Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Urusan Dinas yang Tak Pernah Usai

Waktu sudah hampir jam sebelas malam ketika kunci pintu depan berputar pelan. Engsel pintu berderit halus, seolah-olah enggan membiarkan malam yang dingin masuk. Ruma yang masih terjaga di sofa langsung menoleh.

Aldi masuk. Rambutnya sedikit berantakan, dasinya longgar, kemeja biru muda kusut di lengan. Matanya merah, kantong matanya gelap. Bau parfum bercampur keringat kerjaan menempel di badannya.

“Hai, Aldi,” sapanya pelan.

Aldi hanya mengangguk. Dia melepas sepatu, lalu berjalan masuk tanpa banyak suara. Ruma mengikutinya dengan pandangan khawatir.

“Kamu sudah makan?” tanya Ruma, berdiri di dekat meja makan.

Aldi menggeleng. “Nggak lapar.”

“Aku masak sup ayam. Mau aku panaskan?”

Aldi menarik kursi. “Nggak usah repot.”

“Tapi kamu belum makan apa-apa sejak pagi.”

Aldi mendesah, nada suaranya mulai terdengar kesal.

“Ruma, aku capek. Jangan maksa.”

Ruma terdiam sejenak. Dia berusaha menelan kekecewaannya. Perlahan wanita itu duduk di kursi seberang suaminya.

“Aldi, aku nunggu kamu dari sore.”

Aldi memijat pelipisnya. “Aku kan sudah bilang, aku lembur.”

“Aku tahu. Tapi aku cuma pengin ngobrol. Rumah ini sepi banget.”

Aldi mengalihkan pandangan.

“Kenapa sih kamu selalu kayak gini? Begitu aku pulang, langsung diinterogasi.”

Ruma menatap suaminya dengan mata memerah.

“Aku nggak interogasi, Aldi. Aku cuma kangen.”

Aldi mendengus pelan. “Ya aku juga kangen. Tapi capekku nggak hilang cuma karena ngobrol saja.”

Ruma menunduk.

“Aku cuma pengin cerita tentang hariku. Hari ini aku selesai melukis, lukisan dua jendela rumah kita.”

Aldi hanya menjawab singkat.

“Bagus.”

Ruma menatapnya. “Lihat aku dong, Aldi.”

Sang suami mendongak sebentar, tatapannya kosong.

“Aku lihat, kok.”

Ruma menarik napas dalam.

“Aldi, apa kamu masih sayang sama aku?”

Pria itu terdiam lama. Suara kulkas berdengung pelan di sela-sela keheningan.

“Aldi .…” panggil Ruma lagi, suaranya nyaris berbisik.

Aldi menatapnya dengan mata lelah. “Rum, aku capek. Tolong jangan bahas ini malam-malam.”

“Tapi kapan lagi kita ngobrol, Di? Kamu selalu pulang malam. Terus bilang capek.”

Aldi mendengus.

“Ya pekerjaanku memang begitu. Mau kamu gimana?”

Ruma terisak kecil.

“Aku merasa kayak tinggal sama orang asing, Di. Kamu pergi pagi, pulang malam. Kalau pun di rumah, pikiranmu entah ke mana.”

Aldi menghela napas berat. Dia menunduk, mengusap wajahnya. Lalu dengan nada datar, pria itu berkata.

“Minggu depan aku harus dinas ke Surabaya. Tiga hari.”

Ruma terpaku.

“Apa?”

Aldi menatap istrinya cepat.

“Ada proyek tender. Aku harus ikut presentasi. Nggak bisa dibatalkan.”

Ruma memegangi dada. “Tiga hari, Di? Kamu baru juga pulang larut terus. Sekarang mau pergi lagi?”

Aldi mengangguk singkat.

“Pekerjaanku memang begitu, Rum.”

Ruma menahan air mata.

“Aku nggak kuat, Di. Aku kesepian. Aku kayak janda padahal aku punya suami.”

Aldi menatapnya tajam. “Jangan lebay, Rum.”

Air mata Ruma jatuh. “Aku nggak lebay. Aku memang kesepian. Kamu nggak ngerti rasanya duduk di rumah ini, tiap malam nungguin suara mobilmu, cuma buat dengar kamu bilang, capek!”

Aldi menunduk.

“Rum, aku kerja buat kita. Buat bayar cicilan rumah ini. Buat masa depan kita.”

“Apa gunanya rumah ini kalau isinya cuma tembok dan dua jendela, Di? Aku di dalam sini sendirian.”

Aldi menghela napas kasar.

“Aku nggak punya pilihan, Rum. Kamu kira aku senang pulang malam terus?”

Ruma memekik lirih. “Aku nggak bilang kamu senang! Aku cuma minta waktu kamu. Minta sedikit aja perhatian kamu.”

Aldi berdiri.

“Rum, cukup. Aku capek. Aku mau mandi.”

Ruma ikut berdiri, suaranya meninggi. “Kenapa sih setiap aku mulai ngomong, kamu selalu kabur?”

Aldi menatap istrinya dengan sorot dingin. “Karena kamu selalu bikin aku tambah stres.”

“Jadi aku ini beban, gitu?” isak Ruma.

Aldi terdiam, rahangnya mengeras.

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi itu yang kamu tunjukkan, Di! Kamu lebih peduli sama kerjaan kamu daripada aku!”

Aldi mengusap wajahnya keras.

“Ya Tuhan, Rum. Aku kerja juga buat kamu, buat rumah ini!”

Ruma bergetar.

“Aku nggak butuh rumah kalau isinya cuma kesepian!”

Aldi menghela napas panjang, menahan amarah. Dia berbalik, melangkah menuju kamar. Ruma menahan lengannya.

“Aldi, jangan pergi. Kita selesain malam ini.”

Aldi menoleh cepat. “Aku capek, Rum. Besok aja.”

“Aku nggak mau besok. Kamu selalu dibilang besok. Tapi besokmu nggak pernah datang!”

Aldi mencabut lengannya kasar. “Sudah, Ruma!”

Dan sang suami menghilang ke dalam kamar, pintu dikunci keras. Ruma berdiri mematung, terisak. Diapun menatap dua jendela rumah yang gelap. Hujan tiba-tiba turun deras di luar.

Ruma berjalan ke sofa, jatuh terduduk. Dia memeluk bantal. Suaranya lirih, seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

“Kenapa semuanya jadi begini, Di? Kenapa aku kayak orang asing di rumah sendiri?”

Dia mengusap air matanya kasar.

“Apa salahku? Aku cuma mau kamu pulang cepat. Mau kita kayak dulu. Mau dua jendela ini terang lagi.”

Matanya beralih ke dua jendela rumah mereka. Rintik hujan memukul kaca, menciptakan pola tak beraturan. Ruma berbisik,

“Kamu tahu, dua jendela, aku takut. Aku takut Aldi pergi. Bukan cuma ke luar kota. Tapi pergi selamanya.”

Dalam pikirannya, kenangan-kenangan bersama suaminya muncul lagi. Kilas balik ke masa awal menikah.

Aldi tertawa sambil menggendong Ruma di depan rumah mereka yang memiliki dua jendela besar.

“Rum, aku janji, rumah ini akan selalu ramai. Aku selalu pulang buat kamu.”

Ruma menepuk dada suaminya.

“Janji ya, Di?”

Aldi mencium kening istrinya.

“Janji.”

Ruma menunduk, menangis.

“Kamu ingkar, Di. Kamu makin jauh dariku.”

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan telepon dari Bu Hasnah, ibu mertuanya.

“Halo, Bu.” Suara Ruma bergetar.

“Ruma, kamu habis nangis ya?” Suara Bu Hasnah terdengar cemas.

Ruma terisak.

“Bu, Aldi mau dinas lagi. Tiga hari. Aku nggak kuat, Bu.”

Bu Hasnah terdiam sesaat.

“Nak, sabar ya. Lelaki memang begitu. Mereka sering nggak sadar, perempuan cuma butuh didengar.”

“Aku capek, Bu. Aku kayak nggak dianggap.”

Bu Hasnah menghela napas.

“Nggak semua istri sanggup kayak kamu, Rum. Kamu hebat. Tapi kamu juga manusia. Kalau memang perlu ngomong sama Aldi, bilang baik-baik. Jangan pas dia capek.”

Ruma terisak.

“Aku sudah coba, Bu. Tapi dia selalu bilang nanti.”

Bu Hasnah menenangkan.

“Rum, kamu harus kuat, ya. Kamu adalah stri, kamu tiang rumah ini.”

“Tapi siapa yang jadi tiang buat aku, Bu?”

Bu Hasnah terdiam. Suaranya gemetar.

“Ibu juga dulu sering ngerasa kayak kamu. Tapi kalau kita ikhlas, semua pasti ada jalan.”

Usai bertelepon, Ruma mematikan lampu ruang tamu. Dia berjalan ke studio melukisnya, menatap lukisan dua jendela yang belum selesai. Catnya sudah mengering di palet. Ruma pun duduk di kursi kayu, berbicara pelan.

“Aldi, kamu dulu bilang dua jendela ini saksi cinta kita. Sekarang, malah cuma jadi saksi jika sekarang aku sendirian.”

Tomo, kucingnya, naik ke pangkuan. Ruma mengelus bulu putih anabul itu sambil menangis.

“Aku kangen suamiku, Tomo. Aku kangen Aldi yang dulu.”

Tomo mengeong pelan. Seolah mengerti, kucing itu mengusap kepala Ruma dengan kepalanya sendiri.

Malam semakin larut. Hujan tak kunjung reda. Dari balik dua jendela, lampu jalan mulai memantulkan genangan air di luar. Ruma terpaku, menatap hujan yang turun deras.

Dan di rumah dua jendela itu, kesepian makin terasa tebal, seolah menelan suara hujan. Sementara di balik pintu kamar, Aldi juga duduk memeluk lututnya, matanya kosong. Masing-masing terpenjara dalam kesunyian yang sama.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel