Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Mengakhiri Hidup

Pak RT berusaha menghindari semburan cairan berbau busuk yang keluar dari bibir hitam berdarah milik pocong tersebut. Ia mundur beberapa langkah dengan wajah meringis sambil menahan rasa mual yang semakin menjadi-jadi. “Hantu sialan!” umpat Pak RT di antara keterkejutannya.

Cuih!

Pocong itu kembali meludah. Cairan merah kehitaman yang kental menyembur dari mulutnya dan jatuh ke tanah. Bau busuk yang menyengat langsung memenuhi udara.

Pak RT menutup hidung dengan telapak tangannya. “Bau apa sebenarnya ini? Kenapa busuknya seperti bau bangkai yang sudah membusuk berhari-hari?”

Pocong itu hanya berdiri diam.

Tidak menjawab.

Tidak bergerak.

Namun lubang mata hitamnya terus menatap Pak RT.

Dalam kepercayaan masyarakat, pocong konon merupakan arwah orang yang telah meninggal dan masih terperangkap dalam kain kafannya karena proses kematiannya tidak sempurna. Namun, malam itu Pak RT merasakan sesuatu yang berbeda.

Makhluk di hadapannya seolah bukan sekadar arwah penasaran.

Ada kebencian dalam tatapannya.

Ada kemarahan yang begitu dalam.

Dan entah mengapa, Pak RT merasa makhluk itu sedang mencari seseorang.

Tong... tong... tong...!

Suara kentongan dari kejauhan tiba-tiba terdengar.

Pak RT hampir menangis lega.

Suara itu menjadi penyelamatnya.

“Pak RT!”

Seruan dari kejauhan memenuhi udara. Suasana yang semula sunyi berubah ramai. Cahaya obor mulai terlihat bergerak mendekati tempat Pak RT berdiri.

Tak lama kemudian, beberapa warga datang berlari sambil membawa obor di tangan masing-masing.

Pak RT mengembuskan napas panjang. Setidaknya nyawanya selamat malam ini. Meskipun rasa mual masih menyeruak dari perut dan wajahnya dipenuhi keringat dingin, kedatangan warga membuatnya sedikit lebih tenang.

“Pak RT!”

Pak Kamal, Pak Gani, dan Mang Udin segera menghampirinya.

“Kalian datang tepat waktu,” ujar Pak RT dengan napas tersengal. Ia langsung menoleh ke arah tempat pocong tadi berdiri. “Pocong itu...”

Kalimatnya terputus.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Pak RT mengerutkan dahi. “Ke mana setan sialan itu?”

Delapan warga yang terdiri dari para bapak-bapak langsung mengelilingi Pak RT. Obor yang mereka bawa membuat jalan yang sebelumnya gelap kini menjadi terang.

Pak Kamal mengarahkan obornya ke sekitar. “Hantu kain kafan itu sudah tidak ada, Pak RT. Saya sudah melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada apa-apa.”

“Untunglah Bapak selamat,” sambung Pak Gani. “Saya sengaja datang kembali bersama warga setelah mendengar teriakan Bapak. Kami takut terjadi sesuatu.”

Pak RT mengusap wajahnya. Tangannya masih gemetar. “Kalian tidak tahu bagaimana mengerikannya makhluk itu. Dia bukan hanya mengganggu. Dia menyerang saya.”

Mang Udin langsung terlihat serius. “Hantu bungkus itu benar-benar semakin mengganggu kita semua. Kalau dibiarkan, lama-lama warga tidak akan berani keluar rumah setelah malam. Kita harus segera bertindak.”

“Iya, betul!” seru beberapa warga hampir bersamaan.

Pak RT mengangguk. “Besok kita bicarakan bersama. Saya tidak ingin ada warga lain yang menjadi korban.”

Namun, tanpa disadari oleh siapa pun, beberapa meter dari tempat mereka berdiri, di balik rumpun pohon pisang, sepasang mata hitam sedang mengawasi.

Diam.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Sampai akhirnya cahaya obor menjauh dan suara langkah kaki warga semakin samar.

Barulah sepasang mata itu menghilang dalam kegelapan.

---

Sejak kejadian malam sebelumnya, ketika Pak RT disembur cairan berbau busuk oleh hantu bungkus, teror semakin sering terjadi.

Hampir setiap hari selalu ada cerita baru dari warga.

Ada yang mendengar suara ketukan dari pintu rumah pada tengah malam, tetapi ketika pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa.

Ada yang melihat sosok putih berdiri di ujung jalan.

Ada pula yang mendengar suara seseorang menangis dari kebun kosong.

Banyak ibu-ibu, terutama para remaja putri, mulai enggan keluar rumah setelah Magrib.

Kampung Kemboja yang sebelumnya dikenal sebagai kampung kecil yang aman dan damai kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ketakutan perlahan merasuki setiap rumah.

Tidak ada lagi warga yang berani berjalan sendirian ketika malam telah turun.

Bahkan suara kentongan ronda yang biasanya menenangkan justru membuat sebagian warga semakin gelisah.

Mereka takut.

Takut kalau suara kentongan itu bukan berasal dari para peronda.

Melainkan dari sesuatu yang lain.

---

“Neng...” suara panggilan Nenek Eroh terdengar dari arah kamar.

“Iya, Nek!” jawab Lastri.

Pintu kamar tua itu didorong dari luar. Lastri masuk sambil membawa nampan kecil berisi segelas air putih dan obat. “Ada apa, Nek?”

“Nenek haus.”

Lastri tersenyum. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidur. “Ini. Aku membawakan Nenek air minum.”

Nenek Eroh tersenyum. Gigi-giginya yang sudah ompong terlihat jelas. “Kamu memang cucuku yang paling baik. Kalau tidak ada kamu, bagaimana jadinya nenek tua ini?”

“Jangan bicara seperti itu, Nek. Banyak kok yang sayang sama Nenek.” Lastri duduk di tepi tempat tidur. “Sekarang waktunya Nenek minum obat.”

Dengan telaten, Lastri membantu neneknya minum obat. Setelah itu, ia merapikan bantal dan selimut yang berantakan.

Nenek Eroh memandang cucunya cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Andai saja kakakmu masih ada...”

Tangan Lastri yang sedang merapikan selimut langsung berhenti.

“Kamu pasti tidak akan kerepotan mengurus Nenek yang sakit-sakitan seperti ini.”

Lastri menghela napas panjang. Wajah kakaknya, Kasih, seketika terbayang di pelupuk matanya.

“Kasih masih sangat muda waktu meninggal,” lanjut Nenek Eroh dengan suara bergetar. “Kalau dia masih hidup, mungkin hidup kita tidak akan sesulit ini.”

“Kak Kasih...” bisik Lastri.

Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Nenek Eroh mengusap sudut matanya sendiri. “Kakakmu masih sangat muda, cantik, dan pintar. Tapi sayang...”

Nenek menjeda kalimatnya.

Bulir air mata perlahan mengalir melewati keriput di pipinya.

“Nasibnya sungguh malang.”

“Sudah, Nek. Aku jadi sedih.” Lastri berusaha menahan air matanya. “Jangan terus mengingat Kak Kasih.”

Namun Nenek Eroh justru menangis semakin dalam. Tubuh kurusnya terguncang menahan isak tangis.

“Kenapa kakakmu memilih jalan kematian seperti itu?” tanyanya di antara isak tangis. “Kenapa dia harus mengakhiri hidupnya sendiri?”

“Nek, sudah...” Lastri merangkul tubuh ringkih neneknya, berusaha memberikan kekuatan. “Semua sudah menjadi takdir Kak Kasih. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mendoakan supaya Kak Kasih tenang di alam sana.”

“Kasihan kakakmu...” suara Nenek Eroh terdengar semakin lirih. “Kecantikan dan kepintarannya justru membuat dia menderita.”

Lastri mengusap air mata di pipi neneknya. “Sudah, Nek. Jangan bersedih lagi. Nanti Kak Kasih malah tidak tenang berada di alamnya karena kita terus-menerus mengingat kematiannya.”

Nenek Eroh terdiam.

Tatapannya kosong menatap suatu titik di dinding.

“Semoga dia benar-benar tenang,” gumamnya.

Lastri mengangguk. “Amin.”

Tok... tok... tok...!

Suara ketukan dari pintu rumah utama membuat keduanya menoleh.

“Ada tamu,” ujar Nenek Eroh.

Lastri berdiri. “Coba aku lihat siapa yang datang.”

Setelah merapikan rambut dan pakaiannya sebentar, Lastri bergegas keluar dari kamar.

Krieeeth...

Pintu rumah dibuka.

Pak RT dan Mang Udin berdiri di depan pintu.

“Eh, Pak RT, Mang Udin. Saya pikir siapa yang datang,” ujar Lastri ramah.

Pak RT tersenyum tipis. “Saya dan Mang Udin kebetulan lewat di depan rumah Neng Lastri. Sekalian saja mampir untuk menanyakan kabar setelah kejadian semalam.”

“Alhamdulillah, saya baik-baik saja, Pak RT.” Lastri tersenyum kecil. “Walaupun masih sedikit takut kalau mengingat kejadian semalam.”

“Kalau masih takut, itu wajar, Neng,” ujar Mang Udin. “Namanya juga bertemu makhluk seperti itu. Bapak yang sudah tua saja masih merinding kalau mengingatnya.”

Tiba-tiba terdengar suara batuk dari dalam rumah.

Pak RT menoleh. “Apa nenekmu sakit?”

“Iya, Pak. Nenek memang sedang kurang enak badan.”

“Sudah dibawa ke dokter?” tanya Mang Udin.

Lastri menggeleng. “Belum, Pak. Nenek bilang hanya batuk dan flu biasa.”

