Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

benturan ilmu yang energik

Kyai Musthofa melirik Darmo dari kejauhan.

“Dan aku harus bersiap. Badai baru saja mulai.”

Ucapan itu sempat membuat langkah para santri di serambi terhenti sejenak. Nada Kyai yang biasanya tenang kini terasa berbeda, seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar bergerak di balik peristiwa barusan.

Darmo menelan napas pelan. Bram berdiri di sampingnya, masih waspada meskipun suasana sudah terlihat mereda. Namun aura yang tadi memenuhi udara belum benar-benar hilang. Seperti ada sisa-sisa getaran yang mencoba menyembunyikan diri di balik dinding dan tiang kayu pesantren.

Bram menunduk sambil berbisik.

“Mo… kau merasakan itu?”

“Masih,” jawab Darmo lirih. “Siluet merah tadi belum benar-benar padam.”

Belum sempat mereka menambah kata, Fairuz dan Anhar muncul kembali di ujung serambi. Mereka tidak menyerang, namun tatapan keduanya menunjukkan bahwa benturan batin belum selesai.

Fairuz menghentikan langkahnya.

“Darmo.”

Darmo menatap tanpa gentar.

“Ada apa lagi?”

“Aku tidak menerima cara Raif mencampuri urusan ini,” ujar Fairuz. “Tapi bukan itu masalahnya. Kau dan Bram… apa kalian benar-benar yakin siap berjalan sejauh ini?”

Bram maju setengah langkah.

“Kami tidak mencari permusuhan. Kau yang memulai.”

Anhar menghela napas.

“Kami hanya ingin memastikan siapa yang layak berada di jalur teratas thariqat ini.”

Darmo menggeleng pelan.

“Ilmu bukan untuk menaikkan derajat diri, Fairuz. Kalau itu tujuanmu… kau akan melukai banyak hal yang tidak kau sadari.”

Fairuz menatap tajam.

“Atau mungkin kau yang tidak pernah mengerti beban kami.”

Tiba-tiba Raif kembali datang, berdiri di sisi Kiai Musthofa.

“Cukup.”

Namun Fairuz tidak bergerak.

“Kau boleh menghentikan pertarungan tadi, Raif. Tapi kau tidak bisa menghentikan jalan pikiran kami. Ada yang disembunyikan di pesantren ini.”

Darmo menegang.

“Apa maksudmu?”

“Sejak beberapa bulan terakhir, ada aura biru besar yang selalu muncul dari arah kamar Kyai saat malam,” ujar Fairuz lirih namun jelas. “Kami mengira itu bagian dari latihan beliau, tapi ternyata… aura itu terkoneksi dengan seseorang.”

Anhar melanjutkan, suaranya merendah.

“Dan aura itu mirip dengan aura yang muncul darimu, Mo.”

Darmo tidak langsung menjawab. Matanya membesar tipis, bukan karena takut, tetapi karena mulai memahami arah konflik ini.

“Jadi ini soal itu?” tanya Bram. “Soal keresahan kalian melihat aura Darmo?”

Fairuz menatap lurus.

“Kau mungkin tidak sadar, Mo… tapi ada hal yang sedang tumbuh dalam dirimu. Dan itu tidak biasa.”

Kyai Musthofa akhirnya mendekat.

“Fairuz. Anhar,” ucapnya dengan suara yang dalam. “Ada hal yang memang belum saatnya kalian ketahui. Kalian melihat potongan gambaran, lalu menilainya utuh.”

Fairuz menggertakkan gigi.

“Kiai tahu ada sesuatu. Kami juga. Tetapi kami dianggap salah hanya karena kami bertanya?”

“Ada cara bertanya yang tidak menimbulkan mudarat,” jawab Raif.

Anhar justru tertawa pendek.

“Kau bicara seperti sudah paling benar.”

Kyai Musthofa mengangkat tangan dengan gerakan kecil, namun cukup untuk meredakan hawa panas di antara mereka.

“Aku tidak ingin melihat muridku saling merusak jalur ruhani hanya karena prasangka,” ujar Kiai. “Tapi jika kalian ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi, kalian harus menata hati terlebih dahulu.”

Fairuz menahan napas.

“Jadi kami tidak salah?”

“Apa yang kalian rasakan tidak salah,” jawab Kiai. “Namun cara kalian memaknai bisa menyesatkan.”

Darmo mendengarkan dengan wajah tegang.

“Kiai… jika memang ada yang perlu saya ketahui, saya siap.”

Kyai Musthofa menatap Darmo dalam-dalam.

“Ada waktunya semua itu terbuka. Namun bukan malam ini.”

Fairuz dan Anhar tampak tidak puas, namun mereka tidak berani melawan langsung ucapan Kyai. Mereka mundur perlahan, meski aura merah samar masih tersisa di sekitar langkah mereka.

Ketika keduanya menghilang di balik lorong pesantren, Raif menatap Bram dan Darmo.

“Kalian harus berhati-hati,” katanya pelan. “Pertarungan tadi hanya permukaan. Yang bergerak di bawahnya jauh lebih besar.”

Bram bertanya, “Apa Kiai sudah tahu akar masalahnya?”

Kyai Musthofa menghela napas panjang.

“Sudah. Dan aku khawatir… ini baru awal dari sesuatu yang tidak bisa kalian bayangkan.”

Darmo merasakan dadanya berat, seperti ada pintu yang hampir terbuka namun menahan diri.

“Kiai… apakah ini berkaitan dengan perjalanan ruhani yang kita pelajari?” tanya Darmo.

Kiai Musthofa menyentuh bahunya.

“Bukan sekadar itu, Darmo. Lebih dalam. Lebih jauh. Dan lebih tua dari ilmu yang kalian latih selama ini.”

Hening menggantung di antara mereka, seolah pesantren ikut menahan napas.

Raif menunduk hormat.

“Saya akan mengawasi situasi, Kiai.”

“Lakukan,” jawab Kyai. “Malam ini jangan ada satu pun santri berlatih sendirian.”

Darmo menatap Bram dengan tatapan yang sulit disembunyikan: campuran cemas dan penasaran.

Bram menghela napas.

“Mo… aku rasa malam ini kita tidak akan tidur nyenyak.”

“Sepertinya tidak,” jawab Darmo pelan. “Karena bayangan yang Kiai maksud… terasa semakin dekat.”

Kyai Musthofa menatap kedua santri itu bergantian. “Kalian merasakan perubahan pada Fairuz dan Anhar, bukan hanya sekadar iri atau dengki. Ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak berasal dari lingkungan ini.”

Bram mengusap tengkuknya yang dingin. “Benar, Kiai. Waktu benturan aura tadi… rasanya seperti bukan ilmu pesantren. Ada gerakannya yang kasar, seperti memaksa masuk.”

Kyai Musthofa memejamkan mata. Cahaya tipis melingkari tubuhnya, hanya terlihat oleh ketiga santri yang sedang berada pada frekuensi batin yang sama. Ia menerawang jauh ke dalam dimensi batiniah dua santri yang kini mengusik ketenangan Nurul Musthofa.

“Fairuz… Anhar…” gumam beliau lirih. “Ilmu kalian bukan hanya dicemari. Ada jalur yang bukan dari thariqat ini. Ada tangan lain.”

Darmo menarik napas cepat. “Kiai… apa mereka terkena khadam? Atau mungkin diikat seseorang dari luar?”

“Bukan khadam,” ucap Kyai Musthofa tegas. “Lebih tua. Lebih gelap. Dan lebih… terarah.”

Bram menelan ludah, jantungnya berdegup tidak enak. “Kiai tahu siapa yang mengajar mereka?”

Ada jeda panjang sebelum Kyai Musthofa membuka mata kembali.

“Ya. Ada jejak Ki Ambangan.”

Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat udara serasa menurun suhunya.

Darmo terkejut hingga langkahnya mundur setapak. “Ki Ambangan? Guru dari Gunung Kidul itu? Yang disebut-sebut tidak mau berada di bawah aturan thariqat mana pun?”

“Benar.” Kyai Musthofa mengangguk pelan. “Ilmunya keras, tidak bertarekat, dan tidak mengenal adab guru-murid seperti kita. Dia tidak pernah mengikat murid dengan cinta, tapi dengan tekad gelap dan ambisi.”

Bram menggeleng pelan. “Pantas tadi aura mereka seperti membentak. Tidak halus sama sekali. Berbeda dengan para santri lain.”

Kyai Musthofa mengusap janggutnya, tampak berpikir dalam. “Yang aku khawatirkan, bukan sekadar mereka belajar ilmu lain. Tapi mereka membiarkan hatinya terbakar. Itulah yang membuat aura mereka merah seperti bara.”

Darmo menunduk, mencoba mengatur napas. “Kiai… kami harus bagaimana? Kami merasa badan ikut panas tadi. Seperti ada sisa benturan aura yang masih nempel.”

Bram menambahkan, “Saya bahkan merasa dada seperti diseret sesuatu. Bisa dinetralisir, Kiai?”

Kyai Musthofa menepuk bahu keduanya. “Duduk. Bernapas pelan. Fokuskan hati pada satu titik saja. Jangan melawan dengan emosi. Kalau kalian melawan pakai marah, itu justru membuka ruang bagi api merah tadi.”

Keduanya duduk bersila. Bram memejamkan mata, sedangkan Darmo menarik napas panjang berulang. Perlahan-lahan aura di sekitar mereka berubah menjadi lebih teduh.

Kyai Musthofa merapal dzikir halus yang tidak terlalu keras, namun resonansinya memantul pada dinding-dinding batin mereka.

Darmo membuka mata sedikit. “Kiai… kenapa Ki Ambangan sampai bisa memengaruhi santri kita?”

“Kekuatan itu tidak akan masuk,” jawab Kyai Musthofa, “kecuali pintunya dibuka dari dalam. Ada rasa yang tumbuh pada Fairuz dan Anhar. Rasa yang tidak berhasil mereka kendalikan.”

Bram menunduk. “Apakah itu… kecemburuan mereka pada Darmo?”

“Sebagian,” jawab Kyai Musthofa. “Sebagian lagi adalah ambisi. Dan ambisi buta adalah pintu paling mudah bagi ilmu gelap.”

Darmo menelan ludah. “Kiai, kalau demikian… mereka bisa semakin tidak terkendali.”

“Betul.” Kyai Musthofa berdiri, sorot matanya tajam seperti menembus langit malam. “Dan sebelum keduanya terseret lebih dalam, kita harus menemukan cara menutup kembali pintu itu.”

Darmo dan Bram saling pandang, tubuh mereka sudah mulai tenang setelah proses penetralan tadi.

“Kiai,” tanya Bram, “apa langkah pertama?”

“Besok malam,” ucap Kyai Musthofa tenang, “aku akan memanggil Fairuz dan Anhar. Kita lihat apakah mereka masih mau kembali ke jalur yang terang.”

Kiai menatap ke arah asrama, matanya menyipit sedikit.

“Karena kalau mereka menolak…”

Beliau berhenti sejenak, lalu menatap Darmo.

“Di sinilah ujian kalian yang sebenarnya akan dimulai.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel