5.Pertemuan yang Tak Direncanakan
Langit cerah siang itu. Awan putih berarak pelan, seolah tak peduli pada hati Ruma yang sedang keruh.
Dia berjalan menyusuri trotoar, menenteng tas kanvas berisi cat minyak yang baru saja dirinya beli di sebuah toko seni. Hari ini Ruma sengaja keluar rumah. Tak tahan hanya terkurung di studio lukisnya, sambil menatap dua jendela yang makin terasa sunyi.
Langkahnya terhenti di depan sebuah kafe bergaya industrial. Jendela kacanya lebar, dihiasi pot monstera yang tumbuh rimbun. Dari luar, aroma kopi pekat tercium samar.
Ruma berdiri ragu. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi dia bimbang.
“Masuk nggak ya? Ah, cuma sebentar aja. Biar nggak makin gila di rumah.”
Ruma akhirnya mendorong pintu kaca. Bel berdenting pelan. Suasana kafe cukup ramai. Alunan musik jazz pelan mengalun dari speaker. Beberapa meja terisi orang-orang yang sibuk dengan laptop atau obrolan ringan.
Ruma memilih meja di sudut, dekat jendela. Dia pun duduk, meletakkan tas kanvas di kursi sebelah.
Namun belum sempat Ruma membuka menu, matanya menangkap sosok lelaki di meja seberang. Tinggi, kulit sawo matang, rambut sedikit gondrong, mengenakan kemeja kotak-kotak. Lelaki itu sedang tertawa dengan seorang teman pria lain.
Ruma terpaku. Dadanya berdebar.
“Astaga, Jaka?”
Jaka tiba-tiba menoleh ke arah Ruma. Seketika tawa Jaka mereda. Matanya membesar. Dia berdiri spontan, menghampiri meja Ruma.
“Rum?” Jaka berseru.
“Eh, beneran kamu?”
Ruma tergagap.
“Ja … Jaka?”
“Ha-ha-ha.”
Jaka tertawa, menepuk pelan bahunya sendiri seolah tak percaya.
“Ya ampun, kita ketemu beneran! Bukan cuma lewat telepon!”
Ruma ikut tertawa, meski gugup.
“Aku juga nggak nyangka banget.”
Jaka menatap sekeliling. “Kamu sendirian?”
“Iya, iseng aja ke sini. Biar nggak sumpek di rumah.”
“Wah, kebetulan banget. Duduk bareng aku, ya?”
Ruma ragu. Dia melirik teman Jaka yang kini juga berdiri.
“Oh, itu temenmu?”
“Iya, ini Rio. Teman kerja. Bro, kenalin ini Ruma, temen SMA gue.”
Rio mengulurkan tangan.
“Halo, Mbak Ruma.”
Ruma membalas salamnya pelan.
“Halo juga.”
“Rio, gue ngobrol sama Ruma sebentar, ya?” ucap Jaka.
Rio mengangguk.
“Okay, gue geser ke meja sana aja.”
Rio pun membawa kopinya pindah meja. Jaka langsung duduk di kursi di depan Ruma.
Jaka tersenyum lebar. “Gila, Rum sumpah, kamu masih kayak dulu, cantik. Cuma sekarang lebih dewasa aja kelihatannya.”
Ruma tersipu.
“Masa sih? Aku merasa banyak berubah, Ka.”
“Nggak. Kamu masih Ruma yang aku kenal. Lembut, kelihatan rapuh, tapi sebenarnya kuat.”
“He-he-he.”
Ruma tertawa pelan.
“Aku beneran rapuh, Ka. Aku capek banget akhir-akhir ini.”
Jaka mencondongkan tubuh.
“Kenapa capek, Rum?”
Ruma menunduk. “Nggak tahu. Kayaknya karena rumah aku sepi terus. Aldi sibuk. Aku seperti nggak ada temennya.”
Jaka mengangguk pelan. Sorot matanya lembut.
“Aku ngerti, Rum. Rasanya kayak tinggal sama orang asing di rumah sendiri, ya?”
Ruma menatap Jaka, matanya berkaca.
“Kok kamu ngerti?”
“Karena aku juga pernah ngerasain. Waktu pacarku dulu kerja di luar kota. Pulang paling cuma dua hari, habis itu pergi lagi. Awalnya aku tahan. Lama-lama aku ngerasa kayak nggak dianggap.”
Ruma menghela napas. “Iya. Aku juga merasa gitu. Aldi kayak hilang. Padahal dia ada di rumah.”
Jaka menatap Ruma sungguh-sungguh. “Rum, kamu nggak sendiri, tahu?”
Ruma terdiam sejenak, kemudian suaranya bergetar.
“Aku kadang iri lihat pasangan lain. Kayak di kafe ini, banyak yang ketawa bareng. Sementara aku kalau mau ngobrol aja susah.”
“Aku ngerti, Rum. Aku ngerti banget.”
Ruma menatap Jaka, merasa seperti menumpahkan beban yang selama ini menyesakkan dadanya.
“Kadang aku pengin Aldi marah. Biar aku tahu dirinya masih peduli apa tidak. Tapi dia cuma bilang capek. Terus mengurung diri.”
“Aku denger kamu, Rum,” seru Jaka lembut.
“Aku di sini dengerin kamu.”
Ruma menutup wajahnya sebentar. Air matanya mulai menetes. Jaka spontan mengulurkan tisu.
“Eh, jangan nangis. Nanti orang-orang kira aku bikin kamu nangis.”
“He-he-he.”
Ruma tertawa pelan di tengah tangis.
“Aku malu banget, Ka.”
“Nggak usah malu. Dulu juga kamu sering nangis di sekolah. Aku yang bersihin air mata kamu.”
Ruma mengusap pipinya.
“Itu udah lama banget, Ka.”
“Tapi rasanya kayak kemarin.”
Sejenak, keduanya terdiam. Jaka menatap mata Ruma. Perempuan itu merasa jantungnya berdebar keras. Ada hawa aneh di antara mereka, campuran rasa hangat sekaligus rasa salah.
Jaka akhirnya bersuara pelan.
“Rum, kalau kamu mau cerita, kita ketemuan aja lagi. Nggak apa-apa kok.”
Ruma cepat menggeleng.
“Raka, aku istri orang. Aku nggak mau bikin masalah.”
“Aku ngerti. Tapi aku nggak macem-macem, Rum. Aku cuma pengin kamu nggak ngerasa sendiri.”
Ruma menunduk.
“Aku takut, Ka. Aku takut makin nyaman cerita ke kamu.”
Jaka tersenyum tipis. “Nggak apa-apa takut. Yang penting kamu nggak sendirian. Aku di kota ini sekarang. Kapan aja kamu butuh teman, bilang.”
Seorang barista mengantar dua gelas kopi ke meja mereka. Jaka membayar semuanya, menolak ketika Ruma hendak ikut patungan.
“Udah, aku traktir. Dulu kamu juga sering aku beliin es teh di kantin, ingat?”
“Ha-ha-ha.”
Ruma tertawa.
“Iya, waktu itu kamu ngutang ke Bu Kantin gara-gara beliin aku.”
“Ha-ha-ha. Semua demi kamu, Rum.”
Tawa mereka menggema di kafe. Namun tawa Ruma perlahan mereda. Dia teringat rumahnya. Teringat Aldi. Senyum di wajahnya pun memudar.
Setelah hampir sejam berbicara, Ruma menghela napas panjang.
“Raka, aku pulang dulu, ya.”
“Aku anterin?”
Ruma cepat menggeleng.
“Nggak usah. Nanti malah ribet.”
Jaka menatapnya dalam
“Rum, janji ya? Kalau kamu sedih, hubungi aku.”
Ruma menatap mata Jaka. Ada rasa bersalah yang menyesak.
“Aku nggak janji, Ka.”
Jaka tersenyum tipis. “Nggak apa-apa.”
Ruma berjalan meninggalkan kafe. Setiap langkah terasa berat. Angin sore menerpa wajahnya. Dia berhenti di trotoar, menunduk, memeluk tas kanvasnya erat-erat.
“Aku salah nggak, ya? Kenapa rasanya aku lebih lega ngobrol sama Jaka daripada sama Aldi?”
Hatinya terasa tercabik. Ruma merasa seperti seorang pengkhianat. Padahal dia hanya ingin didengar.
Saat tiba di rumah, Aldi sudah duduk di sofa, masih mengenakan kemeja kerja. Ruma terdiam di ambang pintu.
Aldi menoleh sekilas. “Dari mana?”
Ruma menggenggam tas kanvas makin erat. “Keluar beli cat.”
“Sendiri?”
Ruma mengangguk. “Sendiri.”
Aldi mengangguk pelan. “Nggak apa-apa.”
Ruma melepas sepatu, berjalan ke dapur. Aldi masih duduk, menatap layar ponsel.
“Di, kamu mau kopi?”
Aldi menggeleng. “Nggak. Aku mau tidur cepat. Besok ada rapat pagi.”
“Hmm.”
Aldi berdiri, berjalan ke kamar. Ruma menatap punggung suaminya.
“Aku habis ketemu Jaka, Di tapi aku nggak berani bilang.”
Saat Aldi sudah di kamar, Ruma berdiri di depan dua jendela rumahnya. Senja berganti gelap. Lampu jalan menyala kuning pucat.
Dia menempelkan dahinya ke kaca.
“Aku nggak salah kan? Aku cuma pengin didengar.”
Namun air matanya tetap jatuh, menetes di kaca.
Tomo datang, mengusap kaki Ruma. Ruma menggendong Tomo, memeluknya erat.
“Aku pulang, Tomo tapi rasanya kayak makin jauh dari rumah.”
Dan di rumah dengan dua jendela, rahasia Ruma mulai tumbuh. Disertai rasa bersalah yang semakin menyesakkan dada.
