Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Kampung Kamboja

Dua Orang di Tengah Hujan

Kampung Kemboja semakin hari semakin dipenuhi cerita mistis. Kampung yang biasanya tenang dan damai kini berubah menjadi bahan pergunjingan orang-orang dari luar.

Banyak orang enggan datang ke Kampung Kemboja, meskipun hanya sekadar singgah atau bertemu sanak saudara. Isu tentang arwah penasaran seorang perempuan yang mati gantung diri dan kini gentayangan telah menyebar ke mana-mana.

Beberapa warga bahkan mengaku pernah melihat makhluk tak kasatmata itu menampakkan diri dengan tubuh tergantung di sebuah pohon, sementara lehernya terjerat kain putih.

“Hiiih, aku tidak mau melewati tempat itu, apalagi kalau sudah lewat Magrib,” tolak Mila ketika Lastri mengajaknya pulang melewati sebuah rumah yang sudah cukup lama ditinggalkan pemiliknya.

“Tapi sebentar lagi hujan, Mil. Kalau kita melewati jalan lain, tentunya akan makan waktu lebih lama,” jelas Lastri.

“Lebih baik makan waktu lama daripada mati ketakutan dikejar setan!”

Lastri mendengus kesal. “Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut. Aku pergi sendiri saja!”

“Memangnya kamu berani?!” tanya Mila, memastikan.

“Berani, lah! Tidak ada orang yang mati dimakan setan!” sungut Lastri sambil berlalu pergi.

Mila hanya berdiri diam, memperhatikan punggung Lastri yang semakin menjauh.

Ia kemudian menengadah.

Langit mulai kelam.

Jalan di sekitarnya juga semakin sepi.

“Aduh, apa aku ikut saja sama si Lastri?” gumam Mila bimbang.

Beberapa detik kemudian, terdengar panggilan panjang dari bibirnya.

“Lastriiii! Tunggu!”

Lastri tersenyum puas begitu mendengar suara Mila.

“He-he-he. Sudah aku duga. Si Mila mau tidak mau pasti ikut denganku.”

“Lastri, tunggu!” panggil Mila dari belakang. “Jalanmu cepat sekali!”

Lastri menghentikan langkah dan menoleh. Mila terlihat berlari kecil mengejarnya.

“Cepatlah kalau mau ikut denganku. Sebentar lagi hujan.”

Napas Mila tersengal-sengal. “Iya, aku juga tahu sebentar lagi akan turun hujan.”

“Ayo!”

Lastri menarik tangan Mila.

Keduanya kembali berjalan berdampingan sambil sesekali melempar senyum.

Tik... tik... tik...

Tetes hujan mulai membasahi tanah, bertepatan dengan dikumandangkannya azan Magrib dari kejauhan.

“Hujan, Lastri. Bagaimana ini?” Mila menatap langit.

“Ayo, kita lari saja!”

Keduanya langsung berlari sambil menutupi kepala dengan telapak tangan.

“Lastri, hujannya semakin deras!”

“Kita cari tempat berteduh!”

“Tapi...”

Lastri menarik tangan Mila kuat-kuat. “Itu ada pos ronda! Kita berteduh sebentar di sana!”

Mereka berlari menuju sebuah pos ronda kecil yang sangat sederhana. Atapnya terbuat dari ijuk, sementara beberapa bagian langit-langitnya bahkan sudah berlubang.

Begitu masuk, Mila langsung mengembuskan napas.

“Kenapa sih sering banget turun hujan?!”

“Karena sekarang sudah musim hujan,” jawab Lastri sambil merapikan rambutnya yang basah.

Mila mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Lastri... kita ada di mana?”

Lastri ikut memperhatikan keadaan sekitar.

“Yang pasti kita sudah masuk kampung sebelah. Kalau melewati jalan lurus itu, kita bisa cepat sampai ke kampung kita. Tapi malah hujan.”

Lastri menatap Mila kesal.

“Seharusnya kita pulang dari siang supaya tidak kemalaman di jalan. Kamu, sih, maunya nonton dangdut!”

Mila terkekeh. “Hiburan, dong, Lastri. Mumpung gratis. Acara hajatan pernikahan anaknya Mang Kodir lumayan ramai. Banyak tamu yang datang.”

“Iya, tapi ngomong-ngomong, aku mau tanya tentang cerita Pak RT yang membawa kartu undangan itu. Apa benar yang datang ke rumahmu malam itu setan yang menyerupai Pak RT?”

Mila langsung mengangguk.

“Iya, benar. Tidak lama setelah kami semua selesai salat Magrib, Pak RT yang asli datang bersama istrinya.”

“Terus?”

“Kami sempat bingung karena Pak RT datang untuk kedua kalinya. Tapi setelah kami menceritakan semuanya, barulah kami sadar kalau Pak RT yang datang pertama itu bukan manusia.”

Lastri merinding.

“Kertas undangan yang diberikan setan itu juga hilang entah ke mana. Padahal Abah ingat betul di mana beliau menyimpannya.”

“Hih... serem.”

Lastri memeluk tubuhnya sendiri.

Mereka terdiam.

Hanya suara hujan yang terdengar memenuhi malam.

Air menetes dari ujung atap ijuk.

Tik... tik... tik...

Cahaya lampu kuning yang temaram sedikit membantu menerangi pos ronda.

“Mil...” panggil Lastri.

“Mmm...”

“Sepertinya hujan akan lama reda. Bagaimana kalau kita pulang saja?”

Mila menatap hujan yang semakin deras.

“Tapi hujannya sangat deras. Kita akan basah kuyup.”

“Kita tidak tahu sampai kapan hujan ini akan berhenti. Nenekku pasti cemas memikirkan aku.”

Mila mengedarkan pandangan.

Tidak ada seorang pun di jalan.

“Tidak ada satu orang pun di sini.”

“Makanya kita pulang saja. Aku malah jadi takut kalau terlalu lama di sini. Bagaimana kalau ada orang jahat?”

Belum sempat Mila menjawab...

terdengar suara langkah kaki dari luar.

Srek... srek... srek...

Keduanya langsung menoleh.

Dua orang pria dewasa muncul dari balik tirai hujan.

Keduanya mengenakan jas hujan. Masing-masing membawa tas ransel berwarna hitam.

Mila dan Lastri spontan saling berpandangan.

Keduanya merapatkan tubuh.

Salah seorang pria yang bertubuh lebih tinggi tersenyum.

“Hai, Nona-nona. Boleh kami berdua ikut berteduh di sini?”

Lastri mengangguk ragu. Mila juga melakukan hal yang sama.

Garis kewaspadaan terlihat jelas di wajah mereka.

Pria satunya sibuk melepaskan jas hujan. Sesekali matanya melirik kepada Lastri dan Mila.

Lastri menyenggol lengan Mila.

“Sebaiknya kita pergi dari sini,” bisiknya.

Mila mengangguk.

Tangannya langsung meraih tangan Lastri.

“Kalian mau ke mana?” tanya pria bertubuh tinggi itu.

“Ka... kami mau pulang,” jawab Lastri sedikit gugup.

“Ini masih hujan deras.”

“Tidak apa-apa. Rumah kami dekat dari sini,” jelas Lastri. “Kami permisi.”

Mereka baru saja hendak keluar ketika...

Sreet... sreet...

Langit tiba-tiba memancarkan cahaya putih menyilaukan.

DUAAARRR!

Suara petir menggelegar memecah kesunyian malam.

Lastri dan Mila melonjak kaget.

Kedua pria itu juga ikut tersentak.

“Astaga! Hampir copot jantung gue!” ujar pria yang sejak tadi tidak banyak bicara sambil mengelus dada.

“Gila! Kencang banget!” sahut temannya.

Lastri dan Mila masih berdiri kaku dengan kedua tangan menutup telinga.

Niat mereka untuk meninggalkan pos ronda mendadak hilang.

Bukan karena kedua pria tersebut.

Melainkan karena suara petir yang seolah hendak membelah langit.

“Nona...” panggil pria bertubuh tinggi.

Lastri dan Mila menatapnya.

“Jangan takut. Saya dan teman saya bukan orang jahat,” jelas pria itu. “Nama saya Rio. Teman saya ini Fadil. Kami berdua baru saja mengantarkan seorang teman yang sedang sakit ke kampung ini. Kami berasal dari kota.”

Mila dan Lastri saling berpandangan.

Mereka belum sepenuhnya percaya.

Namun setidaknya penjelasan itu sedikit membuat mereka lebih tenang.

“Betul apa yang dikatakan Rio,” sambung Fadil dengan suara berat. “Ngomong-ngomong, apa kalian tahu di sekitar sini ada penginapan atau hotel? Kami berdua membutuhkan tempat untuk beristirahat malam ini.”

Lastri dan Mila mengamati wajah Rio dan Fadil dengan saksama.

Keduanya memang terlihat seperti orang kota.

Pakaian, tas, dan penampilan mereka berbeda dari pemuda-pemuda di kampung yang setiap hari harus berhadapan dengan panas matahari karena sebagian besar bekerja di kebun atau sawah.

Rio kembali tersenyum.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong, siapa nama kalian berdua?” tanyanya untuk mencairkan suasana.

Lastri hendak menjawab.

Namun sebelum bibirnya sempat terbuka...

angin tiba-tiba berembus melewati pos ronda.

Wuuussshhh...

Lampu kuning di atas kepala mereka berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu mati.

Ctak!

Kegelapan langsung menyelimuti pos ronda.

Mila mencengkeram tangan Lastri.

“Lastri...”

“Aku di sini.”

Fadil menyalakan senter dari ponselnya.

Cahaya putih menyapu ruangan.

Tidak ada apa-apa.

Namun dari luar pos ronda, di tengah suara hujan yang deras, terdengar suara perempuan tertawa kecil.

He... he... he...

Keempatnya terdiam.

Rio menurunkan ponselnya perlahan.

“Kalian dengar itu?”

Lastri mengangguk pelan.

Mila menggigit bibir.

Fadil berdiri.

“Itu suara siapa?”

Tidak ada jawaban.

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini lebih dekat.

He... he... he...

Lastri merasakan darahnya seolah membeku.

Karena di antara suara hujan, ia mendengar sebuah bisikan.

Sangat pelan.

Namun jelas.

“Lastri...”

Mata Lastri membelalak.

Mila langsung menatapnya.

“Las...”

Lastri tidak menjawab.

Ia hanya memandang ke arah luar pos ronda.

Di balik tirai hujan...

terlihat bayangan seorang perempuan berdiri di tengah jalan.

Rambutnya panjang.

Tubuhnya mengenakan pakaian putih.

Dan kepalanya miring ke satu sisi.

Bayangan itu tidak bergerak.

Hanya berdiri.

Menatap mereka.

Kemudian perlahan...

ia mengangkat tangannya.

Menunjuk tepat ke arah Lastri.

“Lastri...” bisikan itu kembali terdengar.

Kali ini bukan dari luar.

Melainkan dari belakang mereka.

Lastri dan Mila membalikkan badan secara bersamaan.

Tidak ada siapa-siapa.

Rio dan Fadil juga terlihat bingung.

Namun ketika Lastri kembali menoleh ke luar...

bayangan perempuan itu sudah menghilang.

Yang tersisa hanya jalanan basah dan hujan yang turun semakin deras.

Lastri menelan saliva.

Ia belum tahu siapa perempuan itu.

Namun ada satu hal yang mulai ia pahami.

Makhluk itu tidak sedang mengganggu Kampung Kemboja secara sembarangan.

Makhluk itu sedang mencari seseorang.

Dan malam ini...

ia telah menemukan Lastri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel