Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Munculnya aura yang sejati

Langit selepas Subuh berwarna kelabu pucat. Angin membawa suara ranting beradu, seolah memberi peringatan bahwa keseimbangan pesantren Nurul Musthofa berada di ujung rambut. Kyai Musthofa berdiri di serambi, melihat ke arah jalan tanah yang menuju hutan kecil di barat. Matanya sedikit menyipit.

“Gelombangnya berubah,” gumamnya. “Aura itu… bukan lagi milik dua anak muda biasa.”

Raif menghampiri sambil membawa tongkat kayu latihan. “Kiai, ada keganjilan di barat. Seperti ada tarikan alam yang tidak seharusnya muncul.”

“Jaga jarak dulu.” Kyai Musthofa menghela napas dalam-dalam. “Ujiannya baru akan terbuka.”

Darmo muncul bersama Bram, wajah keduanya letih setelah malam panjang penuh doa dan upaya menstabilkan tubuh mereka.

“Kiai,” Darmo menunduk. “Apakah itu Fairuz dan Anhar?”

“Jika benar,” jawab Kyai Musthofa, “keduanya tidak lagi dalam bentuk yang kalian kenal.”

---

Di hutan kecil itu, kabut merah menyelimuti bumi. Fairuz berdiri di tengah lingkaran simbol tak dikenal. Punggungnya tidak lagi tegap santri beradab. Pakaiannya berubah menjadi jubah panjang bertoreh garis merah menyala. Bola matanya redup seperti bara yang ditahan paksa.

Anhar berdiri di belakangnya. Tetapi dirinya bukan lagi manusia. Tubuhnya membesar, ototnya menggelembung seperti tanah yang didorong dari dalam. Wajahnya kehilangan ekspresi. Tingginya hampir dua puluh meter. Setiap tarikan napasnya menggetarkan pepohonan.

Fairuz menggerakkan tangan. “Anhar, bangun sepenuhnya.”

Suara berat keluar dari tubuh raksasa itu, meski bibirnya tak bergerak. “Aku menuruti… perintah…”

“Aku tidak memerintahmu,” Fairuz terkekeh. “Guru kita yang memerintahmu. Ki Ambangan telah membangunkanmu untuk menyempurnakan dendamnya.”

Kabut merah menebal. Di baliknya, sesosok bayangan samar Ki Ambangan memantau seperti siluet kabut berkepala tinggi dan berjubah gelap.

“Pesantren itu telah melunakkan kalian,” bisik suara tak terlihat. “Sekarang kembali pada kekuatan sejati. Biarkan dunia tahu bahwa muridku tidak layak diremehkan.”

Fairuz menunduk hormat. “Guru, kami siap.”

---

Suara ledakan kecil terdengar dari kejauhan. Pesantren seakan diguncang hembusan angin tajam. Para santri terbangun, berkumpul di halaman dengan kecemasan.

“Kiai,” Raif bersuara tegas, “itu pasti mereka.”

“Betul.” Kyai Musthofa memejamkan mata, merasakan pusaran energi. “Aura merahnya tidak lagi samar. Mereka telah melewati batas manusia.”

Darmo maju satu langkah. “Kiai, izinkan saya ikut. Jika tidak dihentikan sekarang, itu akan turun ke desa.”

Bram menyusul. “Dan saya tidak akan meninggalkan Darmo. Dunia nyata tidak boleh disentuh oleh kekuatan itu.”

Kyai Musthofa menatap keduanya lama, kemudian mengangguk tipis. “Baik. Tapi kalian harus tahu, ini bukan lagi sekadar benturan ilmu. Mereka telah masuk ke pintu fantasi. Dunia itu terbuka ketika manusia menggabungkan dendam dengan kekuatan spiritual liar.”

“Jika begitu,” ujar Darmo, “biarkan kami tutup pintunya dari dalam.”

“Kalian berdua,” Raif memandang mereka dengan tegas. “Jika keadaan semakin tidak stabil, saya akan memaksa kalian kembali. Jangan membuat saya menarik kalian dengan jalan kasar.”

Bram tersenyum kecil. “Tarik saja. Selama kami masih hidup, pasti kembali.”

Kyai Musthofa mengangkat kedua tangannya. Angin berputar membentuk pusaran kecil yang memanjang ke arah hutan. “Ikuti jalurnya. Ini pintu masuk yang aman.”

---

Begitu mereka tiba di perbatasan hutan, dunia berubah. Warna daun memudar seperti kanvas basah tersapu air. Tanah bergetar. Kabut merah mulai membuka pintu ke dunia fantasi yang tercipta dari pikiran Ki Ambangan.

“Darmo,” Bram berbisik, “lihat itu.”

Darmo menegang. “Ya Rabb…”

Fairuz berdiri di tengah kabut, jubahnya berkibar.

“Ah. Tamu yang kupikir tidak akan datang,” katanya dengan senyum bengkok. “Darmo. Bram. Santri unggulan Kiai Musthofa.”

“Apa yang kau lakukan pada Anhar?” Darmo menatap raksasa itu yang berdiri tanpa kesadaran.

Fairuz tertawa pelan. “Anhar? Ia sudah memilih jalannya ketika mendengarkan guruku. Ia hanya perlu sedikit dorongan.”

“Kau menjadi alat,” ujar Bram datar. “Kau pikir Ki Ambangan peduli padamu?”

“Alat atau bukan,” Fairuz mengangkat tangan. “Aku merasa kuat. Itu cukup.”

Dari kabut, suara Ki Ambangan bergema seperti dua suara bertumpuk. “Kekuatan tidak memerlukan restu. Hanya arah. Dan arah kalian… sudah kupersiapkan.”

Anhar menggeram. Langkahnya memecahkan batang pohon seperti lidi.

Darmo mencabut napas panjang. “Kalau begitu, kita lakukan di sini. Dunia ini tidak boleh masuk ke dunia manusia.”

Bram berdiri di sampingnya. “Siap.”

Fairuz mengarahkan simbol merah yang berputar di telapak tangannya. “Kalau begitu… kita mulai.”

---

Pertarungan pecah tanpa aba-aba.

Anhar mengayunkan tangan raksasanya. Darmo melompat ke samping, tubuhnya terasa ringan karena dunia fantasi mempengaruhi gravitasi. Bram memutar tubuh, membentuk lingkar sigaret di udara yang memantulkan cahaya biru.

Fairuz meledakkan kabut merah ke arah mereka. “Kalian selalu didekatkan cahaya. Sekali saja rasakan gelap.”

Darmo membalas dengan mantra pendek. “Nafas terang.” Cahaya biru dari dadanya memecah sebagian kabut.

“Kau masih menguasainya,” Fairuz mendengus. “Tapi seberapa lama?”

Bram mengunci langkah. “Kekuatanmu tidak stabil. Itu bukan milikmu, Fairuz.”

“Memang bukan,” balas Fairuz sambil tersenyum dingin. “Tapi selagi dipinjamkan, kenapa tidak kupakai?”

Anhar kembali maju, tetapi kali ini Darmo menutup mata sejenak, merasakan titik kesadaran di dalam tubuh raksasa itu.

“Anhar… kalau kau mendengar…”

Suara raksasa itu bergetar. “Darmo… aku…”

Fairuz menghentak tanah dengan kekuatan merah. “Diam!”

Anhar langsung kehilangan suara, kembali menjadi alat.

Bram menggertakkan gigi. “Kau memperbudak hatinya.”

“Tidak,” jawab Fairuz. “Aku hanya memutuskan tali lemahnya.”

Darmo menatap sangat tajam. “Maka kami harus mengikatnya kembali.”

Dengan tekad itu, keduanya menggabungkan sigaret biru. Cahaya biru menyatu, membentuk kubah yang mengurung Fairuz dan Anhar dari luar, menahan mereka agar tidak menembus dunia nyata.

Fairuz tertawa. “Kalian pikir bisa mengurungku? Dunia ini adalah ciptaan guruku. Ia bisa pecahkan kapan saja.”

Saat itulah, suara berat Kyai Musthofa memasuki dunia fantasi.

“Jika dunia ini ciptaan Ki Ambangan,” suaranya menggema, “maka izinkan aku menjadi penyeimbangnya.”

Bayangan Kiai muncul seperti cahaya biru yang memanjang di langit fantasi.

“Kiai…” Darmo lega.

“Fokus,” kata Kyai Musthofa. “Ini belum selesai.”

Fairuz menegang, aura merahnya berkedut. “Kenapa kau bisa masuk?”

“Karena semua dunia berasal dari niat,” jawab Kyai Musthofa. “Dan niat kalian tidak lebih kuat dari doa para santri.”

Suara Ki Ambangan kembali menggema. “Kita lihat siapa yang lebih kuat, Musthofa.”

Kyai Musthofa menatap Darmo dan Bram. “Tetap di sana. Sebentar lagi dunia ini akan diguncang. Jika kalian goyah, pintunya terbuka ke dunia nyata.”

Darmo mengangguk. “Kami bertahan.”

Fairuz mengangkat tangannya tinggi. “Kalau begitu, mari kita hancurkan tirai ini bersama.”

Pertarungan batin kembali meledak, dan dunia fantasi mulai bergetar seperti kaca yang mendekati retak.

Pertarungan batin kembali meledak, dan dunia fantasi mulai bergetar seperti kaca yang mendekati retak. Garis-garis cahaya merah dan biru saling bertabrakan di udara, membuat langit tampak seperti kanvas besar yang dipulas dua kekuatan berbeda.

Darmo berdiri tegak, napasnya memburu. Cahaya biru mulai merayap dari kedua tangannya, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya, seakan-akan dunia fantasi memanggil wujud terdalamnya.

Bram menoleh cepat. “Darmo… tubuhmu berubah.”

“Aku tahu,” jawab Darmo sambil menarik napas panjang. “Tapi aku tidak merasa terancam. Rasanya seperti… bentuk ini memang sudah lama ada.”

Kilatan biru meledak dari punggung Darmo. Tubuhnya mulai membesar. Otot dan kulitnya memendarkan cahaya biru listrik. Rambutnya memanjang menjadi helai cahaya. Delapan langkah kemudian, Darmo sudah menjulang hampir setinggi Anhar, meski bentuknya tetap manusia.

Bram menatap takjub. “Kekuatan thariqat… membesarkan ragamu?”

Darmo mengangguk. “Ini bukan kekuatan kasar. Ini bentuk dari energi yang terakumulasi.”

Sementara itu, Bram sendiri merasakan tubuhnya berubah. Pakaiannya berganti menjadi jubah panjang berwarna biru tua. Di kedua tangannya muncul pola sigaret berbentuk pusaran yang terus berputar. Matanya menyala seperti dua mata air cahaya.

“Sepertinya,” Bram tersenyum tipis, “kita diberi wujud untuk menyamakan medan.”

Fairuz mendecakkan lidah. “Menarik. Sangat menarik.”

Anhar, yang dikendalikan aura merah, menggeram dengan suara berat.

Bram angkat dagu. “Anhar… maafkan kami jika hari ini harus mengikat kekuatanmu lagi.”

Darmo menatap Fairuz dari ketinggian tubuh barunya. “Kau bilang ingin menghancurkan tirai dunia. Tapi kau lupa satu hal.”

“Apa itu?” Fairuz mengangkat alis.

“Kami bukan sendirian.”

---

Di luar dunia fantasi, tubuh Kyai Musthofa bergetar halus. Tatapannya menajam seperti sedang menembus lapisan-lapisan maya.

“Raif,” panggilnya dengan suara tegas.

Raif yang sejak tadi menjaga pintu energi segera maju. “Ya, Kiai.”

“Keseimbangan di dalam terganggu. Mereka bertiga tidak cukup untuk menghadapi kekuatan Ki Ambangan ditambah transformasi Fairuz dan Anhar.”

“Apakah saya harus ikut masuk?”

“Betul. Kau harus menjadi poros yang menahan getaran dari dalam. Jika tidak, dunia fantasi bisa meletus dan merobek batas menuju dunia nyata.”

Raif menelan ludah. “Siap, Kiai.”

Kyai Musthofa mengangkat tongkat kayunya, menggambar lingkar sigaret kecil di udara. Cahaya biru muncul dan melingkupi Raif.

“Masuklah. Ia tidak akan menyentuh tubuhmu, tapi akan membawa ragamu ke sana.”

“Baik, Kiai.”

Dengan satu langkah ke depan, Raif lenyap dalam cahaya.

---

Dunia fantasi mendadak berubah angin ketika Raif muncul di antara pusaran. Ia mendarat dengan tenang, tongkat latihan di tangan kanan.

Bram berseru. “Raif!”

Darmo yang kini berwujud raksasa biru listrik mengangguk. “Kau tepat waktu.”

Fairuz menarik napas dalam. “Oh, sekarang kalian membawa penyeimbang? Menarik sekali.”

Raif melangkah maju. “Aku tidak datang untuk gagah-gagahan. Aku datang untuk menutup pintu ini.”

“Banyak bicara,” bentak Fairuz.

Anhar mengayunkan tangan raksasanya, tapi Darmo menahan dengan satu tangan besar yang memancarkan percikan listrik biru. Getaran benturan membuat tanah fantasi retak seperti kaca yang digores.

“Anhar, sadar!” seru Darmo. “Jangan biarkan dirimu terseret!”

Aura merah di tubuh Anhar berkelip. Tapi kendalinya tetap kuat.

Bram melompat ke depan Fairuz. “Kau tahu kau tidak menguasai kekuatan itu. Kau hanya menjadi saluran.”

“Saluran cukup untuk memusnahkan.”

“Tidak jika kami menutupnya,” jawab Bram.

Sembari berbicara, sigaret biru di tangan Bram berubah menjadi dua lingkar raksasa yang berputar pelan, seperti dua pahatan cahaya.

Fairuz menatap sinis. “Kau pikir jimat lingkar itu bisa menahan amarahku?”

“Tidak menahan,” Bram menjawab mantap. “Mengunci.”

Darmo menahan pukulan Anhar, Raif bergerak cepat meluncur dengan tongkatnya ke arah Fairuz.

Fairuz mengangkat tangan, mengeluarkan gelombang merah.

Raif mendorong tongkatnya ke tanah fantasi. “Pusat Keseimbangan.”

Ledakan cahaya biru terjadi tanpa melukai siapa pun. Gelombang itu justru meredam panas aura merah sementara.

Fairuz terhuyung sedikit. “Kau… kau mempelajari teknik itu?”

Raif menjawab datar. “Aku mempelajari yang Kiai ajarkan. Tidak lebih.”

Darmo menggerakkan tubuh raksasanya, melangkah maju sampai membayangi Anhar.

“Anhar!” teriak Darmo, suaranya bergema kuat. “Kami tidak akan menyakitimu. Ini hanya bentukmu yang terikat!”

Untuk sesaat, mata Anhar yang merah menyala berubah menjadi redup.

“Dar… mo… aku…”

Fairuz menjerit. “Diam! Kau milik guruku!”

Aura merah kembali membungkus Anhar, membuat tubuh raksasa itu bergerak liar.

Bram menyempurnakan formasi lingkar sigaretnya. “Darmo, Raif, tahan mereka! Aku siap menutup jalur energi merah!”

“Siap!” ujar Raif.

Darmo mengangguk, berdiri tegak seperti penjaga gerbang. “Lakukan, Bram. Aku akan menahan Anhar.”

Fairuz mengayunkan dua pusaran merah ke arah Bram. Raif melompat dan memukul gelombang itu dengan tongkatnya, memecahnya menjadi serpihan cahaya sebelum menghilang.

“Kau membuatku kesal,” geram Fairuz.

“Kemarahanmu bukan kekuatanmu,” balas Raif.

Bram mengangkat kedua tangannya ke atas. “Penguncian sigaret… selesai.”

Tiba-tiba langit fantasi berubah biru terang. Dua lingkar biru berputar cepat, turun seperti dua matahari kecil.

Fairuz menatapnya dengan ketakutan samar. “Ini… apa yang kau lakukan?”

“Menutup jalur merah yang kau pakai,” jawab Bram. “Jika jalurnya tertutup, kau hanya seorang santri yang tersesat.”

Darmo menahan Anhar yang mencoba meronta. “Anhar! Tetap bertahan! Sedikit lagi!”

Anhar bergemuruh. “Aku… ingin… bebas…”

Bram menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau akan bebas. Dari kendali siapa pun.”

Fairuz memaksa dirinya melompat ke arah lingkar biru, ingin merusaknya.

Raif segera menghadang. “Tidak kali ini!”

Tongkatnya bertemu dengan kekuatan merah Fairuz, menghasilkan benturan besar yang aman tanpa dampak fisik, namun cukup untuk mendorong Fairuz mundur.

Lingkar biru menyatu, menutup jalur merah dalam satu kedipan cahaya.

Fairuz berteriak. Aura merah di tubuhnya berkedut-kedut, kehilangan sumbernya.

Anhar perlahan mengecil, tubuh raksasanya menghilang seperti kabut yang luntur oleh matahari.

Darmo kembali ke wujud normal, lututnya hampir goyah.

Bram kehabisan napas, tetapi tetap berdiri.

Raif menurunkan tongkatnya. “Selesai?”

Belum.

Fairuz jatuh berlutut. Nafasnya tidak stabil. Tetapi di ujung matanya… masih ada garis merah kecil yang bergerak.

Dan suara Ki Ambangan kembali bergema, lebih dalam dari sebelumnya.

“Pertandingan belum selesai, Musthofa… murid-muridmu baru mencicipi permukaannya.”

Langit fantasi kembali bergetar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel