Pertemuan di Serambi Timur
Angin sore berembus lembut di halaman Pesantren Nurul Musthofa. Cahaya matahari merayap di sela-sela pepohonan jati, menorehkan bayangan panjang di tanah yang berdebu. Para santri bergerak dari satu kegiatan ke kegiatan lain dengan disiplin khas pesantren; sebagian menghafal nadzom, sebagian menyiapkan air wudhu, sebagian lagi menyapu halaman.
Darmo dan Bram baru saja selesai mengaji Fathul Qorib bersama Kyai Musthofa. Keduanya berjalan santai melewati serambi timur, tempat khusus bagi santri putri. Di area itu, beberapa ustadzah sedang mengawasi santri perempuan yang belajar membaca maulid.
Darmo memperlambat langkahnya ketika salah satu santri putri yang duduk di dekat pilar memperhatikan arah mereka lewat. Rambutnya tertutup rapat kerudung, sikapnya tenang, matanya fokus pada kitab di depannya. Ada keteduhan yang tidak biasa.
Bram melirik Darmo dan langsung mengangkat alis.
“Kau kenapa berhenti?” tanyanya pelan.
“Tidak… cuma merasa seperti pernah lihat wajah itu. Tapi entah di mana,” gumam Darmo.
Bram menatap lebih dekat. “Yang duduk dekat pilar itu? Yang baca maulid?”
“Iya,” jawab Darmo.
Beberapa detik berlalu. Tiba-tiba ustadzah yang mengawasi memanggil salah satu santrinya.
“Fatimah, tolong ambilkan kitab tambahan di rak.”
Santri yang tadi diperhatikan Darmo bangkit dengan tenang. Suaranya lembut. “Baik, Ustadzah.”
Nama itu membuat Darmo menoleh cepat.
“Fatimah?” ulangnya dalam hati.
Bram tertawa kecil. “Ah, jangan bilang kau tertarik.”
Darmo mendengus. “Tidak. Aku hanya merasa namanya… enak didengar.”
“Tepat sekali,” sahut Bram sambil menepuk bahunya. “Biasanya laki-laki mengingat nama karena satu alasan yang sama.”
Darmo memelototinya. “Jangan sembarangan, Bram. Ini pesantren.”
“Tapi bukan berarti kau harus jadi patung,” timpal Bram sambil terkekeh.
---
Beberapa hari kemudian, suasana pesantren kembali dipadati kegiatan rutin. Setelah Dzuhur berjamaah, para santri perempuan bergerak ke aula putri untuk pelajaran tajwid. Darmo bertugas mengantar beberapa kitab dari gudang kitab ke aula tersebut, sebuah tugas yang biasanya ia selesaikan tanpa banyak berpikir.
Ketika ia hendak meletakkan tumpukan kitab di meja depan aula, suara seseorang memanggil dengan sopan.
“Santri putra, mohon ditaruhnya di meja sebelah kiri. Itu meja baru yang digunakan untuk tajwid,” ujar suara perempuan lembut dari belakang.
Darmo berbalik.
Fatimah berdiri beberapa langkah darinya.
“Oh,” Darmo tersenyum tipis. “Baik, terima kasih sudah mengarahkan.”
Fatimah menunduk sedikit, lalu berkata, “Kitabnya berat ya? Biar saya bantu.”
“Tidak usah. Ini tugas saya,” jawab Darmo cepat.
Fatimah tersenyum tipis. “Kalau begitu… terima kasih sudah repot mengantarkan.”
Hanya kalimat sederhana. Tapi kalimat itu membuat dada Darmo bergetar sedikit—getaran yang ia sendiri belum mengerti.
---
Malam berikutnya, Bram menghampiri Darmo yang sedang menulis catatan pelajaran.
“Aku lihat kau bertemu santri putri tadi siang,” godanya.
Darmo menghela napas. “Bram, kau ini… biasa saja. Itu hanya tugas pesantren.”
“Bukan tugasnya yang membuatmu terlihat berbeda,” ujar Bram sambil duduk di pinggir dipan. “Wajahmu berubah.”
“Berubah bagaimana?” tanya Darmo tak senang.
“Seperti orang yang menemukan ayat baru dalam hidupnya,” canda Bram.
Darmo menutup kitabnya. “Sudahlah. Kita ini santri. Bukan datang untuk cari perkara begitu.”
“Tapi tidak salah kalau suatu hari kau ingin membangun keluarga, kan?” Bram menaikkan bahu. “Kau ini anak satu-satunya dari Mang Darsam. Cepat atau lambat, kau akan menikah juga.”
Darmo diam sebentar.
“Kalau benar suatu hari aku menikah,” katanya pelan, “aku ingin perempuannya yang menjaga adab, menjaga ilmu, dan menjaga diri.”
“Dan Fatimah memenuhi itu?” pancing Bram.
Darmo menatap temannya itu lama.
“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. “Tapi… ada keteduhan di dirinya.”
Bram tersenyum lebar. “Kalau begitu, mungkin ini permulaan yang baik.”
---
Hari-hari berikutnya, Darmo bertemu Fatimah dalam rutinitas pesantren: saat mengantar kitab, saat kerja bakti, atau sekadar berpapasan di serambi. Tidak pernah ada dialog panjang—hanya beberapa kalimat sopan yang menjaga batasan antara santri laki-laki dan perempuan.
Namun setiap kali Fatimah berbicara, Darmo merasa seperti ada sesuatu yang menambal kekosongan yang bahkan ia tidak sadari dimilikinya.
Di satu sore yang sejuk, Fatimah menghampirinya tanpa diduga saat ia menunggu giliran di depan kantor santri.
“Santri putra,” panggil Fatimah dengan bahasa yang sangat menjaga adab.
“Ya?” Darmo menoleh.
“Ada titipan kitab dari ustadzah,” katanya sambil menyerahkan sebuah kitab rihlah kecil. “Ini untuk disampaikan kepada Kyai Musthofa.”
Darmo menerimanya dengan kepala sedikit menunduk. “Baik. Terima kasih.”
Fatimah hampir pergi, tapi kemudian ia berkata dengan suara yang sangat hati-hati, “Semoga belajarnya lancar. Semoga Allah mudahkan.”
Darmo terdiam. Tidak ada yang pernah mengatakan kalimat sesederhana namun setulus itu kepadanya.
Ia menunduk. “Amin. Semoga Allah mudahkan juga pelajaranmu.”
Fatimah mengangguk pelan sebelum kembali ke serambi putri.
Bram yang dari jauh mengintip langsung menghampiri dengan wajah penuh kemenangan.
“Aku lihat tadi.”
Darmo mendecak. “Kau ini seperti intel.”
“Tapi intel yang tahu kapan seorang sahabat sedang mulai mengenal rasa,” ujar Bram santai.
Darmo hanya bisa menghela napas. “Sudahlah. Ini semua urusan nanti. Fokus kita sekarang masih belajar.”
Namun Bram hanya tersenyum samar, karena dalam hatinya ia tahu:
Benih itu sudah tertanam.
Tinggal menunggu waktu tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan hidup Darmo.
---
Malam itu, ketika Darmo kembali ke kamar, ia duduk lama sambil memandangi kitab rihlah pemberian ustadzah yang Fatimah titipkan. Ia menyentuh sampul kitab itu, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan — semacam ketenangan yang berbeda dari zikir, berbeda dari ilmu, tetapi tetap terasa benar.
“Kalau ini bagian dari rencana Allah,” gumamnya pelan, “aku akan menjalaninya dengan hati-hati.”
Dan di kejauhan, di serambi putri yang sudah gelap, Fatimah menatap ke arah langgar utama dengan mata yang teduh, seolah memikirkan seseorang… tanpa menyebut namanya.
Aura Merah di Pesantren Nurul Musthofa
Sore itu matahari turun pelan seperti menahan napas. Angin menerobos sela-sela papan asrama lama pesantren Nurul Musthofa, membawa bau khas kayu tua dan tanah lembap. Darmo baru selesai mengulang wirid Thariqat Naqsyabandiyah bersama Bram. Keduanya masih duduk bersila di serambi mushala kecil dekat kolam ikan yang tak pernah kering.
Mendadak, udara berubah. Seolah ada sesuatu yang ditarik dari dada mereka.
Bram membuka mata lebih dulu.
“Mo… kau ngerasa itu?” suaranya pelan, namun tegang.
Darmo merapatkan alis. “Iya. Kayak… ada yang nyenggol batin. Merah. Besar.”
Dari arah asrama putra, dua semburat cahaya merah gelap muncul samar. Tidak seperti cahaya biasa—lebih mirip getaran hasad yang ditekan, iri yang dipaksa diam, atau ambisi yang ditutupi sopan santun santri.
Bram berdiri. “Ini bukan aura sembarangan. Dua orang. Kuat.”
Darmo mengatur napas. “Siapa? Aku nggak pernah punya masalah sama siapa pun.”
“Justru itu,” Bram menepuk bahu Darmo. “Kadang orang iri bukan karena kau salah… tapi karena kau benar.”
Mereka berjalan mendekati arah munculnya aura itu, namun begitu tiba di samping gedung kitab kuning, semburat merah itu menghilang, seakan tertarik ke dalam bumi.
Darmo memicingkan mata. “Ini serius, Bram. Aku harus tanya langsung ke Kyai Musthofa.”
“Tanya ke siapa? Kyai lagi haji sama Bu Nyai Maisaroh, ingat?” Bram menghela napas. “Beliau baru berangkat dua hari.”
Namun Darmo menggeleng kuat.
“Aku nggak bisa diam. Ini pesantren. Ini tempat kita dibentuk. Kalau ada yang mengancam—baik batin atau fisik—aku harus tahu.”
Ia lalu duduk bersila di tanah, mata terpejam. Bram refleks berdiri di sampingnya, menjaga.
Darmo menarik napas panjang, memasuki latihan yang sering ia gunakan untuk mengatur batin saat suluk.
“Guru…” Darmo bersuara pelan dalam batinnya. “Kyai Musthofa, kalau engkau mendengar, beri aku petunjuk… ada apa dengan aura merah itu?”
Hening. Tidak ada getaran. Tidak ada respons. Tidak ada sambungan batin.
Bram mengamati wajah Darmo yang mulai tegang. “Mo, cukup. Kalau belum tersambung, jangan dipaksa.”
“Aku harus tahu,” Darmo membuka mata, kecewa. “Kenapa tidak bisa? Biasanya kalau aku manggil dalam keadaan darurat, Kyai tetap memberi tanda, meski cuma bisikan halus.”
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” Bram menunduk. “Kadang alam batin guru juga dijaga saat sedang ibadah besar.”
Darmo mengusap wajah. “Tapi aura tadi benar-benar… berat. Seperti ada santri yang menahan diri untuk tidak menyerang.”
“Dua orang,” Bram menegaskan. “Dan keduanya tampaknya tidak suka kau semakin maju di thariqat.”
Darmo menatap sahabatnya itu.
“Kau juga ngerasa?”
“Jelas. Bahkan aku sempat merinding. Aura merah itu muncul karena hati yang digerakkan hawa nafsu—iri, cemburu rohani, atau persaingan dalam ilmu. Tapi kita nggak boleh suudzon.”
Darmo berdiri. “Tetap saja, aku harus bersiap.”
Bram mencoba tersenyum—senyum khas sahabat yang ingin meredakan, meski ia pun khawatir.
“Kalau nanti mereka muncul lagi, kita hadapi bersama. Kau bukan sendiri, Mo.”
Darmo menarik napas panjang. “Aku cuma berharap… siapa pun mereka, jangan sampai membuat pesantren ini goyah.”
Bram menepuk bahunya, lebih kuat kali ini.
“Goyah kalau kita diam. Kita tidak sedang diam.”
Angin sore kembali bertiup, membawa sisa-sisa hawa merah yang masih belum terjawab. Lingkungan pesantren tetap tenang, namun ada sesuatu di dalamnya yang mulai bergerak. Sesuatu yang kelak akan mempengaruhi perjalanan Darmo, anaknya, bahkan garis hidup keluarga mereka.
