Pustaka
Bahasa Indonesia

BANGKITNYA MANIFESTASI BATINIAH

204.0K · Baru update
Ervan Cahyadi
114
Bab
80
View
9.0
Rating

Ringkasan

Mang Darsam tersenyum tipis, angin malam berhembus lembut melewati musholla, membawa kesunyian yang lebih dalam. Ia menutup matanya, dan dalam kesadarannya, bayangan pemuda itu berdiri di tempat yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata bukan kota, bukan ruangan, melainkan ruang waktu yang tenang. Pemuda itu tampak seperti sedang mencari sesuatu. Mang Darsam berbicara dalam batinnya, "Apakah kau bisa mendengarku?" Tidak ada jawaban, namun kilatan cahaya di sekitar bayangan pemuda itu bergetar sedikit. Mang Darsam kembali berbicara, suaranya seperti desahan angin. "Jika benar kau adalah generasi kedelapan… maka jalur ini pasti akan terbuka." Ia membuka matanya, pandangannya kembali tertuju pada sumur. Permukaan airnya mulai bergetar sangat pelan, seolah-olah sesuatu di kedalaman sumur merespons percakapan batin yang baru saja terjadi. Mang Darsam berdiri perlahan, menatap ke dalam sumur dengan mata yang telah melihat lebih dari sekadar fisik. "Jawaban yang kucari… ada di bawah sana," katanya, suaranya seperti gumaman yang membawa rahasia. Beberapa saat ia hanya berdiri diam, kemudian ia berkata dengan suara pelan namun tegas, "Kalau aku ingin membangunkan jalur generasi kedelapan… aku harus membuka gerbangnya." Mang Darsam menarik napas panjang, melangkah naik ke bibir sumur. Kedalaman sumur itu terlihat sangat gelap dari atas, namun dalam penglihatan batinnya, air di dasar sumur bukanlah akhir air itu hanyalah lapisan pintu. Mang Darsam berbicara lagi, seolah kepada seseorang yang tidak terlihat, "Ki Antaseno mungkin mengira permainan ini hanya tentang kekuatan lama." Ia tersenyum tipis. "Padahal masa depan juga sedang bergerak." Tangannya menyentuh bibir sumur, dan dalam sentuhan itu, ada kekuatan yang tidak terlihat. "Kalau kau benar cucuku… maka suatu hari kau akan memahami mengapa malam ini aku harus masuk ke tempat ini." Mang Darsam menatap ke dalam sumur untuk terakhir kali, kemudian ia berkata dengan sangat pelan, "Bersiaplah… generasi kedelapan." Tanpa ragu sedikit pun, Mang Darsam melangkah maju. Batiniah pun aktif, melahirkan jiwa muda sejati…

FantasipetarungKehidupan MisteriusKekuatan Super

Jejak Nurul Musthofa

Siang itu, halaman Pesantren Al-Hikmah diselimuti cahaya matahari yang ramah. Angin menggerakkan ujung bendera merah putih yang berdiri di tengah lapangan, sementara suara santri mengulang hafalan bergema dari serambi. Dalam suasana yang tenang itu, langkah Darmo terhenti ketika melihat sosok berpeci hitam memasuki area pesantren.

Pria itu berdiri tegap, membawa tas kulit tua, matanya menyapu bangunan-bangunan pesantren seperti sedang menelusuri kenangan jauh.

Darmo bergerak mendekat. Ia ragu sejenak, namun semakin dekat ia semakin yakin.

“Tunggu… apa benar ini kau?” Darmo mempercepat langkah. “Bram?”

Pria itu tersenyum, menunduk sopan, lalu menepuk bahu Darmo penuh rasa lega. “Akhirnya kau mengenaliku juga. Aku kira wajahku sudah terlalu banyak digilas perjalanan.”

Darmo tertawa pendek. “Mana mungkin aku lupa. Kau dulu yang paling sering di hukum Kyai Musthofa karena tidak pernah datang tepat waktu ke sorogan.”

Bram terkekeh. “Itu karena kau—si santri kesayangan—tidak pernah mau membangunkanku.”

“Sudah kubangunkan. Berkali-kali. Kau yang tidak pernah mau bangun,” balas Darmo cepat.

Keduanya tertawa, namun tawa itu perlahan mereda menjadi keheningan hangat, keheningan yang hanya dimiliki oleh dua sahabat lama yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun.

“Sejak kapan kau kembali ke daerah sini?” tanya Darmo.

“Baru kemarin. Aku… sebenarnya ada urusan yang sudah lama harus kuselesaikan.” Bram menghela napas. “Dan salah satunya adalah melihatmu lagi.”

Darmo menatapnya serius. “Kau tampak berubah.”

“Siapa yang tidak berubah setelah melewati hidup?” Bram menjawab dengan senyum pahit.

---

Mereka berjalan beriringan menuju serambi utama pesantren. Di sepanjang jalan, pemandangan rutinitas harian terhampar jelas. Kelompok santri kecil duduk melingkar mempelajari ilmu tajwid, sementara kelompok lain membersihkan halaman sambil bercanda ringan.

“Rutinitas pesantren ini tidak pernah berubah,” kata Bram lirih. “Mengingatkanku pada masa-masa kita di Nurul Musthofa.”

“Ya,” jawab Darmo. “Masa-masa yang membentuk kita.”

“Masih ingat saat pertama kali kita datang ke pesantren itu?” Bram melirik.

Darmo tertawa hambar. “Kau datang dengan rambut gondrong.”

“Dan Kyai Musthofa langsung menyuruhku potong rambut sebelum Maghrib. Kalau tidak, beliau bilang aku tidak boleh ikut jamaah.”

“Lalu kau mencoba kabur,” sambung Darmo.

“Bukan mencoba,” Bram membenarkan dengan bangga. “Aku berhasil kabur. Yang tidak berhasil itu adalah sembunyi. Kyai Musthofa menemukanku di belakang kandang kambing.”

Darmo menggeleng pelan. “Beliau memang seperti itu. Tegas, tapi hatinya halus.”

Ia menatap jauh, seperti menarik kembali setiap detail kenangan itu. “Kau masih ingat ketika beliau memberi kita ijazah doa setelah menyelesaikan kitab kuning pertama?”

Bram mengangguk lambat. “Kata beliau, ‘Ilmu itu bukan untuk gagah-gagahan. Ilmu itu penerang jalanmu. Kalau kau berjalan tanpa ilmu, cepat atau lambat kau tersandung.’”

Suara Bram bergetar sedikit ketika ia mengulang kalimat itu. “Itu nasihat yang menyelamatkanku berkali-kali.”

Darmo menatap sahabatnya lama. “Kau terlihat membawa beban, Bram.”

Bram tidak langsung menjawab. Ia justru memandang sekitar: santri-santri kecil yang berlari mengejar sorban, ustadz muda yang membenarkan bacaan murajaah, suara Al-Qur’an dari bilik-bilik belajar.

“Aku merindukan suasana seperti ini,” ucapnya perlahan. “Tempat yang membuatku merasa… pulang.”

Darmo menunggu, sengaja tidak memotong.

“Aku datang bukan hanya karena rindu,” Bram melanjutkan. “Ada hal penting yang harus kusampaikan. Tentang masa lalu kita. Tentang sesuatu yang tidak pernah kita bicarakan sejak meninggalkan Nurul Musthofa.”

Darmo menajamkan tatapan. “Apa itu?”

Bram menelan ludah, lalu berkata sangat pelan, hampir seperti bisikan, “Tentang kejadian di malam itu.”

Darmo membeku. Dada kirinya terasa melilit. “Bram… malam itu sebaiknya—”

“Tidak,” Bram memotong, suaranya mantap namun penuh luka. “Kita tidak bisa terus mengabaikannya. Bukan lagi waktunya.”

Darmo memejam mata sesaat. “Kalau begitu… kita bicarakan nanti. Tidak sekarang. Tidak di depan santri.”

Bram mengangguk, meskipun wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan yang ditahannya selama bertahun-tahun.

“Kapan saja kau siap,” katanya. “Aku tidak datang untuk memaksa. Aku datang karena akhirnya aku mengerti, bahwa sebagian hidupku masih tertinggal pada kejadian itu… dan mungkin sebagian hidupmu juga.”

Darmo menghela napas panjang. “Baik. Tapi aku perlu… menyiapkan hati.”

“Ambil waktumu,” Bram menepuk bahu sahabatnya. “Aku di sini. Tidak akan pergi dulu.”

---

Sore itu, sebelum Ashar, keduanya kembali menyusuri halaman pesantren. Pada saat itulah, Bram bertanya pelan:

“Darmo… bolehkah aku tinggal beberapa hari di sini? Anggap saja seperti dulu saat kita di Nurul Musthofa. Aku butuh ketenangan.”

Darmo tersenyum lebar untuk pertama kalinya. “Pondok ini selalu terbuka untukmu. Kau sahabatku. Kau saudara seperjalananku.”

“Terima kasih,” balas Bram, suaranya tulus.

Namun di balik ketenangan sore itu, tersimpan sesuatu yang lebih besar.

Sebuah rahasia masa lalu yang nyaris tidak pernah mereka sentuh…

dan kini perlahan meminta untuk diungkapkan.

Hook menggantung, tensi naik, alur flashback tetap hidup.

Senja turun di Pesantren Nurul Musthofa, mewarnai halaman dengan cahaya jingga yang lembut. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung kembali ke sarang, sementara para santri mulai bersiap untuk jamaah Maghrib. Di salah satu sudut pesantren yang lebih sepi, terdapat bangunan kecil yang disebut para santri sebagai Langgar Tua—tempat Kyai Musthofa sering menggembleng murid-murid pilihan.

Sore itu, Darmo dan Bram melangkah memasuki langgar tersebut. Lantai kayunya berderit pelan, aroma cendana dan kertas kitab memenuhi ruangan. Kyai Musthofa sudah duduk bersila, tasbih kayu hitam berputar lembut di tangannya.

“Assalamualaikum, Yai,” Darmo menunduk hormat.

“Waalaikumussalam,” jawab Kyai Musthofa dengan suara berat tapi lembut. “Duduklah kalian. Hari ini kita tidak mengaji kitab. Hari ini kita melatih napas hati.”

Bram duduk di sebelah Darmo, mengatur posisi punggungnya agar tegak. Ia menyadari bahwa setiap kali berlatih ilmu yang satu ini, suasana langgar berubah menjadi sangat hening, seolah seluruh pesantren menahan napas.

Kyai Musthofa memandang keduanya. Tatapannya tenang, namun tajam seperti menembus lapisan-lapisan jiwa.

“Kalian sudah mempelajari fikih, akhlak, dan tafsir dasar,” ucapnya pelan. “Tetapi ilmu itu hanya separuh perjalanan. Separuh lainnya adalah melatih hati agar tidak sombong. Dalam Thariqat Naqsyabandiyah, kita belajar menjaga zikir dalam diam, menjaga napas dalam kesadaran, dan menjaga diri dari penyakit riya.”

Beliau menurunkan tasbihnya, meletakkannya di atas sajadah kecil.

“Kita akan melatih sigaret—pernapasan dzikir yang menenangkan jiwa. Jangan pernah menganggapnya luar biasa. Ia hanyalah alat. Yang luar biasa hanyalah Allah.”

Darmo dan Bram mengangguk patuh.

“Kalian pejamkan mata,” perintah beliau.

Mereka memejamkan mata perlahan.

“Tarik napas pelan,” lanjut Kyai Musthofa, “dan dalam hati bacalah ‘Allah’ saat menarik napas, dan ‘Huu’ ketika menghembuskan. Ingat, jangan ada suara keluar. Semua dalam batin.”

Langgar itu tenggelam dalam keheningan.

Napas demi napas teratur.

Detak jantung terasa jelas.

---

Setelah beberapa menit, Kyai Musthofa berkata lirih, “Sekarang, fokuskan pada titik di bawah dada. Di situ ada ketenangan. Jangan melawan pikiran liar, biarkan lewat seperti awan.”

Bram membuka sedikit jari tangannya yang menggantung. Tangannya hangat, seperti ada aliran lembut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Bram,” suara Kyai Musthofa menggema pelan, “kau masih terburu-buru. Hatimu melompat-lompat. Tenangkan. Zikir itu bukan lomba. Tenanglah.”

Bram mengangguk meski matanya tertutup. Ia memperlambat napasnya.

Sebelahnya, Darmo lebih stabil. Pernafasannya panjang dan teratur. Kyai Musthofa memperhatikannya beberapa detik sebelum bersuara:

“Darmo, engkau punya ketenangan sejak kecil. Kau hanya perlu menjaga agar tenang itu tidak berubah menjadi kesombongan. Ingat itu.”

Darmo menelan ludah, menerima peringatan itu seperti menerima pisau yang menguliti kesadaran.

“Oh iya, Yai,” Bram tiba-tiba berkata pelan, “kenapa setiap kali berlatih sigaret, saya merasakan seperti… cahaya lembut di sekitar dada saya?”

“Dan saya,” sambung Darmo, “merasa seperti ada air mengalir di bahu.”

Kyai Musthofa tersenyum tipis. “Itu bukan cahaya, bukan air. Itu hanyalah tanda hati kalian mulai mengenal ketenangan. Jika kalian melihatnya sebagai warna, anggap saja itu gambaran dari pikiran kalian sendiri.”

Namun dalam hatinya, beliau tahu lebih dari itu.

Beliau melihat—tanpa harus bertanya—bahwa Darmo memancarkan aura kebiruan yang lembut, sementara Bram juga memantulkan biru yang serupa namun lebih berdenyut, seolah sedang mencari bentuknya.

Tetapi Kyai Musthofa tidak ingin mereka tahu terlalu cepat.

“Jangan kejar gambarannya,” kata beliau. “Kejar maknanya. Kalian berdua diberi kemudahan dalam latihan ini. Tapi ingat, kemudahan itu ujian.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan ingat baik-baik… tidak semua orang mampu menjaga hatinya saat diberi kemampuan lebih dari yang lain.”

Darmo membuka mata perlahan. “Yai… maksudnya apa?”

Kyai Musthofa menatap keduanya dengan sorot yang dalam.

“Ada satu hal yang harus kalian pahami sejak hari ini. Ilmu batin hanya berguna jika kalian menjaga diri dari amarah, dari dengki, dari dendam. Jika tidak… ilmu itu akan berbalik pada kalian. Bahkan bisa menyakiti orang-orang yang kalian sayangi.”

Bram terperangah. “Apa pernah ada yang begitu, Yai?”

Kyai Musthofa menjawab dengan sangat pelan:

“Sudah ada. Dan aku tidak ingin kalian mengulanginya.”

Hening.

Udara terasa berbeda.

Terdapat misteri yang tidak dijelaskan, tapi sengaja dibiarkan menggantung.

“Sekarang lanjutkan zikir,” kata beliau akhirnya. “Fokus. Karena suatu saat nanti, kalian mungkin akan membutuhkan ketenangan ini.”

Darmo dan Bram kembali memejamkan mata.

Kiai Musthofa mengamati mereka diam-diam.

Aura biru keduanya berpendar lembut seperti cahaya senja yang menolak padam.

Namun dari sudut hati tua sang Kyai, ia tahu:

Kelak, ketenangan ini akan diuji.

Dan ujiannya tidak kecil.