung diri itu, kampung kita memang jadi sering diteror makhluk-makhluk tak kasatmata.”

“Hush!” tegur Abah Tarjo cepat. “Jangan berburuk sangka. Nanti ada orang yang mendengar. Tidak baik menuduh sembarangan. Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.”

Mila menatap kedua orang tuanya.

“Kejadian apa sebenarnya?”

Abah Tarjo dan istrinya saling berpandangan.

Namun sebelum salah satu dari mereka menjawab...

Tok... tok... tok...!

Suara ketukan terdengar dari pintu depan.

Mila langsung menoleh.

“Siapa yang datang hujan-hujan begini?” tanyanya.

“Coba kamu lihat ke depan,” pinta Abah Tarjo.

Mila bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.

Begitu pintu dibuka...

Wuussshhh!

Angin dingin langsung menerpa wajahnya.

Mila menyipitkan mata.

“Si...”

Kalimatnya terhenti.

Tidak ada siapa pun di depan rumah.

Mila melihat ke kiri.

Kosong.

Ke kanan.

Kosong.

Yang terlihat hanya hujan deras yang jatuh seperti tirai putih di halaman rumah.

“Eh, kok tidak ada siapa-siapa?” gumam Mila.

Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Apa tadi aku salah dengar?”

Mila menutup pintu kembali.

“Siapa, Mil?” tanya Abah Tarjo.

“Tidak ada siapa-siapa.”

Mila kembali duduk.

Abah dan istrinya saling berpandangan.

Mereka jelas-jelas mendengar ketukan tadi.

“Memang tidak ada siapa-siapa di luar,” jelas Mila. “Mungkin kita salah dengar. Hujan di luar sangat deras. Rasanya tidak mungkin ada orang datang bertamu, apalagi sebentar lagi Magrib.”

Abah Tarjo mengangguk pelan.

“Iya. Mungkin kita yang salah dengar.”

Beberapa menit kemudian...

suara azan Magrib mulai terdengar dari masjid kampung.

Abah Tarjo berdiri.

“Kita salat Magrib berjamaah.”

Ketiganya kemudian bersiap mengambil wudu.

Namun baru beberapa meter melangkah...

Tok... tok... tok...

Mereka semua berhenti.

Ketukan kembali terdengar.

Kali ini lebih jelas.

Dan lebih keras.

Ketiganya perlahan membalikkan badan.

Tatapan mereka tertuju kepada pintu utama.

“Siapa itu?” tanya Ibu Mila.

Mila memegang tengkuknya.

Bulu kuduknya berdiri.

Aura aneh tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Biar Abah yang buka pintu. Kalian pergilah mengambil wudu.”

“Jangan dibuka, Bah!” cegah Mila.

Abah dan ibunya menatap Mila bersamaan.

“Kenapa?”

Mila menelan ludah. “Aku merasa ada yang aneh. Bulu kudukku berdiri.”

Abah Tarjo menggeleng.

“Kamu ada-ada saja. Itu hanya perasaanmu karena akhir-akhir ini terlalu sering bertemu hantu.”

Ia melangkah menuju pintu.

“Bah...”

“Sudah. Jangan takut.”

Krieeeth...

Pintu tua itu dibuka.

Mila dan ibunya berdiri beberapa langkah di belakang.

Namun begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu, Mila mengembuskan napas lega.

“Pak RT?”

Pak RT tersenyum lebar.

“Iya, Pak Tarjo. Maaf saya bertamu di waktu yang kurang tepat.”

“Oh, tidak apa-apa. Mari masuk, Pak RT.”

Pak Tarjo membuka pintu lebih lebar.

Pak RT masuk sambil membawa payung hitam. Ia menutup payung tersebut dan meletakkannya di dekat pintu.

“Ada apa ini, Pak RT?” tanya Abah Tarjo setelah mereka duduk.

“Saya mau memberikan ini.”

Pak RT mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya.

“Kartu undangan pernikahan anaknya Mang Kodir. Saya diberi amanat untuk memberikan undangan ini.”

“Oh.”

Abah Tarjo menerima undangan tersebut lalu membacanya.

“Kamis minggu ini acaranya?”

“Iya. Anak Mang Kodir yang bungsu mau menikah.”

Pak RT tersenyum.

“Karena tugas saya sudah selesai, saya tidak bisa berlama-lama. Saya izin pamit, Pak Tarjo.”

“Oh, iya. Terima kasih, Pak RT.”

Abah Tarjo mengantar Pak RT sampai teras.

Hujan masih turun deras.

“Apa tidak sebaiknya Bapak menunggu sampai hujan reda?” saran Abah Tarjo. “Kita bisa salat Magrib berjamaah terlebih dahulu.”

Senyum lebar di bibir Pak RT seketika menghilang.

Tatapannya berubah tajam.

“Tidak perlu.”

Jawaban itu terdengar dingin.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Pak RT membalikkan badan dan berjalan menembus derasnya hujan sambil membawa payung hitam.

Abah Tarjo mengernyitkan dahi.

“Ya sudah kalau tidak mau. Saya juga tidak memaksa.”

Ia hendak masuk ke rumah.

Namun tiba-tiba hidungnya menangkap sesuatu.

Abah Tarjo berhenti.

Ia mengendus udara.

“Bau apa ini?”

“Abaaah!”

Abah Tarjo melonjak kaget.

“Astaga!”

Istrinya berdiri di depan pintu dengan wajah kesal.

“Ditungguin dari tadi malah asyik bicara sendiri di sini. Katanya mau salat Magrib berjamaah.”

“Bu, Bu...” Abah Tarjo mendekat. “Apa Ibu mencium sesuatu?”

“Mencium apa?”

Abah kembali mengendus.

“Bau busuk bangkai.”

Istrinya ikut mencium udara.

“Tidak bau apa-apa.”

“Masa sih?”

“Eh...”

Ibu Mila tiba-tiba berseru dengan mata berbinar.

“Ibu mencium sesuatu!”

“Nah, benar, kan? Ibu pasti mencium bau bangkai!”

Istrinya menggeleng santai.

“Bukan bau bangkai. Ibu mencium bau badan Abah yang belum mandi dari pagi!”

Setelah mengatakan itu, ia langsung masuk meninggalkan suaminya yang masih berdiri di teras.

Abah Tarjo mengendus ketiaknya sendiri.

“Masa sih bau badanku sama dengan bau bangkai?”

Tidak ada yang menjawab.

Namun tepat ketika Abah Tarjo hendak masuk...

ia tidak menyadari bahwa dari balik rimbunnya pohon kamboja di depan rumah, seseorang sedang berdiri memperhatikannya.

Sosok itu adalah Pak RT.

Payung hitam masih terbuka di atas kepalanya.

Tubuhnya berdiri diam di tengah derasnya hujan.

Tidak bergerak.

Tidak bergeser sedikit pun.

Padahal angin bertiup cukup kencang.

Pak RT perlahan mengangkat wajah.

Senyum aneh menghiasi bibirnya.

Senyum yang terlalu lebar untuk disebut normal.

Kemudian bibirnya terbuka.

Gigi-gigi hitam terlihat jelas.

Dan dari sela-sela giginya, cairan merah kehitaman perlahan menetes.

Pluk...

Pak RT menatap rumah Abah Tarjo.

“Sebentar lagi...”

Suaranya terdengar berat.

Bukan seperti suara manusia yang biasanya dikenal warga Kampung Kemboja.

“...kalian semua akan tahu siapa sebenarnya Kasih.”

Ia tertawa pelan.

He... he... he...

Kemudian sosok itu berjalan mundur.

Masuk ke balik rimbunnya pohon kamboja.

Dan dalam hitungan detik...

Pak RT menghilang.

Hanya payung hitamnya yang masih terlihat di tengah hujan.

Padahal...

tubuhnya sudah tidak ada di bawah payung tersebut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel