Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dua nama pemilik aura merah

Malam di pesantren Nurul Musthofa terasa lebih lengang dari biasanya. Lampu-lampu teplok di serambi hanya menebar cahaya redup, seakan menunggu sesuatu yang belum terucap. Darmo dan Bram duduk di depan mushala, masih memikirkan benturan aura yang sempat mereka rasakan sore tadi.

Di tempat jauh, pada waktu yang berbeda, Kyai Musthofa merasakan hal yang sama.

Kyai Musthofa duduk di beranda penginapan di Makkah, sementara angin malam membawa aroma tanah suci. Nyai Maisaroh mendekat pelan.

“Panjenengan belum bisa tidur, Kiai?” tanyanya.

“Belum,” jawab Kyai Musthofa perlahan. “Ada gelombang aneh barusan. Seperti benturan batin di pesantren.”

“Benturan dari siapa?”

“Dari dua santri. Kuat sekali. Dan pusatnya… Darmo.”

Nyai Maisaroh terdiam, lalu menatap suaminya lebih cermat.

“Kiai harus segera memastikan keadaan di rumah.”

Kyai Musthofa mengangguk, meski tubuhnya masih di Tanah Suci, pikirannya sudah kembali ke pesantren.

Di pesantren, Darmo dan Bram masih membahas kejadian tadi.

“Mo, aura yang tadi itu seperti mau menyerangmu,” ujar Bram pelan.

“Aku tahu,” jawab Darmo. “Tapi aku belum tahu siapa pemiliknya.”

Langkah dua orang tiba-tiba terdengar dari arah selatan asrama. Berat, terukur, dan terasa membawa hawa lain.

Darmo dan Bram menoleh bersamaan.

Fairuz dan Anhar muncul di bawah cahaya lampu teplok.

Wajah mereka tenang, tetapi tatapan mata menyimpan bara.

Bram berbisik, “Itu dua aura merah.”

Darmo mengangkat wajahnya. “Aku juga merasakannya.”

Fairuz berhenti di hadapan mereka.

“Kalian masih terjaga? Sepertinya malam ini cukup ramai untuk para pencari ilmu.”

Anhar tersenyum tipis.

“Kami mendengar ada yang gelisah.”

“Ada perlu apa?” tanya Bram, menjaga nada suara.

“Kami hanya ingin memastikan,” jawab Fairuz. “Tadi sore ada getaran kuat dari arah mushala. Seolah ada yang… sengaja menarik perhatian.”

Darmo berdiri, menatap keduanya tanpa gugup.

“Kalau kalian merasa ada yang janggal, katakan. Jangan kirim aura merah diam-diam.”

Anhar mengeraskan rahangnya.

“Jadi kau tahu itu dari kami?”

“Kalian tahu sendiri,” ujar Darmo tenang, “aura merah kalian terlalu kuat untuk disembunyikan.”

Fairuz menghela napas.

“Kau cepat sekali berkembang, Mo. Kiai terlalu sering memanggilmu dalam suluk. Beberapa santri merasa… aneh.”

“Kalau kalian tidak senang, bicarakan baik-baik,” kata Bram. “Jangan menekan batin orang lain.”

“Kami tidak menekan,” Anhar menimpali. “Kami hanya ingin tahu apa yang membuat Kiai memberi perhatian khusus padamu.”

“Aku belajar seperti kalian,” jawab Darmo. “Kalau itu menimbulkan iri, bukan salahku.”

Keheningan turun sejenak. Hanya suara dedaunan yang bergerak perlahan.

Fairuz menurunkan bahu dan berkata, “Kami hanya ingin kau sadar. Tidak semua orang menyukai perubahan.”

“Dan jangan terlalu merasa aman,” tambah Anhar. “Setiap cahaya punya bayangan.”

Setelah itu mereka pergi, meninggalkan udara yang lebih berat daripada kedatangannya.

Bram menoleh ke Darmo.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik,” jawab Darmo. “Tapi ini baru permulaan.”

Di Makkah, Kyai Musthofa tiba-tiba memejamkan mata lagi, merasakan dua garis aura merah yang sama.

“Fairuz dan Anhar,” ucapnya lirih.

Nyai Maisaroh menatapnya khawatir.

“Kiai harus pulang secepat

nya.”

Kyai Musthofa mengangguk.

“Pesantren sedang diuji. Dan Darmo membutuhkan bimbingan.”

Sore itu, langit pesantren Nurul Musthofa memerah lembut seperti menahan rahasia yang sedang mendidih. Angin membawa kabar tak kasatmata, dan para santri mulai merasakan suasana yang tidak biasanya.

Pintu gerbang pesantren akhirnya terbuka perlahan.

Kyai Musthofa kembali.

Para santri berlari ke halaman, menyambut dengan takbir kecil yang tertahan. Nyai Maisaroh menyusul di belakang, senyumnya teduh meski wajahnya masih menyimpan letih perjalanan.

Darmo dan Bram yang berdiri di dekat serambi langsung menunduk dalam-dalam.

“Alhamdulillah, Kiai kembali,” ujar Bram dengan suara yang hampir bergetar.

Kyai Musthofa menatap mereka satu per satu, lalu matanya berhenti pada wajah Darmo, seolah sedang mengukur sesuatu yang tak semua orang bisa lihat.

“Kalian baik-baik saja?” tanya Kiai pelan.

Darmo menunduk.

“Ada hal yang perlu Kiai ketahui.”

“Aku sudah merasakan.”

Kiai Musthofa berjalan menuju dalam, namun langkahnya terhenti ketika aura merah tiba-tiba berkelebat dari ujung barat halaman.

Fairuz dan Anhar muncul.

Tatapan mereka tajam, seolah memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan apa pun.

“Kiai pulang di saat yang tepat,” ujar Fairuz dengan senyum yang sulit dibaca.

“Kami sedang ingin menguji sesuatu,” tambah Anhar.

Bram berbisik cepat ke Darmo.

“Mo, ini bukan waktu yang tepat.”

Tapi Darmo maju setengah langkah.

“Kalau kalian ingin mencari masalah, jangan sertakan Kiai.”

Fairuz mengangkat tangan.

“Bukan mencari masalah. Hanya ingin mengukur batas.”

Udara berubah berat. Tanah halaman seolah berdenyut.

Darmo dan Bram refleks menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan latihan sigaret thariqat Naqsyabandiyah yang selama ini mereka pelajari.

Tangan mereka terbuka, napas teratur.

Kiai Musthofa sengaja tidak menahan.

“Tempatkan diri kalian sebagai murid. Jangan sampai niat belajar berubah jadi kerusakan.”

Fairuz tersenyum tipis, dan serangan batin menurun bagai angin panas.

Darmo membalas dengan putaran napas sigaret yang membuat udara di sekitarnya bergetar tipis. Bram menyusul, mengunci ruang di sekeliling mereka dengan energi biru yang lembut namun tegas.

Benturan tak terlihat saling mendorong, membuat debu di tanah berputar.

Anhar melangkah maju, gerakannya seperti membelah udara.

“Aku ingin tahu, Darmo… apa benar kau sudah melampaui kami?”

Darmo mengarahkan tangan ke tanah, menghentakkan tumit perlahan, menyalurkan tenaga dari nafas panjang.

Guncangan halus terasa menyebar.

Fairuz menangkisnya dengan satu gerakan tangan melintang, membuat udara memantul seperti gelombang air.

Bram ikut menarik garis energi ke samping, memperkuat formasi.

Benturan itu tidak menimbulkan suara keras, tapi tanah bergeser tipis seperti menerima tekanan dari dalam.

Para santri mulai berkumpul, cemas.

“Sudah cukup.”

Suara itu datang seperti petir pelan.

Seorang santri senior melangkah ke tengah arena. Namanya Raif, murid tertua Kyai Musthofa, dikenal sebagai pemegang ilmu dalam yang jarang ditampakkan.

Begitu ia menghentakkan kaki, tanah bergetar lebih keras, cukup untuk membuat dedaunan jatuh.

Fairuz dan Anhar goyah setengah langkah.

Raif menatap mereka tanpa amarah.

“Kalian membawa api ke tempat suci. Jangan lupa tujuan kalian datang kemari.”

Fairuz menggertakkan gigi.

“Kami hanya ingin diakui.”

“Ilmu bukan soal pengakuan,” jawab Raif. “Ilmu adalah tentang amanah.”

Anhar menatap Raif dengan mata menyipit.

“Kau terlalu ikut campur.”

Raif menangkupkan tangan di depan dada, mengatur napas.

“Aku ikut campur karena Kiai sedang di sini. Dan karena kalian hampir melampaui batas.”

Aura biru muncul tipis dari tubuh Raif, lebih stabil dan matang dibandingkan aura Darmo dan Bram. Ia seperti gunung yang tidak bergerak meski angin besar datang.

Fairuz tampak ingin menantang lagi, tetapi Kiai Musthofa akhirnya maju.

“Cukup.”

Hanya satu kata, tetapi seperti menutup pintu dunia lain.

Segala getaran berhenti. Udara kembali normal. Cahaya senja mereda seperti lega bahwa bentrokan tidak berlanjut.

Fairuz dan Anhar menunduk, meski enggan.

“Maaf, Kiai.”

Kyai Musthofa menatap mereka lekat.

“Kemarahan tidak akan membuat kalian besar. Hanya membuat kalian kehilangan arah.”

Darmo menunduk. Bram juga.

Raif mundur perlahan, memberi hormat kepada Kiai.

Kyai Musthofa menghela napas.

“Kita bahas ini nanti. Sekarang masuklah semua. Malam semakin pendek bagi yang belajar.”

Para santri bubar pelan, masih tidak percaya apa yang baru saja mereka saksikan.

Darmo menatap Bram.

“Pertarungan ini tidak akan berhenti di sini.”

Bram menepuk pundaknya.

“Kalau begitu, kita perkuat diri. Jangan sampai ilmu membuat kita hilang arah.”

Kyai Musthofa melirik Darmo dari kejauhan.

“Dan aku harus bersiap. Badai baru saja mulai.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel