3. Seringai Dari Kegelapan
Kelopak mata Lastri berkaca-kaca. Pigura yang masih dipegangnya perlahan diletakkan di atas nakas, tepat di samping tempat tidur neneknya. Ia berusaha tegar agar Nenek Eroh tidak ikut merasakan kesedihan yang sedang memenuhi dadanya.
Beberapa saat kemudian, Pak RT dan Mang Udin berpamitan karena masih ada urusan yang harus diselesaikan di balai desa.
Setelah keduanya pergi, Nenek Eroh memandang cucunya. “Kamu tidak ke kebun, Lastri?”
“Kalau aku pergi, bagaimana dengan Nenek?” tanya Lastri.
“Pergilah ke kebun. Nenek hanya sakit flu saja. Tidak perlu terlalu dikhawatirkan.” Nenek Eroh kemudian teringat sesuatu. “Nanti kalau pulang, mampirlah ke kebun Mang Kodir. Beli sedikit ketela pohon. Nenek ingin makan ketela rebus.”
“Nenek yakin tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri?” Lastri masih memastikan.
Nenek Eroh mengangguk. “Kalau kamu tidak pergi ke kebun, kita tidak punya uang. Kamu tahu sendiri, dari mana kita mendapatkan uang untuk makan kalau bukan dari hasil kebun?”
Lastri terdiam.
Apa yang dikatakan neneknya memang benar.
Hasil kebun berupa sayur-sayuran selama ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang menghidupi dirinya dan Nenek Eroh. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat mereka bertahan hidup.
Lastri akhirnya menghela napas. “Baiklah, Nek. Tapi kalau Nenek merasa tidak enak badan, jangan memaksakan diri. Segera panggil tetangga.”
“Iya. Nenek tahu.”
Setelah memastikan semua kebutuhan neneknya tersedia di dekat tempat tidur, Lastri mempersiapkan perlengkapan untuk pergi ke kebun.
Tak lama kemudian, ia keluar rumah.
Jalan setapak dari tanah merah menjadi pilihan Lastri karena jalur itu lebih cepat membawanya menuju kebun. Sisa hujan semalam membuat tanah menjadi licin dan becek. Beberapa genangan air masih terlihat di antara rerumputan.
Lastri baru berjalan beberapa menit ketika sebuah suara cempreng terdengar dari arah rimbunnya ilalang di pinggir jalan.
“Lastriii!”
Lastri menoleh.
Mila muncul dari balik ilalang dengan kepala tertutup topi bundar yang terbuat dari anyaman bambu.
“Mau ke mana?” tanya Mila.
“Ke kebun.”
“Kebetulan kita searah,” ujar Mila sambil berjalan mendekat. “Aku juga mau ke kebun. Abah katanya ingin ketela pohon.”
“Ya sudah, sekalian saja.”
Keduanya kembali berjalan berdampingan.
Jalan setapak tanah merah yang licin membuat mereka harus berhati-hati. Sesekali kaki mereka hampir terpeleset karena lumpur yang masih tersisa akibat hujan semalam.
Setelah beberapa saat berjalan, Mila membuka percakapan. “Lastri, tadi Pak RT datang ke rumah. Katanya mau menanyakan kabarku setelah kejadian semalam waktu bertemu hantu kain kafan.”
“Pak RT juga datang ke rumahku,” jawab Lastri. “Tapi cuma sebentar.”
Mila menghela napas. “Menurutmu, kenapa kampung kita ini sering sekali diteror hantu kain kafan? Apa hantu itu punya dendam dengan kampung kita?”
Lastri melirik Mila. “Kamu tanyakan sendiri kepada pocong itu kenapa dan mengapa dia mengganggu kampung kita.”
Mila langsung mendelik kesal.
Lastri terkekeh. “He-he-he. Kenapa?”
“Kamu malah bercanda.”
“Lagian kamu aneh. Tanya langsung saja sama pocongnya. Kenapa tanya sama aku?” Lastri tertawa kecil. “Memangnya aku teman dekat pocong?”
Mila mendengus. “Aku serius, Las.”
Lastri hendak menjawab, tetapi Mila tiba-tiba berhenti berjalan.
Hidung mungilnya kembang-kempis.
“Lastri...” panggilnya pelan.
“Apa?”
“Apa kamu mencium sesuatu?”
Kening Lastri mengernyit. Ia ikut berhenti dan mulai membaui udara di sekitar.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
“Bau bangkai.”
“Iya.” Mila mengangguk cepat. “Bau bangkai.”
Pikiran Mila langsung kembali pada kejadian semalam.
Bau bangkai.
Suara dari balik ilalang.
Kemudian...
Pocong.
Wajahnya seketika pucat.
“Jangan-jangan...”
“Ini siang hari!” potong Lastri cepat. “Mana ada hantu di siang bolong? Jangan mengada-ngada.”
“Tapi bau bangkai ini sama persis seperti bau hantu bungkus itu!”
Lastri mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Pohon-pohon.
Semak.
Ilalang.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
“Mungkin ada bangkai binatang di sekitar sini.”
Mila masih terlihat ragu.
Kreeek!
Suara patahan ranting terdengar dari balik rimbunnya ilalang.
Keduanya langsung terdiam.
Mila merapatkan tubuhnya kepada Lastri.
“Suara apa itu?” tanyanya dengan suara bergetar.
Lastri menelan ludah.
Entah mengapa, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Pikiran Lastri mau tak mau terpengaruh oleh kejadian semalam.
Semuanya bermula dari bau bangkai yang menyengat.
Kemudian terdengar suara dari balik ilalang.
Lalu...
Pocong itu muncul.
Kreeek!
Suara patahan ranting kembali terdengar.
Lastri menatap ilalang tanpa berkedip.
“Mungkin cuma binatang,” bisiknya.
Namun sebelum ia sempat melangkah, Mila tiba-tiba berteriak.
“Aaaaa!”
Lastri ikut tersentak.
Dari balik rimbunnya ilalang, muncul sebuah sosok putih.
“Aaaaa!”
Teriakan lain terdengar dari sosok tersebut.
Lastri dan Mila membeku.
Kemudian mereka saling berpandangan.
“Las...” bisik Mila.
Lastri menatap sosok putih itu dengan mata terbelalak.
Perlahan, sosok tersebut keluar dari balik ilalang.
Kain putih.
Bentuk tubuh tinggi.
Sesuatu yang tampak seperti kain kafan.
“Pocong!”
Lastri hampir saja berlari.
Namun beberapa detik kemudian, sosok itu mengangkat kepalanya.
“Eh?”
Lastri menyipitkan mata.
“Mang Kodir?”
Sosok itu ternyata Mang Kodir.
“Aduh, kalian ini bikin kaget saja!” protes Mang Kodir sambil menurunkan karung putih yang sejak tadi dipikul di atas kepalanya.
Mila menatapnya dari atas sampai bawah. “Mang Kodir yang bikin kaget! Kirain pocong!”
“Pocong?” Mang Kodir mengernyitkan dahi.
“Iya!” Mila menunjuk karung putih yang tadi berada di kepala Mang Kodir. “Itu karung kenapa dipikul di kepala? Kita berdua sampai kaget!”
Mang Kodir terkekeh. “Kalau bukan di kepala, dipikul di mana, Neng? Lagian, mana ada pocong berkeliaran di siang bolong?”
“Kan bisa dipikul di punggung!” protes Mila masih kesal.
Lastri langsung menyenggol lengan Mila. “Hush! Suka-suka Mang Kodir. Mau dipikul di punggung, di kepala, atau dimasukin ke celana juga tidak masalah. Yang bawa juga Mang Kodir, bukan kita.”
Mang Kodir tertawa. “He-he-he. Bisa saja Neng Lastri.”
Mila mencibir.
