Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Telepon Seseorang dari Masa Lalu

Hujan turun sepanjang malam. Hanya sisa-sisa gerimis yang masih menetes di pagi hari. Ruma terbangun dengan mata bengkak. Dia menatap sekeliling kamar, seolah mencari sosok Aldi. Namun sisi ranjang di sebelahnya kosong. Dingin.

Dia bangkit perlahan, mengenakan kaos putih longgar. Kakinya telanjang menjejak lantai marmer yang dingin. Bau kopi samar tercium dari arah dapur. Tapi begitu dirinya berjalan ke sana, hanya menemukan meja makan kosong. Tidak ada Aldi. Tidak ada secangkir kopi pun.

Ruma memandang dua jendela rumahnya. Cahaya matahari redup menembus tirai tipis. Tetesan hujan masih menempel di kaca. Dia pun meraih ponsel di meja. Tidak ada pesan dari Aldi. Tidak juga dari siapapun.

Ruma menarik kursi, duduk lemah. Di kepalanya, kata-kata Aldi semalam masih bergema.

“Aku capek, Rum. Jangan bahas ini malam-malam.”

Ruma menghembuskan napas panjang. Dia merasa seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Rasanya seperti berdiri di peron kereta, menanti kereta yang terlambat entah sampai kapan.

Tiba-tiba ponselnya bergetar keras. Nomor tak dikenal muncul di layar. Ruma menatapnya ragu. Sejenak dia hampir mengabaikan. Namun entah kenapa, jari-jarinya malah menekan tombol hijau.

“Halo?”

Di seberang sana terdengar suara seorang lelaki. Suara yang membuat Ruma terdiam. Dalam, sedikit serak, dan memiliki kehangatan yang dulu pernah dirinya kenal.

“Ruma, ini aku. Jaka.”

Ruma terpaku. Suara di seberang membuat dadanya sesak. Seolah masa lalu yang sudah dikubur olehnya kembali menyeruak begitu saja.

Ruma berusaha menormalkan suaranya. “Jaka?”

“Iya. Jaka. Teman SMA kamu.”

Ruma terdiam lama. “Astaga, Jaka. Aku udah lama banget nggak denger suara kamu.”

“He-he-he.*

Jaka tertawa pelan.

“Iya. Nggak nyangka aku akhirnya telepon kamu. Nomor kamu aku dapat dari grup alumni. Bagaimana kabarnya?”

Ruma menghela napas, berusaha terdengar wajar.

“Baik. Kamu gimana?”

“Aku baru pindah kerja ke Kota Jakarta. Minggu lalu mulai masuk kantor baru.”

Ruma terperangah. “Serius? Kamu kerja di mana sekarang?”

“Di kantor konstruksi. Aku pegang proyek jembatan sama beberapa proyek jalan. Kebetulan kantor pusatnya di sini.”

Ruma meremas tepi meja

“Wah hebat, Kamu.”

“Ah, biasa aja, Rum. Kamu gimana? Kerja atau di rumah?”

Ruma menatap lukisannya di sudut studio.

“Aku di rumah. Masih melukis.”

“Wah, masih melukis ya? Dulu kamu selalu bawa cat ke sekolah.”

“He-he-he.”

Ruma tertawa pelan.

“Iya. Dulu aku bawa cat, kamu bawa gitar.”

“Ha-ha-ha.”

Jaka juga tertawa.

“Eh, gitarnya masih ada lho.”

Jaka melanjutkan dengan nada akrab. “Aku masih ingat banget, Rum. Waktu kamu nangis gara-gara catmu tumpah ke rok putih.”

Ruma menutupi wajahnya sambil tertawa malu.

“Astaga, jangan diingat-ingat. Malu banget!”

“Terus aku yang bantuin bersihin di keran sekolah. Eh, malah kita berdua basah kuyup.”

Ruma tersenyum.

“Itu konyol banget.”

“Tapi itu lucu, Rum. Kita dulu deket banget ya.”

Ruma terdiam. Ada jeda panjang. Rasanya seperti ada jarak yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka.

Hujan mendadak turun lebih deras. Ruma menatap tetes hujan di jendela.

“Ka, maaf ya. Aku kaget banget kamu tiba-tiba telepon.”

“Nggak apa-apa. Aku juga mikir seribu kali mau hubungi kamu. Takut kamu marah.”

“Kenapa harus marah?”

“Ya, kamu kan udah nikah. Aku nggak mau ganggu.”

Ruma terdiam. Suara hujan di luar seolah lebih kencang.

Jaka melanjutkan pelan. “Aku cuma kangen ngobrol sama kamu. Dulu kita selalu cerita apa aja. Kamu masih sama kayak dulu nggak, Rum? Suka diem-diem bikin puisi terus malu kalau dibaca orang?”

“He-he-he.”

Ruma terkekeh kecil.

“Nggak berubah, Ka. Aku masih suka malu.”

“Ha-ha-ha. Itu ciri khas kamu, Rum. Kamu selalu punya dunia sendiri.”

Ruma menatap lukisan dua jendela yang berdiri bisu.

“Tapi sekarang rasanya dunia aku sepi, Ka.”

Jaka terdiam sejenak. Suaranya kemudian lebih pelan.

“Kenapa sepi, Rum? Suami kamu ke mana?”

Ruma menghela napas panjang.

“Aldi kerja terus. Jarang pulang cepat.”

“Oh …”

Jaka menahan suaranya, seolah ragu melanjutkan.

“Rum, aku nggak mau bikin masalah. Tapi kalau kamu butuh teman ngobrol, aku selalu ada.”

Ruma menggigit bibirnya.

“Ka, aku … aku nggak tahu harus jawab apa.”

“Nggak apa-apa. Aku cuma mau kamu tahu kamu nggak sendirian.”

Ruma menarik napas gemetar. Ada rasa lega sekaligus takut mendengar Jaka bicara begitu lembut.

Jaka tiba-tiba bertanya. “Rum, apa kamu keberatan kalau kita ketemu? Sekali aja. Buat nostalgia.”

Ruma menegakkan punggung.

“Ketemu?”

“Iya. Aku cuma mau ngobrol. Kita bisa ketemu di tempat rame. Nggak usah lama-lama.”

Ruma terdiam lama. Hatinya berdebar keras. Pikirannya langsung melompat pada Aldi. Pada rumah yang terus sunyi dan rasa sepi yang kian menyesakkan.

“Raka, aku … aku nggak tahu.”

“Nggak apa-apa, Rum. Aku nggak maksa. Kalau kamu nggak mau, bilang aja.”

Setelah telepon berakhir, Ruma masih menatap layar ponselnya yang padam. Dadanya terasa penuh. Hatinya campur aduk.

Dia pun berbicara pada dirinya sendiri.

“Aku kangen ngobrol sama Jaka, tapi ini salah nggak, ya?”

Tomo, kucingnya, melompat ke meja, mendengkur pelan. Ruma menatap mata kuning Tomo.

“Tomo, aku nggak pernah cerita kepada siapa pun betapa aku kesepian. Tiba-tiba Jaka muncul. Apa ini cara Tuhan kasih aku teman?”

Tomo mengeong, seolah menjawab. Ruma mengelus kepala Tomo, masih gelisah.

Sore itu, Aldi pulang lebih cepat. Masih mengenakan kemeja kerja, dia duduk di sofa sambil membuka laptop.

“Rum, tolong ambilin aku kopi,” ucapnya datar.

Ruma mengangguk. Dia berjalan ke dapur, menyiapkan kopi. Tangannya bergetar sedikit. Ruma memandang ke arah Aldi.

“Di …”

Aldi masih menatap layar laptop.

“Hmm?”

“Aku hari ini ditelepon teman lama.”

Aldi mengetik cepat.

“Oh ya? Siapa?”

Ruma menatap suaminya. Mulutnya sudah hendak mengucap Jaka. Namun begitu Aldi mengangkat wajahnya dengan sorot mata lelah, Ruma menelan kembali kata-katanya.

“Cuma teman SMA. Nggak penting.”

Aldi mengangguk pelan. “Hmm. Okay.”

Ruma menggenggam cangkir kopi. Ada rasa bersalah menyusup ke dadanya. Namun sekaligus, ada getaran hangat yang aneh. Dia merasa didengar saat bicara dengan Jaka. Sesuatu yang sudah lama tak dirasakan olehnya di rumah sepi ini.

Ruma pun menyerahkan kopi kepada Aldi.

“Nih kopinya.”

Aldi mengambil cangkir. “Thanks.”

Ruma duduk di seberang Aldi. Mereka terdiam lama. Hanya suara ketikan laptop Aldi yang terdengar.

Ruma menatap suaminya. Hatinya berteriak.

“Aku sebenarnya ingin cerita. Tapi kenapa aku takut?”

Malam menjelang. Ruma duduk di studio lukisnya, memandang lukisan dua jendela. Tangannya mengusap kanvas pelan.

“Dua jendela, apa aku salah kalau aku kangen ngobrol sama Jaka?”

Rums menutup matanya. Air matanya jatuh.

Di kamar tidur, Aldi sudah tertidur lebih dulu, punggungnya menghadap Ruma. Ruma berbaring perlahan, menatap punggung suaminya.

“Di, aku makin nggak kenal kamu.”

Dan di rumah dengan dua jendela, ada rahasia kecil yang kini mulai tumbuh. Rahasia tentang Jaka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel