Pustaka
Bahasa Indonesia

BAHAGIA YANG TAK PERNAH SINGGAH

32.0K · Ongoing
Zemira Fortunatus
25
Bab
526
View
9.0
Rating

Ringkasan

Ruma tak pernah menyangka jika rumah tangganya bersama Aldi, kekasihnya saat masih dibangku SMA, berada diambang kehancuran. Sejak menikah Aldi berubah total. Dia yang dulunya selalu perhatian kepada Ruma kini berubah menjadi sosok asing yang selalu diam, tidak banyak bicara dan sering pulang larut malam sehingga Ruma mulai merasa kesepian. Rumah tangga mereka semakin kacau saat Jaka, pria dari masa lalu Ruma muncul dan mereka berdua mulai menjalin kedekatan. Pada suatu ketika foto-foto Ruma yang sedang berpelukan dengan Aldi mulai tersebar luas. Ibu mertuanya mulai menyudutkannya. Para tetangga mencibirnya sebagai perempuan murahan. Sampai Ruma pun mengandung dan Aldi menuntut untuk tes DNA karena dia ragu jika anak yang berada di dalam kandungan Ruma adalah anaknya. Mampukah Ruma menghadapi cobaan yang bertubi-tubi datang dalam hidupnya? Ataukah dia akan menyerah? Mungkinkah Aldi membelanya di hadapan ibu mertuanya dan orang-orang yang menghakiminya? Bagaimana dengan Jaka yang tetap ngotot ingin membahagiakan Ruma? Mari dibaca, kisah mengharukan tentang harga diri dan keteguhan dalam kehidupan pernikahan. Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.

DramaIstriSalah PahamPernikahanKeluargaMenyedihkan

1. Selalu Menunggu Kepulangan Suami

Langit sore mulai beranjak ke temaram. Jingga yang semula membakar horizon perlahan luntur menjadi ungu kelam. Dari balik tirai putih tipis, cahaya senja menetes lembut ke lantai, menciptakan gurat-gurat keemasan di studio lukis itu.

Ruma berdiri di depan kanvas besar, kuas di tangan kanannya menari perlahan. Warna-warna pastel membentuk siluet dua jendela yang berdiri berdampingan, di antara tembok rumah yang berwarna krem. Setiap goresan kuasnya seolah mengandung rasa rindu yang tak terucap.

Dia berhenti sejenak, menatap lukisan itu dengan mata sendu. Tangannya bergetar pelan. Ruma menghela napas panjang, seolah berusaha mengusir sesak yang menggelayut di dada.

Di sekeliling Ruma, rumahnya terasa sunyi. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di dinding. Detik demi detik terdengar amat jelas, seolah-olah sedang memukul-mukul keheningan.

Ruma menurunkan kuasnya, lalu berjalan ke arah jendela. Dua jendela besar yang terpasang di ruang depan rumahnya kini tampak gelap dari luar. Tirai krem membingkai kaca yang mulai berembun.

Perempuan itu berdiri diam di sana, menatap ke jalanan sepi. Beberapa mobil melintas, lampu depannya menciptakan kilatan cahaya yang bergerak di tembok. Namun tak satupun di antaranya adalah mobil Aldi, suaminya.

Ruma menempelkan dahinya ke kaca jendela. Dingin. Matanya masih terpaku ke ujung jalan. Ada kebiasaan aneh yang tak pernah dirinya tinggalkan, menunggu. Selalu menunggu. Perempuan itu selalu berdiri di situ setiap sore, menatap dua jendela rumahnya, menunggu lampu mobil Aldi menembus gelap.

“Cepat pulang, Aldi” gumam Ruma, lirih.

“Aku kangen kamu.”

Ruma menutup matanya. Dalam gelap matanya, dia bisa membayangkan suara pintu rumah terbuka, langkah kaki Aldi, bau parfum lelaki itu yang khas. Suara berat suaminyanya yang selalu memanggilnya,

“Rum … aku pulang.”

Tapi sore itu, rumahnya tetap sunyi.

Tiba-tiba ponsel Ruma bergetar di atas meja. Dia cepat-cepat meraihnya. Jantungnya berdebar saat melihat nama Aldi muncul di layar.

Aldi :”Maaf ya, Rum. Aku lembur. Kayaknya akan pulang telat.”

Ruma menatap layar ponselnya lama sekali. Tangannya mengetik balasan.

Ruma :”Iya. Nggak apa-apa. Hati-hati ntar kalau pulang.

Namun sebelum menekan tombol kirim, dia terdiam. Jari-jarinya ragu. Kalimat nggak apa-apa rasanya begitu palsu. Karena sejujurnya, Ruma merasa sangat apa-apa.

Akhirnya dia kirim juga pesan itu. Lalu menatap ponselnya, kosong.

Ruma berjalan kembali ke sebuah studio tempat dia melukis, duduk di bangku kayu. Perempuan itu mengusap wajahnya. Matanya sembab, meski tak sampai menangis. Ruma lalu mengambil kuas lagi, mencelupkannya ke cat biru muda, dan kembali menatap lukisannya.

Namun tangannya berhenti di udara. Dia meletakkan kuas. Napasnya bergetar.

“Kenapa kamu selalu pulang telat, Aldi?” bisiknya pelan.

Seakan menjawab pikirannya sendiri, Ruma mulai bergumam, seolah-olah Aldi ada di sana.

“Katamu mau cepat pulang. Katamu kamu mau lebih banyak waktu sama aku. Tapi kerjaanmu nggak ada habisnya.”

Dia menghela napas. Matanya menatap lukisan dua jendela di kanvas.

“Rumah kita, dua jendela ini,

selalu nunggu kamu pulang, Aldi. Aku selalu menunggumu.”

Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke waktu awal mereka pindah ke rumah itu. Ruma masih ingat hari pertama menjejakkan kaki di rumah dua jendela. Aldi tersenyum lebar, memegang tangannya erat.

“Rum, ini rumah impian kita. Ada dua jendela besar, biar sinar matahari masuk banyak. Biar kita selalu merasa terang, nggak gelap-gelap lagi.”

Ruma tertawa saat itu.

“Nanti kalau kita bertengkar, aku mau nutup dua jendela ini pakai gorden gelap.”

Aldi mencubit hidung istrinya.

“Nggak boleh. Dua jendela ini saksi cinta kita.”

Ruma tersenyum getir mengingat percakapan itu. Kini, dua jendela itu hanya menjadi saksi sepinya rumah mereka.

Ponselnya berbunyi lagi. Kali ini dari Bu Hasnah, ibu mertuanya. Ruma mengangkatnya.

“Halo, Bu.”

“Ruma, Aldi belum pulang?”

“Belum, Bu. Katanya lembur.”

Bu Hasnah menghela napas.

“Aduh, anak itu. Hidupnya kerja mulu. Kamu nggak apa-apa, Rum?”

Ruma menahan isak yang hampir pecah.

“Aku nggak apa-apa, Bu.”

“Jangan bohong sama Ibu, Nak. Suara kamu kayak orang capek nangis.”

Ruma mengedip cepat, berusaha mengusir air mata.

“Aku cuma kangen Aldi, Bu.”

Bu Hasnah terdiam. Lalu suaranya lembut.

“Ruma, kamu itu istri. Kamu punya hak buat ditemenin. Jangan dipendam sendiri.”

Ruma menunduk.

“Aku nggak mau nambahin beban Aldi, Bu.”

Bu Hasnah mendesah.

“Kalian ini sama keras kepalanya. Ya sudah, nanti kalau Aldi pulang, bilangin dia Ibu mau ke rumah.”

“Iya, Bu.”

“Jaga dirimu, ya. Ibu sayang kamu.”

“Iya, Bu. Aku juga sayang Ibu.”

Setelah menutup telepon, Ruma berjalan ke pojok studio. Seekor kucing berbulu putih, Tomo, melingkar di atas kursi.

“Hei, Tomo,” ucap Ruma, membelai kepala kucingnya.

“Papamu pulang telat lagi.”

Tomo mengeong pelan. Ruma tertawa getir.

“Iya, iya. Aku juga kangen. Kamu aja yang tiap hari di rumah pasti bosan.”

Tomo menatapnya dengan mata kuning lembut, seolah mengerti. Ruma melanjutkan.

“Kamu tahu, Tomo? Aku selalu bilang ke diriku sendiri, Ruma, sabar. Aldi kerja buat masa depan kalian. Tapi makin lama, aku merasa, aku sendirian di rumah ini.”

Tomo mengeong lagi, lebih panjang.

“Betul, ya? Aku juga mikir gitu. Dua jendela ini sekarang cuma kayak lubang intip ke kesepian.”

Langit di luar makin gelap. Ruma menyalakan lampu studio. Cahaya putih lembut jatuh ke lukisannya. Ia menatap dua jendela yang ia lukis. Warnanya biru keabu-abuan. Suram.

Dia kembali berbicara seolah Aldi di hadapannya.

“Aldi, apa kamu bener-bener lembur? Atau kamu udah nggak mau pulang cepat karena aku?”

Air matanya jatuh, menetes di punggung tangannya. Dia cepat-cepat menghapusnya.

“Jangan pikir yang aneh-aneh, Rum! Aldi sayang sama kamu.”

Kadang, di rumah sepi itu, dia seolah mendengar suara Aldi.

“Rum, aku pulang.”

“Rum, aku kangen.”

“Rum, kamu cantik banget.”

Dan setiap suara itu terngiang, hatinya makin remuk. Karena yang dia dengar kini hanya suara jarum jam berdetak.

Ponselnya berbunyi lagi. Pesan dari Aldi.

Aldi :”Rum, kamu sudah makan?”

Ruma mengetik,

Ruma :”Sudah. Kamu?

Aldi :”Belum. Masih banyak laporan.”

Ruma :”Aku sudah masakin sup. Nanti kalau pulang, tinggal panasin aja.”

Aldi :”Makasih, Sayang. I love you.”

Ruma terdiam sebelum membalas. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Lalu dia kirim.

Ruma :”I love you too.”

Setelah meletakkan ponsel, Ruma berbicara pada dirinya sendiri.

“Kalau dia sayang, kenapa rasanya aku selalu sendirian?”

Ruma memeluk tubuhnya sendiri. “Kenapa aku makin nggak yakin denganmu, Aldi?”

Ruma berjalan lagi ke jendela. Dua jendela besar itu kini gelap pekat, hanya memantulkan bayangan dirinya. Dia menatap refleksi matanya sendiri.

“Dua jendela, kalian saksi aku nunggu Aldi tiap hari. Kalian juga saksi aku menangis sendiri.”

Ruma mengelus kaca jendela.

“Aku cuma mau dia pulang cepat. Duduk di sini. Cerita apa aja. Biar rumah ini rame lagi.”

Ruma menghela napas panjang.

“Tapi tiap malam, yang ada hanya aku. Bukan Aldi.”

Akhirnya Ruma mematikan lampu studio. Dia berjalan ke ruang tamu, duduk di sofa. Perempuan itu memeluk bantal, matanya menatap dua jendela besar di depannya. Hujan mulai turun perlahan di luar. Bunyi rintiknya menambah sunyi rumah.

Ruma berbisik pelan, seperti doa.

“Pulanglah, Aldi. Pulang cepat.”

Dan di rumah dengan dua jendela itu, hanya suara hujan dan detak jam yang menemani Ruma. Menunggu. Dan terus menunggu.