Lastri kemudian teringat pesan neneknya.
“Kebetulan bertemu Mang Kodir di sini,” ujar Lastri. “Saya sebenarnya mau ke kebun Mang Kodir untuk membeli ketela pohon. Nenek katanya ingin makan ketela rebus.”
“Tapi Mang mau ke pasar,” jelas Mang Kodir. “Di dalam karung ini ada ketela pohon, tapi semuanya sudah dipesan orang di pasar.”
“Aku juga mau beli ketela pohon, Mang. Abah juga ingin ketela rebus,” sela Mila.
Mang Kodir menggaruk kepalanya.
Sesaat ia berpikir sebelum akhirnya berkata, “Di kebun masih banyak ketela pohon. Tapi kalian harus mencabut sendiri dari dalam tanah. Apa kalian berdua bisa?”
Serentak Lastri dan Mila mengangguk.
“Bisa, Mang!”
“Ya sudah. Ambil saja secukupnya. Jangan terlalu banyak.”
“Terima kasih, Mang,” ujar Lastri tersenyum.
Setelah itu Mang Kodir pergi membawa karung berisi ketela pohon menuju pasar.
Lastri memandang kepergiannya.
“Lumayan, Mil. Kita mendapat ketela pohon gratis dari Mang Kodir.”
“Iya.”
“Ayo cepat! Kita ke kebun Mang Kodir dulu. Setelah itu baru kita ke kebun kita untuk memetik sayuran.”
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Dalam beberapa menit, rasa takut mereka terhadap bau busuk tadi perlahan terlupakan.
Mereka tidak lagi memikirkan suara patahan ranting.
Tidak lagi memikirkan pocong.
Dan tidak lagi memikirkan bau bangkai yang sempat tercium begitu jelas.
Namun, mereka tidak tahu bahwa sesuatu masih berada di sana.
Di balik rimbunnya daun yang bergerak perlahan tertiup angin.
Bau anyir bercampur busuk kembali memenuhi udara.
Dari balik dedaunan, terlihat kain kafan putih yang kusam.
Sosok itu berdiri diam.
Kemudian kepalanya bergerak perlahan mengikuti arah kepergian Lastri dan Mila.
Bibir hitamnya tertarik membentuk seringai.
“Lastriii...”
Suara itu begitu lirih.
Hampir seperti bisikan angin.
Namun setelah Lastri dan Mila menghilang di ujung jalan, sosok itu tetap berdiri di tempatnya.
Menunggu.
---
Kebun ketela pohon milik Mang Kodir cukup luas. Barisan tanaman singkong tumbuh subur di atas tanah yang gembur.
Lastri dan Mila memilih beberapa tanaman yang terlihat cukup besar.
“Mil, bantu aku mencabut pohon ini terlebih dahulu. Setelah itu baru aku bantu kamu.”
“Iya, baiklah!”
Mila berjongkok dan memegang batang singkong yang ditunjuk Lastri.
Lastri ikut memegangnya.
“Satu... dua... tiga!”
Mereka menarik sekuat tenaga.
Srek!
Tanah yang gembur perlahan terangkat.
“Wah!” Lastri berseru senang ketika umbi singkong mulai terlihat. “Umbi singkongnya besar-besar!”
“Iya!” Mila ikut bersemangat.
Lastri segera membersihkan tanah yang menempel pada umbi tersebut, lalu memotong bagian yang bisa dibawa pulang dan memasukkannya ke dalam plastik yang sudah dibawanya dari rumah.
“Sekarang bantu aku mencabut ketela pohon milikku!”
“Ayo!”
Mereka berpindah ke tanaman berikutnya.
Tidak ada kendala berarti.
Pohon singkong milik Mila juga cukup mudah dicabut. Umbinya bahkan tidak jauh berbeda dari milik Lastri.
“Setelah ini aku harus memetik sayuran di kebun,” ujar Lastri sambil merapikan singkong. “Kita bereskan dulu pohon-pohon ini. Jangan sampai Mang Kodir marah karena kita membiarkan bekas cabutan berserakan.”
“Iya. Kita sudah diberi singkong gratis. Jangan sampai kita tidak tahu diri.”
Mereka merapikan tanah di sekitar tanaman yang sudah dicabut.
Tiba-tiba...
DUAARRR!
Suara petir menggelegar di langit.
Lastri dan Mila sampai meloncat karena terkejut.
“Aaaa!”
“Astaga!” Mila memegang dadanya. “Aku sampai kaget!”
Keduanya spontan menengadah.
Langit yang beberapa menit lalu masih terang kini berubah kelabu.
Awan hitam mulai bergerak mengelilingi Kampung Kemboja.
“Padahal tadi panas banget,” ujar Mila. “Kenapa sekarang mendung?”
Lastri memandang langit dengan perasaan tidak enak.
“Tadi juga tidak ada tanda-tanda mau hujan.”
Tik... tik... tik...
Tetes air mulai jatuh mengenai daun-daun singkong.
Mila mengangkat tangan.
“Hujan.”
Beberapa tetes lain jatuh semakin banyak.
Tik... tik... tik... tik...
“Ya ampun, Mil! Ini mau hujan!” seru Lastri. “Kita harus cepat-cepat sebelum hujan deras!”
Mereka segera mengangkat plastik berisi singkong.
Namun ketika Lastri hendak berdiri, sesuatu membuat langkahnya terhenti.
Di tanah yang baru saja mereka gali...
terlihat sebuah benda kecil berwarna putih.
Lastri mengernyit.
“Apa itu?”
Mila ikut menunduk.
“Entahlah. Coba ambil.”
Lastri berjongkok dan menarik benda tersebut dari tanah.
Sebuah potongan kain.
Kain putih.
Kain yang sudah kusam dan basah oleh tanah.
Lastri memandanginya beberapa detik.
Entah mengapa, benda itu membuat dadanya terasa sesak.
Mila tiba-tiba mundur.
“Las... jangan pegang itu.”
“Kenapa?”
Mila menunjuk kain tersebut dengan tangan gemetar.
“Baunya...”
Lastri membeku.
Perlahan ia mencium kain itu.
Dan seketika wajahnya berubah pucat.
Bau yang sama.
Bau busuk yang mereka cium di jalan.
Bau yang sama ketika mereka bertemu pocong.
Lastri langsung menjatuhkan kain tersebut.
Pluk!
Kain itu jatuh ke tanah.
Namun sebelum mereka sempat beranjak...
hujan mendadak turun dengan sangat deras.
Byurrrr!
Dalam hitungan detik, seluruh kebun diguyur hujan.
Mila menggenggam lengan Lastri.
“Las... kita pulang sekarang.”
Lastri mengangguk.
Tetapi ketika mereka berbalik...
di antara barisan tanaman singkong yang tertutup tirai hujan, terlihat sesuatu berdiri.
Putih.
Diam.
Jauh di ujung kebun.
Lastri memicingkan mata.
“Mila...”
“Apa?”
“Itu siapa?”
Mila mengikuti arah pandangan Lastri.
Wajahnya langsung pucat.
“Lastri...”
“Apa?”
“Itu...”
Sosok putih itu perlahan bergerak.
Tap...
Mereka mundur satu langkah.
Tap...
Satu lompatan lagi.
Mila mencengkeram lengan Lastri.
“Lastri... itu bukan Mang Kodir.”
Lastri menelan ludah.
Karena di tengah derasnya hujan, sosok itu mulai bergerak mendekat.
Tap...
Dan bau busuk yang sangat mereka kenal kembali memenuhi kebun.
Kali ini jauh lebih menyengat.
Jauh lebih dekat.
Dan dari balik suara hujan, terdengar bisikan yang membuat darah Lastri seolah berhenti mengalir.
“Aku sudah bilang... aku tidak bunuh diri...”