Pak RT terlihat berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau begitu, boleh kami masuk sebentar? Kami ingin melihat keadaan nenekmu.”

“Tentu, Pak.”

Lastri mempersilakan keduanya masuk.

Tubuh tua Nenek Eroh terbaring lemah di atas tempat tidur kayu yang beralaskan kasur tua dan tipis. Wajah keriputnya tampak pucat.

“Nek,” panggil Lastri.

Nenek Eroh berusaha bangun ketika melihat Pak RT dan Mang Udin masuk.

“Ada Pak RT dan Mang Udin,” ujar Lastri sambil membantu neneknya duduk.

Pak RT mendekat. “Nenek sakit apa?”

“Biasalah, Pak RT. Batuk dan flu.” Nenek Eroh tersenyum lemah. “Nenek juga sudah tua. Sedikit sakit saja rasanya sudah seperti mau mati.”

“Jangan berkata begitu, Nek,” ujar Mang Udin. “Yang penting banyak istirahat dan jangan lupa makan.”

Nenek Eroh mengangguk.

Namun, sebelum siapa pun sempat berbicara lagi...

Plukh!

Sebuah pigura foto yang tergantung di dinding tiba-tiba jatuh.

Semua orang tersentak.

“Ya ampun!” Lastri segera mengambil pigura tersebut. “Kok bisa jatuh?”

Ia memperhatikan bagian belakangnya.

“Wah... kacanya retak.”

Pak RT mendekat. “Mungkin pengaitnya lepas.”

“Sepertinya memang begitu, Pak RT.”

Namun ketika Lastri membalik pigura itu, Pak RT tiba-tiba terdiam.

“Itu foto...”

Tatapannya tertuju pada perempuan muda yang tersenyum di dalam foto.

“Kakakmu, Kasih.”

“Iya, Pak RT.”

Lastri memandang foto itu dengan tatapan sendu.

Retakan kaca membelah tepat melewati wajah Kasih.

Mang Udin menghela napas. “Semoga kakakmu di alam sana benar-benar tenang.”

Tidak ada yang menjawab.

Kamar itu mendadak terasa sunyi.

Lastri menunduk, sementara Nenek Eroh kembali mengusap air matanya.

Semua orang teringat bagaimana Kasih meninggal.

Gadis muda itu ditemukan tidak bernyawa di kamarnya sendiri.

Ia meninggal dengan cara menggantungkan diri.

Lehernya terlilit kain yang diikatkan pada lampu hias di langit-langit kamar.

Sejak saat itu, semua orang menganggap Kasih telah memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menanggung malu dan tekanan yang menimpanya.

Semua orang percaya begitu.

Kecuali...

Ketika Lastri hendak meletakkan kembali pigura itu, sesuatu membuat tangannya berhenti.

Di balik retakan kaca, tepat di dekat telinga Kasih dalam foto tersebut, terlihat seperti ada noda hitam yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.

Lastri mengernyit.

“Nek...”

“Ada apa?” tanya Nenek Eroh.

Lastri tidak menjawab.

Ia mengusap kaca pigura dengan ujung jarinya.

Noda hitam itu ternyata bukan noda.

Bentuknya seperti tulisan.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Lastri mendekatkan wajahnya.

Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Di balik kaca yang retak itu seolah ada tiga kata yang tertulis menggunakan sesuatu yang berwarna merah kehitaman.

AKU TIDAK BUNUH DIRI.

Lastri membeku.

“Lastri?” panggil Pak RT.

Lastri tersentak dan langsung menjauhkan pigura dari wajahnya.

“A... ada apa, Neng?” tanya Mang Udin.

Lastri menatap kembali foto tersebut.

Tulisan itu sudah tidak ada.

Yang terlihat hanya retakan kaca dan foto Kasih yang tersenyum seperti biasa.

Lastri menelan ludah.

“Tidak... tidak apa-apa.”

Pak RT mengernyitkan dahi. “Kamu yakin?”

Lastri mengangguk cepat.

Namun saat hendak meletakkan pigura di meja, telinganya tiba-tiba menangkap sesuatu.

Suara yang sangat pelan.

Hampir seperti bisikan dari seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

“Lastri...”

Tubuh Lastri langsung menegang.

Ia perlahan menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya Nenek Eroh, Pak RT, dan Mang Udin yang sedang berbicara.

Lastri kembali melihat foto Kasih.

Senyum di wajah kakaknya masih sama.

Tetapi entah mengapa...

untuk pertama kalinya sejak kematian Kasih, Lastri merasa senyum dalam foto itu bukan lagi senyum seseorang yang bahagia.

Melainkan senyum seseorang yang sedang menunggu.

Menunggu seseorang menemukan kebenaran.

Dan di luar rumah, tanpa seorang pun menyadarinya...

angin malam kembali berembus.

Wushhhh...

Bersamaan dengan itu, dari kejauhan terdengar suara perempuan menangis.

Pelan.

Panjang.

Dan suara itu terdengar sangat mirip dengan suara Kasih.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel