Pustaka
Bahasa Indonesia

BELENGGU KEMATIAN KASIH

45.0K · Tamat
lyns_marlyn
40
Bab
174
View
9.0
Rating

Ringkasan

Kasih, gadis berusia dua puluh satu tahun, tidak pernah menyangka bahwa cinta yang selama ini ia jaga justru akan menjadi awal dari kehancurannya. Satu tuduhan keji membuat hidupnya berubah dalam semalam. Perselingkuhan. Pengkhianatan. Kebohongan. Tiga kata yang cukup untuk mengubah seseorang yang dicintai menjadi manusia yang paling dibenci. Di saat Kasih berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, Bagas—pria yang seharusnya berdiri di sisinya—justru menjadi orang pertama yang melemparkan batu. “Kau telah berkhianat?! Enyah kau dari hadapanku! Sampai kau menangis darah sekalipun, aku tidak sudi melihat wajah munafik mu itu! Apa pun alasannya, selingkuh tetaplah selingkuh! Kau lebih rendah dari sampah!” Kalimat itu menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Kasih kehilangan cinta, kehilangan kepercayaan, bahkan kehilangan alasan untuk bertahan hidup. Namun, sebelum kematiannya, ada satu hal yang tidak pernah ikut mati... dendam. Kematian seharusnya menjadi akhir dari penderitaannya. Tetapi bagaimana jika kematian justru merupakan awal dari semuanya? Sejak Kasih pergi, berbagai kejadian aneh mulai menghantui orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya. Suara tangisan terdengar dari kamar kosong. Pintu-pintu terbuka sendiri. Cermin memantulkan sosok yang tidak seharusnya ada. Dan setiap malam, seseorang selalu mendengar suara perempuan berbisik tepat di telinganya. “Aku tidak pernah berkhianat...” Satu per satu, mereka mulai menyadari sesuatu. Kasih mungkin sudah mati..Tetapi dendamnya belum. Dan ketika kebenaran tentang malam kematian Kasih perlahan terungkap, mereka akan mengetahui bahwa ada kebohongan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar perselingkuhan. Karena terkadang... orang yang paling berbahaya bukanlah mereka yang masih hidup, melainkan mereka yang sudah tidak memiliki alasan untuk takut mati. Simak kisah Kasih hingga akhir. Apakah dendamnya akan berakhir setelah semua orang menerima balasannya? Atau justru ada satu rahasia terakhir yang akan membuat kematian Kasih menjadi awal dari teror yang jauh lebih mengerikan?

DewasaPerselingkuhanPengkhianatanMenyedihkanSalah PahamplayboyKehidupan SosialTersesat/ObsesifBalas DendamCerita

1. Bau Dari Kegelapan

Malam telah larut ketika Lastri dan Mila berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan warga. Tidak ada penerangan di sepanjang jalan itu selain cahaya bulan yang sesekali muncul di antara awan hitam. Pepohonan di kanan dan kiri jalan berdiri seperti bayangan raksasa, bergoyang perlahan setiap kali angin malam berembus.

Suasana begitu sunyi.

Terlalu sunyi.

Bahkan suara jangkrik yang biasanya terdengar di sekitar perkebunan malam itu seolah menghilang entah ke mana.

Lastri yang sejak tadi berjalan sambil memeluk kedua lengannya tiba-tiba memperlambat langkah. Ia menoleh kepada Mila yang berjalan di sampingnya. “Apa kamu mencium sesuatu?”

Mila mengernyitkan dahi. Otomatis, hidungnya yang mungil kembang-kempis membaui udara di sekitar. “Aku mencium bau tanah basah.”

Lastri semakin merapatkan tubuhnya kepada Mila. Matanya menyapu kegelapan di sekitar mereka. “Bukan cuma bau tanah. Ada bau kembang,” bisiknya pelan.

Mila kembali menarik napas dalam-dalam untuk memastikan. “Masa sih?”

Lastri mengangguk perlahan. “Iya. Bau kembang busuk.”

Mila tertawa kecil meskipun terdengar dipaksakan. Ia berusaha mengusir rasa tidak nyaman yang mulai merayap di dalam dada. “Mungkin ada bunga yang membusuk di sekitar sini. Lagipula, banyak tanaman liar yang tumbuh di tepi jalan. Bisa saja baunya berasal dari pohon-pohon itu.”

Lastri tidak menjawab. Ia justru mengusap tengkuknya sendiri ketika bulu kuduknya mendadak berdiri. “Tapi kenapa bulu kudukku berdiri?”

“Ah, itu mungkin karena pengaruh cuaca. Malam ini memang sangat dingin, ditambah anginnya cukup kencang,” ujar Mila berusaha menenangkan.

Seolah ingin membuktikan perkataannya, angin tiba-tiba berembus lebih kuat.

Wushhhh!

Hembusan dingin menerpa wajah Lastri dan Mila. Rambut mereka berantakan diterpa angin. Namun, bukannya merasa lebih tenang, Lastri justru spontan menutup hidungnya.

“Bau busuknya semakin menyengat.” Suaranya mulai bergetar. Perutnya terasa mual.

Mila ikut menutup hidung. Wajahnya yang semula santai perlahan berubah tegang. “Iya... ini bukan bau bunga. Ini bau bangkai.”

Keduanya saling berpandangan.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berani berbicara.

Lastri kemudian mengedarkan pandangan. Tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Hanya pohon-pohon tinggi, semak belukar, dan ilalang yang bergoyang tertiup angin.

“Dari mana bau itu berasal?” tanya Mila dengan suara lirih.

Lastri menelan ludah. “Aku tidak tahu. Tapi sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini.”

“I... iya. Ayo.”

Mereka segera mempercepat langkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Baru tiga langkah mereka berjalan, terdengar suara aneh dari arah rimbunnya semak-semak.

Sreek... sreek... sreek...

Langkah keduanya langsung berhenti.

Lastri menoleh perlahan.

Suara itu kembali terdengar.

Sreek... sreek...

Ilalang di depan mereka bergerak meskipun angin sudah berhenti.

Lastri mencengkeram lengan Mila. “A... apa itu?”

Mila menatap ke arah yang ditunjuk Lastri. “Apa?”

“I... itu!”

“Apa, Las?”

Jari Lastri gemetar hebat. Bibirnya bergetar, tetapi beberapa detik ia tidak mampu mengeluarkan suara.

Kemudian, dari balik rimbunnya ilalang, sesuatu perlahan muncul.

Sosok putih.

Diam.

Tegak.

Tubuhnya terbungkus kain kafan kusam yang sudah menghitam di beberapa bagian. Sosok itu berdiri di ujung ilalang, bergerak perlahan mengikuti arah angin.

Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Lastri semakin meremang.

Angin bertiup ke arah mereka.

Tetapi sosok itu bergerak melawan arah angin.

Mata Lastri membelalak.

“Po... po... pocong!”

Mila langsung mematung.

Niat mereka untuk melarikan diri seketika lenyap. Kaki keduanya terasa berat seperti tertanam di tanah. Lastri ingin menarik Mila dan berlari, tetapi tubuhnya sama sekali tidak menurut.

Tatapannya terkunci pada sosok di kejauhan.

Kain kafan yang membungkus tubuh makhluk itu perlahan bergerak. Kepalanya sedikit miring ke samping, seolah sedang memperhatikan mereka.

Wajahnya pucat seperti tengkorak.

Dua lubang matanya hitam pekat.

Tidak ada bola mata.

Tidak ada cahaya.

Hanya kegelapan yang seakan mampu menelan siapa pun yang berani menatapnya.

“Mil... Mila...” panggil Lastri dengan suara nyaris tak terdengar.

Tidak ada jawaban.

Lastri menoleh sedikit.

Tubuh Mila sudah terkulai.

Brugh!

Mila jatuh telentang ke tanah becek.

“Mila!”

Lastri panik. Tangannya meraba-raba ke belakang mencari tubuh sahabatnya, tetapi matanya tidak berani beralih dari makhluk yang masih berdiri di ujung ilalang.

“Mila! Bangun! Mila!”

Tidak ada respons.

“Pocong, Mil... pocong!” Lastri menangis ketakutan. “Bangun, Mil! Kita harus lari!”

Tap!

Sosok itu tiba-tiba melompat.

Lastri tersentak.

Jaraknya kini lebih dekat.

Tap!

Pocong itu kembali melompat.

Bau anyir bercampur busuk seketika memenuhi udara.

Lastri menahan napas. Dadanya terasa sesak. Lututnya gemetar hebat.

Tap!

Satu lompatan lagi.

Kini jaraknya tinggal beberapa meter.

Wajah pocong itu perlahan terlihat semakin jelas.

Wajahnya bukan lagi seperti manusia.

Kulitnya mengelupas. Sebagian wajahnya tampak seperti tengkorak. Lubang matanya hitam kosong, sementara dari sudut bibirnya merembes cairan merah kehitaman yang kental. Cairan itu mengalir melewati dagu dan menodai kain kafannya.

Lastri ingin berteriak.

Namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Pocong itu berhenti tepat satu meter di hadapannya.

Kepalanya mendongak.

Kemudian perlahan menatap Lastri.

Blugh!

Tubuh Lastri ambruk.

---

“Nak! Nak! Bangun!”

Tepukan keras di kedua pipi membuat Lastri perlahan membuka mata.

Pandangan pertamanya masih buram.

Ia melihat beberapa bayangan manusia berdiri mengelilinginya.

Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, ingatan tentang apa yang baru saja terjadi langsung menghantam kepalanya.

“Pocoooong!”

Lastri menjerit histeris dan berusaha mundur.

“Tenang, Nak! Tenang!” Pak RT segera menahan bahunya. “Tidak ada pocong di sini. Kamu aman.”

Mila yang terbaring tidak jauh darinya juga mulai siuman. Wajahnya pucat pasi. Air mata menggenang di kedua matanya.

“Pocong, Pak...” ucap Mila dengan suara gemetar. “Kami melihat pocong.”

Pak RT menghela napas panjang.

“Tidak ada pocong.”

Lastri langsung menunjuk ke arah ilalang. “Ada, Pak! Kami tidak berbohong. Dia berdiri di sana. Wajahnya... wajahnya seperti tengkorak. Matanya hitam. Dari mulutnya keluar darah.”

Pak RT menoleh ke arah ilalang yang dimaksud.

Tidak ada apa-apa.

Hanya ilalang yang bergerak perlahan tertiup angin.

Mang Udin mengarahkan senter ke sekitar. “Kalau memang ada pocong, sekarang ke mana dia?”

Lastri memeluk tubuhnya sendiri. “Saya tidak tahu.”

“Kenapa kalian berdua bisa sampai pingsan di sini?” tanya Mang Udin.

Lastri menelan ludah sebelum menjawab. “Tadi kami melihat sesuatu dari arah semak-semak. Awalnya kami mencium bau bangkai. Setelah itu muncul pocong.”

Mila terisak. Tubuhnya masih gemetar hebat.

Pak RT dan Mang Udin saling berpandangan.

Dua bapak-bapak lain yang ikut berkeliling malam itu juga terlihat tidak nyaman.

Pak RT kemudian menepuk bahu Lastri. “Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kalian berdua pulang sekarang. Mang Udin, tolong antar mereka sampai rumah.”

Lastri mengangguk cepat.

Namun sebelum berdiri, ia kembali menatap ilalang itu.

Entah mengapa, ia merasa seperti sedang diawasi.

---

Setelah mengantar Lastri dan Mila pulang, Mang Udin kembali bergabung dengan Pak RT, Pak Gani, dan Pak Kamal yang masih melanjutkan ronda.

Mereka berjalan menyusuri jalan kampung yang mulai sepi.

“Gangguan dari pocong itu semakin hari semakin meresahkan warga,” tutur Pak Gani. “Hampir setiap malam ada saja warga yang mengaku melihatnya.”

“Iya, betul,” sambung Pak Kamal. “Dua hari lalu, Bi Esih sampai jatuh ke kolam ikan gara-gara melihat pocong itu. Kakinya terkilir dan sampai sekarang masih sulit berjalan.”

Pak RT menghela napas. “Saya juga sudah menerima banyak laporan. Kalau terus begini, warga bisa semakin takut keluar rumah setelah malam.”

“Kita harus segera bertindak, Pak RT,” kata Pak Gani. “Jangan sampai kampung kita ditinggalkan warga hanya karena mereka takut dengan keberadaan pocong itu.”

“Iya, betul,” sahut Pak Kamal.

Mereka baru saja melewati sebuah pohon pisang ketika angin tiba-tiba berembus.

Wushhhh!

Ketiganya spontan terdiam.

Pak Gani mengernyitkan hidung. “Bau apa ini?”

Pak Kamal ikut membaui udara. Wajahnya langsung berubah. “Bau busuk.”

Pak RT menarik napas pendek.

Bau yang sama.

Bau yang tadi diceritakan Lastri dan Mila.

Bau bangkai.

Kemudian muncul aroma lain.

Bau amis.

Bau darah.

Pak RT perlahan menoleh.

Pak Gani sudah berdiri kaku sambil menatap ke arah rimbunnya pohon pisang.

Jarinya gemetar ketika menunjuk sesuatu di balik kegelapan.

“Po... po... pocooong.”

Pak RT dan Pak Kamal langsung mengikuti arah telunjuknya.

Di antara pohon-pohon pisang, berdiri sosok putih.

Tidak bergerak.

Tidak bergoyang.

Hanya berdiri sambil menatap mereka.

Cahaya senter perlahan menyinari tubuhnya.

Kain kafan kusam.

Wajah seperti tengkorak.

Lubang mata hitam.

Dan cairan merah pekat yang terus merembes dari bibirnya, mengotori kain putih yang membungkus tubuhnya.

Pak Gani mulai gemetar hebat.

Kedua kakinya terasa kehilangan tenaga. Ia ingin berlari, tetapi tubuhnya seakan menolak perintah otaknya.

Pak Kamal mengalami hal yang sama. Wajahnya memutih. Tubuhnya menggigil sampai giginya bergemeletuk. Ketakutan yang begitu hebat membuat ia bahkan tidak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri.

Namun Pak RT berusaha tetap berdiri tegak.

Meskipun wajahnya pucat, ia tidak mengalihkan pandangan dari sosok itu.

Jarak mereka hanya sekitar tiga meter.

Kemudian...

Pocong itu bergerak.

Tap!

Pak RT menahan napas.

Sosok itu melompat satu kali.

Tap!

Kini jaraknya hanya dua meter.

Bau busuk semakin menyengat.

Perut Pak RT langsung bergejolak. Ia menutup mulut dengan satu tangan.

“Ueekh...”

Pocong itu kembali melompat.

Tap!

Kini ia berdiri tepat di hadapan Pak RT.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

Pak RT akhirnya tidak mampu menahan rasa mual.

“Uoookh... oeekh!”

Pak Gani dan Pak Kamal yang sejak tadi membeku akhirnya mendapatkan kembali tenaga mereka.

“Lari!”

Keduanya berbalik dan berlari pontang-panting menembus gelapnya malam.

Mereka bahkan tidak peduli lagi kepada Pak RT.

Pak RT sendiri mundur beberapa langkah sambil memegangi perut.

“Pergi kau... setan terkutuk! Pergi!”

Pocong itu tidak bergerak.

Ia hanya menatap.

Tatapan dari lubang mata hitamnya terasa lebih mengerikan daripada jeritan apa pun.

Pak RT mencoba mengumpulkan keberanian. “Aku bilang pergi!”

Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya.

Kemudian bibirnya tertarik membentuk seringai.

Gigi-gigi hitam terlihat di balik mulutnya.

Cairan merah kental menetes dari sela-sela giginya.

Pak RT membeku.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya dingin.

Pocong itu sedang tersenyum.

“Tidak...”

Tap!

Pocong itu melompat maju.

Pak RT mundur.

Tap!

Satu lompatan lagi.

Pak RT hampir terjatuh.

“Jangan mendekat!”

Makhluk itu tetap maju.

Tap!

Kini wajahnya hanya beberapa jengkal dari wajah Pak RT.

Bau busuk yang keluar dari tubuhnya membuat perut Pak RT kembali berontak.

“Uooookh...!”

Ia memejamkan mata dan menahan napas.

Namun beberapa detik kemudian, sesuatu yang hangat dan menjijikkan menyentuh wajahnya.

Cuih!

Pak RT membuka mata.

Cairan merah kehitaman menempel di pipi dan bibirnya.

Ia membeku.

Pocong itu masih berdiri di hadapannya.

Namun kali ini, makhluk itu tidak lagi tersenyum.

Kepalanya perlahan menunduk hingga wajahnya hampir menyentuh telinga Pak RT.

Lalu terdengar suara lirih dari balik kain kafan.

Suara perempuan.

Serak.

Penuh kebencian.

“Dia... harus membayar.”

Mata Pak RT membelalak.

“A... siapa kamu?”

Pocong itu diam.

Angin kembali berembus.

Wushhhh!

Dalam sekejap, sosok itu lenyap.

Pak RT berdiri sendirian di tengah jalan.

Napasnya memburu. Tangannya gemetar. Cairan merah masih menempel di wajahnya.

Namun yang paling membuatnya ketakutan bukanlah hilangnya pocong tersebut.

Melainkan kalimat yang baru saja didengarnya.

Suara itu bukan suara laki-laki.

Dan bukan pula suara makhluk tua.

Suara itu terdengar seperti suara seorang perempuan muda.

Seperti seseorang yang sedang menangis sambil menahan amarah.

Dan tanpa diketahui siapa pun malam itu...

itulah pertama kalinya nama Kasih kembali disebut oleh sesuatu yang seharusnya sudah mati.