4. Hantu Rambut Panjang
Lastri dan Mila buru-buru memasukkan ketela pohon yang telah mereka kumpulkan ke dalam kantung plastik. Mereka seperti sedang berlomba dengan hujan yang turun semakin deras.
“Mil, bagaimana kalau kita berteduh di gubuk milik Mang Kodir?” ajak Lastri.
Mila langsung mengangguk. “Ayo!”
Keduanya berlari menuju gubuk tua yang biasa digunakan Mang Kodir untuk beristirahat ketika bekerja di kebun.
DUAARRR!
Lagi-lagi petir menggelegar, memecah kesunyian kebun.
Lastri dan Mila semakin mempercepat langkah. Masing-masing membawa kantung plastik berisi beberapa buah ketela pohon serta peralatan berkebun yang mereka bawa dari rumah.
Tak lama kemudian, mereka tiba di gubuk.
Bangunan sederhana itu berdinding kayu tua tanpa cat. Beberapa bagian dinding bahkan sudah berlubang sehingga cahaya dari luar masih bisa masuk melalui celah-celahnya. Di dalam hanya terdapat sebuah meja kecil, dua kursi kayu, cangkul, golok, dan beberapa peralatan berkebun milik Mang Kodir.
Namun bagi Lastri dan Mila, gubuk tua itu terasa seperti tempat paling aman dari hujan.
Pintu gubuk memang tidak pernah dikunci. Mang Kodir sengaja membiarkannya terbuka agar siapa pun yang sedang berada di kebun dapat berteduh atau sekadar beristirahat.
Lastri langsung masuk.
Mila menyusul di belakangnya.
Begitu berada di dalam, Lastri meletakkan kantung plastik di sudut ruangan. Ia mengembuskan napas lega.
“Untung masih ada tempat berteduh.”
Mila duduk di kursi kayu yang berada di samping Lastri. Ia memeluk kedua lengannya sendiri karena udara di dalam gubuk terasa dingin.
“Lastri...” bisiknya.
“Apa?”
Mila merapatkan tubuhnya kepada Lastri. Matanya mengedar ke seluruh ruangan yang hanya diterangi cahaya kelabu dari luar. “Kenapa bulu kudukku merinding?”
Lastri langsung menoleh.
“Kamu bisa tidak, di saat seperti ini jangan bicara yang aneh-aneh?” protesnya. “Kamu selalu saja membuat suasana menjadi tidak nyaman.”
Mila diam.
Namun beberapa detik kemudian, hidung mungilnya bergerak.
Kembang-kempis.
Lastri memperhatikan.
“Apa lagi?”
Mila menatapnya.
“Lastri...”
“Apa?”
“Bau bangkai.”
Lastri tidak langsung menjawab.
Pikirannya masih tertuju kepada Nenek Eroh yang sekarang sendirian di rumah.
Namun mendengar perkataan Mila, ia terpaksa ikut mengendus udara.
Awalnya tidak tercium apa-apa.
Kemudian...
perlahan...
bau busuk itu masuk ke penciumannya.
Lastri langsung membeku.
Bau bangkai.
Bau yang sama seperti malam sebelumnya.
Bulu kuduknya seketika berdiri.
DUAARRR!
Suara petir menggelegar begitu keras hingga gubuk tua itu seakan bergetar.
“Aaaaa!”
Lastri dan Mila menjerit bersamaan sambil menutup telinga.
“Ya ampun, kencang sekali!” seru Lastri setelah suara petir menghilang. Ia melihat ke arah pintu gubuk yang tertutup rapat. “Untung saja kita berada di dalam gubuk ini.”
Mila masih memegangi dadanya. Jantungnya berdetak cepat.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Bagaimana kalau petir menyambar gubuk ini?”
“Hush! Jangan bicara sembarangan!”
Lastri bangkit dari duduknya lalu mengintip keluar melalui celah dinding kayu yang tidak terlalu rapat.
“Hujannya deras sekali. Pohon-pohon sampai tidak kelihatan.”
Mila ikut berdiri. “Bagaimana kalau hujannya tidak berhenti?”
Lastri menoleh.
“Aku tidak mau tidur di sini.”
“Aku juga tidak mau tidur di sini!” sungut Lastri. “Kalau sampai tidak berhenti, terpaksa kita pulang hujan-hujanan. Aku mencemaskan Nenek yang sendirian di rumah.”
Keduanya kembali duduk.
Tidak ada yang berbicara.
Di luar, hujan mengguyur bumi tanpa henti.
Brussshhh... brussshhh...
Suara air hujan memenuhi seluruh kebun.
Lastri menatap pintu.
Mila menatap celah dinding.
Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian...
Krieeeth...
Keduanya langsung menoleh.
Kursi kosong yang berada tepat di depan mereka bergerak sedikit.
Lastri mengerutkan dahi.
“Mil...”
Mila memegang tengkuknya sendiri.
“Kok jadi horor sih?” bisiknya.
Lastri menatap kursi itu.
Kursi tersebut kembali diam.
“Mungkin terkena angin.”
“Tapi pintunya tertutup.”
Lastri tidak menjawab.
Bulu kuduknya juga mulai berdiri.
Kemudian...
Krieeeth...
Kursi itu bergerak lagi.
Kali ini lebih jelas.
Kakinya bergeser beberapa sentimeter di atas lantai kayu.
Mila langsung menggenggam lengan Lastri.
“Lastri...”
“Diam.”
“Menurutmu itu angin?”
Lastri menelan ludah.
Ia tidak menjawab.
Karena di dalam hati, ia sendiri mulai merasa bahwa itu bukan angin.
Tiba-tiba...
Blukhh!
Keduanya melonjak kaget.
Gagang cangkul milik Mang Kodir yang terpasang di dinding jatuh ke lantai.
“Astaga!” Lastri mengelus dadanya. Jantungnya seakan hampir berhenti karena kaget.
Mila mengembuskan napas panjang. “Bikin kaget saja!”
Ia bangkit dan mengambil gagang cangkul tersebut.
“Taruh saja di lantai,” ujar Lastri.
“Tidak. Nanti Mang Kodir marah kalau melihat peralatannya berantakan.”
Mila menggantungkan kembali gagang cangkul ke dinding.
Setelah itu ia kembali duduk.
Lastri melihat jam tangannya.
“Kalau dalam sepuluh menit hujan tidak berhenti juga, aku mau pulang. Kasihan Nenek sendirian di rumah.”
“Aku juga mau pulang,” jawab Mila. “Ngapain aku sendirian di sini?”
Wushhhh!
Angin tiba-tiba berembus.
Bukan dari luar.
Melainkan dari arah belakang mereka.
Rambut Lastri bergerak perlahan.
Mila langsung menoleh.
“Lastri...”
“Apa lagi?”
“Rasanya seperti ada angin dari belakang.”
Lastri hendak menjawab.
Namun sebelum sempat membuka mulut, hidungnya menangkap aroma lain.
Bukan bau bangkai.
Melainkan bau bunga.
Bunga melati.
Aroma itu masuk perlahan ke dalam gubuk.
Mila mengendus.
“Bau apa ini?”
Lastri menatap kosong ke arah depan.
“Kembang,” bisiknya.
Bulu kuduknya langsung berdiri.
Jantung Mila berdetak semakin cepat.
Pikirannya dipenuhi berbagai hal berbau horor. Matanya mengedar ke seluruh ruangan gubuk yang temaram.
“Las...”
“Aku tahu.”
“Kita lebih baik pergi dari sini.”
Lastri mengangguk.
“Iya.”
Keduanya buru-buru mengambil kantung plastik berisi ketela pohon.
Lastri berdiri dan membuka pintu gubuk.
Namun baru saja pintu terbuka...
Krieeeth...
Kursi kosong di belakang mereka berderit.
Bukan sekali.
Kali ini terdengar seperti seseorang baru saja duduk di atasnya.
Lastri dan Mila membeku.
Perlahan...
keduanya menoleh.
Kursi itu terlihat kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Mila menelan ludah. “Suara apa tadi?”
Lastri mengangkat kedua bahunya, meskipun wajahnya sudah pucat. “Tidak tahu. Mungkin suara angin.”
“Kamu yakin?”
“Tidak.”
Jawaban itu justru membuat Mila semakin takut.
Mila kemudian membuka pintu lebih lebar.
Hujan deras dan angin kencang langsung menyambut mereka.
“Mil, hujannya sangat deras,” ujar Lastri. “Sampai di rumah kita pasti basah kuyup.”
“Lebih baik kita pulang basah kuyup daripada berlama-lama tinggal di tempat seperti ini.”
Keduanya melangkah keluar.
Namun baru beberapa langkah...
Krieeeth...
Suara kursi kembali terdengar.
Lastri berhenti.
Mila juga berhenti.
Keduanya perlahan menoleh ke belakang.
Kali ini...
mereka melihat sesuatu.
Di atas kursi tua itu...
ada seseorang.
Atau sesuatu.
Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas kursi.
Rambut panjang terurai menutupi sebagian wajah.
Baju putih lusuh melekat pada tubuhnya.
Noda tanah memenuhi bagian bawah pakaian.
Kepalanya tertunduk.
Rambutnya menutupi wajah.
Tetapi kedua kakinya...
tidak menyentuh kursi.
Melainkan menggantung di udara.
Mila menutup mulut.
“Sese...”
Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya.
Rambut panjangnya bergeser.
Wajah pucat dengan mata hitam pekat terlihat di balik rambut.
Mila akhirnya menjerit.
“SETAAAAN!”
Ia langsung berlari tunggang-langgang menembus derasnya hujan.
Lastri menyusul tanpa berpikir lagi.
Ia tidak peduli dengan hujan.
Tidak peduli tanah merah yang licin.
Tidak peduli kantung plastik berisi ketela pohon yang hampir terlepas dari tangannya.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Menyelamatkan diri.
Kakinya yang tadi masih memakai sandal kini tidak lagi beralas.
Sandalnya terlepas entah di mana.
Rambut Lastri basah kuyup menempel di wajah. Pandangannya menjadi buram karena air hujan, tetapi ia terus berlari.
Di belakangnya...
tidak terdengar langkah kaki.
Tidak ada suara mengejar.
Tidak ada suara teriakan.
Namun ketika Lastri memberanikan diri menoleh...
sosok perempuan itu sudah tidak berada di gubuk.
Lastri langsung kembali menghadap ke depan.
“Ya Allah!”
Ia mempercepat langkah.
Tidak berani menoleh lagi.
---
Bruuukhh!
Pintu rumah didorong kuat-kuat hingga Lastri hampir terjatuh dan terjerembap ke lantai.
Nenek Eroh yang sedang duduk di kursi langsung terlonjak.
“Lastri!”
Lastri buru-buru menutup pintu.
Brak!
Ia menguncinya kuat-kuat.
Napasnya naik turun tidak beraturan.
“Neng, kamu kenapa?”
Lastri menatap neneknya.
Tubuhnya gemetar.
“Nek...”
“Apa yang terjadi?”
“Tadi... tadi...” Lastri menelan ludah. “Tadi aku melihat hantu.”
Kening Nenek Eroh mengernyit.
“Hantu?”
“Iya.”
“Siang-siang begini kamu melihat hantu?”
“Aku tidak bohong, Nek!” tegas Lastri. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”
Nenek Eroh menatap cucunya beberapa saat.
Kemudian menghela napas.
“Iya, baiklah. Nenek percaya.”
Lastri mengusap dadanya.
“Sekarang ganti dulu bajumu,” lanjut Nenek Eroh. “Nanti kamu masuk angin.”
Tanpa diminta dua kali, Lastri langsung membawa kantung plastik berisi ketela pohon dan pergi menuju kamar mandi.
Nenek Eroh kembali duduk.
Wajah keriputnya yang telah dimakan usia masih menyisakan garis-garis kecantikan dari masa mudanya.
Ia termenung.
Perkataan Lastri tadi terus terngiang di kepalanya.
Aku melihat hantu.
Nenek Eroh menatap pintu kamar mandi.
Kemudian tanpa sadar pandangannya beralih ke nakas di dekat tempat tidurnya.
Pigura foto Kasih masih berada di sana.
Retakan pada kacanya masih terlihat jelas.
Nenek Eroh menatap foto itu cukup lama.
“Kamu pulang lagi, Nak?”
Suaranya begitu lirih.
Tidak ada jawaban.
Namun...
Tok... tok... tok...
Tiga ketukan terdengar dari pintu kamar.
Nenek Eroh langsung menoleh.
“Lastri?”
Tidak ada jawaban.
“Neng?”
Sunyi.
Nenek Eroh perlahan bangkit dari kursinya.
Ia berjalan mendekati pintu.
Tangannya baru saja hendak menyentuh gagang pintu ketika suara Lastri terdengar dari kamar mandi.
“Nek! Ada apa?”
Nenek Eroh membeku.
Kalau Lastri masih berada di kamar mandi...
lalu siapa yang mengetuk pintunya?
---
Sementara itu, Lastri selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaian.
Begitu keluar dari kamar mandi...
“Hatciiih!”
Ia bersin.
Wajah mungilnya terlihat pucat.
“Cepat minum air hangat agar kamu tidak terkena flu!” seru Nenek Eroh dari ruang tengah.
“Iya, Nek.”
Lastri berjalan menuju ruang tengah.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Nek?”
Tidak ada jawaban.
“Nenek di mana?”
Lastri mencari ke seluruh ruangan.
Akhirnya ia menemukan Nenek Eroh berdiri kaku di depan pintu kamar.
“Nek, kenapa?”
Nenek Eroh perlahan menoleh.
Wajahnya pucat.
“Lastri...”
“Iya?”
Nenek Eroh menunjuk pintu kamar dengan tangan gemetar.
“Tadi... ada yang mengetuk.”
Lastri mengerutkan dahi.
“Siapa?”
“Nenek kira kamu.”
“Tapi aku tadi masih di kamar mandi.”
Nenek Eroh mengangguk pelan.
“Itulah yang membuat Nenek takut.”
Lastri mendekat.
“Memangnya setelah diketuk, siapa yang membuka pintunya?”
“Nenek belum sempat membuka.”
“Lalu?”
Nenek Eroh menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.
“Setelah itu...”
Ia berhenti.
Lastri menunggu.
“Suara ketukan itu terdengar lagi.”
Tok... tok... tok...
Keduanya langsung membeku.
Ketukan terdengar dari balik pintu kamar.
Tiga kali.
Persis seperti sebelumnya.
Tok... tok... tok...
Lastri perlahan menggenggam tangan neneknya.
“Nek...”
Nenek Eroh tidak menjawab.
Karena dari balik pintu kamar, terdengar suara perempuan berbisik.
Sangat pelan.
Namun cukup jelas untuk membuat darah Lastri seketika terasa dingin.
“Nenek... buka pintunya...”
Nenek Eroh langsung menutup mulut.
Lastri membelalak.
Suara itu...
suara yang sama yang selama ini hanya hidup dalam ingatan mereka.
Suara Kasih.
Dan kemudian terdengar ketukan terakhir.
Tok... tok... tok...
Disusul sebuah bisikan yang membuat Nenek Eroh menangis ketakutan.
“Aku pulang...”
