Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pagar biru menjaga pesantren

Darmo terhempas keluar dari dunia fantasi seperti seseorang yang baru saja diseret dari kedalaman laut. Tubuhnya jatuh ke lantai serambi pesantren, napasnya tersengal, dada naik turun tajam. Bram muncul beberapa detik setelahnya, terhuyung seperti kehilangan keseimbangan, keringat mengucur hingga membasahi wajahnya. Sementara Raif berdiri tegak ketika cahaya biru terakhir menghilang dari tubuhnya. Ia mengatur napas, tetapi wajahnya tetap stabil, seolah baru keluar dari ruang meditasi, bukan dari medan pertarungan batin yang nyaris meretakkan dua dimensi.

Darmo mengerang pelan. “Kita… kembali?”

Raif menunduk sedikit. “Sudah. Semua jalur sudah tertutup untuk sementara.”

Bram duduk bersandar ke tiang serambi. “Untuk sementara. Itu bagian yang mengganggu.”

Kyai Musthofa melangkah mendekat. Tangannya yang tua namun mantap memegang bahu Bram. “Kalian sudah melakukan apa yang tidak mampu dilakukan banyak orang. Tapi perjalanan ini… baru mulai menggerakkan ujungnya.”

Darmo menahan napas. “Kiai, apa suara itu… Ki Ambangan?”

Kyai Musthofa menarik napas panjang seolah mengangkat beban tak terlihat. “Betul. Dan itu alasan mengapa aku harus melakukan tirakat. Jika aku tidak memperkuat pagar batin, ia akan masuk bukan hanya ke dunia fantasi… tapi ke bumi kalian.”

Raif mengernyit. “Tirakat seperti apa, Kiai?”

“Yang berat.”

Malam berikutnya, Kyai Musthofa memasuki ruang wedalan lama di bagian timur pesantren Nurul Musthofa. Ruang itu sederhana: hanya tikar pandan, kendi air, dan sebaskom kecil cabai rawit merah.

Bram mengintip dari balik pintu. “Kiai benar-benar melakukan ini?”

Raif menepuk pundaknya. “Kiai tidak pernah bercanda soal tirakat.”

Darmo mendekat, wajahnya masih pucat. “Tiga hari tiga malam… mati geni? Tanpa api, tanpa lampu, tanpa nasi?”

“Ya,” jawab Raif. “Dan pada hari pertama dan kedua… hanya boleh menelan cabai dan air putih. Hari ketiga… hanya air.”

Bram menelusupkan napas pendek. “Kiai tidak terlalu sepuh untuk menyiksa diri begitu?”

Dari dalam ruang gelap, suara Kyai Musthofa terdengar. “Aku masih muda untuk urusan perjuangan, Bram.”

Bram terkejut. “Maaf, Kiai… saya tidak bermaksud—”

“Tidak apa. Aku tahu kalian khawatir.”

Darmo menunduk. “Kiai… bukankah dulu Nyai Maisaroh pernah melarang Kiai menjalani tirakat berat seperti ini?”

Kyai Musthofa terdiam lama. Dalam gelap ia meraba udara seakan menyentuh sosok yang tidak lagi ada.

“Iya. Dia melarangku. Dia sangat keras soal itu.”

Darmo menunggu dengan tenang. Bram ikut duduk bersila. Raif berdiri tegap.

“Tapi…” suara Kiai melembut, “…jika ia masih ada di sini, ia akan memahami. Aura merah itu bukan lagi gangguan mainan. Ia mengincar generasi kalian. Maka aku harus berdiri di pintu.”

Darmo mengepalkan tangan. “Kiai tidak sendirian. Kami akan ikut menjaga.”

“Ya,” ujar Bram. “Kami tidak akan diam. Terutama setelah apa yang terjadi pada Anhar.”

Raif angkat dagu. “Kami siap ditempa lagi.”

Suara Kiai terdengar seperti senyum ringan. “Kalian akan kutempa. Tapi kalian juga harus belajar menata hati masing-masing. Tanpa ketenangan, kekuatan batin hanya menjadi api liar.”

Setelah Kiai masuk fase tirakat, suasana pesantren berubah. Seolah angin membawa kesunyian yang lebih berat dari biasanya.

Darmo duduk di teras malam itu, tasbih kayu cendana yang diberikan Kiai Musthofa berputar pelan di jarinya. Mantra dzikir berputar dalam batinnya.

“Subhanallah… walhamdulillah… wala ilaha illallah…”

Bram duduk di sampingnya. Tasbihnya lebih panjang, butiran bulatnya memancarkan aroma kayu manis.

“Kiai bilang kita harus meng-upgrade diri,” Bram membuka percakapan. “Aku tidak tahu apakah dzikir ini akan membuatku siap…”

“Bukan dzikirnya,” jawab Darmo. “Tapi apa yang kita rasakan saat mengucapkannya.”

Bram menatap langit. “Aku… masih takut. Fairuz dan Anhar… bukan lagi teman seperguruan yang hanya tersesat. Mereka seperti… pintu yang dibuka dari luar.”

Darmo menunduk. “Dan kami harus menjadi kuncinya.”

Raif tiba-tiba muncul dari balik tiang. “Kiai memberi pesan tambahan untuk kalian sebelum masuk hari kedua.”

Bram memegang tasbihnya erat. “Pesan apa?”

Raif menghela napas. “Kiai bilang, ‘Jika aura merah datang kembali, kalian harus siap bukan sebagai murid… tetapi sebagai tameng bagi banyak jiwa.’”

Darmo terhenyak. “Tameng?”

“Ya,” Raif melanjutkan, “dan tameng artinya… siap menerima hantaman lebih dulu.”

Bram menelan ludah. “Berarti… kami harus kuat. Lebih kuat dari sebelumnya.”

Raif mengangguk. “Berlatihlah. Dzikir bukan sekadar lantunan. Ia membentuk kalian dari dalam.”

Darmo menutup mata. “Baik, Raif. Kami akan melakukannya.”

Raif menatap keduanya dengan tatapan kakak sulung yang melihat adiknya siap memasuki badai. “Jangan takut pada malam ini. Karena jika kalian bertahan hingga Kiai selesai tirakat… kalian akan menjadi berbeda.”

Bram menghembuskan napas. “Berbeda bagaimana?”

Raif menjawab pendek. “Lebih siap menghadapi serangan berikutnya.”

Malam semakin dalam. Suara dzikir bersahutan di antara tiang-tiang pesantren.

Darmo merasakan dadanya lebih tenang. Bram merasakan pikirannya lebih jernih.

Namun di kejauhan, di luar pagar pesantren, angin berhembus membawa aroma samar seperti tanah basah dan serpihan merah kecil yang menari di udara.

Seakan suatu kekuatan sedang menanti.

Menunggu Kyai Musthofa selesai tirakat.

Menunggu Darmo dan Bram benar-benar siap.

Angin subuh menyusup lewat celah jendela mushala, membawa bau embun dan suara langkah santri yang mulai ramai. Namun suasana pagi itu berbeda. Ada tekanan yang tidak tampak, semacam tegangan di udara, seperti langit sedang menahan sesuatu yang tak terlihat.

Kyai Musthofa duduk bersila di serambi ndalem, tubuhnya mulai terlihat kurus karena puasa ngasrep yang sudah memasuki hari kedua. Napasnya tenang. Matanya terpejam, tetapi seluruh santri merasakan gelombang energi biru yang melingkar perlahan dari tubuh beliau.

Raif berdiri di sampingnya, membawa kendi kecil berisi air putih. “Kyai,” ucap Raif pelan, “sampean terlihat semakin lemah. Izinkan saya bantu menjaga pagar aura itu.”

Kyai Musthofa membuka mata sedikit. “Raif, pagar ini bukan semata tentang kekuatan raga. Ini tentang kejernihan hati. Selama hatimu belum setenang embun fajar, auranmu akan mudah berguncang.”

Raif menunduk. “Saya akan terus mengulang puasa ngasrep seperti ijazah awal dulu, Kyai. Tujuh hari penuh. Hari terakhir nanti mati geni. Mungkin dengan cara itu, getaran dalam diri saya bisa lebih tertata.”

Kyai Musthofa tersenyum kecil. “Bagus. Tetapi jangan memaksa diri di luar batas. Ilmu itu seperti air. Mengalir pelan dan tidak bisa dipaksa cepat.”

Dari kejauhan, terdengar suara para santri yang sedang menata kitab untuk sesi pengajian pagi. Darmo dan Bram duduk berdampingan di saf paling depan, wajah mereka masih tampak serius akibat pengalaman di dunia fantasi beberapa hari lalu. Aura biru yang dulu liar kini mulai melunak, meski sesekali tampak bergetar seperti bara yang masih menyimpan panas.

“Bram,” bisik Darmo sambil membuka tasbih kayu hitam pemberian Kyai Musthofa, “kita sudah lebih tenang sekarang, kan? Tapi kenapa aku masih merasakan bekas tekanan dari Anhar dan Fairuz? Seakan-akan mereka belum sepenuhnya terkubur dalam dunia fantasi itu.”

Bram mengusap wajah, mencoba fokus. “Aku juga merasakannya. Ada sisa detak dari aura merah itu. Mungkin Ki Ambangan belum menyerah. Atau mungkin ada pintu yang belum tertutup rapat.”

Darmo menelan ludah. “Kita harus lebih kuat. Kyai Musthofa sudah bilang, serangan berikutnya bisa jauh lebih besar.”

Tiba-tiba Raif masuk ke mushala. “Darmo, Bram. Kyai memanggil kalian setelah pengajian. Ada sesuatu yang perlu beliau sampaikan.”

Bram mengangguk. “Baik, Raif. Kami siap.”

Raif sempat menatap keduanya lama. “Satu hal yang harus kalian ingat. Apa pun yang terjadi nanti, jangan biarkan emosi memimpin langkah kalian. Dunia fantasi terbentuk dari getaran batin. Jika kalian goyah, seluruh bentuknya akan berubah liar.”

Darmo menghela napas panjang. “Itu justru yang paling sulit.”

Pagar Aura Biru Dibangkitkan

Setelah pengajian selesai, Kyai Musthofa memanggil ketiga pemuda itu ke halaman belakang pesantren. Halaman itu sunyi, hanya ada suara daun jambu yang digoyang angin.

Di tengah tanah lapang, Kyai Musthofa berdiri tegak, tubuhnya memancarkan kilau biru redup seperti cahaya lampu minyak di dalam kaca. Raif berada di sisi kanan, sementara Darmo dan Bram berada di kiri.

“Perhatikan baik-baik,” ucap Kyai Musthofa sambil mulai menarik napas dalam. “Kita akan membangun pagar aura biru. Ini bukan sekadar perlindungan. Ini penyeimbang batin seluruh penghuni pesantren.”

Raif bertanya, “Apakah pagar ini akan menahan serangan dari Ki Ambangan?”

Kyai Musthofa mengangguk perlahan. “Setidaknya memperlambatnya. Aura merah tidak akan mudah menembus benteng yang dibangun dari ketenangan hati dan kedisiplinan ruhani.”

Darmo merapatkan kedua tangan. “Kyai, apa kami bisa membantu membangunnya?”

“Bisa,” jawab Kyai Musthofa. “Tetapi terlebih dahulu, kalian harus memberikan niat yang bersih. Sebab pagar ini memakai getaran hati kalian juga.”

Bram mengambil posisi bersila. “Kami siap.”

Langit mendadak lebih teduh. Cahaya biru mulai keluar dari telapak tangan Kyai Musthofa, bergerak membentuk lingkaran besar yang memanjang ke arah pagar bambu pesantren. Cahaya itu seperti kabut bercahaya yang lembut tetapi mantap. Raif memejamkan mata, tubuhnya ikut memancarkan sinar biru lebih tipis.

Darmo dan Bram merasakan tubuh mereka ditarik ke pusat lingkaran cahaya, seolah ada arus yang mengalir melalui dada mereka. Keduanya hampir kehilangan keseimbangan, namun Kyai Musthofa menahan aliran aura itu sehingga lebih stabil.

“Kalian tenang,” kata Kyai Musthofa. “Biarkan aura kalian menyatu dengan pagar.”

Darmo menggertakkan gigi kecil. “Kyai... aura saya seperti tersendat.”

“Itu wajar,” jawab Kyai Musthofa. “Aura biru harus melampaui rasa takutmu. Jangan lawan. Biarkan mengalir.”

Bram menambahkan, “Aku bisa membantu menyeimbangkannya.”

Darmo mengangguk. Bersama-sama, keduanya menurunkan bahu, menenangkan napas, dan membiarkan energi menyatu dalam lingkaran itu.

Beberapa menit kemudian, muncullah dinding cahaya biru tipis yang melingkari seluruh pesantren. Semakin lama semakin tegas, seperti tirai transparan yang melapisi batas tanah.

Di Area Santri

Santri-santri yang sedang belajar tiba-tiba melihat langit berubah sedikit kebiruan. Seorang santri kecil bertanya ke seniornya, “Kak, kok langit jadi kayak nyala biru begitu?”

Senior itu menjawab, “Itu tanda Kyai sedang membuat benteng aura. Jangan takut. Itu untuk melindungi kita.”

Santri kecil itu bertanya lagi, “Ada bahaya, Kak?”

Sang senior mengelus kepala adiknya. “Bahaya itu selalu ada. Tapi Kyai Musthofa tidak akan membiarkan apa pun menyentuh pesantren ini.”

Beberapa santri lain mulai berdzikir pelan secara spontan, mengikuti instruksi yang pernah diberikan Raif bahwa setiap dzikir santri akan memperkuat mental siapa pun yang berlatih aura.

---

Raif Memulai Puasa Ngasrep

Sore hari, Raif mulai bersiap memulai puasa ngasrep tujuh hari seperti awal ia menerima ijazah. Ia duduk sendirian di sisi musala, membawa kendi air dan sebutir garam sebagai bekal minimal.

Bram mendekatinya. “Raif, apa kamu yakin sanggup mengulang puasa itu?”

Raif tersenyum tipis. “Kalau Kyai Musthofa saja masih melakukan tirakat lebih berat daripada ini, masa saya tidak siap sedikit menahan lapar dan dahaga.”

Darmo menambahkan, “Tapi tubuhmu bisa drop.”

“Drop itu wajar,” jawab Raif. “Yang penting hati tetap tegak.”

Bram menghela napas. “Kamu selalu terlihat kuat, Raif.”

Raif tertawa ringan. “Kuat itu bukan berarti tidak takut. Kuat itu menjalani apa yang perlu dijalani meski takut.”

Suasana Pengajian Malam

Malamnya, pengajian berjalan seperti biasa. Namun seluruh santri merasakan suasana berbeda. Sebagian besar mereka terlihat lebih khusyuk, lebih menundukkan kepala, lebih berhati-hati melafalkan ayat.

Kyai Musthofa duduk memimpin halaqah dengan suara lembut namun tegas. “Kalian semua adalah bagian dari pagar batin pesantren ini. Ilmu tidak sekadar dibaca, tetapi harus meresap ke hati.”

Seorang santri bertanya, “Kyai, apakah benar ada sesuatu yang ingin masuk ke pesantren?”

Kyai Musthofa menjawab sambil menatap kitab. “Yang ingin masuk itu bukan sesuatu yang membawa manfaat. Tugas kita bukan menakutinya, tetapi memperkuat diri.”

Darmo dan Bram saling pandang, merasa ucapan itu ditujukan secara halus untuk mereka.

Bram berbisik, “Darmo, kita ikut menjaga pesantren ini dengan cara kita. Tidak hanya aura, tetapi sikap.”

Darmo mengangguk. “Betul. Kita harus siap.”

Penutup Bab

Setelah seluruh santri kembali ke asrama, Raif melanjutkan puasa ngasrepnya. Kyai Musthofa kembali duduk di teras ndalem, melanjutkan tirakatnya sambil memegang tasbih.

Aura biru yang melapisi pesantren berdenyut lembut. Seolah seluruh tanah itu bernapas.

Darmo dan Bram duduk berdua di samping taman kecil, memegang dzikir masing-masing.

Darmo berkata lirih, “Kita tidak tahu kapan serangan selanjutnya datang.”

Bram menjawab, “Tapi saat itu datang, kita sudah tidak seperti dulu.”

Mereka terdiam. Malam terasa panjang, tetapi penuh makna. Cahaya biru di langit masih bergetar lembut, menjaga setiap jengkal pesantren dari bayangan aura merah yang entah kapan akan kembali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel