4. Kesepian Yang Merambat
Malam menurunkan tirainya perlahan. Langit di atas kota masih basah sisa hujan siang tadi. Lampu-lampu jalan memantul di aspal, menciptakan kilau yang menari-nari seperti serpihan kaca.
Di dalam rumah dengan dua jendela, Ruma duduk di meja makan. Di hadapannya terhidang sepiring nasi, sup ayam hangat, dan tumis buncis. Asap tipis masih mengepul dari mangkuk, menebar aroma rempah yang lezat. Tapi kelezatan itu terasa hambar bagi Ruma.
Dia mengaduk sup pelan. Sendoknya berkali-kali menyentuh dasar mangkuk, menimbulkan bunyi dentingan halus. Rumah sunyi. Hanya terdengar bunyi kulkas berdengung dan detik jarum jam di dinding.
“Aldi, kamu mau makan?” panggil Ruma sambil menoleh ke ruang tengah.
Namun tak ada jawaban. Suaminya masih di kamar kerja, pintu tertutup rapat. Tadi sore, begitu pulang, dia langsung mengurung diri, tenggelam dalam layar laptopnya.
Ruma menghela napas. Perempuan itu menatap kursi kosong di seberangnya. Tangannya perlahan meraih kursi, seolah ingin menepuk punggung kursi seperti menepuk bahu Aldi.
“Dulu kamu selalu duduk di sini, Di.” gumamnya pelan.
“Dulu, rumah ini ramai.”
Pikiran Ruma melayang pada malam-malam awal pernikahannya. Kilasan kenangan muncul jelas di benaknya.
Ruma dan Aldi duduk berdampingan di meja makan. Tawa Aldi mengisi ruang makan. Dia menggigit sendok, menahan tawa saat Ruma mencolek pipinya dengan kuah sup.
“Ha-ha-ha. Rum, ini meja makan, bukan arena perang cat!” seru Aldi sambil tertawa.
Ruma terkikik.
“Hi-hi-hi. Biar rame, Di!”
Aldi menatap istrinya sambil tersenyum, matanya penuh cinta. “Aku suka rumah kita rame. Kayak gini. Ada kamu.”
Ruma mencubit lengan Aldi.
“Kamu juga rame kok. Suaramu bikin aku senang.”
Aldi mengusap kepala Ruma.
“Tapi cuma buat kamu, Rum. Aku mau rumah ini penuh tawa.”
Ruma menatap suaminya dengan mata berbinar.
“Janji nggak akan berubah?”
Aldi mencium kening istrinya.
“Janji.”
Ruma menggigit bibirnya. Air mata menggantung di pelupuk matanya.
Kini, di rumah yang sama, di meja yang sama, Ruma hanya duduk sendiri.
“Aldi, kamu yang berubah atau aku yang berubah?” bisik Ruma lirih.
Dia kembali mengaduk sup. Sendoknya berhenti di tengah mangkuk.
“Dulu, kamu selalu bilang rumah ini rame. Sekarang, terasa sunyi banget, Di.”
Matanya melirik ponsel di meja. Tak ada pesan dari Aldi. Tak ada panggilan dari siapapun. Sejak Jaka menelepon kemarin, ponselnya terasa lebih berat setiap dia genggam.
Ruma ragu mengetik pesan. Lalu menghapusnya lagi.
Rum :”Di, ayo makan bareng aku, ya?”
Tapi dia tak pernah menekan tombol kirim.
Tomo, kucing putihnya, tiba-tiba melompat ke kursi di sebelahnya. Kucing itu mengeong, menatap Ruma dengan mata kuning lembut.
“Hei, Tomo,” gumam Ruma.
“Mau makan sup ayam?”
Tomo mengeong lebih keras. Ruma tertawa hambar.
“Kamu juga pasti bosan ya, Tomo? Tiap hari ngeliat aku sendirian.”
Tomo mengendus mangkuk sup.
“Eh, nggak boleh. Ini pedes. Bukan buat kamu.”
Ruma mengelus kepala Tomo.
“Dulu kamu sering main sama Aldi, lho. Dia suka gangguin buntut kamu.”
Tomo mengeong pelan. Ruma menghela napas panjang.
“Aku kangen Aldi yang dulu, Tomo. Aldi yang suka bercanda, suka peluk aku tiba-tiba. Aldi yang, selalu bikin rumah ini rame.”
Ruma menyendok sup ke mulutnya. Rasanya hambar. Tak ada rasa rempah yang biasa dirinya banggakan. Dia meletakkan sendok.
“Apa gunanya aku masak kalau kamu nggak pernah mau makan bareng aku, Di?”
Ruma melirik ke arah pintu kamar kerja. Masih tertutup.
“Apa salah aku, Di? Apa aku terlalu banyak nuntut? Apa aku terlalu ribet?”
Tomo mengeong, seolah menimpali.
“Kalau aku diem aja, aku makin kesepian. Kalau aku ngomong, kamu marah. Aku harus gimana, Di?”
Sekali lagi pikirannya melayang ke masa lalu. Suara Aldi bergema di telinganya.
“Rum, aku pulang!”
“Rum, aku kangen.”
“Rum, ayo makan bareng.”
Dan setiap suara itu terngiang, hatinya makin remuk. Karena kini suara Aldi hanya terdengar saat dia meminta kopi atau bilang capek.
Ruma ingin menceritakan tentang telepon Jaka. Tapi setiap kali dia membayangkan sorot mata Aldi, lidahnya kelu.
“Kalau aku cerita, nanti Aldi makin dingin nggak ya?”
Ruma menunduk.
“Atau mungkin dia nggak peduli sama sekali?”
Tiba-tiba suara pintu kamar kerja terbuka. Aldi muncul. Rambutnya kusut, matanya merah.
“Rum, air putih ada?” tanyanya pendek.
Ruma cepat berdiri. “Ada, Di. Tunggu ya.”
Dia lalu menuang air ke gelas tinggi, kemudian menyerahkan pada suaminya. Aldi meminumnya cepat, lalu menatap Ruma.
“Udah makan?” tanyanya datar.
Ruma mengangguk. “Udah, sendiri.”
Aldi mengusap tengkuknya.
“Maaf, kerjaanku numpuk banget.”
Ruma berusaha tersenyum.
“Nggak apa-apa.”
Aldi mengangguk singkat. Lalu tanpa menunggu apa-apa lagi, dia kembali ke kamar kerja. Pintu menutup. Kembali sunyi.
Ruma berdiri mematung di tengah ruang makan. Dadanya terasa sesak. Perlahan dia terduduk di kursi, kepalanya menunduk. Bahunya bergetar.
“Tuh kan, Di, kamu nggak denger aku lagi.”
Tangisnya pecah. Isak tertahan, hanya bahu yang naik turun. Tomo naik ke pangkuannya, mencoba menghibur.
“Aku sendirian terus, Tomo, padahal aku ini istri. Kenapa rasanya kayak bukan siapa-siapa di rumah ini?”
Ruma mengusap air matanya kasar. Dia memejamkan mata, memanggil ingatan hari pernikahannya.
Ruma mengenakan kebaya putih. Aldi mengenakan jas abu-abu. Aldi menatap Ruma tak berkedip saat itu.
“Aku janji bakal selalu buat kamu bahagia, Rum,” ucap Aldi saat mereka berdua menyingkir ke sudut pelaminan.
Ruma menangis bahagia.
“Aku juga janji nggak akan pernah ninggalin kamu, Di.”
Aldi memeluknya erat. “Kita nggak akan kesepian. Kita saling memiliki.”
Ruma membuka matanya. Air matanya makin deras.
“Mana janjimu, Di? Mana? Kenapa kamu pergi, padahal kamu masih ada di rumah ini?”
Ruma menatap kursi di seberangnya.
“Dulu kamu duduk di situ. Sekarang kursinya terasa dingin banget.”
Suasana Rumah itu semakin mencekam.
Suara jam terdengar makin keras. Seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara Ruma terjebak dalam ruang hampa yang sama.
“Aku benci suara jam ini, Di!” ucapnya pada kursi kosong.
“Karena jam ini selalu bilang kamu nggak pulang-pulang.”
Tomo mengeong lagi. Ruma tersenyum getir. “Kamu aja yang nemenin aku ya, Tomo.”
Ruma mengusap ponsel. Jari-jarinya melayang di atas nama Jaka. Dia menahan napas.
“Apa aku boleh cerita ke dia, Tomo? Atau itu salah?”
Tomo mengeong seolah protes.
“Kalau aku cerita ke Aldi, dia marah. Kalau aku cerita ke Jaka, aku takut jatuh terlalu jauh.”
Ruma menghapus nama Jaka dari layar ponsel. Menjatuhkan ponsel ke meja.
“Aku nggak boleh, Tomo. Aku istri Aldi. Aku nggak boleh cari bahu orang lain.”
Ruma berdiri, membereskan meja makan. Dia mencuci piring dengan air panas. Tangannya yang putih kemerahan karena air panas. Tapi Ruma tak peduli. Hanya ingin mengalihkan rasa sakit di dada.
Setelah semua bersih, Ruma mematikan lampu ruang makan. Melangkah ke studio lukisnya. Duduk menatap lukisan dua jendela. Warnanya suram.
Ruma berbicara pada lukisan.
“Dua jendela, kalian sekarang cuma jadi saksi aku makan sendirian. Kalian dulu terang. Sekarang kalian gelap.”
Ruma memejamkan mata. Air mata menetes.
“Aldi, aku kangen kamu. Kangen banget. Kenapa kamu nggak mau denger aku lagi?”
Dan di rumah dengan dua jendela, malam merambat makin dalam. Kesepian semakin meraja seperti kabut, membungkus hati Ruma yang retak.
